"Ha? bukannya kau yang mengundangku untuk datang ke tempat ini dan memberiku setelan jas ini? hmm sudahlah, ngomong-ngomong kau sangat cantik malam ini," ucap Adrian.
Wilona terhenyak mendengar ucapan Adrian, dia sangat yakin bahwa ada seseorang yang berusaha menjebak mereka berdua. Dan benar saja, tidak berselang lama ada langkah Monica dan Bibi Denada mendekat ke arah mereka dengan beberapa pelayan. Wajah mereka terlihat suram, seakan telah menangkap basah perilaku kejahatan.
"Oh, jadi ini yang kau lakukan? kau mencemarkan nama baik keluarga Abraham? Ha? kau sengaja mendekati Adrian kan?," ucap Monica dengan nada kesal.
Wilona ingin menjawab pertanyaan Monica tapi di cegah oleh Adrian, dia mendekati Monica dan menenangkannya tapi itu tidak berhasil. Monica bahkan mengancam jika saat itu dia akan melaporkan apa yang Wilona lakukan kepada suaminya, Abraham.
"Ma, tidak seperti itu ma. Aku dan Wilona hanya....."
"Diam kamu Adrian, sekarang pergi dari sini. Kembali ke kamarmu," timpal Monica dengan emosi.
Adrian masih kekeh berada di tempat tersebut dan masih berusaha membujuk Monica tapi sayang, Monica menepuk tangannya sebagai tanda beberapa bodyguard mendekat dan membawa Adrian pergi dari tempat tersebut. Wilona hanya terdiam, dia bingung harus melakukan apa. Dia merasa tidak mendapatkan pembelaan apapun saat Monica mencibirnya sebagai wanita murahan karena selama ini dia pun tahu apa yang Wilona lakukan tapi dia beralasan untuk tetap menutup telinga dalam hal itu.
"Aku akan membuatmu menderita berada di rumah ini, berani sekali kau menghianatiku," batin Monica.
Monica kemudian menarik pergelangan tangan Wilona dengan kasar dan membawa dia kedalam sebuah gudang penyimpanan barang rongsokan. Monica memerintahkan Wilona untuk membersihkan tempat tersebut menggunakan tangannya sendiri. Wilona masih berusaha untuk menjelaskan tapi Monica lebih hebat dalam hal mengolah kata dengan baik sehingga Wilona dibuatnya merasa bersalah dalam hal tersebut.
Wilona akhirnya terjebak dalam ruangan tersebut yang penuh dengan debu, kotoran dan hewan-hewan kecil.
Hanya ada redupnya cahaya dari satu jendela yang retak. Dengan lembut, Wilona membersihkan debu dan sarang laba-laba yang telah mengendap selama bertahun-tahun.
Sambil membersihkan dan merapikan, Wilona berpikir sejenak. Dia harus melakukan sesuatu untuk mengubah alur cerita tersebut agar dia bisa segera keluar dari novel tersebut. Tiba-tiba, ular berbisa keluar dari cela barang rongsokan dan spontan Wilona teriak dan ular tersebut mematuk tangannya.
Wilona akhirnya pingsan dengan wajah yang memucat. Tidak berselang lama, pintu gudang terbuka dan seorang pria dengan setelan jas formal membopong tubuh Wilona segera meninggalkan tempat tersebut dan membawanya ke kamar utama miliknya, dia mengerahkan semua dokter terbaik dengan peralatan medis yang lengkap. Dokter pribadi keluarga Abraham.
"Apa? di gigit ular? siapa yang melakukan ini?," ucap Bagas kepada dokter yang menangani Wilona.
"Entahlah tuan, tapi lihat ini bekas gigitan ular," jelas dokter tersebut.
"Anton, cepat selidiki masalah ini."
"Tapi tuan tidak usah khawatir karena racunnya belum menyebar dan saya memiliki obat penawar khusus racun, mungkin butuh waktu tiga hari untuk melewati masa-masa kritisnya," jelas dokter.
Sekretaris kepercayaannya itu pergi meninggalkan ruangan tersebut dan segera melaksanakan apa yang Bagas perintahkan. Bagas kembali memperhatikan wajah Wilona dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan, Ada kesedihan dan kekhawatiran disana, ada pula rasa kebingungan dan senang disana. Seolah dia menjadi manusia yang baru menyadari bahwa dia telah memiliki perasaan kepada wanita yang berada di hadapannya itu.
"Bagas, apa kau sudah gila? dia wanita licik dan juga telah murahan," batin Bagas.
Bagas meninggalkan ruangan tersebut menuju ruang kerjanya, beberapa jam kemudian hatinya gelisah jika tidak melihat keadaan Wilona saat itu, dia kembali ke kamar utama dan melihat Wilona terbaring dengan wajah yang pucat. Bagas mengingat betapa Wilona saat ini sangat berbeda. Tidak ada amarah dalam tatapan Bagas, hanya ada sedikit senyum mengingat akhir-akhir ini banyak tingkah Wilona yang menurutnya sangat konyol.
Bagas tanpa sengaja melihat Wilona berlarian mengejar anjing kesayangannya dan terjatuh bermandikan lumpur, tidak hanya itu. Terkadang Wilona mengoceh tanpa henti bersama para pelayan dan bermain bersama mereka. Seolah Wilona adalah wanita muda yang baru menikmati masa remajanya.
Bagas pun mulai terkesima dengan gaya Wilona terbaru, dia sedikit lebih manis tanpa riasan yang berlebihan dan juga tanpa suara amarah dan kesombongan dalam dirinya lagi. Perubahan yang cukup besar untuk Bagas membuat dia sulit untuk membalas kejahatan Wilona dan menghancurkan Sanjaya, karena selama ini Bagas merasa di manfaatkan olehnya.
Bagas duduk di tepi kingbadnya dan menatap wajah Wilona.
"Seandainya dulu sikapmu jauh lebih baik dari saat ini, mungkin saja aku bisa memperlakukanmu dengan lebih baik," gumam Bagas.
Tak..
Tak..
Tak...
Seorang pelayan mendekati Bagas dan memberitahukan bahwa dia adalah pelayan khusus Wilona yang ditunjuknya sementara.
"Tetaplah disini dan jaga nyonyamu, aku akan tidur di tempat lain," ucap Bagas.
"Baik tuan," timpalnya.
Sebelum Bagas beranjak dari tempatnya, tiba-tiba tangan Wilona meraih tangan Bagas dan mengingau, wajahnya terlihat penuh dengan peluh tapi Bagas tidak memanggil dokter saat itu karena dokter telah menjelaskan bahwa Wilona akan melewati masa kritis.
"Jangan tinggalkan aku, aku takut....."
"Aku mau pulang...."
"Aku tidak ingin di dunia novel ini lagi, ku mohon....," rancau Wilona dengan suara yang pelan.
Bagas mendengar itu hanya menyerngitkan alisnya dan berusaha melepaskan genggaman tangan Wilona tapi itu terasa sulit. Bagas akhirnya memutuskan untuk berada ditempat itu untuk menjaga Wilona sedangkan pelayan tersebut di minta untuk meninggalkan tempat.
"Baik tuan, saya permisi."
Bagas memijat kepalanya yang tidak pusing.
...----------------...
Keesokan harinya, Wilona ternyata lebih cepat pulih dari dugaan dokter. Matanya terbuka dan melihat ada pancaran cahaya matahri pagi menyeruak masuk ke kamarnya, dia tersenyum walau masih merasa pusing. Dia juga melihat ada selang inpus yang tergantung di atas sana membuat Wilona berusaha mengingat kejadian terakhir kali di gudang tersebut, dia melihat sebuah ular dan....
"Ah sudahlah, aku tidak ingin mengingatnya lagi," gumam Wilona.
TIba-tiba dia merasa ada yang berat di perutnya, dia kemudian merabanya dan melihat ada tangan seseorang yang bertengger di bawah sana. Wilona mengalihkan pandangannya dan alhasil dia melihat wajah aristokrat Bagas tengah tertidur di sampingnya dengan pulas.
Wilona yang kaget spontan teriak membuat Bagas terbangun dari tidurnya dan memijat kepalanya kembali.
"Hmm, sepertinya kau sudah sembuh," ucap Bagas dengan tatapan datar kemudian menyenderkan tubuhnya berusaha untuk membuat dirinya sedikit lebih rilex.
"Kenapa kau tidur di sini, cepat keluar."
"Hmm tepatnya kau yang harus keluar karena ini kamarku," jelas Bagas.
"Tidak mungkin, ini kamarku, jangan sembarangn," timpal WIlona dengan keras kepala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Rose Jasmine
ceritanya bagus tor tp terlalu cepat alurnya,,/Smile/
2023-11-28
0