Untuk sesaat Wilona kagum dengan kecepatan Lucia melakukan sesuatu tanpa di suruh, dia sangat peka dan itulah alasan Wilona mempercayai Lucia selain mirip dengan salah satu sahabatnya di dunia nyata, cia.
"Tunggu, Bibi Denada? mengapa dia ingin menghancurkanku? apakah aku menjadi penghalang dari rencananya? rencana apa?," gumam Wilona.
Dia akhirnya memegang kepalanya dan berharap dia bisa mengingat sedikit adegan Denada dalam cerita tersebut, peran dan tujuannya. Lucia yang melihat itu kebingungan karena nyonyanya terlihat merancau aneh lagi dengan menyebut nama Nuhume dengan mengusap kepalanya.
"Apakah itu mantra?," gumam Lucia
Lucia akhirnya meninggalkan ruangan tersebut dan membiarkan Wilona dengan dunianya sendiri. Wilona terlihat berpikir, apa yang harus dia lakukan untuk melawan Denada, tapi dia tidak mendapatkan solusi apapun.
"Cara terbaik melawan musuh? hmm aku harus membuatnya berada dipihakku kemudian membalasnya," gumam Wilona dengan tersenyum.
Wilona akhirnya meninggalkan bungalaonya menuju ruangan dimana Denada saat itu berada, tidak lain berada di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan alat olahraga. Wilona mengingat saat membuat alur tersebut dia berada di tempat gym bersama sahabatnya dan membuat tempat tersebut di dalam dunia novel.
"Nuhume kau sangat bodoh, harusnya kau juga menulis ada pohon berdaun uang di dunia ini," gumam Wilona.
Denada yang melihat kedatangan Wilona menghentikan aktifitasnya yang sedang berjalan santai di atas treadmill. Untuk pertama kalinya dia melihat Wilona menginjakan kakinya di ruangan tersebut, dia paham bahwa Wilona pasti ingin menemuinya.
Wilona tersenyum dengan basa-basi untuk mencari tahu kelemahan Denada. Dia berharap bisa menemukan kelemahan itu dan membuat Denada berada dipihaknya dan berhenti membuatnya merencakan sesuatu untuk mencelakainya.
"Untuk apa kau menemuiku? aku sibuk," ucap Denada ketus.
"Ah bibi, apakah salah kalau aku menemui bibi yang cantik ini," timpal Wilona dengan gamblang.
Tuba-tiba wajah Denada bersemu merah saat Wilona memujinya cantik. Dia seakan mendapatkan hadiah yang luar baisa, Wilona sudah tahu dimana letak kelemahan Denada yang bisa dijadikannya alat untuk membuat Denada berada di pihaknya.
"Bibi, aku datang untuk meminta saran perawatan, aku lihat kulit bibi masih sangat halus dan kencang di usia saat ini, aku sangat iri," ucap Wilona dengan nada memelas.
Denada yang mendapatkan pujian lagi kembali tersenyum dan mendekati Wilona. Dia dengan senang hati bercerita kepada Wilona berbagai macam ramuan dan resep herbal yang telah digunakannya. Walau terkesan membosankan, Wilona berusaha bertahan agar dia tidak menguap di hadapan Denada.
"Begitu ceritanya," ucap Denada.
"Ahh bibi, bagaimana kalau bibi menggunakan caraku, itu lebih muda, kita menggunakan uap wajah untuk mencerahkan wajah, aku pernah mendengar itu dari salah satu teman yang berada di luar negeri tapi aku belum mencobanya, jika kita bersama mungkin ada bagusnya,".
Denada terlihat mempertimbangkan ucapan Wilona, masalah wajah bukan hal yang mudah, dia telah melalui banyak hal agar bisa terlihat cantik dan memiliki kulit yang masih terlihat mulus. Tapi, rasanya ucapan Wilona bisa dia percayai. Akhirnya mereka berdua meminta beberapa pelayan menyiapkan segalanya dan mulai melakukan ritual kecantikan.
Denada juga penasaran dengan bibir Wilona yang merona dengan sangat alami. Wilona menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa dia meracik sebuah bahan yang bisa membuatnya berwarna alami. Denada yang mendapatkan respon baik membuat Wilona berjanji untuk berbagi resep kecantikannya juga.
