Istana Timur bergolak di malam hari.
Lu Zheng menendang beberapa kasim dan pelayan yang berlutut di lantai dan membuat mereka tersungkur sembari menahan sakit.
Sudah satu bulan berlalu, tapi apa yang dia inginkan belum mencapai hasil yang sempurna. Lu Zheng ingin kesempurnaan, dia tidak akan puas jika ada sesuatu yang kurang.
“Dasar sampah! Untuk apa aku mempekerjakan orang tidak berguna seperti kalian?”
Para pelayan dan kasim itu hampir menangis. Mereka lebih memilih disiksa sampai mati daripada harus berhadapan langsung dengan Putra Mahkota. Di Istana Timur ini, siapa yang tidak tahu temperamen Putra Mahkota.
Sejak mendiang Kaisar Yangle mengangkatnya dan belum mengizinkannya bergabung di pengadilan, sifat ganas Putra Mahkota perlahan tumbuh dan semakin parah.
Kaisar Yangle bahkan tidak semengerikan ini ketika marah.
“Ampun, Putra Mahkota. Kami sudah mencarinya ke manapun, tapi tetap tidak bisa menemukan benda yang diinginkan Putra Mahkota,” kasim yang paling senior membungkuk.
Dia adalah bawahan Li Jing, setelah Li Jing mati, dia dipindahkan ke Istana Timur untuk melayani Putra Mahkota.
“Cari! Cari! Cari lagi! Jangan sampai aku mengulangi perintahku!”
Para kasim dan pelayan mundur tanpa perlawanan. Istana Timur seperti neraka. Tempat ini jauh lebih buruk daripada penjara.
Kemewahan dan kemegahan yang terlihat hanyalah sebuah topeng untuk menutupi kebusukan pemilik istana yang sebenarnya. Bukan pilihan terbaik untuk terus berada di sini.
Lu Zheng mengepalkan tangannya dan menggebrak meja. Sialan! Hatinya dipenuhi dengan kemarahan dan rasa tidak terima.
Mengapa semua yang ia inginkan selalu sulit dicapai? Mengapa Lu Zheng harus mengerahkan lebih banyak untuk mencapai tujuannya?
Dia hanya ingin menjadi Kaisar secepat mungkin. Kakaknya, yang ia bunuh sebulan lalu, merupakan batu sandungan paling besar.
Meskipun mendapat perlakuan baik dan sangat istimewa, tidak lantas membuatnya menjadi orang baik. Sebaliknya, Lu Zheng justru merasa dia hanyalah sebuah boneka yang diciptakan Lu Yuan sebagai tameng kekuasaannya.
Dia telah mengerahkan banyak upaya dan tenaga untuk mencapai hasil hari ini. Selama bertahun-tahun, dia mengumpulkan banyak informasi dan penyelidikan.
Dia sudah mendapatkan kelemahan setiap orang, menyerang mereka dan memanfaatkan mereka agar berada di pihaknya dan membantunya. Kerjasama semacam ini terlihat menguntungkan, tapi sebenarnya sangat merugikan.
Lu Zheng sudah berhasil menyingkirkan kakaknya sendiri dengan meminjam tangan para menterinya, menggunakannya sebagai pisau untuk memisahkan kepercayaan bawahan dan atasan.
Lalu, dia menggunakan tangannya sendiri untuk melenyapkan satu-satunya batu sandungan paling besar, kemudian memanfaatkan yang lain untuk menyokong langkahnya.
Sayangnya, semuanya tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Para menteri korup yang mendukungnya tidak bisa mengatakan tidak, tapi masalahnya bukan hanya itu.
Perdana Menteri Zhao Yun, adalah orang yang sulit dihadapi. Kewaspadaannya membuat Lu Zheng membutuhkan waktu lama sampai ia benar-benar mendapatkan persetujuannya.
Ia tahu, Zhao Yun adalah Perdana Menteri kepercayaan kakaknya. Lu Zheng sengaja menjauhkannya dari pengadilan sebulan lalu dengan meminta seseorang mengarahkannya ke luar ibukota.
Zhao Yun adalah menteri yang sangat berguna, Lu Zheng tidak ingin kehilangan bidak yang bagus. Jika Zhao Yun ada di ibukota saat itu, Lu Zheng mungkin tidak dapat membuatnya hidup.
Hanya tinggal selangkah lagi menuju takhta. Lu Zheng hanya kekurangan dua hal: segel Kaisar Yangle dan pelat harimau emas. Segel emas itu diperlukan untuk melegalkan identitas dan pengesahan dirinya sebagai kaisar baru.
Sementara itu, pelat harimau emas digunakan untuk memobilisasi dan memerintah Pasukan Cangwu, pasukan elit kekaisaran paling kuat dan paling besar di antara Pasukan Shenwu dan Pasukan Huangyu.
Setelah Lu Yuan mati, kedua benda itu tiba-tiba menghilang. Lu Zheng sudah memerintahkan orang untuk mencarinya di Aula Wende, aula istana Kaisar Yangle. Janda Permaisuri menutup istana itu setelah anaknya mati, dan hanya orang dengan izin khusus yang dapat masuk.
Walau Lu Zheng punya izin khusus, dia tetap tidak bisa menemukannya. Orang-orangnya sudah mencarinya di seluruh tempat, namun keberadaan kedua benda tersebut seakan hilang ditelan bumi.
Kedua benda tersebut seolah-olah ikut lenyap bersama nyawa Lu Yuan, pergi ke neraka bersamanya. Ini membuat Lu Zheng sangat marah.
Masalah segel emas, bisa saja diatasi setelah berganti dinasti. Pada saat kritis seperti ini, mereka tidak punya pilihan selain menunjuknya sebagai Kaisar baru. Tapi masalah pelat pasukan, rasanya akan sangat sulit bertahan jika dia tidak segera menemukannya.
Sudah jadi hantu pun, Lu Yuan masih saja mengganggu!
...***...
Gong Zichen bersin beberapa kali.
Hawa dingin dari musim dingin ini membuat tubuhnya tidak nyaman. Musim dingin di perbatasan lebih dingin dan lebih parah, tubuhnya seharusnya sudah terbiasa.
Musim dingin di ibukota sedikit lebih hangat, tapi entah mengapa tubuhnya justru jadi rentan. Gong Zichen sampai harus mengenakan dua mantel tebal untuk menjaga suhu tubuhnya tetap hangat.
Dia berdiri di dekat jendela yang sedikit terbuka. Pemandangan malam di kediamannya seperti pemandangan hutan di perbatasan, karena Gong Zichen telah mengaturnya seperti perbatasan. Itu membuatnya sedikit rindu, tapi ia tahu bahwa kerinduan itu tidak bisa dilampiaskan saat ini.
Dibanding tanah perbatasan yang sederhana dan rawan konflik, ibukota lebih sulit dipahami. Ibukota adalah sarangnya penjahat bermuka dua.
Menteri dan pejabat lebih sulit dihadapi daripada ratusan tentara. Pemikiran mereka lebih sukar ditebak dan tindakannya tidak dapat diprediksi dengan tepat.
Ibukota adalah tempat yang jauh lebih rumit daripada medan perang. Gong Zichen sudah berada di sini selama hampir dua bulan, tapi dia belum menemukan petunjuk apapun terkait bencana yang menimpa kakeknya dua puluh tahun lalu.
Alih-alih, dia justru malah dipertemukan dengan Zhao Yue, yang menurutnya seperti labirin tanpa jalan keluar.
“Tuan, Nona Ketiga pergi keluar ibukota setelah keluar dari restoran dan baru kembali malam ini,” seorang bawahan Gong Zichen datang melapor. Dia ditugaskan mengawasi gerak-gerik Nona Ketiga Perdana Menteri dan mengkutinya.
