Arya ragu untuk lanjut mendekat ke ranjang atau tidak. Penampilan Sarah kali ini cukup menggoda, dengan selimut yang sudah menjuntai ke lantai tidak lagi menutupi tubuh Sarah dengan gaun tidur yang tersingkap memperlihatkan kedua kaki jenjang nan mulus.
Bagi Arya jika tidak dipandang, tapi rejeki. Diteruskan dipandang menggoda keimanan.
“Bu Sarah,” panggil Arya kembali menutupi tubuh wanita itu dengan selimutnya lalu membuka gorden.
“Bu Sarah,” panggil Arya lalu menepuk pipi wanita itu. “Eh.” Arya kembali menyentuh kulit Sarah, tepatnya dahi wanita itu untuk memastikan sesuatu.
“Demam!”
Sarah mengeerang pelan dan mengeratkan selimut agar lebih hangat.
Arya mencari remote AC kamar Sarah dan merubah suhu agar tidak terlalu dingin. Mengambil teh dan makanan yang sudah dibuat dan membawanya ke kamar. “
“Bu Sarah, bangun dulu Bu,” ujar Arya sambil menepuk pelan pipi Sarah.
“Hm.”
“Ibu demam, ayo bangun. Ini diminum lalu sarapan dan minum obat.”
Sarah belum membuka matanya hanya bergumam pelan dan tidak dimengerti oleh Arya. Pria itu dengan sabar berusaha membuat Sarah terjaga.
“Bangun Bu atau mau saya cium?”
“Ck, dasar mesum. Kepalaku sakit, hubungi Edric untuk membackup pekerjaanku.”
“Siapa yang bisa saya hubungi untuk rawat Ibu?”
Sarah hanya menggelengkan kepala atas pertanyaan Arya. Selama tinggal terpisah dengan orangtuanya, dia berusaha hidup mandiri, sengaja menghindar dari sikap serta ucapan Papanya yang kadang bisa membuat hipertensi mendadak.
“Sarapan dulu ya, saya sudah buat scramble egg.”
“Kamu masak?” tanya Sarah sambil beranjak duduk dan bersandar pada headboard.
Penampilan wanita itu dengan wajah bangun tidur dan rambut agak kusut serta wajah pucat, membuat Arya menghela pelan. Sarah memang sudah cantik bawaan, dalam keadaan seperti ini pun tetap membuat Arya menelan saliva.
“Kalau stok bahan makanan di dapur lebih banyak, bukan hanya ini yang saya buatkan. Ayo buka mulut!”
“Aku bisa makan sendiri,” ujar Sarah berusaha mengambil alih piring di tangan Arya.
“Sama saya aja, buka mulutnya. Belum pernah disuapin sama cowok ganteng kayak saya ‘kan? Pasrah aja Bu. Di luar sana cewek-cewek pada antri pengen di posisi Ibu loh.”
Sarah pun malas berdebat dan membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari tangan Arya. Entah mengapa hatinya menghangat mendapatkan perlakuan Arya yang terlihat tulus, tidak pernah dia mendapatkan perhatian seperti ini bahkan dari orangtuanya. Ketika sakit, para asisten rumah tangga yang lebih tanggap mengurusnya.
Sebagai direktur tentu saja ada pekerjaan yang darurat untuk dilakukan, Sarah mengarahkan Arya agar tetap ke kantor dan menemui Edric.
“Proposal yang kita cek semalam ada yang terjadwal hari ini untuk menyampaikan keputusan. Edric tahu harus bagaimana.”
“Hm. Buka mulut lagi, ini obatnya,” ujar Arya menyuapkan obat pereda demam dan nyeri. “Kalau ada apa-apa, hubungi saya Bu,” pesan Arya sebelum pergi.
“Hubungi kamu?”
“Hm. Saya ini aspri bu Sarah ‘kan?”
Arya keluar dari kamar dan tidak lama kembali lagi membawakan sebotol air.
“Saya jalan ya atau ada yang perlu saya bantu lagi. Mandi atau gantikan pakaian Ibu gitu?”
“Dasar otak mesum!” Sarah meraih bantal dan melemparkan pada Arya yang dengan lincah langsung menghindar.
“Istirahat Bu, nanti saya balik lagi.”
***
“Sarah sakit?” tanya Edric saat Arya menemuinya.
“Iya, kalau tidak percaya Pak Edric langsung hubungi saja.”
Edric mengernyitkan dahinya mendengar kondisi Sarah. Bukan masalah pekerjaan yang didelegasikan padanya, tapi sikap Sarah yang tidak biasa. Saat masih menjadi asisten Sarah, Edric kadang kesal sendiri karena ulah wanita itu. Bahkan di hari libur pun sering diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan.
