Esok hari.
Wilona memulai rencanya dengan mendekati Adrian. Dia ingin menggunakan Arian sebagai pion kehancuran keluarga Abraham, walau bagaimanapun dia telah dikenal sebagai si pembuat onar dalam keluarga tersebut.
Setelah sarapan dia mendekati Adrian yang saat itu sedang sibuk mengotak-atik lensa kamera miliknya. Wilona tiba-tiba berdiri di hadapan Adrian dengan senyuman manis.
"Hai, selamat pagi."
"Hmm, tumben. Biasanya kau sangat dingin. Bukannya kau tidak membutuhkan aku lagi?."
"Hmm, a-ku tidak seperti itu," timpal Wilona gugup.
Dia ahirnya meminta Adrian yang memang gemar dalam dunia fotografer untuk memotretnya. Adrian hanya membalas dengan malas. Wilona melihat itu tidak peduli, dia akhirnya berpose dengan sangat angun dan memukau membuat Adrian tidak bisa berkedip.
Semua pose yang Wilona lakukan belum pernah Adrian liat sebelumnya, di dalam dunia majalah manapun. Dia merasa sangat beruntung karena bisa saja hal itu membuat karirnya bisa dibangun kembali dengan menggunakan Wilona sebagai modelnya.
"Padahal pose ini di dunia nyata sangat pasaran, hmm aku memang salah membuat cerita dalam novel ini terasa sangat kaku," batin Wilona yang mendengar pujian Adrian tentang pose yang dilakukannya.
Setelah pemotretan, Wilona kembali berusaha mendekati Adrian dan membujuk Adrian untuk kembali bekerja di perusahaan dan menduduki sebagai jabatan direktur tapi kesempatan itu kembali terhambat karena seorang pelayan memberikan pesan untuk Wilona agar segera menghadap nyonya Abraham yang sedang menunggunya di taman bunga Mawar.
"Ada apa lagi dengan wanita tua itu," batin Wilona.
Di taman bunga Mawar halaman utama, seorang wanita paruh baya sedang menuangkan teh hangat dengan sangat anggun kedalam sebuah cangkir yang berlapis ukiran sakura yang sudah pasti cangkir keramik yang bernilai fantastis.
Wilona memperhatikan gerakan tangan serta wajah wanita paruh baya didepannya itu dengan sangat teliti. Dia baru tersadar bahwa Monica mirip dengan seorang wanita yang memiliki sebuah cafe dekat apartemen tempat tinggal Nuhume di dunia nyata.
Entah apa yang dipikirkannya saat itu, mengapa dia bisa menggambarkan wanita pemilik cafe masuk kedalam novel yang dibuatnya. Wilona tersenyum membuat seketika Monica meliriknya dengan tajam.
"Ya ampun, bahkan tatapan tajamnya sangat mirip saat aku berada di cafe dan tanpa sengaja ribut karena sedang bercanda bersama dengan teman-teman," batin Nuhume.
"Apa kau sedang menyindirku?," tanya Monica.
"Ah tidak, aku hanya........"
"Sudah, aku tidak ingin mendengar penjelasanmu. Cepat katakan apa rencanamu kepada Adrian?," tanya Monica.
Wilona mulai gugup dan sedikit panik. Bahkan Monica kali ini sangat yakin bahwa Wilona aneh. Dia dulunya tidak mudah ditebak bahkan gugup hanya karena hal sepele sedangkan saat ini, hanya sebuah argumen pancingan dia sudah sangat tidak tenang membuat Monica geram. Tapi, bagaimanapun perubahan sikap Wilona saat itu dia hanya tidak ingin membuat seseorang menghancurkan Adrian, anak kandungnya karena dia telah menyiapkan Adrian sebagai penerus tahta kekayaan Abraham dengan berbagai macam rencana matang yang telah disiapkannya.
"Ku peringatkan untuk tidak mendekati Adrian atau kau akan tahu sendiri akibatnya, ingat dia adalah kakak iparmu dan aku tidak ingin kau secara terang-terangan ingin menghancurkan reputasinya," ucap Monica kemudian tersenyum penuh arti kepada Wilona.
"Tidak seperti itu ma, aku hanya......".
"Hanya? ingat, kau saat ini berada dalam keluarga Abraham, karena aku, bantuanku, kau bisa menikah dengan Bagas jadi jangan mengotori nama baik keluarga kami."
Wilona yang mendengarnya hanya mengangguk dan meraih secangkir teh yang berada di hadapannya dan menyerumputnya, setelah itu dia meminta untuk meninggaalkan tempat tersebut karena dia memilih hal lain untuk dilakukan.
