Dara berdandan cantik malam ini, ia duduk disebelah Brian dalam perjalanan menuju rumah mertuanya.
Begini saja ia bahagia.
Duduk berdua, mencuri pandang ke arah Brian, menghirup wangi Brian, merasakan kehadirannya.
Malam ini Pak Darmawan dan Bu Alisha, orang tua Brian, mengundang mereka makan malam. Meskipun acara makan-makan biasa, tak ada yang special, tapi Dara tetap berdandan untuk Brian.
Meski laki-laki ini tak menganggapnya sama sekali. Meski Dara tak bisa menyentuh Brian semaunya.
Tak apa.
"Akhirnya kalian datang..." Bu Alisha menyambut Brian dan Dara hangat. Ia memeluk mantunya itu, juga menyapa Brian sekilas. Alisha langsung mengajak Dara ke dapur.
Brian mengekor dibelakangnya.
"Dara bawain sesuatu." Dara mengulurkan paper bag ke Mama saat sampai di meja makan.
Brian mengambil kursi didekat Papa.
"Wow, Strudel kesukaan Papa nih." Seru Mama saat melihat isi dalam kantong kertas yang diberikan Dara.
"Kamu bikin sendiri Dar?"
Dara mengangguk, "iya Ma."
"Besok ajarin Mama ya..."
Papa berdehem, "belajar bikin yang gampang aja dulu, Ma. Strudel agak susah loh."
"Iya, belajar bikin orek tempe aja belum jadi." Sahut Brian julid.
"Ih, ini kan juga demi Papa, biar irit nggak jauh jauh beli Strudel ke Malang lagi kalau Mama bisa bikin."
"Nggak usah, Papa beli aja."
"Apa sih? Nggak dukung banget bininya pinter masak." Gerutu Alisha. Dara mengelus lengan mertuanya itu sambil tersenyum.
"Kita makan aja yuk Ma." Ajak Dara sebelum Alisha merepet kemana-mana.
"Eh iya, kamu dah laper ya? Duuhh.. maaf ya, Mama malah keasyikan ngobrol. Ayok, kamu mau makan yang mana? Mama ambilin."
Brian melirik Mama sebel.
"Mentang-mentang punya mantu, anak kandung berasa anak tiri." Nyinyir Brian.
Mama emang yang paling excited saat tahu bakal punya mantu, maklum anaknya cowok semua. Nggak bisa diajak belanja, ke salon, gibahin tetangga. Kaku semua kayak kanebo kering.
Yang bungsu apalagi...
Bengal bin rese minta ampun.
Darmawan terkekeh, "Mamamu jadi suka masak loh gara-gara Dara."
"Masaaa? Kok nggak yakin ya?" Brian mengerutkan dahinya. "Kira-kira yang mana masakan Bi Sari nih, Pa?" Brian melihat menu yang tersaji di meja.
Alisha melempar serbet ke muka Brian. "Ceritanya gibahin Mama nih?"
"Iiiihhhhh, kok tahuuuu..."
"Orangnya disini Bambang..." Mama merengut.
"Jangan kaget, ini semua Mama yang masak. Cobain Dar..." Mama menyendokkan nasi ke piring Dara.
"Mah..." Brian menegur Mama.
"Eh lupa..." Mama nyengir. " Tetep the first and only for my love." Nggak jadi mendarat di piring Dara nasinya, tetep ke piring suaminya dulu.
Brian mengatupkan bibirnya, menahan geli.
"Ma, boleh Dara ambilkan nasinya Mas Brian?" Mata bulat Dara menatap mertuanya, Mama meleleh, gemess banget sihh, bikin Mama pingin nyubit.
"Oh, of course..." Mama memberikan centong nasi ke Dara.
"Nggak usah, aku sendiri aja." Brian meraih centong dari tangan Dara. Ia menyendokkan nasi kedalam piringnya sendiri.
Dara menunduk.
Mama dan Papa saling lirik.
"Helooo everybody..." Suara cempreng anak bungsu keluarga Darmawan membahana memecah kecanggungan.
Nggak usah pake toa, pasti sampai paviliun belakang itu suara.
"Haiii Bunda, haii Ayahanda...
Zain mencium pipi ibunya, lalu pipi ayahnya bergantian.
"Halo Kak Brian, halo kakak ipar." Zain menyapa kakaknya sambil menarik kursi disamping Brian.
Brian terkekeh geli, Dara membalas sapaan adik iparnya itu.
"Sejak kapan Mamamu ini jadi Bunda?" Sahut Mama sambil menuang air putih ke dalam gelas.
Zain cengengesan, "Mama hari ini cantik, mirip Bundadari. Hehehe..."
