"Bagas sangat menggemaskan bukan?," tanya Ningrum yang sedari tadi tersenyum bahagia melihat bagas kecil dalam layar.
Wilona yang melihat itu dengan lembut memegang tangan Ningrum dan tersenyum kepadanya. Wilona meminta Ningrum untuk ikut dengannya pulang dan merayakan hari ulang tahun Bagas karena dia yakin Bagas sangat menunggu kehadirannya di rumah tersebut.
Ningrum terdiam mendengar ucapan WIlona, dia masih tidak yakin dengan dirinya, dengan harapannya bahwa Bagas bisa memaafkannya. Ningrum pun tidak ingin mengganggu Abraham dengan keluarga barunya terlebih lagi dia sangat paham dengan sikap Monica yang sangat membecinya bahkan berusaha untuk melenyapkannya, karena itu Ningrum tidak ingin menyinggung keluarga Abraham lagi.
"Ibu, percaya padaku. Bagas akan melindungi ibu dan dia sangat berharap ibu bisa hadir di hari ulang tahunnya. Apakah ibu tidak merasa kasian kepada Bagas? Apakah ibu tidak merasa kesepian di negara ini tanpa keluarga? pulang bersamaku dan aku janji akan berada di samping ibu," jelas Wilona.
Ningrum yang mendengar itu terdiam dan menatap Wilona dengan dalam.
Esok hari.
Di malam yang gemerlap, cahaya lampu sorot mewujudkan suasana pesta yang tak terlupakan di kediaman sang konglomerat keluarga Abraham. Tamu-tamu berpakaian rapi memasuki gerbang megah, sambutan dengan senyuman ramah dari para pelayan yang mengenakan pakaian serba elegan dan sebuah orkestra bermain musik klasik di latar belakang, menciptakan suasana yang mewah.
Di taman yang indah, terdapat kolam renang yang diberi hiasan bunga-bunga terapung, dan di tengahnya, terdapat air mancur yang memancarkan cahaya berwarna-warni. Para tamu berkumpul di sekitar meja makan yang dihiasi dengan hiasan bunga segar dan piring-piring berisi hidangan mewah.
Bagas malam itu adalah rajanya. Dia mengenakan jas mahal, berjalan di antara para tamu sambil tersenyum dan berbicara dengan penuh pesona. Para wanita pun berkumpul dan berlomba-lomba ingin mendekatinya tapi sayang, Bagas mengacuhkan mereka semua.
Saat champagne mengalir tanpa henti, dan hidangan lezat tersedia sepanjang malam. Para tamu undangan mulai mencari tahu dimana nyonya Bagas Abraham malam itu, dia tidak terlihat sama sekali menampakkan diri, apakah telah terjadi sesuatu?
Bagas yang telah mendapatkan banyak pertanyan dari relasi kerjanya segera memberi peirntah kepada Anton sekretaris kepercayaannya untuk mencari keberadaan Wilona, terlebih lagi malam itu ayahnya Sanjaya berkunjung dan mencari keberadaan putrinya.
"Cepat cari wanita itu, sialan. Dia mencoba untuk mempermalukan aku. Tidak akan kubiarkan," gumam Bagas dengan sangat geram.
Abraham yang melihat hal tersebut mendekati Bagas dan ikut mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa dia tidak melihat Wilona sama sekali pada acara tersebut. Dia sangat yakin bahwa Bagas telah menindas Wilona. Hal itu Bagas bantah dengan menjelaskan beberapa bukti, dia sedang sibuk beberapa hari itu, bahkan dia sama sekai tidak mengetahui dalam beberapa hari itu Wilona sedang melaukan apa saja.
"Sudahlah sayang, kita bisa mengatakan bahwa Wilona sedang liburan dan datang terlambat, jangan membuat suasana semakin keruh. lihat para tamu undangan mereka hanya butuh relasi bukan kehadiran menantu kita itu," ucap Monica dengan tatapan yang penuh arti.
Jauh didalam lubuk hari Monica tersenyum, bahwa malam itu Wilona tidak bisa menghadiri acara tersebut. Sehari sebelumnya, Wilona mengatakan bahwa dia akan kembali tepat dimalam pesta ulang tahun Bagas, tapi nyatanya pesta malam itu akan berakhir, Wilona sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
Seorang pria paruh baya berjalan mendekati keluarga Abraham, siapa lagi kalau bukan tuan Sanjaya.