Saat Wilona ingin melangkah meninggalkan tempat tersebut, Monica kembali memberikan beberapa kata yang membuat Wilona tercengang. Monica menjelaskan bahwa tidak akan lama lagi Bagas akan merayakan hari ulang tahunnya dan dia ingin mengundang Ibunya, Ningrum untuk hadir.
"Jika kau memang berada dipihakku, maka batalkan kehadiran Ningrum di rumah ini," jelas Monica.
Wilona yang mendengar itu hanya sedikit mengangguk dan melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan Monica. Wilona sangat frustasi dengan keadaan tersebut, dia memijat kepalanya dan berpikir bagaimana caranya mencegah kedatangan nyonya Ningrum di rumah tersebut sedangkan dia tahu bahwa Bagas sudah sangat berusaha membujuk ibunya selama ini untuk pulang tapi tidak pernah berhasil, hanya kali ini Ningrum meng-iyaan tepat di hari perayaan ulang tahunnya.
"Aku harus menemuinya, dan membuat rencana untuk dia tidak hadir di acara perayaan ulang tahun Bagas, dengan begini semuanya akan aman."
Wilona akhirnya menggunakan private jet untuk mengunjungi Ningrum di Negeri Kanguru. Di sepanjang jalan dia merasa tidak menaiki sebuah jet pribadi yang sebenarnya, jarak tempat tersebut terlalu dekat dan juga semua pemandangan yang berada di sepanjang jalan tidak mencerminkan Negeri Kanguru yang sebenarnya, hanya sebagian kecilnya.
"Harusnya aku membuat narasi tempat yang jelas agar aku benar-benar bisa merasakan di Negara Kanguru yang sebenarnya walau dalam dunia novel sekalipun. Nuhume, Nuhume, kau memang apes," gumamnya.
...----------------...
Wilona tiba di sebuah rumah yang sederhana dengan halaman yang berwarna-warni, di tumbuhi beragam sayuran dan bunga-bunga. Persis dalam bayangan Wilona. Walaupun samar dia sangat menyukai tempat tersebut, salah satu fantasi Nuhume yang dituangkan dalam novel adalah memiliki rumah impian yang sederhana dan nyaman. Narasi itu ditulis bersama dengan kehidupan Ningrum, tapi dia lupa watak dan plot cerita untuk Ningrum dalam episode tersebut.
Semuanya bukan tanpa sebab, sepertinya semua hal benar- benar akan bermunculan di kepala Wilona ketika misi tersebut berhasil. Dia dengan otomatis mengingat potongan reka adegan alur cerita tersebut.
"Permisi..."
Tok..
Tok..
"Apa yang kau lakukan di sini?," ucap wanita yang masih cantik di usianya yang melebihi seperdua abad.
"Hmm, saya.. saya...."
"Kau utusan dari Monica lagi? dasar wanita itu."
Wilona hanya tersenyum mendengarnya dan menatap wanita yang berada dihadapannya itu. Wanita yang cukup modis dengan kecantikan alami walau telah berusia. Wilona kemudian melihat apa yang di tentengnya; sayuran dan beberapa batang bunga yang segar.
"Apa yang kau liat, cepat bantu aku. Bawa semua ke dalam," ucap Ningrum.
Wilona yang mendengar hal tesebut dengan kelabangan meraih salah satu keranjang yang berada di tentengan Ningrum dan mengikuti langkah Ningrum memasuki rumah tersebut. Mata Wilona membulat dengan penuh kekaguman melihat isi rumah tersebut, benar-benar rumah itu adalah rumah impiannya.
Ruang tamu dengan ukuran satu setelan sofa berwarna abu dengan dinding putih terang serta hiasan dinding yang tidak mencolok, di tambah sebuah ruangan yang disana terdapat sebuah rak buku terpampang indah, jendela dengan pemandangan gunung yang indah pula.
Ningrum yang melihat tingkah Wilona pun tersenyum. Untuk pertama kainya Monica mengirim menusia normal untuk menghadapinya. Biasanya Monica akan mengirim beberapa orang wanita dengan perawakan bodyguard untuk menahannya tidak menghadiri acara ulang tahun Bagas, walaupun tanpa bodyguard tersebut Ningrum sebenarnya belum cukup keberanian bertemu dengan Bagas anaknya karena merasa bersalah telah menyerahkannya kepada keluarga Abraham tanpa syarat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments