Lu Yuan tiba-tiba membuka pintu kamarnya lagi. Angin dan badai salju menerbangkan butiran-butiran halus putih yang dingin, sedingin ekspresinya saat ini.
Satu tangannya memilin ujung pakaian yang sudah lusuh dan tidak mampu menghalau suhu dingin merasuk ke dalam kulitnya. Sebelah tangannya lagi memegang sebuah sumpit yang sudah berjamur.
Wanita itu melemparkan sumpit tersebut ke batang pohon, membuatnya menancap tak terlalu dalam dan menembus kulit pohon willow yang keras.
Salju-sajlu yang menutupi daunnya jatuh berguguran akibat getaran. Kekuatan dan tenaga dalam di lengannya lemah, Lu Yuan mengandalkan ingatan untuk mengecek kemampuan beladirinya lewat sebuah teknik rahasia.
Sebenarnya, jika tubuh Zhao Yue sehat, sumpit itu bisa saja menembus batang pohon, melubanginya dan menimbulkan efek lebih parah dari sekadar getaran.
Dua orang misterius yang mengintip di balik tembok samping kediaman terdiam. Salah seorang di antaranya bereaksi lebih dulu, tersenyum dalam diam.
“Apakah kau sudah cukup menguping?” ucap Lu Yuan tiba-tiba. Ia tahu, ada orang lain yang menyaksikan pertunjukkan drama barusan.
Gong Zichen mengulum senyum samarnya, mengubahnya menjadi sebuah ekspresi yang sama dingin dengan salju di halaman. Pria itu lantas keluar dari tempat persembunyiannya dengan menyembunyikan semu yang mengarahkan rasa terkejutnya atas refleks Lu Yuan yang sangat bagus.
Wanita ini… memiliki kepekaan yang sangat tinggi seolah-olah ia telah terlatih di suatu medan perang bertahun-tahun.
“Aku mendengar bahwa tubuh Nona Ketiga dari kediaman Perdana Menteri memiliki tubuh lemah dan sering sakit. Aku tidak mengharapkan diriku menyaksikan Nona Ketiga yang dirumorkan ini memiliki refleks dan kepekaan yang kuat terhadap keberadaan seseorang,” ucap pria itu.
Mo Yunfei, bawahan Gong Zichen, agak bergetar begitu melihat sosok Lu Yuan lebih dekat. Dia melihat mata wanita itu berkilat tajam seperti mata elang, ekspresinya luar biasa dingin.
Sejauh ini, hanya Lu Yuan yang menduduki peringkat kedua pemilik wajah dingin terbaik setelah atasannya, Gong Zichen.
Bawahan itu melihat sumpit yang tertancap di pohon. Dia bisa melihat kecepatannya saat itu, itu hampir mengalahkan kecepatan sebuah anak panah yang dilesatkan dari busur. Lu Yuan melemparkannya dengan mudah dan ringan, seolah-olah sumpit tersebut adalah jarum yang kecil.
Dengan tenaga sebesar ini, mustahil dia bisa disebut lemah. Mo Yunfei jadi membayangkan betapa sakit rasanya ketika telapak tangan yang mulus tiba-tiba ditusuk oleh jepit rambut tajam, seperti yang dialami Zhao Lin beberapa saat yang lalu.
Wanita ini, sepertinya sangat berbeda dengan yang dirumorkan.
“Kau, seorang pria, diam-diam menyusup ke kediaman putri Perdana Menteri dan menguping pembicaraan di belakang tembok. Penjahat mesum pun mesti berpikir dua kali jika ingin melakukannya.”
Gong Zichen mengulum senyumnya ke dalam hatinya.
“Aku datang mengunjungi calon istriku sendiri. Bagaimana Nona bisa menyebutnya sebagai menyusup dan menguping kemudian menyebutnya kejahatan orang mesum?”
“Calon istri?” Lu Yuan mengernyit. “Kau Marquis Yongping?”
“Nona sangat cerdas.”
Seperti takdir langit, ini bukanlah suatu kebetulan yang disengaja. Lu Yuan tidak pernah berpikir jika pria yang berdiri di hadapannya adalah Marquis Yongping, Gong Zichen, yang hendak ia nikahkan kepada Zhao Yue sebagai bentuk aliansi sekaligus pengawasan. Yang lebuh tidak ia sangka adalah pria ini diam-diam menyusup dan menguping, kemudian melontarkan alasan tidak masuk akal.
Lu Yuan memindai wajah dan penampilannya sekilas. Rambut pria ini hitam legam dan lurus, tampak lembut di permukaan. Fitur wajahnya tegas dan memiliki rahang yang kokoh, dengan bibir berwarna merah muda alami seperti wanita.
Alis di atas cengkok matanya hitam dan melengkung tegas, bulu matanya lentik dengan bola mata jernih seperti kristal. Mata itu memiliki banyak arti yang tidak dapat dideskripsikan dan dibaca, seperti telah menyimpan banyak rahasia.
Marquis Yongping telah berada di perbatasan selama bertahun-tahun, tidak pernah menginjakkan kakinya di ibukota sejak Lu Yuan naik takhta. Lu Yuan tidak tahu persis wajahnya, karena ia hanya pernah bertemu dengannya sekali sepuluh tahun lalu saat perjamuan.
Dia tidak berharap Marquis Yongping memiliki penampilan rupawan seperti sarjana ibukota, tidak seperti seorang jenderal pemimpin pasukan yang menyerahkan hidupnya di medan perang dan menjaga perbatasan.
“Aku tidak mau menikah denganmu.”
“Nona ingin melanggar titah?” Gong Zichen berkata dengan sedikit seringaian.
“Seperti yang kau dengar, Tuan Marquis. Kaisar Yangle belum menyelesaikan titah tersebut. Titahnya tidak berlaku tanpa segel emas Kaisar.”
Gong Zichen pura-pura terkejut. Lu Yuan, benar-benar berbeda dari rumor yang dia dengar.
Mereka bilang, Nona Ketiga dari Kediaman Perdana Menteri adalah gadis lemah dan sering ditindas saudara. Kaisar Yangle berniat memberinya pernikahan untuk mengikatnya, tentu saja dia akan memastikan terlebih dahulu seperti apa calon istrinya.
Pria itu tidak berniat melarikan diri, karena baginya, menikah atau tidak, hasilnya sama saja. Gong Zichen tidak akan terpengaruh oleh wanita demi tujuan besarnya. Meskipun Kaisar Yangle mengirim lebih banyak wanita pun, seberapa cantik pun mereka, tak akan membuatnya menjadi Marquis Yongping yang tidak berguna.
Sebaliknya, mungkin saja kehadiran mereka bisa menjadi pajangan tambahan di rumahnya. Kebetulan, hiasan-hiasan di dalam rumahnya sudah agak usang belakangan ini dan dia menginginkan pajangan baru. Hanya saja, Gong Zichen tidak menyangka sang Kaisar tiba-tiba saja meninggal sebulan lalu dan istana kekaisaran terbakar.
“Titah dari mendiang Kaisar, karena sudah dilisankan, tidak penting apakah ditulis atau tidak,” ucap Gong Zichen.
Lu Yuan memberinya sebuah tatapan dingin yang mengintimidasi. Tapi, itu tidak akan berguna pada orang seperti Gong Zichen.
Dia adalah marquis yang memimpin pasukan di perbatasan, tidak bisa digertak oleh seorang wanita sepertinya. Apalagi, identitas Lu Yuan sudah jauh berbeda.
Menikah bukan tujuan hidupnya saat ini.
“Terserah. Bagaimanapun, aku tidak akan menikah dengan Tuan. Jika Tuan ingin menikah, kau bisa meminta kepada Perdana Menteri untuk memasukkan Zhao Lin ke dalam kediamanmu menggantikanku.”
“Oh? Haruskah aku memintanya? Kedengarannya sangat menarik. Tapi, seperti yang kau katakan, dia tidak layak.”
Semakin lama Lu Yuan semakin muak bicara dengan Gong Zichen. Suhu dingin menembus kulitnya yang hanya tertutup pakaian tipis, hidungnya seketika memerah.
Dia menatap lekat-lekat Gong Zichen dan menghembuskan napas kasar. Marquis Yongping ini, sungguh orang yang mengesalkan!
“Dia menyukaimu, seharusnya kau senang seseorang menyukaimu sampai harus menyingkirkan pesaingnya, termasuk saudarinya sendiri. Orang seperti itu, lebih cocok menjadi pasangan Tuan Marquis.”
“Ah, sepertinya cukup sulit untuk meyakinkan Nona Ketiga. Baiklah, harinya sudah larut. Nona Ketiga, mari pikirkan baik-baik, kita masih punya banyak waktu untuk berdiskusi dan bertemu satu sama lain.”
Entah bagaimana caranya, kedua pria itu lalu menghilang dengan kecepatan yang sangat cepat. Lu Yuan mendesah pelan, kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya.
Xiao Tao yang sejak tadi berada di balik pintu langsung menghampirinya dengan penasaran. Dia mendengar semua percakapannya, tapi tidak berani keluar ketika dia mendengar kata ‘Marquis Yongping’ dari mulut majikannya.
“Nona, apakah pria yang tadi adalah Marquis Yongping?”
“Ya.”
“Mengapa Nona mengatakan tidak ingin menikah dengannya? Meskipun titah Kaisar tidak ditulis, tapi semua orang sudah tahu perihal pernikahan tersebut. Nona tetap menjadi tunangannya meskipun tanpa titah tertulis dari mendiang Kaisar.”
“Aku tidak ingin menikah. Itu saja. Kapan Perdana Menteri akan kembali?”
“Mungkin malam ini.”
Lu Yuan tahu Gong Zichen sudah pergi. Pertemuannya dengan Gong Zichen sudah menjadi kejutan besar dalam kehidupan keduanya.
Gong Zichen, pria itu, tidak memiliki kesan di dalam hatinya. Ia hanya tahu jika Gong Zichen adalah seorang perwira militer yang gagah dan patut diwaspadai. Tapi, penampilannya hari ini sungguh telah mematahkan semua asumsi yang membentuk bayangan Gong Zichen dalam benaknya.
Xiao Tao sepertinya belum puas. Hidup Nona Ketiga sudah sangat menderita sejak ibunya meninggal dan Perdana Menteri tidak menyayanginya.
Jika titah mendiang Kaisar Yangle benar-benar diberlakukan, sedingin dan sekejam apapun Marquis Yongping, pasti tidak akan membunuh istri yang dianugerahkan Kaisar Yangle kepadanya. Setidaknya, nonanya masih punya harapan.
“Marquis Yongping bukan orang yang menarik,” ucap Lu Yuan seakan tahu isi pemikiran Xiao Tao. Gadis pelayan itu menunduk, tahu jika nonanya benar-benar tidak ingin menikah.
Alih-alih, Lu Yuan menyuruh Xiao Tao menceritakan beberapa detail kehidupan Zhao Yue yang sekiranya diperlukan. Lu Yuan tidak mewarisi ingatan Zhao Yue, dia hanya menempati tubuhnya.
Butuh beberapa informasi penting agar Lu Yuan ingin bertahan hidup di kediaman ini dan menyusun rencana pembalasan dendamnya.
Salju di luar turun lagi. Hawa dingin menusuk, Lu Yuan sedikit mengeratkan baju jeleknya. Xiao Tao seperti ingin menangis.
Tidak ada arang di ruangan ini. Kediaman utara sudah lama ditinggalkan dan para pelayan sudah berani kurang ajar. Mereka bahkan tidak memberikan arang padahal jelas tahu di sini adalah kediaman Nona Ketiga, putri sah dari Perdana Menteri.
“Jangan menangis. Aku tidak akan mati karena kedinginan.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Bzaa
semangat...
2025-03-19
0
Fifid Dwi Ariyani
trusberkarya
2024-01-20
0
Lanjutkan
2024-01-08
0