Ruangan tersebut akhirnya penuh dengan canda tawa sepanjang hari. Canda tawa Denada dan Wilona yang tengah asyik melakukan perawatan diri. Malam menjelang, Wilona kembali ke kamarnya dengan rasa lelah yang tak bisa dijelaskan. Bahkan dia tidak mampu mengganti bajunya sebelum terlelap.
"Lucia aku sangat lelah, berpura-pura itu melelahkan padahal kami hanya tertawa sepanjang hari, tidak melakukan hal yang berat," jelas Wilona sebelum menutup matanya.
...----------------...
Esok hari misi Wilona masih berlanjut, dia berjalan ke kamar Denada untuk memberinya racikan untuk melembapkan bibir di tambah racikan air mawar untuk membantu mengencangkan kulit lebih cepat membuat Denada begitu bersemangat.
"Kau memang sangat paham apa yang aku sukai," jelas DEnada.
Tak..
Tak..
Tak...
"Nyonya, gaun yang anda pesan telah siap," ucap pelayan tersebut dengan menampilkan gaunnya di hadapan Denada.
"Apakah kau buta? gaun itu terlalu besar, sedangkan aku tidak sebesar itu, aku tidak gemuk," ketuk Denada.
Para pelayan hanya menundukan kepala mendengar ocehan Denada yang tidak menerima gaun tersebut tidak sesuai yang diinginkannya. Mungkin saja para pelayan tengah memberikan umpatan dalam hatinya karena dia hanya bertugas mengantarkan bukan menjahitnya.
Wilona tersenyum mendengar ucapan Denada, akhirnya dia menawarkan untuk senam Zumba kepada Denada.
"Zumba? apa itu?," tanya Denada dengan wajah yang bingung.
"Gerakan yang bisa membuat lemak bibi berkurang dengan cepat, kalau hanya berolahraga gym itu tidak akan menjamin bisa menurunkan berat badan bibi," timpal Wilona.
Denada kembali sangat bersemangat dan meminta Wilona memberikan contoh. Wilona sepakat dan meminta semua para pelayan untuk ikut. Wilona memerintahkan semua pelayan agar berganti kostum dan berkumpul di halaman. Denada awalnya keberatan karena para pelayan juga ikut mendapatkan senam Zumba tapi Wilona menjelaskan bahwa Zumba akan lebih terasa menyenankan jika anggotanya banyak.
"Lagi pula, para pelayan membutuhkan olahraga bibi agar mereka semua berbadan sehat dan bisa melayani kebutuhan bibi," jelas Wilona.
Para pelayan yang mendengar hal itu ikut senang dan merasa tersentuh. Ucapan Wilona membuat mereka merasa dihargai dan merasa diperhatikan. Tidak hanya dianggap sebagai pesuruh. Jika saat itu Wilona mendaftarkan diri sebagai Caleg (calon legislatif) mungkin saja dia akan menjadi pemenang tunggal.
Semuanya telah bersiap, semuanya berbaris di halaman membuat pusat perhatian oleh beberapa bodyguard dan para pelayan yang bertugas di tempat lain. Hal yang mengesalkan bagi Wilona adalah mengapa lagu yang berada saat itu hanya ada lagu melow, tidak ada satu pun lagu yang bisa disesuaikan dengan konsep Zumba membuat Wilona menggerutu didalam hati.
"Kenapa semua musik yang ku cantumkan adalah lagu melow, ya ampun semua ini salahku," batin Wilona.
Wilona terdiam beerapa detik sebelum memulai, dia memberikan gerakan dasar kepada semuanya, setelah itu gerakan yang bisa membuat lemak rontok walau dengan musik melow semuanya terlihat bersemangat di sertai dengan beberapa teriakan ciri khas Zumba. Mungkin saja jika itu dilakukan di dunia nyata akan menggelitik perut siapapun yang melihatnya.
"Ah, sudahlah. Lakukan saja, senyamannya," gumam Wilona yang merancau tidak jelas.
"Teriakk, Huuuu, yeahhhhhh," ucap Wilona dengan suara keras kemudian di ikuti oleh semua orang.
"Huuuu Haaaa Yeaahhhhh...."
Prok... Prokk.. Prok..
"Tepuk tangannya tiga kali yaaa," teriak Wilona.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments