Mas Bima menungguku disana, didepan kamar nomor 303. Menyandarkan tubuhnya kesamping, satu tangannya ia simpan didalam saku celana. Ia menyugar rambut cepaknya sambil memandangiku.
Cool banget sih bapak satu iniii...
Aku melangkah anggun mendekatinya, perlahan dan menantang.
Tatapannya sudah lapar, seperti singa yang menunggu mangsanya dengan tak sabar. Tapi ia singa terlatih, nafsunya ia kendalikan dengan epik, meskipun gampang sekali ku goda.
Mas Bima membuka pintu lalu menyeret tanganku dengan lembut, membimbingku masuk kedalam kamar.
Ia menutup pintu itu, lalu berbalik badan dan langsung mengunci tangan kiriku dibelakang punggung. Ditekanya sampai dadaku menempel sempurna kedadanya.
Bukannya takut aku malah asyik mencium lehernya.
Mas Bima mendesakku sampai mentok pintu. Ia begitu tak sabar mengobrak-abrik bibirku.
Aku menikmati ini, kukalungkan lenganku di lehernya. Ia semakin brutal saat aku membuka kancing bajunya satu-satu. Lalu menurunkan resleting dan membelai senjatanya yang sudah tegak sempurna.
Semakin brutal, aku semakin suka.
Dengan sekali hentakan, ia mengakat tubuhku dan membawanya diatas ranjang.
Kali ini kurasa mas Bima agak terburu-buru, mungkin tadi ia hanya minta ijin sebentar. Sedang dibawah Pak Presiden loh yang di kawal.
Gila! Dan mas Bima masih sempat-sempatnya memesan kamar agar kami nyaman.
Ini seru!
Enaknya jadi baby kalau dapet Daddy yang matang dan perhatian ya gini. Mereka tetap mengutamakan kenyamanan kita.
Bukanya main seret, masukin dimanapun, kapanpun yang penting puas, hasrat tuntas.
Menjijikkan!
Ia tidak men cum buku mesra seperti biasanya, atau memintaku men cum bunya agar sama-sama nikmatnya.
Ia bermain agak kasar, bahkan menggigit dadaku sampai merah. Ku biarkan saja.
Sudah kubilang kan, kalau semakin brutal, aku semakin suka? Gairahku naik berkali-kali lipat jika lawanku memperlakukanku dengan kasar.
Jadi kali ini aku benar-benar menyambut Mas Bima dengan 'panas'.
Kulepas semua pakaianku, juga milik Mas Bima. Tidak kulempar sembarangan karena beresiko kusut. Setelah ini ia masih harus kembali bertugas. Aku tak mau dia dalam masalah.
Aku duduk di atas tubuhnya, ku posisikan tubuhku sesuai yang ia mau, hingga ia masuk dengan sempurna kedalam tubuhku.
Hingga kami men de sah bersama, menjerit bersama dan jatuh lemas dengan puas bersama-sama.
***
Mas Bima sudah wangi dan rapi lagi, ia sempat mandi dan berpakaian dengan kilat.
Aku membantunya dahulu sebelum membersihkan badanku sendiri. Ia harus cepat kembali sebelum kena tegur.
Kesana kemari mencari kemeja, celana dan sepatunya dengan te lan jang bulat.
Sudah biasa, bahkan aku berkeliaran didalam apartemen seperti ini juga.
Siapa yang peduli? Toh aku ada didalam sangkar emas, dan yang bisa melihatku hanya tuanku.
Aku menjalin dasi Mas Bima dengan lincah, pria ini meremas pan tat ku gemas.
"Aku nggak suka kamu brutal kayak tadi." Protesnya. "Kali ini ku maafkan, kedepannya jangan ulangi."
Ia mengecup bibirku saat aku selesai dengan dasinya.
Aku terkekeh, dasar laki-laki. Mereka yang punya jiwa berburu seperti mas Bima, tidak akan suka wanitanya memimpin dalam hal apapun.
Permainan tadi lebih banyak aku yang memimpin, mas Bima kurang suka. Bagaimanapun, aku yang harus nurut dibawahnya. Ia lah sang singa, si raja rimba. Ia suka wanita penurut dan manja.
Siapa suruh dia kasar, sudah kubilang kan? Semakin kasar, aku semakin suka!
"Pergilah Mas... Masa ijin pipisnya lama banget." Aku menggodanya dengan memeluk dan menciumi rahangnya.
"Hmm, pipisin kamu, jadi lama." Gumamnya.
"Mau lagi doooong..." Aku menggodanya lagi. Kali ini sambil membelai se la kang annya.
"Aarrgghh, hentikan! Aku nggak akan tahan."
"Ya udah, lagi yuk." Ajakku sambil meniup-niup lehernya. Ia kegelian.
"Ck, aku harus pergi." Mas Bima melepas pelukannya, lalu melangkah menuju pintu.
Aku mengekor dibelakangnya.
"Jangan keluar, nanti ada yang melihat." Larang mas Bima sambil melirik tubuhku yang polos.
Aku memeluknya dari belakang.
"Aku menunggumu." Bisikku ditelinganya. Sedikit membelai daun telinganya dengan lidahku.
Ia menghela nafas, lalu membuka pintu. Dia memperingatkanku sebelum keluar.
"Jangan menggodaku lagi, kali ini biarkan aku kerja dengan tenang." Pintanya sambil mencubit ujung dadaku yang menantang.
Aku memekik, lalu tertawa sambil melambaikan tanganku.
Ya ampun... sebentar banget. Jujur aku belum puas. Bagiku ini hanya pemanasan. Belum masuk ke inti permainan. Belum pendinginan. Namanya juga olahraga, kan?
Jadi setelah mas Bima pergi, kukunci pintu lalu menuntaskan kembali hasrat yang masih menggebu di atas ranjang.
Sendiri.
Aku ahli bersolo karir. Tidak percaya? Atau kau mau lihat?
Hahaha...
***
Seusai check out, aku putuskan kali ini akan berbelanja sebentar ke supermarket. Mampir sebentar sambil nyari makan. Persediaanku sudah hampir habis semua.
Dan lagi aku sedang ingin jalan-jalan juga. Sendirian? Nggak masalah. Aku sudah biasa.
Tidak ada orang yang aku percaya di dunia ini. Apa itu teman? Bulshit!
Dengan Pam kami dekat, karena dulu kami seprofesi, dan dia sama gilanya sepertiku.
Tapi setelah Pam insaf dan punya kehidupan baru yang lebih baik, kami pun renggang.
Aku tak masalah, setidaknya aku masih punya uang, maka orang tidak akan menghujatku. Jaman sekarang, uang bisa membeli mulut seseorang. Bahkan harga dirinya sekalian.
Miris.
Namun percayalah, itu nyata!
Aku menaikkan kaca mata hitamku diatas kepala, lalu mengambil troli di pojokan depan dan mulai memilih-milih belanjaan.
Dikarenakan aku kurang suka masak, jadi langsung saja ke bagian snack dan makanan instan. Hahaha...
Tunggu, ku ambil buah dulu. Apel, mangga, kiwi, anggur dan pisang.
Wow, besar sekali pisangnya? Aku suka!
Kudorong lagi troli kedepan, ada snack ringan didepan sana. Aku sibuk memilih sampai tak sadar, troli-ku menabrak seseorang.
Aku memekik sedikit, lalu tersentak.
Seorang lelaki tinggi besar dengan kulit bersih dan hidung mancung, menoleh menatapku. Mata kami bersiborok, aku terpesona dengan mata coklatnya.
Teduh dan mengayomi.
Aku tersadar lalu bergegas menghampirinya.
"Maaf, saya nggak sengaja. Apa ada yang sakit?"
"It's oke." Pria itu tersenyum lalu melangkah pergi.
Astaga, apa tadi Appolo? Mengapa tampan dan bercahaya sekali?
Aku menoleh menatap punggungnya. Pria itu sudah agak jauh. Tapi aku mengenal punggung itu.
Baju yang dipakainya pun sama, itu pria yang sama yang ada di pesta Pamela tadi.
Bodohnya aku nggak sempat ngajakin kenalan. Yang bening begitu bisa-bisanya kulewatkan.
Ponselku berdering. Pesan dari mas Bima, ia menyuruhku makan, ia tahu aku belum makan dari tadi.
Pesan itu juga bagai alarm untukku, bahwasanya aku tidak bisa berhubungan dengan lelaki manapun selama dalam masa kontrak.
Sial, aku meremas ponselku. Kubiarkan Appolo-ku berlalu pergi begitu saja.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Erna Yunita
ok... lanjut
2024-11-19
0
Afternoon Honey
tetap menyimak bacaan
2023-11-02
0
Ersa
sopo seh? Dion? Robert?
2023-10-27
0