Kali ini Sarah bahkan tidak menghubunginya malah mengirimkan Arya. Apa sudah senyaman dan sepercaya itu pada pria yang sempat ditolak sebagai asisten, tapi sekarang malah diandalkan.
“Sekarang Sarah ada di mana?”
“Apartemen Pak, tadi sudah sarapan dan minum obat juga sih. Mungkin sekarang sedang tidur,” sahut Arya membuat Edric merasa ada sesuatu antara Arya dan Sarah, sesuatu yang sebenarnya bukan hanya pencitraan.
Akhirnya Edric, Arya dan Melan duduk bersama untuk membahas jadwal dan pertemuan darurat yang tidak mungkin digeser atau ditunda. Sampai menjelang makan siang, Arya pamit pada Edric.
“Mau ke mana kamu, kalau makan siang bisa Melan yang order. Ini masih ….”
“Saya mau lihat Bu Sarah, juga bawakan makan siang.”
“Arya, Sarah bukan bocah dia bisa urus sendiri kalau hanya masalah makan siang.”
“Pak Edric salah, walaupun bukan bocah tapi Bu Arya tetap perempuan yang kadang buku bahu laki-laki. Saat ini Bu Sarah butuh seseorang untuk mengurusnya, tapi dia tidak merekomendasikan orang yang bisa saya hubungi.”
Edric dan Melan saling tatap saat Arya meninggalkan ruangan Sarah.
“Menurutmu mereka ada sesuatu tidak?”
“Hm.” Melan lalu mengedikan bahunya, tidak berani komentar atau ikut campur dengan urusan atasannya apalagi Bu Sarah.
“Kalau saya sakit, kamu bisa seperti Arya mengurus saya?” tanya Edric dan langsung mendapatkan gelengan kepala dari Melan.
“Saya dan Pak Edric ‘kan tidak ada hubungan apapun dan urusan kerja juga tidak ada garis perintah langsung,” ujar Melan menjelaskan situasi mereka.
“Ah, mumpung kita sedang membahas ini bagaimana kalau kita putuskan diantara kita ada hubungan,” usul Edric.
“Hahh.”
Tidak ada satu jam, Arya akhirnya tiba di apartemen Sarah. Bahkan membawa dua kantong plastik berisi bahan makanan. Sampai di unit, pria itu menyusun bahan yang dia bawa ke lemari penyimpanan dan juga lemari es lalu menuju kamar Sarah untuk melihat kondisi wanita itu. Ternyata Sarah tidak ada di ranjang juga di toilet.
“Ke mana dia?” gumam Arya lalu menuju walk in closet. Dengan pintu yang tidak tertutup dan terlihat jelas kondisi di dalam sana.
Beruntung Sarah sudah selesai mengganti pakaian, jika Arya datang beberapa menit lebih awal tentu saja mendapatkan pemandangan indah dan menyegarkan matanya.
“Yah telat deh,” ujar pria itu mengejutkan Sarah yang langsung menoleh.
“Kamu? Sejak kapan ada di sini?”
“Barusan aja Bu, makanya saya bilang telat. Coba dua menit lebih awal, saya bisa lihat pemandangan pegunungan.”
Sarah baru akan membuka mulutnya tapi disela oleh Arya.
“Saya bukan mesum Bu, tapi pria normal. Ibu baringan lagi deh, saya mau masak untuk Ibu.”
“Kamu … mau masak?”
“Hm.”
Alih-alih berbaring seperti yang diminta Arya, Sarah malah mengikuti pria itu ke dapur. Ternyata Arya memang bisa memasak seperti yang diakui. Membuat sup ayam dan memasak nasi dengan rice cooker dilakukan dengan lincah seakan sudah biasa melakukan hal tersebut.
“Kamu belajar masak dari mana?”
“Saya dulu anak kost Bu, jadi biasa masak sendiri,” ujar Arya sedikit berdusta.
Akhirnya masakan Arya pun matang. Semangkuk sup ayam rempah dan sepiring nasi sudah terhidang di hadapan Sarah.
“Makan Bu, jangan makan junk food terus.”
Arya mengambil gelas dan mengisi dengan air mineral, bersamaan dengan ponsel yang diletakan di atas meja bergetar. Dari layar pop up jelas terlihat kalau yang mengirimkan pesan adalah Ares -- sang kakak.
[Kamu bekerja pada Sarah Alesha, putri Ryan Simon?]
Pria itu berdecak karena posisinya sudah diketahui oleh sang kakak, jelaslah Doni yang menyampaikan. Arya harus berhati-hati karena identitasnya bisa terbongkar. Siapa yang tidak kenal dengan Sarah Alesha juga Bimantara Property.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
dwie
seperti nya arya pun bukan orang biasa
2024-03-08
0
Fenty Dhani
sebentar lagi virusnya pasti menyebar☺️
2024-02-20
0
Fifid Dwi Ariyani
truscsabar
2024-02-05
0