Lu Yuan tidak segera kembali ke kediaman Perdana Menteri. Dengan sisa uang yang diberikan Xiao Tao, dia membayar seorang pedagang agar membawanya keluar dari gerbang ibukota.
Gong Zichen sudah mengatakan semua situasinya. Lu Yuan sudah mati sebulan lalu, tubuhnya pasti sudah dimakamkan.
Jadi, dia berencana pergi ke makam kekaisaran secara diam-diam. Saat berhasil keluar dari ibukota dengan aman, Lu Yuan memisahkan diri dari pedagang dan menyusuri jalannya sendiri.
Dari gerbang ke arah utara, dia berjalan dan sampai di kawasan Gunung Ziliu, yang perbatasannya ditandai oleh hutan pohon willow sebagai pintu gerbangnya.
Makam kekaisaran ada di atas gunung ini. Para leluhur Keluarga Lu sengaja memilih tempat yang lebih dekat dengan ibukota sebagai tempat pemakamannya.
Di gunung itulah kakek, nenek, ayah, dan paman-paman Lu Yuan dimakamkan. Ada ratusan anak tangga yang mengarah langsung ke pintu gerbangnya.
Selain anak tangga dan hutan, Gunung Ziliu juga memiliki air terjun di tengah hutannya. Puncaknya dipenuhi dengan bebatuan dan jika berdiri di sana, maka seluruh pemandangan ibukota dan istana kekaisaran akan terlihat.
Tapi, tempat seperti Gunung Ziliu ini bukan tempat yang cocok digunakan untuk rekreasi. Sebagus apapun tempat dan pemandangannya, itu hanya akan selalu menjadi makam.
Pilar yang menjadi pintu gerbang makam sudah terlihat. Aroma dupa yang samar masih tercium dari dalam.
Tidak ada penjaga kekaisaran yang menjaga, mungkin karena mereka sibuk memperhatikan penobatan Lu Zheng di istana. Itu membuat Lu Yuan bisa dengan leluasa masuk.
Lalu pada sebuah lorong yang panjang, dia berbelok ke sebelah utara. Berdasarkan aturan, makam Kaisar seharusnya berada di sisi sebelah sana.
Benar saja, di sana Lu Yuan melihat jejak pemakaman dan lelehan lilin yang masih baru. Aroma dupa yang pekat di dalam membuat Lu Yuan lebih mudah menemukan makamnya sendiri.
Peti matinya diletakkan di tengah. Sisi kiri dan kanan dipenuhi dengan harta yang membuat Lu Yuan berdecak.
Sekumpulan sampah itu, apakah mereka berpikir dengan memberinya banyak harta yang dimakamkan akan membuat Lu Yuan memaafkan mereka dan tidak menghantuinya?
Lu Yuan lantas membuka peti matinya sendiri. Bau dari mayat yang sudah sebulan dipendam menguar. Lu Yuan melihat tubuhnya sendiri, yang saat itu begitu indah sebagai seorang wanita, berubah menjadi sesosok mayat hitam yang mengerikan.
Kulit putih sehalus gioknya terbakar dan wajahnya hampir tidak bisa dikenali. Ini sudah sebulan, tapi entah mengapa pembusukan jasadnya berjalan lambat.
“Adikku yang baik itu masih cukup berhati nurani. Heh, dia bahkan membungkus mayat orang yang dibunuhnya dengan jubah kesayangannya,” Lu Yuan bergumam.
Lu Yuan cukup terkejut karena Lu Zheng benar-benar tidak membongkar identitasnya sebagai wanita kepada publik setelah kematiannya. Bahkan saat sudah menjadi mayat pun, adiknya itu masih membuatnya seperti laki-laki, persis sebagai Kaisar Yangle yang dikenal rakyat sejak dulu. Dalam hal ini, Lu Yuan memuji kemampuan Lu Zheng.
“Huh, bau mayat yang terbakar seperti daging panggang yang busuk.”
Lu Yuan menyingkirkan kesedihan di dalam hatinya dan menutup kembali peti matinya. Kini, dia memasuki ruang pemakaman lain.
Ada sebuah peti mati lagi, yang sudah tertutup debu yang sangat tebal. Meskipun begitu, aroma dupa samar masih tercium.
Ruangan itu adalah ruang pemakaman ayahnya, mendiang Kaisar terdahulu – Lu Jing. Tujuh tahun lalu, ayahnya diantar kemari dan dipendam.
Pemakaman yang sama, prosesi yang sama, tapi dengan cara kematian yang berbeda. Lu Yuan duduk di depan peti mati ayahnya, bersandar sebentar sembari menatap langit-langit yang gelap.
“Ayah, putri yang kau besarkan sebagai putra pewaris takhta sudah mati dan diantar kemari menemanimu. Dia tidak bisa lagi menjadi andalanmu, dan putra baik yang dibesarkan olehnya adalah pemberontak. Separuh menteri yang kau siapkan untukku ikut mati bersamaku.”
Teringat kala itu, ayahnya memanggilnya pada malam kematiannya. Lu Yuan yang dibesarkan sebagai laki-laki dan menjadi Putra Mahkota, diberikan amanat besar untuk memimpin negara.
Permaisuri kala itu hanya bisa melahirkan seorang putri, dan ayahnya tidak ingin pangeran yang lahir dari selir menjadi pewaris. Sejak saat itulah Lu Yuan menjadi laki-laki dan tidak pernah diperlakukan sebagai perempuan.
“Tapi, ayah tenang saja. Putra pemberontak itu tidak akan mudah duduk di atas takhtanya.”
Setengah jam kemudian, Lu Yuan keluar dari makam. Dia menuruni gunung di malam yang gelap dan baru sampai ke kediaman Perdana Menteri setelah tengah malam.
Dia tidak disayangi, tidak ada yang peduli apakah dia ada atau tidak, atau pergi ke mana dan tidak ada yang peduli akan kepulangannya.
Satu-satunya orang yang dengan setia dan menunggunya pulang hanyalah Xiao Tao. Di tengah dinginnya suhu udara dan hujan salju yang lebat, gadis pelayan itu berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas. Gadis itu sudah ratusan kali bolak-balik di tempatnya, menunggu sampai Lu Yuan pulang.
Raut wajahnya membaik saat Lu Yuan muncul di pintu gerbang. Lu Yuan melengang masuk, namun dirinya mencium sesuatu yang tidak beres. Kediaman utara tempat Zhao Yue tinggal ini sangat bobrok dan kekurangan.
Bahkan arang pun tidak ada, lilin penerangan juga hanya beberapa. Mengapa malam ini bangunan bobrok itu begitu terang?
“Nona! Akhirnya kau kembali! Aku sangat khawatir kau tersesat dan tidak bisa pulang!”
Lu Yuan terenyak. Apakah selain lemah dan tidak berguna, Zhao Yue ini juga bodoh dan tidak bisa menghafal jalan? Jika itu benar, maka jalan Lu Yuan akan semakin sulit.
Mengapa Perdana Menterinya bisa melahirkan seorang anak malang seperti ini? Tiba-tiba saja Lu Yuan menjadi sedikit sedih.
“Mengapa kediaman ini begitu terang?” tanyanya pada Xiao Tao.
“Itu… Pelayan kediaman utama mengirimkan beberapa barang, termasuk lilin dan beberapa kilogram arang dan baju hangat. Katanya, Tuan Besar yang menyuruhnya.”
Lu Yuan mengernyit. Mengapa Perdana Menteri tiba-tiba bersikap baik?
Ah, Zhao Yun pasti merasa tersentuh dan bersalah. Setelah dimarahi dan dikatai oleh anak sendiri, pria tua itu mungkin merenung sepanjang malam. Lu Yuan menertawakan dia dalam hati.
Seorang Perdana Menteri yang baik dan penurut di depannya saat menjadi Kaisar Yangle, ternyata hanya seorang ayah buruk yang baru sadar saat diberikan pukulan.
“Oh,” Lu Yuan tidak menanggapinya dengan serius.
Xiao Tao tercengang. Dia sudah dibuat terkejut karena nonanya keluar kediaman dan orang dari kediaman utama datang memberikan barang.
Xiao Tao tidak tahu apa saja yang sudah dibicarakan oleh Nona Ketiga pada Perdana Menteri dan keluarganya malam tadi.
Tiba-tiba saja keajaiban datang, dan Nona Ketiga hanya menanggapinya dengan ‘oh’ tanpa minat. Bukankah ini sangat aneh? Tapi, Xiao Tao tidak mau berpikir terlalu banyak. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya yang tipis.
“Nona, tadi ada orang dari kediaman Marquis Yongping yang datang dan memberikan ini padaku. Dia bilang, Marquis Yongping ingin calon istrinya tetap cantik.”
Lu Yuan menerima botol porselen putih tersebut dan mencium baunya. Ini adalah salep untuk luka luar.
Sudut mulut Lu Yuan terangkat sedikit, dia menutup kembali botol tersebut dan menyimpannya. Gong Zichen pasti melihat goresan bekas pecahan cangkir keramik yang membekas di wajahnya siang tadi.
“Terhadap kecantikan, matanya benar-benar jeli.”
“Nona, apakah kau ingin mandi? Sekarang kita juga punya kayu bakar. Aku akan menyiapkan air hangatnya jika Nona ingin,” Xiao Tao berkata. Ia pikir, nonanya pasti ingin membersihkan diri.
Lu Yuan menggeleng. “Aku lelah. Bantu siapkan lap basah untukku.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Yunika Christina Minggu
Br ketemu,ceritax asyikkk,alurnya bagus,kata2nya juga top dech,good job author,semangat ya
2024-10-15
2
*Eu-Mi*
ceritanya Apik dan Menarikk .. saya suka saya sukaaa...
2024-10-09
1
Fifid Dwi Ariyani
trussehat
2024-01-21
1