"Baru nyadar?" Mama mengibaskan rambutnya kebelakang.
Zain mengacungkan tanda hati dengan kedua tangannya.
"Wah banyak makanan, ini siapa yang masak, Ma?" Tunjuk Zain.
"Mama dong." Jawab Mama bangga.
"Eee, ummm... masakan Bi Sari yang mana?"
Mama melotot, "Bi Sari cuma masak nasinya aja tuh. Apa? nggak makan lagi?" Mama mendadak galak. Zain langsung mengkeret.
"Sudah, sudaahh... ayo makan, nggak baik adu mulut di depan makanan." Papa melerai mereka.
Terpaksa Zain mengambil piringnya. Dia menyenggol kaki Brian.
"Sstt, brader... takut gue." Bisik Zain lirih.
"Kenapa?" Sahut Brian.
"Diare dua hari gara-gara dipaksa makan cap cay buatan Mama." Wajah Zain memerah.
Brian terkikik, "Maaa... nih Zainal kagak mau makan. Katanya..."
Zain buru-buru menutup mulut Kakaknya pake tangan. Gawat kalau sampai ngadu ke Mama. Sialan ini Abang satu, kagak bisa banget diajak kongkalikong.
"Makan kok Maaa... anu Zain lupa belum mandi. Gerah banget habis panas-panasan tadi."
Brian menggigit tangan Zain sampai lepas dari mulutnya.
"Yuuhh, jorok banget sih lo. Cuci tangan nggak tadi, pegang-pegang mulut gue?" Amuk Brian sambil menggosok-gosok mulutnya pake serbet.
"Cuci tangan tadi pake aer mineral."
"Jorok lo!"
"Hehehe..."
"Zainal, duduk!" Titah Mama. "Makan!" lanjut Mama galak.
Zain menatap piringnya pasrah. Mau minta bantuan Papa pun percuma. Papa lebih tertarik menelan makanan tanpa di kunyah daripada belain Zain. Alamat diare lagi ini mah.
***
Brian menatap Dara yang lagi asyik ngobrol dengan Mama dari taman belakang. Jendela dapur cukup lebar untuk menampilkan sosok Mama dan Dara dari sini.
"Segitunya lihatin istri sendiri, Dara cantik kok, Papa tahu. Sudah halal juga untukmu." Kekeh Darmawan.
Brian menoleh lalu tersenyum kecil sambil menunduk.
Darmawan menepuk-nepuk pundak Brian.
"Jadi laki-laki sejati itu susah, Brian. Saran Papa, jika memang kamu tidak bisa membahagiakannya, maka lepaskanlah, jangan menyiksanya. Hati-hati, Papa lihat Dara mulai suka kamu."
"Nanti Pa... nanti kalau waktu itu tiba." Pandangan Brian menerawang menembus rumpunan bunga melati di depannya.
"Papa tahu kan niatku baik?" Brian mengalihkan pandangannya menatap Darmawan.
"Yah... semoga saja berakhir baik." Jawab Darmawan sambil tersenyum.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengrenyit melihat nama Melia berkedip-kedip di layar.
"Ehem... Pa, aku angkat telfon dulu ya?" Ijin Brian sambil menjauh dari bapaknya.
Darmawan mengangguk mengiyakan. Dia masuk kedalam meninggalkan anaknya.
"Ya..."
"Ke kantor polisi, sekarang!" Suara Melia dari seberang penuh penekanan, dibelakangnya suara ribut-ribut terdengar berisik.
"Wah, kena grebek aja baru hubungin gue. Bukannya cemceman lo aparatur negara ya?" Ejek Brian sarkas.
"Dewan tawuran."
Brian langsung menegang.
"Sare lock, gue kesana!"
Brian memasukkan ponselnya kedalam saku sambil berjalan tergesa-gesa.
"Ma, titip Dara. Nanti Pak Totok suruh antar pulang ke apartemen, Brian ada urusan mendadak." Ucap Brian sambil meraih kunci mobilnya diatas nakas.
Dara mengekor dibelakangnya, mencoba mengimbangi langkah lebar Brian.
"Hati-hati Mas..." Pesan Dara, ikut khawatir. Mungkin ucapannya tidak dianggap, Dara juga tak tahu apa yang terjadi. Tapi ia tetap bersyukur, Brian masih memikirkannya disaat panik seperti tadi.
Ah, Mas Brian...
Alisha mengelus kepala Dara, perlahan mereka kembali masuk kedalam rumah.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Renata
bener tuh kata pak darmawan klo udah g ada rasa lepasin aja jgn menyiksa
2024-01-31
0