“Ke mana dia pergi?”
“Makam kekaisaran. Saya tidak dapat masuk karena Nona Ketiga mengaktifkan mekanisme dan mengubah jalan menjadi labirin.”
Sudut mulut Gong Zichen terangkat. Menarik!
Seorang Nona Ketiga Perdana Menteri yang lemah dan tidak berguna, yang sepanjang hidupnya dihabiskan di kediaman secara terasing dan tidak dekat dengan siapapun, pergi ke makam kekaisaran seorang diri?
Dia bahkan bisa tahu dan bisa mengaktifkan mekanisme, bukankah ini aneh?
Semakin dipikirkan, Gong Zichen semakin penasaran. Menurutnya, Nona Ketiga adalah orang misterius. Jika tidak pernah keluar kediaman dan tidak dekat dengan siapapun, mengapa dia bisa pergi ke makam kekaisaran dan mengaktifkan mekanismenya? Tampaknya, Nona Ketiga tidak sesederhana itu.
“Baiklah, aku sudah tahu. Terus awasi dia dan laporkan perkembangannya padaku,” ucap Gong Zichen. Bawahannya mengangguk dan dalam sekejap sudah menghilang.
Mo Yunfei masuk sembari membawa nampan yang di atasnya terdapat sepiring camilan dan teko air panas. Dia khawatir pada kondisi tuannya. Sejak masuk ibukota, tubuh tuannya jadi sedikit rentan terhadap suhu dingin.
Padahal, perbatasan jauh lebih parah. Di sini, dia bahkan memerlukan lebih dari satu tungku untuk menghangatkan ruangan.
“Tuan, apakah tidak sebaiknya kita kembali ke perbatasan? Kaisar Yangle sudah dimakamkan dan kaisar baru akan segera naik takhta. Ibukota bukan tempat yang bagus dan sangat berbahaya. Kita juga tidak dapat menemukan petunjuk apapun terkait kejadian dua puluh tahun lalu.”
“Semakin sulit ditemukan, maka semakin besar rahasia di baliknya. Selain itu, ibukota mungkin tidak seperti yang kau bayangkan,” ujar Gong Zichen.
Dia kembali teringat pada Nona Ketiga, yang sangat berbeda dengan rumor. Semakin dipikirkan, maka semakin menarik.
“Tapi, kita tidak tahu seperti apa sifat Kaisar yang baru. Aku khawatir dia akan mengincarmu untuk mendapat kuasa atas Pasukan Shenwu.”
“Pasukan Shenwu milik kekaisaran. Jika dia menginginkannya, maka berikan saja.”
“Tidak bisa! Jika pelat perintah Pasukan Shenwu jatuh ke tangan orang yang tidak tepat, maka akan menjadi bencana! Tuan, jangan bicara begitu!”
“Untuk apa kau panik? Kau pikir aku tidak tahu? Selain itu, pelat perintah bukan benda yang bisa didapatkan dengan mudah.”
Gong Zichen jelas tahu konsekuensi kedatangannya ke ibukota. Dia hidup untuk mengamankan perbatasan sepanjang tahun sehingga dia mendapat izin untuk memimpin Pasukan Shenwu.
Dia kembali ke ibukota saat masa kacau. Tidak menutup kemungkinan kaisar baru akan mengincarnya untuk mendapatkan kembali Pasukan Shenwu.
“Kapan upacara kenaikan takhtanya dilaksanakan?” tanya Gong Zichen.
Mo Yunfei kemudian menjawab, “Besok.”
Gong Zichen mengangguk sembari tersenyum. Sudah saatnya dia menjenguk separuh menteri lama yang tersisa dan menyapa kaisar baru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
An
bagus bgt ceritanya
2024-02-25
5
Fifid Dwi Ariyani
trusceria
2024-01-21
0
Pemikiran yg jitu Gong
2024-01-08
0