"Bagas..... maafkan ibu nak, ibu....."
Sebuah pelukan erat mendarat di tubuhnya. Pelukan erat yang sangat dinantikannya, dari seorang anak yang selama ini di rindukannya. Air mata yang selama ini tertahan akhirnya tumpah, begitupun dengan Bagas. Lelaki dingin workholic tersebut menangis dalam pelukan Ningrum, wanita yang selalu berada dalam mimpinya, ibunya.
"Ibu, aku merindukanmu, kenapa tidak sejak lama kau datang menemuiku?," tanya Bagas dengan menghapus air mata yang berlinang di pipi Ningrum.
"Maafkan ibu sayang, maaf jika ibu terlambat, ibu baru bisa memiliki keberanian setelah bertemu dengan istrimu," jelas Ningrum.
Bagas yang mendengar itu akhirnya melirik ke arah Wilona dengan tulus berbisik menggunakan bahasa tubuh. Bagas mengucapkan terimah kasih kepada Wilona yang tidak berada jauh dihadapannya. Wilona tercengang mendapatkan hal tersebut, dia merasa Bagas mengucapkannya sangat tulus dan anehnya jantung Wilona berdetak sangat cepat kala itu.
Suasana haru menyelimuti pesta tersebut, semua orang yang menyaksian berbisik dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga konglomerat itu. Ada beberapa di antara mereka yang mengetahui kisahnya dan yang lainnya hanya diam penuh haru. Monica meninggalkan pesta dengan membawa dendam mendalam kepada Wilona. Dia merasa sangat terhianati saat itu.
Abraham yang melihat kedatangan Ningrum pun hanya bisa terdiam dan mengenang masa indah yang silam. Di antara semuanya ada seorang wanita yang sedari tadi meneteskan air mata di balik sudut ruangan, siapa lagi kalau buka Nindi. Dia tidak bisa melakukan apapun selain menangis.
Abraham mendekati Bagas dan menepuk lembut pundaknya, untuk pertama kalinya Abraham bertemu dengan Ningrum. Ada rasa canggung disana, wanita yang dulu di cintainya kini berada di hadapannya. Ada sedikit penyesalan didalam hatinya karena menyia-nyiakan wanita yang tulus mencintainya, dulu.
Pemandangan itu begitu berarti. Bibi Bagas yang merasa kesal pun meninggalkan acara tersebut dan menyusul Monica. Dia melaporkan segala apa yang di lihatnya terlebih lagi tentang Abraham. dia menjelaskan bahwa Abraham mulai kembali terpikat dengan Ningrum membuat Monica murka.
"Ini semua karena wanita sialan itu, Wilona tunggu pembalasanku," gumam Monica.
Bibi Bagas tersenyum, karena sebenarnya dia menadapatkan keuntungan dalam hal tersebut. Selama ini dia telah bersusah payah bersaing dengan Monica untuk mendapatkan Abraham dan saat itu kedatangan Ningrum membuatnya akan terkalahkan dan melawan dua wanita. Bibi Bagas tidak menginginkan hal itu, dia merasa masih bisa memiliki kesempatan untuk menjadi nyonya Abraham selanjutnya.
Esok hari.
Sarapan di mulai, Ningrum memilih menghabiskan sarapannya di ruangan yang telah di sediakan oleh Bagas, tentunya kamar utama miliknya. Bagas bahkan tidak ikut sarapan bersama yang lain tapi menghabiskan sarapannya bersama Ningrum dengan berbagi cerita. Terlebih lagi cerita Ningrum saat kejadian Bagas masih kecil dan alasan dia meninggalkan Bagas dan menyerahkan dia kepada Kakeknya.
Bagas sangat mengerti hal itu, mereka bernostalgia dan Bagas sesekali menceritakan masa kecil yang Ningrum tidak ketahui bahkan dapatkan. Ada rasa bersalah yang mendalam d lubuk hati Ningrum yang terdalam, dia merasa gagal menjadi seorang ibu karena tidak menyaksikan pertumbuhan anaknya dengan sangat baik.
Bagas menceritakan kehadiran Monica yang membuat Ningrum bungkam, dia tidak ingin menambah dendam dihati Bagas kepada Abraham dan Monica. Cukup dia yang tahu sejahat dan sekeji apa Monica selama ini. Dia bahkan berusaha ingin melenyapkannya.
Saat Bagas menceritakan kekesalannya karena Abraham sangat membela Adrian dan menjadikannya pewaris utama sedangkan dia yang bekerja keras selama ini membuat Ningrum geram. Dia telah bertekad dalam hati, untuk tetap berada di sisi anaknya apapun yang terjadi. Saat ini dia tidak akan berlari lagi, dia akan menetap dan melindungi Bagas.
"Ibu akan menemanimu di sini."
"Benarkah Bu?," tanya Bagas dengan sumringah.
Ningrum mengangguk dan mengelus pucuk kepala Bagas. Setegas apapun dia, Bagas tetaplah anak kecil dimata ibunya. Di tempat lain, setelah sarapan Wilona berjalan ke taman bunga kesukaannya. Di sana terlihat sangat sepi, tidak ada pelayan yang berlalu lalang. Wilona memberi pertanyaan kepada salah satu pelayan tersebut, mereka mengatakan bahwa beberapa pelayan di berhentikan oleh nyonya Monica.
"Tapi kenapa?," tanya Wilona.
"Saya juga tidak mengetahuinya nyonya."
"Kenapa dia seenaknya memecat pelayanku," gumam Wilona.
Dia berjalan dan menemui Monica tapi sebelum itu dia telah menyiapkan sebuah hadiah untuk membuat Monica jauh lebih tenang. Yang benar saja, kedatangannya di sambut dengan baik bahkan Monica tersenyum manis melihat kedatangan Wilona.
"Kenapa harus membawa hadiah segala?," tanya Monica dengan sangat tenang.
Wilona berusaha memahami gerak-gerik Monica dan membuka kotak yang berisi kalung berlian yang sangat cantik. Monica tersenyum dan meraih kalung tersebut dan memakaikan di lehernya sambil mendengar ucapan Wilona tentang para pelayannya yang berkurang.
"Hmm, itu hanya sementara sebagai hukuman karena kau tidak patuh kepadaku, jadi mulai saat ini kerjakan semuanya sendiri," jelas Monica.
"Maaf ma, aku merasa tidak tega dengan ibu Ning....."
"Cukup, kau bisa meninggalkan tempat ini."
Wilona menggerutu meninggalkan ruangan tersebut, dia sangat merasa bodoh karena menyebut nama seorang wanita yang menjadi masa lalu suaminya, wanita mana yang bisa menerima hal tersebut.
"Ah, Wilona kau bodoh sekali, hmm siapa yang akan merapikan kamarku, bukannya masuk kedalam dunia novel aku bisa menikmati hidup yang nyaman malah menderita, mana ceritanya sudah berada di luar alur yag sebenarnya lagi," gerutu Nuhume disepanjang jalan.
Wilona berjalan menuju Bungalao miliknya tapi seorang pelayan membawa sebuah kotak dan memberitahukan bahwa kotak tersebut dari Adrian. Wilona yang mendengar itu malas dan meminta pelayan tersebut pergi membawa kotak itu kembali tapi pelayan tersebut memilih terduduk dihadapan Wilona dengan memegang kotak tersebut.
Dia memohon untuk Wilona menerimanya agar dia masih tetap bisa bekerja di tempat tersebut. Wilona tidak habis pikir, sifat anak dan ibunya benar-benar sama. Dia sangat seenaknya memecat para pelayan.
Wilona membuka kotak tersebut dan melihat ada sepasang heels dan surat disana. Adrian meminta Wilona datang ke taman yang didekatnya ada sebuah danau buatan yang tidak terbilang jauh dari bungalao tempat Wilona. Kalimat yang berisi dengan sedikit nada ancaman.
"Dasar lelaki ini, apa sih yang dia inginkan," gumam Wilona kesal.
...----------------...
Malam menjelang, Wilona mengikuti apa yang Adrian inginkan. Dia berjalan menuju danau tersebut yang dipenuhi dengan lilin pada suasana yang romantis. Adrian telah terlihat dengan mengenakan setelan jas yang sangat rapi. Wilona mendekat dan menyapa Adrian membuat dia spontan memutar tubuh dan melihat kecantikan Wilona yang sangat memukau walau dengan gaun yang tertutup.
"Ada apa kau mengundangku? apa yang akan kau bicarakan di tempat ini? bukannya banyak tempat lebih baik dari tempat ini? di ruang kerja misalnya," tanya Wilona tanpa basa-basi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments