Kemarahan Zhao Yun memuncak. Dia menggebrak meja dan melemparkan cangkir porselen ke depan Lu Yuan.
Pecahan porselen mengenai wajah Lu Yuan, menyayat sedikit kulit pipinya dan berdarah. Air panas dari tehnya mengenai kakinya yang tidak dibungkus kaus kaki yang bagus. Kulit di kakinya sedikit melepuh.
Lu Yuan tertawa menyedihkan.
“Apakah kau sudah cukup bicara?” Zhao Yun berkata penuh tekanan.
“Kenapa? Apakah aku tidak berhak membela diri dan membicarakan kebenaran?”
“Zhao Yue!”
“Perdana Menteri Zhao Yun!”
Zhao Yun terkejut saat mendengar Lu Yuan menyebutnya bersamaan. Dia melihat matanya, lalu setetes embun yang sangat dingin jatuh ke dalam hatinya.
Seperti es, seluruh darahnya seakan berhenti mengalir. Zhao Yun menatapnya, merasakan sebuah aura familier yang telah hilang selama beberapa waktu.
“Aku adalah putri sah. Ibuku, Shu Yi’an adalah kerabat Janda Permaisuri. Seharusnya kau tahu perbedaan ini, kan?”
Zhao Yun membisu. Dulu, demi menaikkan posisinya, Zhao Yun menikahi Shu Yi’an, keponakan Janda Permaisuri sebagai istri.
Rumah tangganya berjalan harmonis pada lima tahun pertama, namun mulai renggang setelah Zhao Yun membawa Cao Wenyu ke kediaman dan mengambilnya sebagai selir.
Shu Yi’an tidak suka dan perlahan jatuh sakit, pada akhirnya meninggal. Janda Permaisuri sangat sedih dan mulai menyalahkan Zhao Yun. Lu Yuan bersikap netral, dia tidak pernah mencampuri urusan itu. Lalu entah bagaimana prosesnya, Cao Wenyu perlahan naik dan menjadi terpandang.
Lu Yuan tidak mengira itu menjadi sebuah gap yang besar. Sekarang, dia tahu seberapa buruk hubungan keluarga Perdana Menterinya.
“Kau menduakan ibuku dan memanjakan selir. Setelah ibuku meninggal, kau langsung memberinya otoritas mengelola kediaman. Hanya karena aku lemah sejak kecil, kau tidak memandangku.”
Lu Yuan ingat saat itu Janda Permaisuri pernah ingin mengadopsi Zhao Yue, tapi ditolak oleh Zhao Yun dan itu memicu kebencian semakin membesar. Masalahnya sudah berlalu sejak lama, Lu Yuan sudah tidak ingat jelas tapi saat ini, ia justru malah mengingatnya.
Sepertinya, dia dan Zhao Yue sejak awal memang sudah terikat.
“Kau tidak rela membiarkan Janda Permaisuri mengadopsiku. Apakah karena malu dan kau takut keburukan kediamanmu terbongkar? Alih-alih, kau membiarkanku tumbuh sendirian di halaman utara yang dingin dan memberikan semua kasih sayangmu kepada Zhao Lin. Kaisar Yangle tidak pernah mencampuri urusan keluargamu dan tidak tahu keadaan putri sahmu yang sebenarnya sehingga dia menuliskan dekret pernikahan untukku. Kau tidak puas, karena yang kau inginkan adalah pernikahan Zhao Lin, bukan aku.”
“Perdana Menteri, bukankah itu benar?”
“Nona Ketiga! Kau keterlaluan!” Cao Wenyu tidak tahan.
“Diam! Apakah seorang selir berhak menyelaku?”
Cao Wenyu langsung diam, begitu pula dengan Zhao Lin.
“Tidak masalah jika kau membuang hari-hari penuh cintamu dengan ibuku. Tapi aku, putrinya, tidak bersalah. Atas dasar apa kau pilih kasih dan menyalahkanku dalam segala hal?”
Perkataan Lu Yuan seperti anak panah es yang menusuk Zhao Yun tepat di hatinya. Dulu, dia hidup rukun dengan mendiang Shu Yi’an.
Entah mengapa, waktu berlalu begitu cepat dan dia telah melupakan segalanya. Putri ketiganya, adalah putri yang dilahirkan oleh Shu Yi’an. Dia adalah darah dagingnya sendiri.
Melihat Zhao Yun membisu, Lu Yuan diam-diam menyeringai lagi.
“Tuan Perdana Menteri, kau ayah yang buruk.”
Zhao Yun lebih membisu. Semua perkataan Lu Yuan seakan menarik kesadaran yang telah lama terpendam dalam akal sehat dan hati nuraninya.
Masalah akhir-akhir ini tampaknya telah membukakan pintu hati yang telah lama ia tutup. Kematian Kaisar Yangle, penentuan kaisar baru, permasalahan keluarga, semuanya seperti telah sengaja datang padanya memberi pelajaran.
“Sebaiknya kau bertanya alasan mengapa aku menusuk tangan Zhao Lin. Jika kau bahkan tidak dapat membedakan kebenaran, maka kau tidak pantas menjadi Perdana Menteri.”
Tidak ada yang bicara selain Lu Yuan. Dia terlalu mendominasi sampai pelayan menggigil ketakutan.
Zhao Lin menekan amarahnya, Cao Wenyu menggigit saputangannya sementara Zhao Yun membisu seperti batu. Situasi ini telah dimenangkan Lu Yuan, dia unggul malam ini.
“Hari sudah larut. Kediaman utara yang dingin dan bobrok jaraknya jauh. Perdana Menteri, jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku akan pergi. Semoga kau bermimpi indah dan beristirahat dengan baik.”
Padahal, Lu Yuan berkata yang sebaliknya dalam hati. Dia justru sangat berharap semua orang di aula bermimpi buruk sampai sesak napas agar kemarahannya terlampiaskan. Kematian, pengkhianatan, dan kesempatan kedua untuk hidup, memberinya sebuah kekuatan yang baru.
Seusai Lu Yuan pergi, Zhao Yun mendapatkan kembali kesadarannya. Dia melihat sekeliling, menyadari jika semua orang juga seolah baru tersadar.
Dia memijat pelipisnya lagi, menenangkan amarah di hatinya yang sudah kacau. Tidak bisa dipungkiri, tatapan putri ketiganya mengingatkannya pada seseorang.
“Tuan, lihatlah! Nona Ketiga sangat tidak menghormatimu!” Cao Wenyu mencoba menciptakan kesempatan untuk menjatuhkan Lu Yuan lagi.
“Benar! Ayah, dia sudah menyakitiku! Dia juga tidak sopan pada ayah! Apakah ayah akan membiarkannya?”
“Tidak bisakah kalian diam? Pergi dan jangan ganggu aku!”
“Tuan….”
“Ayah….”
“Enyah!”
Cao Wen dan Zhao Lin pergi dengan tidak puas. Zhao Yun mengusir semua pelayan dan merenung di ruangannya sendiri.
Kata-kata Lu Yuan terus berdengung di telinganya. Mungkin, dia benar-benar sudah melupakan banyak hal. Dia bahkan tidak ingat berapa usia putri ketiganya sekarang.
Tahun itu ketika Shu Yi’an meninggal, Janda Permaisuri berniat membawa putri ketiganya ke istana dan membesarkannya. Tapi karena keegoisan dan gengsinya, dia menolak dan itu membuat hubungannya dengan Janda Permaisuri semakin memburuk.
Kaisar Yangle tidak mengetahui situasinya dan berniat menikahkan putri ketiganya kepada Marquis Yongping. Karena putri ketiganya tidak berguna dan lemah, dia tidak puas dan semakin melupakannya.
Apakah hari ini adalah puncak dari ketidakpuasan putri ketiga kepadanya?
Ini pertama kalinya dia melihat putri ketiganya bicara begitu lantang dan berani, membeberkan semua isi hatinya di hadapan semua orang. Dia bahkan bisa membuatnya tidak berkutik dan memukul kepalanya dari belakang dengan keras.
Tapi yang terpenting adalah…. Putri ketiganya memiliki tatapan dan aura familier seperti seseorang….
Tidak, tidak mungkin. Zhao Yun menepis jauh-jauh pemikirannya. Itu tidak masuk akal. Dia telah meninggal, orang itu sudah tiada. Ada sebersit rasa bersalah di hatinya.
Seandainya saja, seandainya saja hari itu dia ada di istana, orang itu tidak mungkin meninggal dengan tragis. Zhao Yun menyadari kesalahannya, dia telah terbutakan dan menempatkan semua orang dalam bahaya.
Zhao Yun selalu menjauhi perselisihan dan netral di istana, sehingga Kaisar Yangle memandang tinggi dirinya dan sangat menghargainya.
Jika Kaisar Yangle tahu bagaimana dia bersikap terhadap putri-putrinya, akankah Kaisar Yangle akan tetap menatapnya dengan cara yang sama?
Apakah ini adalah saat ketika karmanya berjalan?
Putri ketiganya, sepertinya sudah sangat membencinya. Dia mungkin seorang Perdana Menteri yang baik, tapi dia adalah ayah yang tidak kompeten. Terhadap putri-putrinya sendiri dia bahkan tidak bisa bersikap adil dan selalu mengejar keuntungan.
“Yi’an, apakah ini adalah karmaku? Aku telah mengabaikan putri kita selama bertahun-tahun. Kaisar Yangle sudah meninggal, Janda Permaisuri masih membenciku. Apakah kekacauan Keluarga Zhao akan datang padaku?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Frianty Frianty
bukan nya kaisar yanle perempuan.kok dia punya permaisuri.
2024-10-12
2
Nur Hasanah
putri ketiga ambil mahar ibumu utk pernikahanmu atau itk usaha keluar dr rmh perdana mentri yun jk tdk habis dimakan selir cao
2024-07-19
1
Fifid Dwi Ariyani
trusceria
2024-01-20
0