"Aku belum melihat putriku malam ini, dimana dia? apakah terjadi sesuatu?," tanyanya dengan suara yang serak.
Bagas ingin menjawab tapi tuan Abraham memberikan kode bahwa dia akan mengulur waktu sampai Wilona di temukan. Tuan Abraham mengalihkan pembicaraan dengan membahas perusahaan kepada tuan Sanjaya yang nyatanya itu tidak berhasil.
"Ada apa ini, aku bertanya tentang keberadaan putriku, kenapa kalian menutupinya," tanya Sanjaya dengan suara yang sedikit meninggi.
"E-e begini tuan Sanjaya, putri anda... Wilona....." ucap Monica yang berpikir untuk mencari kata yang tepat.
Tiba-tiba para tamu riuh dengan kehadiran Wilona berjalan ke arah mereka dengan mengenakan gaun yang memukau serta riasan wajah yang sangat simpel namun terlihat sangat cantik. Auranya tidak terbantahkan jika malam itu dialah pemenangnya. Bagas bahkan tidak berkedip sama sekali saat Wilona berjalan ke arahnya dan berdiri tepat di sampingnya dan meraih lengan Bagas lembut.
Bagas hanya diam mendapatkan perlakuan tersebut, sedangkan Wilona masih dengan senyum manisnya menatap para tamu yang hadir pada malam itu. Sanjaya pun kaget dengan perubahan sikap Wilona yang tidak biasanya. Dia pun melihat putrinya itu sudah dewasa. Wilona selama ini akan bergantung padanya bahkan mengutamakannya daripada siapapun termasuk suaminya tapi malam itu Sanjaya melihat tangan putrinya tengah bergantung manja di lengan suaminya membuat Sanjaya sedikit terharu.
"Sepertinya pernikahan ini berhasil membuat putri ayah melupakan ayahnya sendiri," ucap Sanjaya.
"Ha? Putri? jadi dia adalah Sanjaya ayah Wilona," batin Nuhume.
"Ayah, bagaimana kabar ayah?," tanya Wilona dengan berjalan memeluk Sanjaya.
Bagas yang melihat Wilona memeluk mesra merasa ada amarah yang memuncak di dadanya walaupun dia tahu bahwa di hadapannya ini ada dua orang yang memiliki ikatan darah tapi dia merasa tidak terima.
"Baik sayang, ayah sangat baik. Ayah pikir telah kehilanganmu ternyata tidak, aku sangat bangga kepadamu."
"Tentu, ayah harus bangga."
Bagas dan Monica yang mendengar hal tersebut, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing yang mengumpat Wilona dalam hati karena menurut mereka Wilona sangat pandai mengambil hati ayahnya.
"Apakah kau telah memberikan kado spesial untuk suamimu?," tanya Sanjaya.
Wilona menepuk jidatnya kembali membuat Sanjaya bingung. Hal itu termasuk kebiasaan baru untuk Wilona, karena sebelumnya Wilona tidak pernah melakukannya. Wilona mengatakan bahwa kado spesial malam itu telah dia siapkan untuk Bagas.
"Mobil?," tanya Sanjaya.
"Bukan ayah," timpa Wilona dengan tersenyum.
"Apakah ada kabar baik untuk kami ketahui?," tanya Abraham yang menebak bahwa Wilona akan memberikan mereka cucu.
"Bukan pa."
"Lantas kado apa yang kau siapkan untuk Bagas?," tanya Monica.
Bagas yang mendengar itu ingin meneguk minuman yang berada dalam gelas ditentengnya tapi Wilona tiba-tiba menepuk tangannya hingga semua orang fokus kepada beberapa bodyguard yang berajalan memasuki acara tersebut mengawal seorang wanita paruh baya yang cantik mengenakan gaun dan berjalan begitu sangat anggun.
Bagas tercengang, dia menaruh gelas tersebut kemudian berjalan ke arah wanita paruh baya itu. Ningrum tersenyum dengan mata berkaca-kaca, dia tidak menyangka bisa melihat anak semata wayangnya kini berada di hadapannya tengah berjalan ke arahnya.
Pesta ini adalah perwujudan kemewahan dan kemegahan, di mana kekayaan dan keindahan bersatu dalam harmoni sempurna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments