"Kau tidak usah repot-repot, aku tidak akan datang sama dengan tahun-tahun sebelumnya."
Mendengar hal itu Wilona hanya tersenyum tipis karena merasa tidak enak. Ningrum yang melihat Wilona sedari tadi cukup diam, dia ahirnya penasaran tentang wanita sederhana yang berada dihadapannya tersebut. Dia akhirnya menghentikan aktifitasnya yang merapikan beberapa sayuran di lemari pendingin dan mendekati Wilona.
"Ada hubungan apa kau dengan keluarga Abraham? terutama dengan Monica?," tanya Ningrum dengan tatapan yang penuh dengan penyelidikan.
"Hmm, maaf nyonya jika saya mengganggu waktu anda. Saya adalah istri Bagas, perkenalkan saya Wilona," timpal Wilona dengan mengulurkan tangannya.
"Istri? Wilona?," tanya Ningrum dengan sedikit terkejut.
"Hmm wanita ini, bukannya dia wanita si pembuat masalah dalam hidup Bagas?," batin Ningrum.
Dia akhirnya menepis tangan Wilona dengan wajah yang sangat suram. Wilona yang mendapatkan perlakuan tersebut merasa tidak enak hati dan akhirnya dia pamit untuk meninggalkan tempat tersebut. Ningrum yang mendengar hal tersebut kemudian spontan menghentikan Wilona. Sebuah senyuman licik terlihat di wajah Ningrum.
"Enak saja pergi tanpa mendapatkan balasan karena telah menyusahkan anakku," batin Ningrum.
"Tunggu, kau mau kemana?," tanya Ningrum.
"Saya mau ke Hotel dan esok hari kembali."
"Apa begini caramu menyapa ibu mertuamu? apakah kau tidak di ajar tradisi bahwa kau harus menginap sebanyak tiga hari setelah menjadi seorang menantu di rumah mertua? setelah itu kau bebas kemana pun," jelas Ningrum.
Wilona terhenyak. Tapi suaranya terasa tercekat di tenggorkan. Dia ingin membalas ucapan Ningrum tapi tasnya telah di raih dan di tempatkan di salah satu kamar. Kemudian Ningrum meminta Wilona untuk istrahat sejenak sebelum menjalankan tradisi keluarga yang di sebutnya tadi.
Wilona merasa ada yang aneh, dia merasa alur cerita tersebut tidak pernah di tulisnya. Wilona memegang kepalanya dan berusaha mengingat, apakah ceritanya sudah sesuai atau tidak.
"Ayolah Nuhume, cepat pikirkan sesuatu. Apakah cerita dalam dunia novel ini bisa berubah dengan sendirinya. Eh tunggu, tradisi pernikahan apa yang dia maksud?," gumam Wilona.
...----------------...
Esok hari, Wilona terbangun dengan melihat matahari pagi yang sangat indah. Wilona akhirnya meninggalkan kamar dan berjalan menuju taman bunga yang berada tepat di sebelah kamarnya. Tanpa Wilona sadari, Ningrum memperhatikan hal tersebut. Tidak biasanya dia melihat wanita yang dikenal manja bisa menampakan dirinya disaat matahari pagi baru menampakan sinarnya.
Rumor tentang sifat dan sikap Wilona telah Ningrum dapatkan sejak lama oleh mata-mata yang berada di rumah tersebut. Dengan wajah yang suram, Ningrum mendekati Wilona yang terlihat mencium aroma bunga yang segar di pagi hari.
"Apakah seorang menantu yang di lakukan saat bangun di pagi hari adalah mencium aroma bunga? bukankah ada kewajiban lain selain itu? aroma dapur misalnya?," jelas Ningrum dengan sinis.
Wilona hanya mengangguk dan merasa sudah paham apa yang di maksud Ningrum. Entah mengapa dia terlihat begitu bodoh di hadapan Ningrum. Dia merasa berhadapan dengan karakter Ibu kandungnya yang tidak memiliki lawan sama sekali di dunia nyata. Orang yang bisa membuat Nuhume tidak bisa berbuat apa-apa di dunia nyata.
Wilona akhirnya menuju dapur dan melihat beberapa bahan makanan yang bisa di olahnya menjadi sarapan, tapi sebelum itu dia bingung apakah akan membuat sarapan seperti biasanya atau dia akan membuat sarapan western food? Akhirnya dia memberanikan diri menemui Ningrum yang sedang santai di teras rumah membaca majalah dengan menyerumput tehnya.
