"Mel... cantik ya Mas?" Dara meletakkan kantong belanjaan diatas meja. Ia mencari wadah untuk memindahkan isinya. Sedikit menunduk dan sok sibuk untuk menyembunyikan raut wajahnya yang kacau.
"Hmm..." Gumam Brian agak malas. Ia meletakkan bawaannya disamping kantong milik Dara.
"Aku langsung balik kantor ya." Pamitnya sambil mencuci tangan di wastafel.
"Nanti aku kirim klappertaartnya kalau sudah jadi."
"Nggak usah, simpan saja. Aku kumakan nanti." Sahut Brian sambil melap tangannya yang basah.
"Nanti malam jangan lupa datang ya Mas."
"Nanti ku jemput pulang kantor, kita bisa pergi sama-sama."
"Baiklah, hati-hati Mas. Thanks sudah mengantarku tadi."
Brian mengacak-acak poni Dara. "Jangan sungkan, kamu boleh minta apa aja, asal aku bisa pasti ku kabulkan."
Benarkah apa saja?
Dara tersenyum getir memandang kepergian Brian.
***
"Tinggal lima hari lagi..." Gumam Mas Bima sambil membelai rambutku. Aku sendiri asyik memainkan dadanya dengan jari-jari tangan. Kepalaku bertumpu manja pada lengan Bima.
"Emmm... Mas mau coba gaya apa? Mumpung masih ada waktu." Aku mendongak menatapnya.
"Apa tidak bisa kita menikah saja? Kamu bisa pensiun jadi baby."
Aku mengrenyit, jawaban yang tak ingin kudengar, ini permintaan yang sama seperti beberapa Daddyku terdahulu, kecuali sang pangeran Arab yang baik hati itu.
"Aku cuma jago di ranjang, apanya yang menarik?" Tanyaku merendah.
Bima tersenyum, "kebutuhanku cuma itu. Yang lainnya bisa dikerjakan orang lain."
"Aku seumuran anak Mas lho, nggak mau konflik ah."
"Mereka sudah dewasa, pasti mengerti kalau bapaknya juga butuh pendamping."
Aku membetulkan selimut untuk menutupi tubuh polos ini dan duduk mengahadap Mas Bima. Kuraih tangannya yang besar dan kasar lalu kutempelkan untuk menangkup kedua pipiku.
"Sudah cukup Mas, sudah banyak madu yang Mas hisap dari lebah kotor sepertiku ini. Jika Mas ingin berumah tangga, carilah wanita baik-baik, dari keluarga terhormat, yang jelas asal usulnya. Bukan wanita sepertiku."
Kata-kata yang sama yang aku berikan untuk menolak secara halus pinangan para Daddy.
"Apa kamu nggak lelah hinggap kesana kemari? Kupikir kamu butuh naungan."
Tentu saja aku lelah, aku nggak munafik. Nanti akan ada masa dimana aku sudah tak menarik lagi, sudah tak ada yang menginginkanku lagi.
Profesi sepertiku ini riskan tergeser, banyak anak muda yang terjun, yang lebih segar, yang lebih menarik tentu saja.
Yang sudah senior sepertiku ini harus pintar-pintar merawat diri.
"Tentu saja aku butuh, tapi nggak sekarang..." Jawabku akhirnya.
"Oke, aku tunggu."
Aku terkikik, "mau sampai kapan?" Godaku sambil memajukan wajahku.
"Sampai kamu siap." Bima mencubit hidungku.
"Lima hari lagi aku sudah bersama Daddy lain loh, ingat?"
Bima menarikku kedalam pelukannya. "Bikin kesel aja." Gerutunya.
"Sudah kubilang, jangan pakai perasaan. Begini kan jadinya?" Aku membalas pelukannya.
"Tidak ada yang tidak mencintaimu jika sudah memelukmu seperti ini. Kamu terlalu indah untuk dilepaskan."
"Hmm, aku tersanjung. Terima kasih." Aku menggesekkan pipiku di dadanya.
"Apa kamu nggak cinta aku?" Tanya Bima tiba-tiba.
Aku terkekeh, "wanita sepertiku dilarang jatuh cinta, Mas."
"Oh ya? Siapa yang melarang? Setahuku tidak ada undang-undang yang mengatur orang jatuh cinta."
"Jika kami jatuh cinta, kami juga harus siap terluka. Luka yang lebih dalam dari luka wanita biasa."
"Aku nggak akan melukai kamu."
"Sudahlah Mas." Kupeluk Mas Bima lagi. Aku tahu Mas Bima baik, tapi aku sudah terbiasa membentengi hatiku setinggi mungkin untuk tidak jatuh cinta dengan klienku sendiri.
Apa itu cinta? Bulshit! Aku tak percaya. Cinta itu hanya membuat orang bertindak bodoh, seperti Mamakku...
Rencananya malam ini akan ku habiskan bersama Mas Bima dengan banyak bercerita, sedikit bercinta.
Ku biarkan Mas Bima yang cerita sih, aku cuma jadi pendengar dan memberikan support setiap dibutuhkan.
Soal kehidupanku sendiri, ini terlarang di umbar. Aku nggak mau Mas Bima tahu siapa aku sebenarnya.
Cukup dia tahu namaku Melati dan aku seorang baby, itu saja.
***
"Yooo... ma meennn... Ngapain lo bengong dimari? Kagak liat semua pada kesono?" Zain melempar Dewan pake kulit kuaci. Ia menyeret kursi plastik dan duduk dekat Dewan.
Yang di tanya cuma melirik sekilas, lanjut makan siomay, nggak niat jawab juga.
"Satu Mang." Zain melambaikan tangannya ke Mamang siomay. Dibalas acungan jempol si Mamang.
"Gila, ketampanan gue langsung luntur kena panas, polusi dan debu." Gerutu Zain kegerahan. Dia melepas jas almamaternya, lalu menyampirkan asal di pundak.
Saat ini mereka sedang kumpul di Monas. Kegiatan kampus untuk mendukung Palestine. Dari pagi jejeritan free free Palestine... free free Palestine...
Mereka bertiga, Dewan, Zain dan...
"Sue lo pade..." Jeffry datang dengan nafas ngos-ngosan. Dia langsung rebahan diatas cor-coran bangku taman yang letaknya agak tersembunyi. Jas almamaternya ia gunakan untuk menutupi wajah sampai dada.
"Woy, kaga engap lu?!" Teriak Zain.
"Kepala Jeffry nyumbul dikit, "Sssttt... jangan bilang gue disini."
"Lah ngapa lagi ni bocah..."
Dewan menendang kaki Zain sambil kasih kode pake matanya.
"Eeettt daaahhh, dia lagi, dia lagiiii... Ape Neng?"
Zain menyapa tiga orang gadis yang berjalan celingukan ke arahnya.
"Mana Jeffry?" Tanya salah satunya.
"Lah, nanya Jeffry ke gue? Salah kode pos kaliii..."
"Eh, gue tahu ya, pasti lo umpetin kan?"
Zain berdiri sambil merentangkan tangannya. "Cari deh dimana aja, Abang pasrah. Coba disaku cela na dalam, kali aja ada."
"Cih, ngarep banget gue jamah? Mimpi!" Cibir cewek-cewek itu.
"Emang cela na dalam lo ada sakunya cuy?" Dewan menimpali.
"Ada dong, gue kan safety. Duit gue suka ilang soalnya."
"Kasih resleting nggak tuh?"
"Kagak sih, takut ganjel, nggak suka gue. Kalau yang ganjel Mpok Mpok ini mah pasrah aja gue." Zain menaik turunkan alisnya.
"Cih, minggir! Maunya Jeffry, bukan elo!" Tubuh Zain digeser kasar.
"Ampun deh, cewek kok kasar. Pantes nggak ada yang mau." Nyinyir Zain. Dia terkekeh geli melihat tuh cewek bertiga berlalu pergi.
"Mang, siomay gue mana, lama amat?" Teriak Zain.
"Bentar, gue lagi ke belakang tadi." Sahut Mamang siomay. "Nih, extra telur dua."
Mata Zain berbinar cerah, "cekep."
Ia mencolok telur duluan sebelum disambar setan. Biasanya gitu, niatnya mau dimakan terakhir, tau-tau ilang duluan.
"Muke gileee, bener kan ilang..." Keluh Zain sambil melirik setan yang nyuri telurnya.
Jeffry cengengesan sambil ngunyah telur miliknya.
"Kagak baca doa kan lo?" Timpal Dewan mengingatkan Zain.
"Lupa gue, setan model gini maunya dibacain ayat kursi, ayatnya baca, kursinya lemparin dah ke mukanya." Ucap Zain sadis sambil masukin pare kedalam mulutnya.
"Jangan kursi dong, atiiittt..." Jeffry pura-pura takut, dia bersembunyi dibelakang punggung Dewan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Renata
kadang2 persahabatan emg bisa segila itu
2024-01-31
0
Ersa
eh ini Jeffry nya bu Bella?
2023-11-11
0
Ersa
kereeennnn 👍
2023-11-11
0