Dari kejauhan terlihat Bagas, Adrian dan beberapa pimpinan tengah diskusi di sebuah ruangan dan mendengar teriakan tersebut merasa terganggu. Bagas menghentikannya dan berjalan ke arah jendela. Dia melihat ke arah Wilona dan melihat apa yang terjadi, begitupun Adrian.
"Apa yang mereka lakukan? Hah, Wilona sangat cantik," ucap Adrian yang berusah memancing Bagas.
Bagas yang mendengar ucapan Adrian benar terasa ingin memberikan bogem panas ke wajah Adrian, tapi dia masih bisa menahannya. Bagas akhirnya melanjutkan diskusi tersebut hanya berselang beberapa menit, Bagas menghentikannya dan akan melanjutkan esok hari di perusahaan karena suara Wilona benar-benar sangat mengganggu.
Senam Zumba selesai. Wilona memasuki kamarnya dengan nafas yang terengah-engah, dia berjalan dan merebahkan tubuhnya di atas sofa tanpa memperhatikan di dalam ruangan tersebut ada sosok yang memperhatikannya sedari tadi. Siapa lagi kalau bukan Bagas dengan tatapan dinginnya.
"Apa yang kau lakukan di halaman tadi? apakah kau tidak merasa itu sangat mengganggu?," ucap Bagas.
Wilona yang mendengar pertanyaan tersebut dengan jelas, terbangun dari tempatnya dengan spontan kemudian menatap Bagas tajam.
"Apa yang kau lakukan di kamar ini? cepat keluar, semua yang aku lakukan bukan urusanmu," timpal Wilona.
"Semua yang berada di wilayah ini adalah urusanku, termasuk dirimu. Apakah kau bodoh atau pura-pura tidak mengetahuinya kalau bibi Denada yang menyebabkan kau di gigit ular?," jelas Bagas.
"Aku tahu, maka dari itu aku harus bersekutu dengannya agar menjauhi masalah. Bukankah cara terbaik untuk menghindari masalah adalah bersembunyi disarang musuh?" timpal Wilona dengan sumringah.
Bagas yang mendengar ucapan Wilona memberi tatapan menyelidik, dia melangkah mendekati Wilona dengan pelan dan juga tatapan matanya yang sangat tajam membuat Wilona salah tingkah. Langkah Bagas kini semamin dekat, semakin mengikis dan membuat Wilona melangkah mundur hingga tubuhnya tepat bersandar di dinding ruangan tersebut.
"A-a-pa yang kau lakukan?," ucap Wilona gugup.
"Kau bukan Wilona yang ku kenal, siapa kau sebenarnya?," tanya Bagas dengan tajam.
Jantung Wilona merasa akan loncat dari tempatnya mendapatkan pertanyaan tersebut, suaranya tercekat dan dia merasa tidak bisa menghindar dari pertanyaan Bagas. Jalan satu-satunya Wilona mendorong tubuh Bagas agar dia bisa menjauh. Wilona kemudian menghindar dan meraih gelas dan menjawab pertanyaan Bagas dengan gambalng.
"Ya aku Wilona, siapa lagi."
Wilona akhirnya meninggalkan ruangan tersebut untuk menghindari pertanyaan Bagas. Membuat kecurigaan Bagas semakin kuat, dia semakin yakin bahwa Wilona menyembunyikan sesuatu.
...----------------...
Malam hari Wilona berjalan dan tanpa sengaja melihat Nindi sedang duduk sendiri terpaku memandangi danau buatan yang tidak berada jauh di hadapannya, pemandangan danau saat malam yang memanjakan mata di tambah banyaknya kerlap-kerlip lampu yang mengitari danau tersebut, membuat suasana malam semakin nyaman.
"Apa yang kau lakukan di tempat ini?," tanya Wilona.
"Tidak ada, aku hanya ........."
"Apakah kau memikirkan Bagas?," tanya Wilona kembali yang menebak pikiran Nindi.
Nindi yang mendengar itu hanya menunduk lemah, Wilona akhirnya meraih pergelangan tangan Nindi dan duduk di sekitar danau tersebut. Wilona meyakinkan Nindi bahwa Bagas itu miliknya, tapi Nindi masih tidak berkutik, dia masih diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Nindi, aku sudah mengatakan padamu bahwa Wilona hanya pemeran pembantu dalam dunia ini, kau adalah pemeran wanita utamanya dan kau akan bersama Bagas selamanya."
