Lu Yuan menyelinap ke dalam istana kekaisaran ketika malam sudah tiba. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang menyamarkannya dengan kegelapan malam.
Karena dia sudah sangat hafal rute dan tata letak istana, mudah baginya untuk melewati titik buta pengawasan prajurit kekaisaran yang berpatroli.
Tidak ada hal lain, Lu Yuan hanya ingin mengambil sesuatu dari aulanya. Meski dia bisa memohon pada Janda Permaisuri untuk memberinya izin memasuki Aula Wende, namun itu akan sangat canggung dan Lu Yuan juga tidak ingin membuat ibunya bergerak terlalu banyak.
Jalan yang sulit ini akan dilaluinya seberapa besarpun tantangannya. Lu Yuan sejak awal sudah bertekad akan membalaskan kematiannya dan mengungkap kebusukan sampah-sampah pengadilan dan Lu Zheng, mengeksposnya dan membuat mereka menerima sanksi yang tidak termaafkan.
Jadi sebisa mungkin dia tidak akan melibatkan keluarganya lagi dan mendorongnya ke situasi yang sulit. Dia juga tidak ingin menciptakan kebingungan untuk Janda Permaisuri atas segala tindakannya.
Istana Wende dijaga dengan ketat. Prajurit yang berpatroli di sana jumlahnya lebih banyak daripada di tempat lain.
Ini dikarenakan semasa Lu Yuan hidup sebagai Kaisar Yangle, ibunya telah mengkhawatirkannya sepanjang waktu dan menempatkan banyak prajurit untuk menjaganya.
Tujuannya hanya untuk mencegah orang luar bertindak menggunakan kesempatan saat Lu Yuan lengah dan melepaskan identitasnya sejenak setiap malam.
Setelah meninggal, maka penjagaan bisa jadi lebih ketat karena Janda Permaisuri menaruh curiga pada peristiwa tragis itu. Aula Wende memiliki banyak benda penting yang terkait dengan Lu Yuan dan negara, sehingga tidak sembarang orang bisa memasukinya.
Lu Yuan menggunakan kesempatan saat penjagaan mengendur untuk masuk. Di depan pintu istana, dia berdiri dengan ragu. Tangannya terulur meraih kunci yang dipasang di sana, lalu pikirannya melayang pada masa beberapa bulan sebelum dirinya mati.
Aula Wende adalah tempatnya menghabiskan waktu sepanjang hari. Aula Wende membawa ingatannya kepada Li Jing, yang sekarang sudah menjadi tulang belulang.
Kepala kasim itu begitu setia dan melindunginya. Rasa sakit akan pengkhianatan dan kematian yang tidak adil membuat Lu Yuan kembali membulatkan tekad.
“Aku harus masuk,” dia meyakinkan dirinya.
Lu Yuan meraih jepit rambut pemberian Janda Permaisuri yang sempat menjadi senjata untuk menjebaknya. Dia menggunakannya sebagai kunci untuk membuka gembok tersebut. Setelah bunyi ‘krek’ terdengar, Lu Yuan segera menyingkirkan gembok tersebut dan membuka pintu istana.
Dia menyelinap dan kembali menutupnya. Untuk sesaat, dia tertegun menatap interior Aula Wende yang masih sama seperti sebelumnya.
Kursi kerjanya, lemari bukunya, furniturnya, segalanya masih tertata rapi seperti dulu. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang bergeser sedikitpun.
Tanpa sadar, dia meneteskan air matanya. Menahan segala rasa sakit dari kehidupan masa lalu, dia berjalan ke belakang lemari buku. Lu Yuan membuka sebuah laci, mengangkat beberapa tumpuk buku dari sana untuk menemukan sebuah kunci mekanisme.
Setelah ditemukan, dia menekannya dan sebuah ruangan rahasia muncul setelah lemari bergeser ke arah kanan.
Ruang rahasia itu dipenuhi dengan tumpukan dokumen berisi laporan kejahatan para menteri korup dan benda-benda langka miliknya. Selain Li Jing, tidak ada yang tahu letak ruang rahasia itu.
Lu Yuan mengambil sebuah kotak dan mengambil sebuah pelat darinya. Itu adalah pelat harimau emas yang berfungsi sebagai pengendali Pasukan Cangwu, pasukan elit militer paling kuat yang dimiliki oleh kekaisaran.
Itu adalah benda yang susah payah dicari oleh Lu Zheng, namun tidak berhasil ditemukan karena hanya Lu Yuan dan Li Jing saja yang tahu di mana dia menyimpannya.
Li Jing sudah mati, sementara Lu Yuan secara fisik juga sudah mati. Maka, kecuali Lu Zheng meratakan seluruh istana, sampai kapan pun dia tidak akan pernah menemukannya.
Lu Yuan bersyukur karena dia diberikan kesempatan hidup, sehingga dia bisa mengambil kembali pelat tersebut dan membuat keberadaan Pasukan Cangwu tidak sia-sia.
Tiga pasukan besar kekaisaran – Shenwu, Huangyu, dan Cangwu, semuanya adalah pasukan elit militer. Pasukan Shenwu ada di bawah kendali Marquis Yongping – Gong Zichen dan telah ditugaskan melindungi perbatasan selama bertahun-tahun.
Pasukan Huangyu, kendalinya ada pada Jenderal Gu – Gu Xiaoran dan telah mendiami kamp militer Jiulin di barat daya ibukota. Sementara itu, Pasukan Cangwu ada di bawah kendali Lu Yuan dan hanya bisa digerakkan dalam kondisi darurat.
Pasukan Huangyu punya jumlah paling banyak. Meskipun begitu, ketiga pasukan tersebut sama-sama kuat.
Mereka hanya akan digerakkan untuk melindungi perbatasan negara, ibukota, dan juga istana kekaisaran dan menghindarkan orang-orang dari bahaya peperangan. Jika terjadi serangan, maka ketiga pasukan ini akan bergerak selama Lu Yuan memerintahkannya.
Tentara kekaisaran yang menjaga istana, sebetulnya terdiri dari campuran ketiga pasukan tersebut. Hanya saja identitas mereka dirahasiakan sehingga mereka memiliki identitas ganda.
Mendiang ayahnya sudah mengaturnya untuk Lu Yuan, namun sayang sekali Lu Yuan harus mati di tengah jalan.
Lu Yuan menyimpan kotak kosong tersebut dan beralih meraih kotak lainnya. Kali ini, dia mengeluarkan segel giok emas yang juga dicari oleh Lu Zheng.
Namun, keberadaan segel giok ini sepertinya belum saatnya diambil. Dia menyimpannya lagi ke tempatnya semula.
Tiba-tiba, dia mendengar suara dari luar sana.
“Penyusup! Cepat cari penyusupnya!”
Seperti yang diharapkan, insting pasukan prajurit kekaisaran sangat tajam dan teliti. Lu Yuan tahu sudah saatnya dia keluar dan melarikan diri. Melalui celah, dia menyelinap keluar dari Aula Wende. Sayangnya, dia lengah dan prajurit melihatnya.
“Itu dia! Tangkap penyusup itu!”
Keributan besar terjadi di tengah malam. Semua pasukan bergerak mengejar Lu Yuan. Bahkan Istana Timur yang masih didiami Lu Zheng juga tidak luput dari keributan.
Lu Zheng marah besar dan menyuruh semua prajurit menangkapnya hidup atau mati. Kemarahannya itu membuat para prajurit segera melarikan dirinya.
Lu Yuan bersembunyi di beberapa titik. Saat situasi mulai memberinya kesempatan, dia melompati tembok istana dengan ilmu terbangnya.
Namun, dia harus jatuh karena prajurit yang melihatnya melesatkan anak panah dan melukai punggung kanannya. Lu Yuan segera bangkit dan melarikan diri meskipun darah mulai menetes dari lukanya.
Malam hari, dia buta arah. Lu Yuan kesulitan mencari jalan menuju kediaman Perdana Menteri. Prajurit pasti mengikuti jejak darahnya dan akan segera menemukannya.
Lu Yuan bertaruh dengan bulan, mencoba keberuntungannya dan berlari ke arah utara. Dia tiba di belakang kediaman seseorang, lalu melompat ke kediaman tersebut.
Untungnya tidak ada pelayan di kediaman tersebut. Hanya ada beberapa penjaga yang berpatroli. Lu Yuan diam-diam berjalan menuju sebuah bangunan. Kemudian, dia masuk ke dalamnya sembari menahan rasa sakit dan menahan lukanya agar tidak merembeskan darah lagi.
Kehadirannya membuat pemilik bangunan itu terkejut.
“Istri?”
Lu Yuan sama terkejutnya. Astaga! Kediaman yang disusupinya ternyata kediaman Marquis Yongping!
Lu Yuan melihat Gong Zichen sedang menatapnya penuh tanya. Sudah terlambat untuk keluar sekarang, Lu Yuan tidak akan bisa menghindari kejaran prajurit jika berkeliaran di jalanan lagi.
“Apa yang terjadi?”
Gong Zichen menghampirinya. Dia jadi panik saat melihat tangan Lu Yuan berlumur darah. Saat dia melihatnya, ternyata sebuah anak panah tertancap di punggung kanannya dan menjadi sumber darah itu.
Gadis ini… apa yang telah dia lakukan sampai dipanah seperti burung?
Lu Yuan tidak punya tenaga untuk bicara lebih banyak, “Bantu aku…”
Sebelum Gong Zichen bicara lebih lanjut, Lu Yuan sudah pingsan. Tubuhnya ditopang oleh pria itu dan dia segera membawanya menuju tempat tidur.
Gong Zichen setengah membaliknya, dia memperhatikan panah yang tertusuk di punggungnya dan mendapati itu adalah panah prajurit kekaisaran.
Gadis ini baru saja menyelinap ke istana? Untuk apa?
“Tuan! Apakah Tuan belum tidur?” Mo Yunfei berteriak dari luar.
“Ada apa?”
“Tuan, prajurit kekaisaran sedang mengejar seorang penyusup. Perlukah kita membantu mereka?”
Jika penyusup yang dimaksud adalah Lu Yuan, tentu saja Gong Zichen tidak akan membantu mencari. Itu sama saja menyerahkan Lu Yuan kepada para prajurit dan artinya pelarian Lu Yuan sia-sia.
Gadis ini susah payah melarikan diri dan bersembunyi ke kediamannya, Gong Zichen tentu harus melindunginya!
“Biarkan mereka bekerja!”
“Baik, Tuan.”
Setelah yakin Mo Yunfei pergi, Gong Zichen mengambil peralatan obatnya. Meski dia seorang perwira militer, dia memahami ilmu medis.
Dia memiliki garis keturunan tabib kekaisaran dari kakek di pihak ibu dan dia pikir keterampilan medis penting untuk medan perang.
Lu Yuan perlahan mendapatkan kesadarannya kembali. Matanya berkunang-kunang namun masih bisa melihat objek dengan samar-samar.
Dia melihat Gong Zichen membuka kotak medis, lalu dengan suara lemah dia berkata, “Gong Zichen…”
Gong Zichen menoleh. Matanya dipenuhi kepanikan. “Aku di sini. Aku akan membantumu mengatasi lukanya lebih dulu.”
Lu Yuan sangat lemah karena kehabisan banyak darah. Dia mengangguk dan memberikan izin pada Gong Zichen untuk membuka pakaiannya.
Ini adalah kondisi darurat, jadi semua pantangan dilanggar demi keselamatan. Lu Yuan sebetulnya sama sekali tidak keberatan, namun dengan identitas barunya, setidaknya dia harus memiliki sedikit kepedulian tentang itu.
Meski dia mengizinkan pria itu untuk membuka pakaiannya, Gong Zichen tidak melakukan hal yang berlebihan.
Singkatnya, dia tidak mencari kesempatan dalam kesempitan. Gong Zichen hanya merobak pakaian di bagian kanan Lu Yuan, yang berhubungan langsung dengan luka di punggungnya.
Ketika dia melihat panah itu tertancap di kulit punggung kanan Lu Yuan, dia tertegun. Selain anak panah, ada beberapa bekas luka lama yang tertutup rembesan darah.
Itu mungkin berasal dari penyiksaan yang diterimanya di masa lalu. Dia buru-buru menyadarkan diri, “Aku akan mengeluarkan panahnya. Ini mungkin akan sangat sakit.”
“Lakukan saja,” lirih Lu Yuan.
Lu Yuan meraih selimut dan menggigit ujungnya saat anak panah yang menancap dalam di punggungnya ditarik keluar secara perlahan.
Sejak kecil, pantang baginya berteriak kesakitan. Dia pura-pura tegar saat merasakan dagingnya seperti dikoyak oleh benda tajam.
Meski Lu Yuan menahannya, namun Gong Zichen tahu dengan jelas gadis itu sangat kesakitan. Tubuhnya bergetar dan keringatnya mengucur deras.
Darah menyembur lagi, dan Gong Zichen segera menekannya. Setelah pendarahan berhenti, dia membersigkan lukanya dan menjahitnya.
Saat hendak menutup luka, dia kebingungan. Perbannya seharusnya dibuat memutar hingga ke punggung dan bahu kiri. Tapi, pakaian Lu Yuan hanya robek di bagian kanan.
Lu Yuan mengerti kebingungannya, dia berkata, “Aku sudah mengizinkanmu merobek semuanya. Mengapa kau masih ragu?”
“Ish, istri, meski begitu, aku tidak boleh tidak menghormatimu.”
“Kalau kau menundanya, lukaku akan terbuka lagi.”
“Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi.”
Tiba-tiba Lu Yuan sadar dia sudah dipermainkan. Tidak ada tenaga untuk mendebatnya saat ini. Dia hanya pasrah saat Gong Zichen merobek semua pakaian atasnya dan membalut lukanya dengan perban.
Dia tanpa sengaja menangkap mata Gong Zichen yang terarah ke hal lain. Diam-diam Lu Yuan menyunggingkan senyum kecilnya.
Pria ini suka menggodanya sepanjang hari, tapi di saat seperti ini, dia sangat menghormatinya. Dia bahkan tidak berani melihat ke arah dadanya meski area itu tertutup sisa kain penutup seperti pakaian dalam.
Bahkan setelah selesai membalut luka, Gong Zichen tidak berani menatapnya secara langsung.
“Aku akan mengambilkan pakaian ganti dan sup untuk menenangkanmu. Tunggulah di sini.”
Setelah Gong Zichen keluar, Lu Yuan merenung. Dia hampir tertangkap kali ini dan tidak menjamin akan lolos di kemudian hari.
Agendanya sangat banyak dan ini hanya permulaan. Jika ingin memiliki jalan, dia harus memilih mengandalkan seseorang. Ia sadar dia tidak bisa melakukan semuanya sendirian.
Sikap Gong Zichen padanya, cara dia menatapnya, mengobatinya, dan juga rasa hormatnya, mau tidak mau membuat hati Lu Yuan tersentuh.
Apakah pada akhirnya dia goyah dan gagal mempertahankan kegigihannya? Haruskah dia mulai mempercayai Gong Zichen?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
zee_
memang sudah jodoh
2024-08-12
2
Nur Hayati
ayooo percaya, ... kalau ini biarkan seseorang berada d disisimu dan menyayangimu
2024-01-28
1
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-01-21
0