Lu Yuan menggunakan token keluarga Perdana Menteri untuk melewati pemeriksaan pengawal. Melihat token, walau dengan sedikit keheranan, para penjaga gerbang istana akhirnya membiarkannya masuk tanpa pertanyaan lebih lanjut.
Lu Yuan dengan tenang menapaki jalan istana yang sangat familiar di otaknya.
“Nona, kita tidak pernah masuk ke istana. Mengapa Nona begitu tenang tanpa takut salah jalan?”
Xiao Tao heran karena Nona Ketiga tampaknya tidak asing dengan istana. Dia bahkan bisa tahu jalan-jalan kecil yang membuat mereka lolos dari pengawasan penjaga dan para pelayan. Seakan-akan setiap sudut istana ini sudah dihafal dengan jelas dan tertanam di dalam ingatannya.
Lu Yuan memilih tidak menjawab dan terus meneruskan langkah. Sampai pada akhirnya mereka tiba di Istana Cinning, tempat kediaman Janda Permaisuri.
Para pelayan tidak mengenalinya, namun setelah menunjukkan token, mereka memberikan jalan. Bahkan seorang pelayan sengaja berlari lebih dulu untuk melapor.
Janda Permaisuri Shu adalah ibu kandung Lu Yuan, merupakan Permaisuri dari ayahnya. Usianya sekitar lima puluh tahun, tiga tahun lebih tua dari Shu Yi’an, ibu kandung Zhao Yue. Hanya saja nasib keduanya jauh berbeda. Janda Permaisuri Shu berumur panjang, sementara ibu kandung Zhao Yue mati muda.
Saat ini, Janda Permaisuri Shu sedang setengah berbaring di tempat tidurnya. Sejak Istana Tianji kebakaran dan Kaisar Yangle dinyatakan meninggal, dia jatuh sakit dan belum sembuh.
Janda Permaisuri adalah ibu yang penuh kasih, penyayang, dan pengertian. Sejak ayahnya membesarkan Lu Yuan sebagai laki-laki, ibunya selalu ada untuknya.
Bahkan setelah menjadi Kaisar Yangle, Janda Permaisuri menolak menjadi Ibu Suri dan membiarkan Lu Yuan memerintah sendiri.
Dia menghabiskan sisa hidupnya di Istana Cinning dengan damai sembari menantikan hari ketika Lu Yuan bisa hidup bebas dengan identitasnya.
Siapa sangka, insiden itu terjadi begitu saja dan dalam sekejap, dia kehilangan satu-satunya putrinya. Dia terbaring sakit karena terlalu sedih.
Beruntung kondisinya membaik akhir-akhir ini. Hanya saja Janda Permaisuri belum bersedia bicara menggunakan suaranya.
Melihat ibu kandungnya terbaring sakit dan tidak mau bicara, hati Lu Yuan seperti dicabik-cabik. Ingin sekali rasanya ia menghamburkan diri ke dalam pelukannya, mengadukan segala kejadian yang menimpanya.
Dia sungguh ingin merasakan belaian lembut Janda Permaisuri Shu di rambutnya, menepuk pundaknya sembari mengatakan ‘tidak apa-apa, jangan menangis, semuanya akan membaik’.
Lu Yuan sungguh ingin mendengar suara ibunya yang mengatakan ‘ibunda selalu berada di sini’. Tapi, mustahil mengatakannya di saat Lu Yuan sendiri terjebak dalam kebencian masa lalu yang membelenggunya. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia adalah Lu Yuan dalam wujud Zhao Yue.
“Zhao Yue memberi hormat kepada Janda Permaisuri,” Lu Yuan membungkukkan tubuhnya. Janda Permaisuri menatapnya, menyelami kedalaman matanya. Tapi, tidak ada sepatah kata pun terdengar.
“Yang Mulia, ini adalah Nona Ketiga dari kediaman Perdana Menteri. Nona Ketiga adalah putri dari Nyonya Shu Yi’an. Apakah Yang Mulia masih mengingatnya?” pelayan di sisinya mencoba mengingatkan.
Seketika mata Janda Permaisuri berbinar dan dia tersenyum. Dia menggerakkan tangannya dan menyuruh Lu Yuan mendekat. Lu Yuan menurut, kemudian duduk di tepi tempat tidur.
Janda Permaisuri mengambil tangannya dan menggenggamnya. Ada bercak air mata yang menggenang di sudut matanya.
“Yue’er, kau sudah besar.”
Suara Janda Permaisuri begitu lembut dan pelan. Mata si pelayan – Xiao Lv berbinar dan wajahnya berubah senang. Setelah satu bulan lebih, apakah akhirnya Janda Permaisuri bersedia bicara lagi?
Dia ingat terakhir kali mendengar suaranya adalah saat Janda Permaisuri memerintahkan penutupan Aula Wende sehari setelah kematian Kaisar Yangle.
“Yang Mulia, Yang Mulia akhirnya bisa bicara lagi, saya sangat senang,” Xiao Lv mengungkapkan rasa syukurnya dengan berkowtow.
“Aku tidak bisu.”
Xiao Lv menunduk menyadari kecerobohannya. Lu Yuan tersenyum kecil, matanya menatap Janda Permaisuri dengan tenang.
“Aku bersyukur Yang Mulia sudah mau bicara lagi. Aku dengar, Yang Mulia jatuh sakit setelah Kaisar meninggal,” ucap Lu Yuan. Dia menahan suara dan emosinya.
“Putraku meninggal begitu saja,” Janda Permaisuri mendesah sejenak. “Tidak mungkin aku tidak terpukul.”
Janda Permaisuri jelas sangat sedih. Bagaimana bisa anaknya mati begitu saja?
Sebelum insiden, dia mendengar pelayan bergosip kalau sesuatu yang besar akan terjadi di istana. Janda Permaisuri tidak berharap kalau kejadian besar itu adalah peristiwa kematian putranya.
“Yue’er, apakah hidupmu baik? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik? Aku mendengar banyak rumor kalau kau dianiaya dan menderita sendirian.”
Tatapan Janda Permaisuri meredup. Ada emosi yang bergolak di hatinya.
“Ya. Yang Mulia tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan bisa membuatku memilih mati daripada hidup.”
“Zhao Yun adalah Perdana Menteri yang baik tapi dia adalah ayah yang buruk. Bila putraku tahu kebenarannya, apakah dia masih akan mempercayainya? Yue’er, bekas goresan di wajahmu itu, apakah mereka yang melakukannya?”
Lu Yuan tersenyum dan menggeleng. Tidak baik mengumbar keburukan kediaman Perdana Menteri di saat kondisi Janda Permaisuri seperti ini.
Lagipula, bekas lukanya sudah diobati dengan salep dari Gong Zichen. Itu akan sembuh dan tidak akan meninggalkan bekas.
“Tidak apa-apa. Bekas lukanya akan hilang beberapa hari lagi. Yang Mulia, aku dengar Yang Mulia menutup Aula Wende setelah Kaisar Yangle meninggal. Apakah itu benar?”
Tanpa menaruh curiga, Janda Permaisuri mengangguk.
“Mengapa?”
“Karena aku memikirkan putraku.”
Lu Yuan siap mendengarkan. Kali ini, tujuannya masuk istana adalah untuk mencari informasi. Janda Permaisuri tidak pernah bertindak tanpa memikirkan akibat.
Dia biasanya menjauhi urusan duniawi dan menjauhi perselisihan. Secara tiba-tiba, dia memerintahkan menggunakan otoritasnya untuk menutup Aula Wende.
“Kau tahu, meskipun biasanya aku tidak peduli pada urusan pengadilan, bukan berarti mataku buta. Aku tidak bodoh. Mana mungkin kejadiannya sesederhana itu.”
Janda Permaisuri awalnya juga sangat syok dan terpukul. Tapi sehari setelah kematian Lu Yuan, dia kembali berpikir jernih dan menemukan keanehan. Satu bulan lalu adalah puncak musim dingin.
Bahkan api dan arang pun sulit menyala tanpa pemantik. Istana Tianlong yang dijaga ketat tiba-tiba terbakar, bukankah tidak masuk akal?
Dari mana datangnya api yang membakar dan menghancurkan aula? Yang lebih anehnya adalah, mengapa api hanya menewaskan separuh menteri yang dikenal jujur dan membunuh putranya dan kasimnya, sementara separuh menteri yang lain selamat? Apakah api bisa memilih siapa yang ingin dibakar dan menjadi korban?
Satu hal yang paling mengherankan adalah, mengapa Lu Zheng yang belum mendapat izin memasuki pengadilan justru berada di aula dan keluar dari sana dalam keadaan terluka?
Janda Permaisuri memikirkannya lagi selama seharian dan menemukan sebuah kecurigaan.
Gossip para pelayan itu, kebakaran dan kematian putra serta separuh menteri, mendorongnya menarik satu kesimpulan: itu adalah bencana yang disengaja. Kemudian dia teringat pada tingkah laku para pelayan dan menteri yang aneh beberapa hari sebelumnya.
Ada sebuah kabar miring yang sampai ke telinganya entah dari mana: bahwa identitas Kaisar Yangle sebagai wanita terbongkar dan para menteri sedang memaksanya turun dari takhta.
Janda Permaisuri tidak yakin karena selama ini, putranya selalu menyembunyikan identitasnya dengan sangat baik. Tidak mungkin terbongkar semudah itu.
Keanehan itu membuatnya waspada. Karena itulah, Janda Permaisuri memerintahkan penutupan Aula Wende dan tanpa izin khusus, tidak seorang pun boleh masuk.
Tujuannya untuk melindungi tempat tinggal dan semua benda penting yang ada di sana, serta mencari tahu apa yang sebenarnya sedang direncakan Lu Zheng.
Jika putranya mati, maka Lu Zheng otomatis akan menjadi Kaisar baru. Dalam kejadian itu, dialah yang paling diuntungkan.
“Apa Yang Mulia curiga kematian Kaisar Yangle adalah pembunuhan?”
“Yue’er, kita tidak bertemu selama bertahun-tahun. Kau hidup dalam kesengsaraan di kediaman Perdana Menteri. Kau paling tahu kalau hati manusia adalah yang paling sulit ditebak. Aku curiga mereka berkonspirasi.”
Ya, hati manusia adalah yang paling sulit ditebak. Lu Yuan di masa lalu adalah orang yang paling percaya pada Lu Zheng, dia sangat yakin adiknya itu adalah orang baik dan kandidat Kaisar masa depan. Dia mendidiknya dan melatihnya.
Alasan mengapa dia belum mengizinkan Lu Zheng bergabung dalam pengadilan ialah karena usianya terlalu muda dan temperamennya yang pemarah kurang sesuai. Lu Yuan berencana menunggu beberapa tahun lagi, tapi adik baiknya sangat tidak sabar.
Apa yang akan terjadi bila Janda Permaisuri tahu Lu Zheng telah membunuh Lu Yuan dan bersekongkol dengan para menteri korup? Tiba-tiba saja Lu Yuan sulit membayangkannya.
“Yang Mulia, konspirasi atau bukan, bukankah selalu ada orang yang akan mengetahui kebenarannya? Cepat atau lambat, itu pasti terjadi. Jika mendiang kakak Kaisar Yangle meninggal secara tidak adil, seseorang akan menunjukkan jalannya.”
Sudut bibir Janda Permaisuri melengkung membentuk sebuah senyuman. Dia menepuk tangan dan kepala Lu Yuan dengan lembut.
“Putri dari Yi’an memang tidak mengecewakan. Bagaimana jika kau tinggal di sini dan menemaniku lebih lama lagi?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Bzaa
udah tinggal di situ aja jdi saling menjaga
2025-03-20
0
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-01-21
0
lanjutkan
2024-01-08
0