"Mama suka sarapan apa?," tanya Wilona.
"Panggil aku ibu, bukan mama. Hmm, terserah kau saja," timpal Ningrum dengan ketus.
Wilona yang mendengar itu hanya mengagguk paham dan meninggalkan Ningrum, sedangkan Ningrum hanya berdecih karena menurut laporannya Wilona adalah tipekal wanita yang selalu mendapat pelayanan, dia tidak akan bisa membuat apapun tanpa bantuan pelayan. Bahkan untuk urusan dapur itu sangat mustahil.
"Tunggu beberapa menit, aku akan memiliki alasan untuk menyikasanya dan menyalahkannya. Berani sekali dia mengacaukan pernikahan Bagas dan Nindi, di tambah dia adalah biang kekacuan untuk Bagas," gumam Ningrum.
Beberapa menit kemudian...
Harum semerbak yang menggugah selera bertebaran di udara. Bau yang menggugah selera di pagi hari untuk menyantap sarapan dengan suhu udara yang mendukung. Ningrum tidak percaya bahwa aroma tersebut berasal dari dapur miliknya, sedangkan Wilona yang berada di dapur dengan senang hati, bersiul untuk menyiapkan sarapn pagi seperti biasanya, 'nasi goreng spesial'.
Ningrum melangkah dengan sangat pelan dan melihat apa yang di lakukan Wilona di dapurnya. Matanya terbelalak, dia merasa laporan yang diterima dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sangat berbeda. Wilona terlihat sangat menikmati perintah tersebut. Tidak ada keluhan dari bibirnya dan juga dia sangat terlihat mahir menggunakan semua peralatan dapur.
"Apakah mata-mata yang aku tempatkan di rumah terebut berbohong? apakah dia menghianatiku? ah, aku tidak bisa menyimpulkan berlebihan, masih banyak tes yang akan dia lalui untuk mendapatkan restuku," batin Ningrum.
Sarapan telah siap, Wilona berajalan untuk menemui Ningrum dan memintanya untuk mencoba sarapan buatannya. Mata Ningrum terbelalak melihat menu sarapan yang sangat disukainya berada di meja makan telah tertata dengan rapi beserta jus buatan Wilona. Nasi goreng dan telur yang dihias oleh beberapa irisan wortel. Sperskian detik Ningrum terlihat takjub dan merasa sangat rindu dengan masakan negara rempah tersebut.
Ningrum makan dengan lahap tanpa memikirkan rencana semula untuk membuat Wilona jera. Sarapan di santap habis membuat Wilona tersenyum manis. Ningrum yang akhirnya sadar meminta Wilona kembali melakukan pekerjaan yang lain bahwa hari itu tugas Wilona sebagai menantu harus membersihkan kebun sayuran yang berada tepat di halaman belakang rumah Ningrum.
"Nuhume kau beruntung di dunia nyata aku sudah terbiasa berkebun di rumah nenek, kalau tidak? kau akan mencoreng nama baik keluarga di dunia nyata dan di dunia novel" batin Wilona.
Hari itu penuh dengan peluh. Wilona merasa menjadi seorang militer yang bekerja keras untuk membantu Ningrum. Di sisi lain, Wilona sangat paham tradisi yang dimaksud Ningrum adalah memberinya banyak pekerjaan untuk mengetes kemampuan Wilona sejauh apa dia mampu menjadi seorang istri yang baik untuk anaknya, bukankah semua mertua seperti itu di dunia nyata?
Hari-hari berlalu, semakin hari Ningrum kagum dan menyukai kepribadian Wilona. Dia merasa semua laporan yang diberikan oleh mata-matanya adalah palsu. Dia tidak akan mempercayainya lagi. Ningrum perlahan menerima Wilona dan sesekali mengajak Wilona bercanda dan bercerita masa kecil Bagas yang menggemaskan lewat beberapa tontonan video yang dikirim kepadanya.
Ningrim masih menyimpan semua kenangan masa kecil Bagas dalam bentuk CD tersimpan rapi dalam sebuah kotak layaknya benda pusaka yang telah dijaga secara turun-temurun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments