303

Pernikahan mewah sekelas konglomerat, di hotel bintang lima.

Ini sih gila!

Dekorasi pelaminannya sungguh indah, bernuansa ungu dan putih. Pamela terlihat anggun dan fresh dengan balutan kebaya putih yang cantik. Begitu simple, tanpa ekor dibelakangnya.

Entah mengapa ini seperti pernikahan impianku nanti.

Ehem, orang sepertiku bukannya nggak pernah bermimpi bakal membina keluarga yang harmonis lho yaaa...

Banyak yang mendekati, tapi yang cocok dihati, entahlah...

Ada yang cocok di ini, tapi nggak cocok di itu. Ada yang ngajakin serius, nggak tahunya dijadikan istri kedua. Yah, mending jadi baby kalau begitu ceritanya.

Jadi istri kedua, bukannya bahagia, tapi malah saling menyakiti hati sesama perempuan.

Nanti ditendang istri pertama, kita jadi gelandangan. Malu juga kan kalau sampai jambak-jambakan? Toh Dimata publik, yang salah tetap kita.

Yak ampuun, apa cuma baby, pekerjaan yang nggak beresiko? Jikapun ada, itu karena kebodohan kita.

Contohnya hamil. Nah, kan ada alat kontrasepsi. Pinter dikit dong.

Milih Daddy juga bukanya yang sembarangan. Biar aman pilih yang single, duda dengan anak yang masih kecil-kecil nggak masalah. Aman deh, nggak bakal ada drama labrak melabrak.

Kalau duda berumur dengan anak yang sudah remaja, ini yang nakutin. Remaja sekarang brutal-brutal gaeesss...

Syukur-syukur dapet yang masih muda.

Biasanya para eksekutif muda yang penat dengan kerjaan, pacar nggak bisa disentuh, atau nggak ada pacar sama sekali saking sibuknya dan mereka butuh pelampiasan. Daripada 'jajan' sembarangan, mereka lebih milih peliharaan baby.

Yang model begini pikirannya masih labil, permainan ranjangnya juga belum terlalu lihai. Ini kerjaan double buat kita, karena harus lebih agresif lagi.

Yang enaknya, mereka masih gampang dibodohi. Hehehe...

Aku berjalan sendiri menghampiri pelaminan. Antrian didepan sudah mengurai.

Pamela sudah melihatku dari jauh. Ia mengulurkan tangan, menyambutku saat aku sampai didepannya.

"Selamat ya sayaaannggg..."

Kami berpelukan, kucium pipinya kanan kiri. Sekilas aja, takut merusak make up nya. Yee khaann?

"Thanks ya Mel... Gue doain lo cepetan ketemu jodoh." Wajah Pamela berseri-seri. Aura pengantin emang beda.

"Aamiin... Eh, tapi boleh request nggak doanya?"

"Apa?"

Aku mendekatkan bibirku di telinga Pamela, lalu berbisik, takut lakinya denger, "doain Daddy gue yang baru kayak laki lo ya, kayaknya pro banget di ranjang. Iya nggak sih?"

Pam ngakak. Sumpah ni cewek nggak ada akhlak, ketawa lebar banget. Mana dilihat banyak orang pula.

Yah, tapi emang begini sih Pamela, apa adanya. Ia nggak terlalu peduli penilaian orang.

"Badan lo bakal sakit kalau ketemu laki kayak punya gue." Pam melirik Rion, suaminya.

"Separah itu?" Tanyaku nggak yakin.

"Iya, tapi nagih." Bisik Pam.

"Astaga, gue sukaaa..." Mataku berbinar.

"Dih, sana pilih makanan. Nggak usah salam laki gue!" Usir Pam galak.

Gue mana peduli, serobot dikit pipi suaminya aaahhh... mayaannn...

Pamela sudah berkacak pinggang saat aku meminta suaminya berfoto denganku. Dia nggak ku ajak dong, biarin aja...

Setelah puas menggoda Pam, aku melenggang menuju stand makanan, pingin icip Zuppa soup, kayak yang menggoda gitu baunya.

Saat aku melangkah, dari pintu masuk terdengar sedikit kegaduhan, aku tak sengaja menoleh. Sepertinya ada tamu penting yang datang. Rombongannya ketat banget.

Pak Presiden dengan para ajudannya.

Wow, beruntung sekali Pamela. Aku jadi tambah penasaran, apa pekerjaan suaminya sampai presiden saja menyempatkan waktunya untuk hadir loh.

Tak sengaja aku melihat Mas Bima, tepat dibelakang Pak Presiden.

Aku tersenyum saat mata kami bertemu, dia hanya melirik sekilas tanpa expresi lalu kembali fokus ke depan.

Aku hanya mengedikkan bahu, resiko lain jadi baby ya gini, siap-siap nggak dianggap saat nggak sengaja bertemu atau papasan dijalan.

Meski kalau ketemu dikamar maunya dimanja. Ditinggal sebentar udah merengek minta di puk puk.

Tapi jangan tanya, diluar mereka bisa saja memandang kita selayaknya kuman.

Apalagi kalau ada relasi disekitarnya, jangankan dianggap, melirik aja ogah. Mas Bima masih mending kasih lirikan dikit.

Aku sih sudah biasa. Kadang aku malah sengaja menggoda Daddyku.

Seperti aksi yang sedang aku mainkan saat ini.

Aku mengambil makananku lalu berdiri tepat ditempat yang kuperkirakan dia bisa leluasa melihat kearahku.

Karena ini standing party, jadi aku tetap berdiri sambil makan. Pertama-tama aku mencari teman yang kira-kira datang sendiri.

Nyari teman pria ya, biar emosinya dapet.

Yup dapet, seorang pria yang kelihatannya mapan, sedang berdiri nggak jauh dari tempatku.

Ia sepertinya sengaja menyendiri, jika dilihat dari penampilannya, nggak mungkin pria ini nggak punya teman atau relasi di sini.

Aku menghampirinya. Sengaja aku menjatuhkan tas kecilku disebelahnya.

Pura-pura kerepotan memegang makanan dan tas, aku menunduk. Sengaja mengekspos dadaku agar Mas Bima lihat.

Voila, tepat saat matanya melirik ke arahku, aku menyibakkan belahan dress ku yang tinggi sampai paha.

Mas Bima membasahi bibirnya, sepertinya dia sudah mulai gelisah.

"You oke?" Seperti rencana ku, pria tadi mendekatiku. Ia mengambilkan dompet dan mengulurkan tangannya berniat ingin menolongku.

Aku tersenyum, kuraih tangan itu. Hangat dan lembut. Berbeda dengan tangan Mas Bima cenderung kasar dan liat.

Setelah mengembalikan tasku, pria itu berlalu pergi, bahkan tanpa melirik belahan dadaku yang menggiurkan ini.

Aku melihat punggungnya menjauh, tanpa sadar aku bengong.

"Ikuti aku..."

Aku kaget, Zuppa soupku hampir lepas dari tangan.

Mas Bima berjalan pelan melewati belakangku.

Aku menyeringai, enak saja nyuekin aku. Sekalinya digoda dikit nggak tahan juga.

Aku mengikuti Mas Bima. Agak jauh agar tak ada yang curiga.

Langkahnya lurus menuju tembok belakang.

Jika dilihat sekilas, tidak akan ada orang yang tahu tembok ini ada pintu tersembunyi. Letaknya agak pojok dan memang sepertinya sengaja di design untuk keadaan darurat.

Untuk orang terlatih seperti Mas Bima ini sangat mudah mengetahui apakah tembok itu aneh atau tidak.

Ia meraba sedikit tembok itu, sebentar kemudian ia menekan sesuatu sampai pintu itu terbuka perlahan.

Mas Bima masuk, aku juga.

Kami menyusuri lorong kecil, panjangnya sekitar lima meteran.

Keren, ini seperti ruang rahasia.

Mas Bima menggandengku karena labirin ini gelap. Ia menyalakan senter ponselnya.

Diujung jalan buntu, tidak ada persimpangan sama sekali. Mas Bima menengadah lalu mencari-cari sesuatu yang janggal.

Entah apa yang dilakukannya, tiba-tiba kami turun seperti menaiki lift. Aku berpegangan lengannya erat.

Pintu terbuka saat kami sampai. Ternyata ini menuju lobi bawah. Di ujung paling tidak akan orang sadari sama sekali, kita keluar.

Mas Bima melepas genggamannya. Aku berjalan lalu duduk di sofa tunggu. Sedang ia menuju resepsionis, berbicara sesuatu lalu mengetikkan pesan diponselnya.

303

Ponselku bergetar, pesan dari Mas Bima masuk.

Aku tersenyum, lalu dengan anggun melangkah menyusul Mas Bima yang sudah tidak terlihat lagi disana.

See... sudah kubilang, dia nggak akan tahan.

***

Terpopuler

Comments

Erna Yunita

Erna Yunita

beeeuuhhhhhh.... langsung gassskeeeeen

2024-11-19

0

Erna Yunita

Erna Yunita

haduuuuhhhhh.... g takut kena tabok ya mbak

2024-11-19

0

Erna Yunita

Erna Yunita

Hmmm..... mirip dengan kasus sih itu tuhhhhhhh

2024-11-19

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!