"Hume, apakah aku bisa mempercayaimu? apakah aku bisa memanggil namamu yang sebenarnya?," tanya Nindi dengan ragu.
"Bisa, saat kita berdua kau bisa memanggilku dengan namaku, itu tidak masalah. Atau begini saja kita mulai misinya untuk membuat Bagas dan kau bersatu, mungkin inilah misiku yang sebenarnya setelah itu, aku bisa kembali ke duniaku dengan tenang, aku rindu makan bakso," jelas Wilona.
"Bakso? apa itu?," tanya Nindi.
"Hmm, kau tidak akan tahu, rasanya enak, legit, penuh daging dan..... ah, sudahlah. Itu makanan favoritku dan anehnya aku tidak bisa membuatnya, dan di dunia ini tidak ada yang bisa membuatnya," timpal Wilona.
Wilona akhirnya mengajak Nindi meninggalkan tempat tersebut dan menjelaskan kepada Nindi bahwa mulai esok hari dia akan membuat rencana mendekatkan Bagas dan Nindi kembali membuat Nindi tersipu malu dan berterimah kasih kepada Wilona. Akhirnya mereka berdua saling tertawa memasuki bungalao masing-masing.
...----------------...
Udara pagi menyapa dengan udara segar yang menyeruak memasuki ruangan, cahaya-cahaya kecil seakan menyapa pagi hari dalam ruangan utama kamar yang sangat luas Bagas Abraham. Dia tersenyum dan mengusap mata lelahnya, dia membuka sedikit matanya dan menatap langit-langit kamarnya, tiba-tiba dia merasa ada sosok bayangan berada dihadapannya yang sedang menutup cahaya matahari pagi.
Bagas berusaha menormalkan tatapannya dengan jelas. Sperskian detik Bagas bangun dengan cepat dari kingbadnya dan memberi tatapan sinis kepada sosok yang berada di hadapannya saat ini, siapa lagi kalau bukan Wilona. Dia tersenyum manis di hadapan Bagas tanpa rasa bersalah telah mengganggu pagi orang lain. Saat itu Wilona hanya berpikir bahwa rencananya harus berhasil.
"Hai, selamat pagi," ucap Wilona.
"Apa yang kau lakukan di sini dan siapa mengizinkanmu memasuki kamar ini, cepat keluar," timpal Bagas sinis.
"Apakah begini caramu memperlakukan wanita?."
"Cepat keluar, aku kan sudah mengatakan bahwa jangan menginjakan kakimu di ruangan ini," timpal Bagas dengan nada kesal.
"Baiklah, aku cuma ingin menyampaikan kalau Nindi tadi keluar rumah dan dia kelihatannya kesakitan, kau cepat susul dia."
Bagas hanya memutar bola matanya malas seakan tidak percaya dengan apa yang Wilona katakan, Wilona kembali menjelaskan tentang keadaan Nindi yang memperihatinkan, dia pun berpura-pura bahwa Nindi meminta tolong Wilona memberitahukan Bagas bahwa dia akan menunggu Bagas di tempat biasa, Bagas pasti akan mengerti dimana tempat tersebut.
"Aku sudah mengatkannya dengan jelas, aku pergi," ucap Wilona santai kemudian meningalkan kamar Bagas.
Wilona tersenyum senang melihat ekspresi Bagas yang terdiam saat mendengar dia menjelaskan keadaan Nindi, dia yakin bahwa Bagas akan menyusul Nindi ke tempat yang di maksud walau sebenarnya Wilona pun penasaran dimana tempat yang Nindi maksud, apakah di Biosokop? di Mall? di Pasar?
"Ah tidak mungkin, apa yang aku pikirkan. Lebih baik aku bertemu bibi Denada untuk mengajaknya Zumaba lagi," gumam Wilona.
Hari menjelang sore, Bagas dan Anton terlihat berjalan sambil berdiskusi, Wilona yang melihat itupun mempercepat langkahnya dan mencari sosok Nindi di antara mereka berdua. Langkah Wilona semakin cepat. Belum tepat sampai di hadapan Bagas, Wilona langsung dengan suara lantang memanggil Bagas.
"Gas, dimana Nindi? bukannya kalian bersama? kau menemuinya kan?," ucap Wilona
"Jadi seperti itu yang aku harapkan kepada tuan Candra kau segera buat laporannya dan aku tunggu di ruang kerjaku," jelas Bagas kepada Anton yang masih fokus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments