Cafe Jingga sore ini.
Cafe anak muda kekinian yang mengusung tema vintage. Lucu dengan segala pernak-pernik jadul yang memorable. Tempatnya juga instagramable banget.
Menu yang di tawarkan juga lumayan lengkap.
Aku sudah duduk disini sebelum jam tujuh, waktu yang ku janjikan dengan Brian.
Kupilih jam-jam ini karena kupikir ini berada di jam-jam pulang kantornya. Dan aku datang lebih awal karena memang nggak ada kerjaan aja.
Mas Bima sedang tugas di luar kota. Aku tak perlu ijinnya untuk keluar bertemu laki-laki lain. Toh misalkan ketahuan, juga nggak masalah sih. Kita ngobrol ini bukannya berbuat yang tidak-tidak.
Dari sekian banyak mantan Daddyku yang lain, dia yang paling fleksibel. Tidak terlalu banyak menuntut dan juga sedikit perhatian.
Biarpun bi nal, tapi aku tetaplah seorang wanita yang suka diperhatikan. Yah, ku anggap ini suatu keberuntungan.
Bagaimana tidak? Dulu saja, dua tahun jadi babynya orang Arab, aku sempat tak boleh keluar rumah.
Untung aku pandai merayu, mana betah aku dikurung terus menerus. Setelahnya malah dia yang suka ngajakin jalan-jalan, dihujani hadiah-hadiah mahal, makan makanan enak, naik jet pribadi, singgah di tempat-tempat indah di dunia.
Setelah habis kontrak, diapun pergi. Sampai sekarang tidak saling tahu lagi.
Bagus sebenarnya, mayoritas mantan Daddyku masih ber nafsu melihatku saat tanpa sengaja kami bertemu atau papasan di jalan.
Aku nggak suka, end berarti selesai.
Segelas jus Melon baru saja waiters letakkan di atas mejaku.
Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Siapa tahu ada pesan dari Brian atau Bima.
Empat panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.
Aku mengrenyit, lupa mensetting ponsel agar yang dapat menghubungiku hanya nomor yang ku simpan saja.
Aku tidak terlalu peduli, ku letakkan ponselku di atas meja.
Benda itu kembali berkedip, nomor yang sama.
Aku cukup penasaran, ku geser tanda hijau. Suara yang sangat ku kenal menyapa telingaku.
"Halo Mel, tolong jangan matikan dulu, ini Mama..."
Aku tahu itu suara Mamaku, aku tak berniat menjawab.
"Kamu dimana? Pulanglah. Mama ingin bertemu sebentar saja..."
Aku mendengus kasar, apa tadi dia bilang? Pulang? Setelah membuangku dua belas tahun lamanya? Lelucon apalagi ini?
Terdengar isak tangis disebrang. Aku melengos. Aku sudah muak dengan semua drama ini. Apa mau orang tuaku sebenarnya?
Apa Papa sudah jatuh miskin hingga mencariku? Apa si tua itu ketahuan selingkuh? Atau hartanya habis digondol gundiknya?
"Mama tahu, kamu mendengarkan Mama ngomong, Mama minta maaf. Sekali ini saja Mama mohon pulanglah. Ku pastikan sudah tidak ada lagi yang berani mengusirmu. Papa sudah meninggal. Pulanglah Nak, pulanglah Melia..."
Isak tangis Mama semakin keras, aku mematung di tempatku.
Entah mengapa aku tidak sedih, tidak juga bahagia mengetahui fakta tentang Papa, hatiku mati rasa.
"Kak... demi Mama dan aku, kami mohon pulanglah walaupun hanya sekali saja. Setelah itu meskipun harus mati, pasti Mama akan bahagia."
Suara Dewan, adiku satu-satunya.
Saat sambungan terputus, aku menunduk dalam sambil mengigit bibir bawahku.
Ya Tuhan, suara adikku yang semakin dewasa. Sudah semakin berat dan berwibawa. Sebesar apa ank itu sekarang? Sudah kuliah kah anak nakal itu?
Seseorang menyodorkan sapu tangan di hadapanku, aku mendongak.
Brian. Sejak kapan sih pria ini berdiri disitu? Ngagetin aja.
Pria itu meletakkan sapu tangannya di meja karena aku tak kunjung menerimanya.
"Kurasa hatimu sedang dalam suasana kurang baik." Ucapnya sambil menarik kursi.
Aku melengos, "sok tahu!" Gumamku sambil meraih sapu tangannya.
Aku menegakkan punggung, ku minum jus melon sampai habis separuh gelas. Ku lap bibir perlahan dengan sapu tangannya.
Anggun dan berkelas, bak wanita aristokrat.
Brian masih menatapku lurus tanpa expresi.
Aku jadi lupa kan mau ngobrolin apaan. Semua pertanyaan di kepalaku mendadak bubar berganti dengan kegalauan.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Brian.
Aku mengakat dagu, "sejak kapan kamu jadi penguntit?"
Brian terkekeh, "aku tahu kamu cerdas. Tapi sungguh tak menyangka rahasiaku bisa secepat ini ketahuan. Hehehe..."
Tidak ada yang lucu, aku masih menatap Brian sampai pria itu berhenti terkekeh.
"Sejak kamu menolakku." Brian memajukan wajahnya, ia kini memasang wajah serius.
Aku memiringkan kepalaku, mencoba mencari sosok Brian di kehidupanku yang lampau.
Gagal. Aku benar-benar nggak ingat sama sekali.
"Excuse..." Aku meminta clue pada Brian.
Laki-laki itu menyandarkan punggungnya santai, kakinya ia lipat sedemikian rupa, jari-jarinya saling bertaut. Ia tampak mengintimidasi. Laki-laki ini sedang menunjukkan eksistensinya.
"SMA Bhakti..." Ucap Brian.
Memoryku mencoba kembali mengingat saat aku SMA.
"Yang memanggilmu Melia, bukan Melati..."
Nama asliku memang Melia. Semua teman-teman sekolahku memanggilku Lia.
"Pria berkacamata yang sering kamu panggil gendut..." Lanjut Brian memberiku clue yang semakin memperlihatkan benang merahnya.
Aku menutup mulutku tak percaya. Aku ingat sekarang.
Brian dulu memang culun dan gendut. Tubuhnya bulat bak cilok bumbu kacang. Sukanya mojok di kantin. Makannya paling banyak. Benar, dulu aku memanggilnya gendut.
"Astaga Nduuuttt... sumpah ini kamu? Bagaimana bisa?" Aku beneran nggak percaya, laki-laki tampan, tinggi dan atletis ini adalah si Gendut Yayan.
Tak ada sisa-sisa lemak sama sekali diwajahnya, padahal dulu pipinya tembem banget.
Brian terlihat kurang suka aku memanggilnya begitu. Padahal aku nggak berniat mengolok-oloknya, itu hanya sebuah reaksi dari keterkejutanku saja.
"Melia... bertahun-tahun lamanya aku mencarimu. Setelah lulus sekolah sampai hari itu, hari dimana tanpa sengaja aku melihatmu jajan martabak di pinggir jalan."
Aku mencoba mengingat, kapan terakhir kali beli martabak pinggir jalan.
Hmmm, itu sudah hampir sebulan yang lalu. Waktu itu aku pulang dari salon dan kebetulan melihat kang martabak langgananku sedang sepi. Aku berinisiatif membeli karena nggak pake antri. Jadi ku tunggu saja sampai selesai.
"Berarti waktu di resepsi pernikahan Pamela, kamu sudah menguntitku?" Tanyaku curiga.
"Aku sengaja berdiri di tempat yang paling dekat denganmu. Kupikir kamu masih mengenalku."
"Sorry, Yayan... bukan maksudku. Tapi kamu sungguh orang yang berbeda dari Yayan yang ku kenal waktu SMA."
"Jangan panggil Yayan lagi, itu mengingatkanku pada bullying kejam yang kau lakukan."
"Sorry..." Aku menatap Brian penuh penyesalan.
Brian diam saja. Omong-omong soal penolakan, kapan aku pernah menolaknya? Dia belum pernah sekalipun menyatakan cintanya padaku. Apa aku yang lupa ya?
Ponselku kembali berdering, nomor yang tadi dipakai Mama.
Aku mengangkatnya.
"Kak, mama pingsan. Aku dalam perjalanan ke rumah sakit. Marina Medika ya."
Tut!
Dewan mematikan sambungan telponnya.
Wajahku berubah pucat. Kali ini aku takut, benar-benar takut.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Erna Yunita
hmmm...... hasrat terpendam ya
2024-11-19
0
Natania tsani
ada luka masa lalu rupa nya
2024-01-31
0
Afternoon Honey
lanjutkan ya author...
2023-11-02
0