Malam harinya, cuaca semakin dingin. Penerangan di kamar Lu Yuan hanya cukup untuk dua jam, jika lilinnya habis, maka kediaman utara akan benar-benar gelap.
Hawa dingin semakin menusuk, hujan salju masih turun sejak sore. Di dalam ruangan, Xiao Tao mencoba menghangatkan tubuh Lu Yuan dengan menambahkan selapis selimut usang.
Lu Yuan menolak, menyuruh gadis pelayan itu untuk memakainya sendiri. Dulu ketika Li Jing, kasim yang ditempatkan ayahnya untuk melayaninya memakaikan jubah bulu rubah yang hangat, Lu Yuan terkadang menolaknya.
Tubuhnya bisa menahan hawa dingin, tetapi dengan tubuhnya yang sekarang, ia sedikit ragu. Ruangan ini terpencil dan tidak ramah ditinggali, jika Lu Yuan memaksakan diri menerima satu selimut, maka Xiao Tao yang akan membeku.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tegas yang agak terburu-buru.
“Buka pintunya! ****** kecil, kau berani tidur?”
Suara itu terdengar asing. Itu bukan Zhao Lin atau Gong Zichen.
Pintu kamar Lu Yuan didobrak dari luar dan seorang bibi bertubuh gendut berwajah bulat berjalan masuk dengan enggan. Wajahnya terlihat sangat marah dan garang. Dia menunjuk Lu Yuan seperti sampah yang menjijikan.
“Cepat pergi ke kediaman utama! Tuan Perdana Menteri memanggilmu!”
Itu adalah Bibi Wei, seorang pelayan utama kediaman Perdana Menteri. Dia diutus kemari untuk memanggil Lu Yuan.
Mata yang dipenuhi dengan keengganan dan ketidaksukaan itu membuat Lu Yuan mengernyit. Apakah kediaman Perdana Menteri begitu buruk? Mengapa seorang pelayan saja bisa sampai berani tidak sopan?
Ia tahu inilah saatnya menemui Perdana Menteri, Zhao Yun. Zhao Yun adalah Perdana Menteri yang netral dan tidak memihak. Sepanjang pemerintahan Lu Yuan, Zhao Yun tidak pernah terlibat perselisihan dengan menteri lain.
Tetapi, setelah kematiannya, Lu Yuan mulai ragu. Ia ingin tahu apakah Perdana Menteri Zhao Yun yang dipercayainya adalah orang jujur atau tidak.
Sebelum itu, Lu Yuan ingin mengatasi pelayan ini terlebih dahulu. Terbiasa dengan gayanya sebagai Kaisar Yangle, Lu Yuan menatap Bibi Wei dengan sorot mata tajam. Alisnya terangkat sebelah, menampilkan ketidaksenangan yang nyata.
Seumur hidupnya, dia tidak pernah mendapat tatapan jijik dari orang yang lebih rendah darinya. Melihat seorang pelayan tidak sopan seperti ini, hati Lu Yuan jadi benci. Dia benci dipandang rendah dan hina.
Bibi Wei terkejut setengah mati. Apa yang terjadi? Mengapa….mengapa Nona Ketiga terlihat sangat berbeda? Dia biasanya memiliki sorot mata sayu dan ketakutan setiap kali mendengar Perdana Menteri memanggilnya.
Setiap kali dia digertak, dia akan meringkuk di sudut dinding atau di tempat tidur dan tidak berani menggertak balik. Malam ini, mengapa berbeda?
Bibi Wei merasakan punggung dan hatinya menjadi dingin dan tanpa sadar tubuhnya bergetar. Ketika Lu Yuan berjalan mendekat kepadanya dengan yakin, Bibi Wei merasakan firasat buruk.
Bibi Wei mencoba menegakkan punggungnya, mengatasi ketakutan di hatinya. Dia tidak boleh lupa kalau Nona Ketiga adalah orang tidak berguna yang tidak disayangi.
Di antara putra-putri Perdana Menteri, yang patut ditakuti tapi harus didekati adalah Nona Kedua. Nona Ketiga tidak ada apa-apanya!
“Apakah bawahan sepertimu tidak diajarkan cara berbicara yang benar?”
Nada suara Lu Yuan teredam dan terdengar sangat dingin. Suaranya bahkan lebih dingin dari salju di luar. Bibi Wei tidak bisa tidak terkejut, dia mendongak menatapnya lebih lama.
Mata yang biasanya sayu, sekarang begitu jernih dan terdapat kilatan kemarahan yang tertahan. Aura ini…. Mengapa rasanya familier?
“Saya datang karena Tuan memanggil Anda. Nona Ketiga, apakah Anda ingin menunda urusan?”
Sudut bibir Lu Yuan terangkat membentuk sebuah seringaian kecil. Bibi Wei membelalak, dia mencoba menahan ketakutan dan rasa gugupnya.
Tanpa menunggu lama, sebuah suara yang sangat keras dari hasil benturan dua kulit manusia terdengar. Pipi Bibi Wei yang bulat menampilkan bekas merah yang menjari dan tubuhnya terhunyung ke belakang.
“Sebelum menyampaikan perintah Perdana Menteri, kau seharusnya belajar cara bicara yang benar!”
Plak!!!!
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Bibi Wei. Kali ini, tubuh Bibi Wei tidak mampu menahannya lagi dan ambruk ke lantai yang basah. Rupanya, salju dari luar ikut berhembus ke dalam, mencair dan membasahi lantai kayu yang sudah usang. Bibi Wei membisu, semua perkataannya tertahan di tenggorokan.
Barusan, Nona Ketiga menamparnya? Dua kali?
Jika tubuh Zhao Yue tidak lemah, Lu Yuan bisa saja menendang Bibi Wei keluar dari kamar. Tapi, dengan tubuh seperti ini yang masih memerlukan pelatihan, Lu Yuan hanya bisa menamparnya. Sedikit tenaga sudah cukup membuat pipi wanita tua itu bengkak selama lima hari.
“Tunjukkan jalannya!” seru Lu Yuan.
Bibi Wei tidak mampu bicara. Sembari menahan sakit dan kemarahannya, dia berjalan lebih dulu. Jarak dari kediaman utara ke kediaman utama cukup jauh.
Lu Yuan tidak punya baju hangat, meski tubuhnya bisa menahan dingin, tapi salju-salju itu tetap sedikit mengganggu. Apalagi, dia berjalan tanpa payung dan butiran-butiran salju mendarat di rambutnya.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di kediaman utama. Lu Yuan langsung dibawa masuk ke dalam aula.
Suhu di dalam aula lebih hangat, ada beberapa tungku api menyala di beberapa sisi. Penerangannya sangat cukup, sehingga semua objek di dalamnya terlihat dengan jelas.
Di kursi utama, Zhao Yun sudah duduk bersama seorang wanita. Wajahnya tampak tidak senang.
Sementara itu, di kursi lain, Zhao Lin menangis sampai matanya sembab. Tangannya diperban dengan kasa putih. Pelayan di sisinya terus memberikan saputangan. Wajahnya sangat menyedihkan dan jelek.
“Tuan, Nona Ketiga sudah tiba,” ucap Bibi Wei.
Bibi Wei berjalan ke belakang, kemudian berdiri di sisi seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun. Berdasarkan ingatan saat masih di istana, Lu Yuan mengenali wanita itu. Dia adalah Cao Wenyu, istri kedua Zhao Yun. Semua orang memanggilnya sebagai Nyonya Cao, tetapi identitas sebenarnya hanyalah selir.
Ekspresi Zhao Yun menjadi sangat jelek saat matanya menangkap kehadiran Lu Yuan di aula. Lu Yuan tiba-tiba tersenyum dalam hatinya.
Sebelum mati, Zhao Yun, Perdana Menteri yang dipercayainya ini, selalu menampilkan ekspresi yang bagus setiap kali bertemu dengannya. Melihat ekspresi jeleknya, Lu Yuan tidak bisa menahan diri untuk mencibir diam-diam.
“Berlutut!” Zhao Yun berteriak. Lu Yuan mendongak, alisnya berkerut dalam.
Melihat putri ketiganya yang tidak berguna diam saja, Zhao Yun jadi sangat marah. Tapi, Lu Yuan bukan orang yang mudah terintimidasi.
Dia balas menatap Zhao Yun, sama seperti dia menatap pria setengah baya itu ketika masih menjadi Kaisar Yangle. Ekspresinya tenang.
“Mengapa aku harus berlutut?” tanya Lu Yuan.
“Masih bertanya?”
Cao Wenyu, si selir yang mengaku-ngaku menjadi Nyonya buru-buru memanfaatkan kesempatan. Dia menangis dan mengadu kepada Zhao Yun dengan ekspresi menyedihkan.
“Nona Ketiga, mengapa kau begitu tega? Kakakmu hanya datang mengunjungimu, tapi kamu malah menganiayanya! Tuan, Nona Kedua selalu bersikap baik, tidak adil baginya mendapat perlakuan seperti itu!”
“Lihat, tangannya bengkak dan harus diperban. Jika itu meninggalkan bekas atau tidak sembuh, hidupnya akan hancur! Tuan, tolonglah putriku!”
Cao Wenyu mengelap air mata buaya di sudut matanya. Hatinya yang gelap dipenuhi kebencian pada Nona Ketiga, sebab karena keberadaannya, posisi Zhao Lin sebagai Nona Kedua memiliki kekurangan.
Nona Ketiga adalah putri sah, seburuk apapun dia, tidak akan membuat statusnya sebagai putri sah turun. Sementara itu, putrinya adalah putri selir, bukan putri sah dan meski cantik serta memiliki banyak bakat, orang tetap akan memandangnya sebagai Nona Kedua yang lahir sebagai putri tidak sah.
“Tetapi, mungkin Nona Ketiga juga tidak sengaja. Tuan, berbelas kasihlah, jangan menghukumnya dengan keras,” Cao Wenyu melanjutkan.
Lu Yuan mendecih jijik. Jadi, seperti inilah wajah asli Nyonya Cao Wenyu, yang setiap kali datang ke istana dan ikut perjamuan selalu tampil sebagai Nyonya yang bermartabat dan lembut. Ternyata, itu semua hanya sebuah topeng untuk menutupi kebusukan wajah dan ketidaktahumaluannya.
“Zhao Yue, kau tahu kesalahanmu? Lihat! Ibumu sudah membantumu bicara meskipun putrinya dianiaya!” teriak Zhao Yun. Kemarahan seperti ini membuat Lu Yuan mengernyitkan dahi sebentar dan berubah kembali menjadi tenang.
“Ibu? Sejak kapan dia menjadi ibuku?” tanya Lu Yuan. “Ibuku adalah Shu Yi’an. Sejak kapan ibuku menjadi Cao Wenyu?”
Zhao Yun membelalak terkejut. Mengapa putrinya berkata seperti itu? Biasanya, dia akan langsung menurut ketika disuruh berlutut dan menangis mengakui kesalahan.
Malam ini, mengapa rasanya dia sangat berbeda? Bukan hanya tidak patuh, putrinya juga berani menjawab dan mempertanyakannya. Apakah ini adalah Zhao Yue, putri ketiganya?
“Kau! Berani kau tidak sopan pada ibumu! Dia adalah Nyonya Perdana Menteri! Setelah ibumu meninggal, dia yang merawat dan membesarkanmu!”
Lu Yuan pura-pura mengingat dengan menutup mata sebentar, lalu mengernyit. Semua orang di dalam aula bertanya-tanya sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh Nona Ketiga.
Hari ini, mereka sudah dibuat heran dengan perubahan perilakunya. Di hadapan Perdana Menteri, ternyata itu semua sama saja.
“Begitu, ya? Apakah yang dikatakan merawat dan membesarkan adalah membiarkanku tumbuh besar sendirian di kediaman utara?”
“Adik Ketiga! Mengapa kau bicara begitu? Apakah kau mencoba mempertanyakan kasih sayang ayah dan ibuku padamu?”
Zhao Lin tidak terima dia dianiaya dan sangat membenci adiknya. Hari ini, jika sampai dia lolos, Zhao Lin tidak akan pernah membiarkannya! Dia akan menyiksanya sampai mati!
“Nona Ketiga, aku tahu kau memiliki kebencian terhadapku. Tapi, kau juga tidak boleh mempertanyakan kasih sayang Tuan padamu dan melampiaskan kemarahanmu pada Nona Kedua,” Cao Wenyu sesenggukan.
“Hak apa yang kau miliki untuk bicara seperti itu padaku?” Lu Yuan menepis perkataan Cao Wenyu. “Kau tidak memiliki hak bicara dengan cara seperti itu padaku.”
“Apa-apa maksud Nona Ketiga? Aku adalah ibumu dan Nyonya Perdana Menteri, tentu saja aku punya hak bicara,” ucap Cao Wenyu.
“Selir Cao,” Lu Yuan memejamkan mata sejenak. “Seingatku, kau adalah selir dan kediaman ini tidak pernah memiliki Nyonya selain Nyonya Shu.”
Mendengar Lu Yuan menekankan status, hati Cao Wenyu dan Zhao Lin dibakar api kecemburuan yang membara. Sialan! Sejak kapan ****** kecil itu pandai bicara soal status! Sejak Shu Yi’an meninggal, kediaman ini berada di bawah pengelolaannya!
“Aku adalah putri Shu Yi’an, istri sah Perdana Menteri. Kepada siapa aku melampiaskan amarahku, apakah kau berhak bertanya?”
Cao Wenyu membisu. Dibandingkan dengan selir, posisi putri sah selalu lebih tinggi dari siapapun. Bahkan meski di depan Kaisar sekalipun, selir tetaplah selir.
Cao Wenyu merasa dirinya dijatuhkan, hatinya terbakar oleh kemarahan dan kebencian. Mengapa Nona Ketiga tidak mati saja?
Di kursinya, Zhao Yun memijat pelipisnya. Wajahnya memerah menahan amarah. Sudah sejak lama perselisihan internal kediamannya terjadi. Kedua putrinya tidak akur.
Nona Kedua selalu menindas Nona Ketiga. Tapi karena Nona Kedua lebih unggul dalam beberapa hal, Zhao Yun menutup matanya dan membiarkan itu sebagai perselisihan biasa.
Masalah pengangkatan Kaisar baru sudah sangat memusingkan. Ditambah dengan masalah keluarga, Zhao Yun benar-benar stress.
Putri ketiga yang biasanya penurut tiba-tiba berubah, bahkan berani menyakiti putri kedua secara terang-terangan. Apa yang harus dilakukan olehnya jika masalah ini tersebar ke luar kediaman?
Tapi, Lu Yuan tidak peduli beban seperti apa yang ada di pikiran Zhao Yun. Dia hanya peduli pada diri sendiri saat ini.
Memberi pelajaran pada Zhao Lin dan menunjukkan bahwa dirinya tidak lagi mudah digertak adalah soal utama. Lu Yuan tidak akan pernah mengaku kalah!
“Selir Cao, apakah kau punya kualifikasi untuk bicara dengan cara seperti itu padaku?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Q1n9 Yu3R
Thor tolong bilangngin ke pihak noveltoon jangan perbanyak iklan, masak aku baca baru 1menit iklan terus2san.
2024-11-08
2
Li Yuan memang Hebat
2024-01-08
4
Jumaeda
Hebat kamu Lu Yuan, hajar terus jgn sampe kendor hihihiiii
2023-12-14
1