Dalam ruangan, Nuhume berdiri di hadapan cermin yang sangat besar dan mewah, cermin yang berhias kerlap-kerlip permata dengan warna indah. Sesekali Nuhume menepuk pipinya dan bergumam, bahwa dia harus tidur cepat dan terbangun lebih awal agar bisa ke kantor penerbit yang bekerja sama dengan platform novel online agar salah satu bukunya segera diterbitkan.
"Ah, lebih baik aku tidur dengan gaun yang indah dan mahal ini saja, kapan lagi bisa menikmatinya. Mumpung aku masih dalam dunia mimpi," gumam Nuhume kembali.
Dia akhirnya berjalan merebahkan tubuhnya di ranjang king-size dalam ruangan tersebut yang telah dihias sedemikian rumah dengan kelopak bunga mawar. Nuhume perlahan menutup matanya dengan nafas yang beraturan akhirnya dia telah tertidur pulas.
...----------------...
Ke esokan harinya...
Para pelayan memasuki kamar Wilona untuk melakukan tugasnya masing-masing. Sebagian dari mereka membuka tirai yang menjuntai ke lantai agar cahaya mentari pagi menyinari kamar Wilona dengan udara yang segar. Sebagian dari mereka telah siap dalam kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk Wilona gunakan dan sebagian dari mereka menyiapkan gaun yang akan dikenakan Wilona pagi itu.
Nuhume merasa ada yang aneh, tidak biasanya pagi hari ada banyak langkah kaki dalam ruangan tersebut, dia akhirnya mengusap wajahnya dan membuka matanya sedikit demi sedikit. Dia menatap atap yang megah berada dalam jangkuan matanya. Untuk beberapa saat dia berusaha mengumpulkan kesadaran bahwa dia masih berada dalam mimpi tersebut.
Nuhume terbangun dan terduduk diatas pembaringan king-size tersebut, dia menatap yang berada disekelilingnya.
"Dimana ini? kenapa aku masih berada disini? apa aku masih bermimpi?,".
"Selamat pagi nyonya," ucap para pelayan bersamaan.
Dengan wajah bingung, Nuhume bangkit dan berlari ke depan cermin, dia menarik pipinya untuk memastikan bahwa saat itu dia masih bermimpi atau nyata.
"Aduhh, sakit," pekik Nuhume.
Para pelayan yang melihat hal tersebut pun saling menatap satu sama lain, mereka kebingungan melihat apa yang majikanya itu lakukan. Salah satu pelayan yang bernama Dian berusaha mendekati Nuhume untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Ada apa nyonya? apakah semuanya baik-baik saja?."
"Aku dimana?."
"Anda di kediaman tuan Bagas," jawab Dian dengan bingung.
"Bagas Abraham?."
"Iya nyonya Wilona."
"Wilona?? maksud kamu aku Wilona istri kedua Bagas?."
Dian dan semua pelayan yang berada di dalam ruangan tersebut saling menatap bingung dengan sikap Wilona. Harusnya Wilona pagi itu akan menjadi seorang ratu yang hanya duduk santai dan semua pelayan akan bersiap menerima perintah Wilona. Belum lagi beberapa omelan akan terdengar para ruangan tersebut.
Wilona telah lama berada di kediaman tersebut. Setelah pertunangan dia telah menetap pada bungalao dengan mendapatkan pelayanan ekstra layaknya tuan putri. Tidak heran jika para pelayan sudah mengetahui sifat Wilona yang sangat arogan.
"Cepat cubit aku," ucap Nuhume.
Pelayan yang bernama Dian tersebut melirik para pelayan yang berada dalam ruangan yang masih dalam posisi membungkuk.
"Kalian, kenapa masih seperti itu. Tegakkan tubuh kalian," ucap Nuhume.
Semua pelayan dengan sigap berada pada posisi tegak dan siap. Nuhume berpikir dengan tenang, dia tengah mengingat setiap adegan tersebut. Dia menciptakan watak Wilona dengan sikap sempurna pemeran arogan. Membuat para pelayan takut kepadanya.
"Jadi benar, aku adalah Wilona??," tanya Nuhume sekali lagi dengan berjalan ke depan cermin yang sangat besar dan melihat kedalam sana.
Dia memegang wajahnya, itu tidak mirip dengan karakter Wilona yang berada dalam cerita novel yang ditulisnya, ini aneh. Nuhume berjalan ke sofa dan berpikir dengan tenang. Saat ini dia berusaha mengelak bahwa dia hanya bermimpi tapi itu sangat terasa nyata bahkan dia bisa merasakan sakit, jika itu benar bagaimana bisa dia berada dalam novel.
"Apakah aku mendapat karma? apakah aku memiliki misi? ini genre time travel? bukankah aku menulis genre romance?, apa yang harus aku lakukan??," gumamnya.
Para pelayan kembali mengingatkan agar Wilona segera membersihkan diri untuk bersiap sarapan bersama di kediaman utama. Sebelum itu, Nuhume meminta pelayan mengambil ponsel miliknya, dia ingin mengecek sosial media dan novel yang telah diunggahnya dalam sebuah applikasi baca.
"Ini ponsel nyonya," ucap pelayan yang bernama Dian tersebut.
"HA?? ini ponselnya?," ucap Nuhume dengan syok.
Para pelayan kembali saling menatap, mereka takut melakukan kesalahan dan dipecat menjadi pelayan pada kediaman yang memberi gaji yang besar kepada seorang pelayan saja. Nuhume memijat kepalanya, dia mengingat bahwa dalam novelnya dia tidak membuat semua tokoh memiliki sosial media dan ponsel yang canggih seperti yang berada di dunia nyata. Ceritanya terlalu fokus kepada konflik pertengkaran.
"Sepertinya aku akan gila, aku tidak bisa mengingat persisnya, hanya saja semua bab memiliki banyak konflik," gumam Nuhume.
Nuhume kembali tersadar bahwa ada beberapa pelayan yang berada dalam ruangan terebut. Dia akhirnya meminta semua pelayan meninggalkan ruangan dan mengerjakan pekerjaan yang lain. Dia tidak ingin mendapatkan pelayanan, dia bisa melakukannya sendiri. Semuanya berjalan sesuai dengan perintah Nuhume.
Dia merebahkan diri dan menatap langit bangunan yang megah itu.
"Aya, Mei, Nurmi, Cia, Ekky, Muly.. apa kalian mencariku?," gumam Nuhume dengan memikirkan para sahabatnya.
Nuhume akhirnya bersiap, dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia ingin megambil kesempatan tesebut untuk menikmati semua fasilitas yang berada di dunia novel. Dia merasa mimpinya semua tewujud. Dia kemudian berjingkrak riang memasuki ruangan yang dipenuhi dengan gaun yang indah dengan berbagai macam warna.
Sebuah laci yang dipenuhi berlian dan satunya lagi sebuah lemari tempat beberapa heels yang memukau. Dia merasa akan menjadi seorang modelin disetiap harinya.
Nuhume akhirnya memberi beberapa riasan tipis diwajah dengan peralatan yang lengkap ditambah rambut yang ditata wavy hair menambah kecantikan Nuhume yang sederhana tapi terlihat anggun.
Setelah merasa sudah cukup diia akhirnya berjalan meninggalkan ruangan tersebut kemudian berjalan menuju bangunan utama dengan beberapa pelayan yang menemaninya.
"Aku akan menikmati sehari berada didalam dunia novel ini, karena besok akan berakhir. Di dunia nyata, mana mungkin aku tertidur lebih dari sehari," batin Nuhume kemudian mengambangkan senyumnya.
...----------------...
Nuhume memasuki ruangan dimana ada anggota keluarga yang terlihat jelas dihadapan Nuhume; Abraham, Monica, Bagas, Denada, Nindi dan Adrian. Mereka semua menatap ke arah Wilona dengan wajah yang bingung. Untuk pertama kalinya mereka tidak melihat Wilona sepeti biasanya yang selalu tampil glamour penuh dengan kilauan berlian dan make up yang sangat tebal. Kali ini dia terlihat sangat anggun dan mempesona bahkan Bagas pun sperskian detik terpesona dengan WIlona tapi dengan cepat dia mengalihkan tatapannya itu.
"Selamat pagi semuanya...." ucap Wilona.
Semua orang masih terdiam dan bingung, mereka menganggap hari itu Wilona mungkin memiliki rencana yang baru untuk menalukkan Bagas karena yang dia lakukan tidak sesuai dengan aturan di rumah tesebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Rey
Nuhume ayo jadilah antagonis elite, di taklukkan sulit 💪
2024-02-05
0