Bagas kembali terkesima dengan apa yang Wilona lakukan, dia terlihat begitu menggemaskan. Bahkan Bagas membeci pikirannya saat ini yang memimpikan adegan nakal sedang bersama Wilona saat dia sedang berada di dapur menyiapkan makanan untuknya. Nindi yang melirik Bagas hanya bisa menahan rasa sesak di dadanya.
"Walau bagaimanapun, kau akan tetap menjadi milikku Gas," batin Nindi.
"Baiklah semuanya, perhatikan adonan ini, kalian akan pasti suka," ucap Wilona dengan gaya ala Chef.
Wilona mulai dengan memecahkan telur dengan sangat anggun dan memasukkannya dalam satu wadah untuk bercampur menjadi sebuah adonan. Setelah itu dia terlihat menumbahkan beberapa takaran ke sebuah teplon yang sudah dipanaskan, dia menaburi sesuatu hingga terlihat cantik dan tidak berselang lama, dessertnya telah matang.
Semuanya mendapatkan setiap potongan dessert tersebut. Wilona kembali duduk di tempatnya dan meminta semua orang memberi penilaian kepada dessert yang dibuatnya. Bagas hanya melihat dessert dihadapannya itu dengan tatapan aneh, Monica dan Denada pun begitu, dia tidak yakin untuk rasanya karena mereka sangat tahu Wilona tidak mahir dalam hal itu.
"Sepertinya makanan ini membunuh manusia," batin Monica dan Denada.
Abraham dan Anderson melahapnya dan berusaha mengecap rasa dari dessert buatan menantunya itu. Anderson kemudian melahapnya habis dan berdiri dari tempatnya kemudian memberikan tepukan luar biasa kepada Wilona.
"Ini sangat enak, kau beri nama apa dessert ini?," tanya Anderson.
"Namanya martabak manis."
"Hahah martabak manis? selamat tuan Abraham, kau bisa membuka bisnis untuk ini, rasanya sangat lezat dan lembut di mulut."
Abraham pun mengiyakan dan memuji kehebatan Wilona di hadapan semua orang. Mendengar hal itu, semua mulai menicipi apa yang di hadapannya dan benar saja, ekspresi mereka berubah. Ternyata memang benar dessert tersebut sangat lezat. Bagas bahkan samar menampilkan senyumnya di hadapan semua orang karena merasa bahagia Wilona berhasil melakukannya.
"Anda sangat beruntung tuan Bagas mendapatkan istri yang bisa memasak," jelas tuan Anderson.
"Tentu," balas Bagas dengan cepat.
Acara makan malam usai, semua kembali ke tempatnya kembali untuk beristirahat atau melakukan aktifitasnya.
"Aku akan membuatnya lagi untuk kudapan malam untuk semuanya," jelas Wilona dengan ceria.
Semua yang mendengar itu mengangguk kemudian meninggalkan tempat tersebut. Hanya Wilona dan para pelayn yang melanjutkan membuat beberapa lagi sesuai janji sebagai kudapan malam untuk semua anggota keluarga.
Semua pekerjaan selesai, WIlona kembali ke kamar dengan sangat riang. Dia bahagia bisa menunjukan bakatnya di depan semua orang walaupun itu hanya hal kecil.
"Di dunia ini, martabak manis bisa menjamu menteri? membuat bisnis mendunia karena martabak manis hahaha keren juga," gumam Wilona.
30 menit kemudian..
Wilona akan bersiap untuk tidur, malam itu tanpa sengaja dia mengenakan gaun tidur yang sedikit lebih tipis dari sebelumnya. Wilona merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit, mata Wilona sudah sangat berat tapi tiba-tiba suara pintu kamarnya terbuka dengan sangat keras, seakan orang yang membuka pintu tersebut menyimpan amarah yang besar.
Wilona tersontak kaget dan bangun dari pembaringannya. Bagas yang melangkah dengan cepat dengan raut wajah yang memerah membuat Wilona terperanjat.
Bagas terhenti tepat di hadapan Wilona dengan terdiam, seakan amarahnya beralih ke hal yang lain. Mulutnya yang sepanjang jalan menuju kamar Wilona mengeluarkan banyak umpatan, kini seakan suaranya tercekat di tenggorokan melihat penampilan Wilona malam itu.
Kulit putih dan mulus terpampang nyata dan juga singlet yang sangat tipis, rambut Wilona terurai menambah suasana semakin panas, belahan dada itu seakan menantang untuk segera di jamah tapi Bagas berusaha menahan diri.
"Ada apa kau datang ke sini dengan sangat tidak sopan?," tanya Wilona kesal.
"Hm, sebelum aku menjawab, ganti bajumu terlebih dahulu," timpal Bagas.
Wilona yang baru menyadari itu, melirik dirnya sendiri dan spontan,
"Aaaaaaaaaaaaaaa, lelaki bajingan, jangan melihat ke arahku, cepat berbalik," teriak WIlona yang segera berlari ke ruangan ganti.
Bagas tersenyum jahil, seakan telah mendapatkan ide untuk mengganggu Wilona. Bagas berkacak pinggang dan melihat sesekali kingbad yang Wilona tempati, pikiran liarnya kini telah merasuki Bagas, sesekali dia menarik dasi yang bertengger di lehernya hingga dia lepas. Bagas merasa panas yang tidak bisa dijelaskan.
Wilona kembali dengan mengenakan sebuah jaket tebal dengan celana jeans. Membuat alis Bagas saling bertaut.
"Apa kau tidak kepanasan menggunakan itu?."
"Hm, diam. Kau ingin mengambil keuntungan dariku kan?."
Bagas mendengar itu, mendekati Wilona dengan jarak yang sangat dekat, bahkan Wilona bisa merasakan nafas Bagas di wajahnya. Wilona merasa tegang dan kaku, dia tidak bisa berkutik.
"Aku suamimu, aku bahkan bisa meminta lebih dari yang kau anggap mengambil keuntungan."
Bagas yang melihat wajah Wilona yang merona dan juga menggemaskan membuatnya terkesima dan serasa ingin melahapnya saat itu juga.
"Bagas, sadarlah, dia wanita murahan dan ingat tujuan kedatanganmu. Ah sial, baju tidur sialan itu membuyarkan segalanya," batin Bagas dengan mengoceh.
"Kau sekarang ikut aku bertemu papa, kau telah membuat tuan Anderson dan mama sakit, karena dessert buatanmu itu, semua orang hampir keracunan," jelas Bagas dengan menarik tangan Wilona menuju bungalao utama.
Sepanjang jalan Wilona merancau dan menjelaskan kepada Bagas bahwa dia tidak menaruh apapun dalam makanannya, dia bisa mengintrogasi para pelayan dan menyelidikinya. Wilona bahkan bersumpah yang Bagas tidak mengerti apa maksud dari sumpah tersebut.
Kediaman utama milik Abraham.
Dia terbaring lemas dan didampingi oleh seorang dokter pribadinya. Wilona yang tiba dengan Bagas hanya bisa terdiam melihat kondisinya saat itu.
"Pa, saya tidak melakukan apapun," ucap Wilona.
Abraham hanya bisa melambaikan tangan sebagai isyarat bahwa mereka semua keluar dari ruangan tersebut tapi sebelum itu Abraham meminta Wilona ke ruangan Anderson berada, dia harus meminta maaf kepadanya terlebih dahulu karena sebagai tamu dia telah mendapatkan pelayanan yang tidak menyenangkan hingga membuatnya mendapat penyakit.
"Papa, saya menajamin Wilona tidak melakukannya dan saya akan menyelidiki hal ini," jelas Bagas kemudian meminta Wilona meninggalkan ruangan.
Mereka berdua akhrnya menuju ruangan tuan Anderson yang ternyata ditangani oleh seorang dokter dalam kondisi yang sama dengan tuan Abraham.
...----------------...
Esok hari.
"Siapa yang ingin mencari masalah denganku selain mama? Nyonya mayang? atau ada musuh yang baru aku lupakan dalam cerita ini, hhmmm kapok nulis ratusan bab," gumam Wilona di kamarnya.
Lucia yang memasuki kamar tersebut meletakkan beberapa kudapan dan juga teh hangat sesuai permintaan Wilona. Dia memberi Lucia tugas untuk mencari tahu melalui para pelayan kepercayaannya tentang seseorang yang berani menjebaknya. Lucia dengan spontan menjawab keraguan Wilona tersebut.
"Nyonya Denada, dia yang melakukannya, sebelum anda meminta saya menyelidikinya saya telah mendapatkan infromasi itu dari para pelayan tadi malam," jelas Lucia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments