Bagas meletakkan pulpen yang berada di tangannya dengan melempar secara sembarangan di atas meja dan dia menyenderkan tubuhnya pada kursi kebesarannya itu.
Dia ingin melihat, apa lagi wanita yang berada di hadapannya ini lakukan. Biasanya wilona hanya mendekati Bagas saat berada di taman saat sedang bersantai atau sedang bergym di ruangan olahraga atau di tempat lainnya. Saat ini untuk pertama kalinya Wilona menginjakan kaki di ruang kerjanya itu.
"Sudahlah, aku datang bukan untuk menemuimu tapi aku datang untuk meminjam ini," ucap Wilona dengan menujuk laptop yang berada di hadapan Bagas.
Bagas berdecih, dia tidak menyangka jika Wilona menggunakan trik yang sangat murahan untuk mendekatinya. Bagas mengatakan jika Wilona juga memilikinya dan itu pasti berada di kamarnya. Wilona kekeh, dia berjalan mengintari meja dan menarik laptop yang berada di hadapan Bagas. Mereka berdua saling beradu mulut dan tarik menarik untuk sebuah laptop.
"Lepaskan....,".
"Tidak akan,..." timpal Wilona.
"Wilona!," ucap Bagas dengan suara tecekat karena Wilona dengan spontan menarik laptop tersebut dan dia berhasil mendapatkannya.
Bagas yang melihat itu juga ikut berlari dengan meraih pergelangan tangan Wilona dan mencengkramnya dengan sangat kuat.
"Akhhhh~ sakit. Kau menyakitiku."
Praaangggggg (Suara beberapa benda jatuh)
Para penjaga yang berada di luar pintu tegang, pikiran mereka sudah dikotori dengan berbagai bayangan adegan hubungan intim, begitupun dengan Nindi yang sedang berada di depan pintu, mematung dengan membawa sebuah nampang yang berisi cemilan ringan untuk Bagas.
Nindi mengepalkan tangannya dan meninggalkan ruangan tersebut dengan tangis yang tertahan. Selama kehadiran Wilona semuanya berubah, Bagas berubah drastis. Sebelum Wilona menginjakkan kakinya di rumah tersebut dan menjadi tunangannya, Bagas masih memperhatikan Nindi selaku istri dan meluangkan waktu kerjanya untuk menemani NIndi, berobat dan bersantai walau hanya sekitar wilayah bungalao atau taman bunga pada wilayah tersebut.
Kini semuanya berubah, Bagas bukannya tidak memiliki alasan yang jelas. Saat Wilona menginjakkan kakinya di rumah tersebut, dia memiliki rencana tersendiri. Di tambah Wilona baru mengetahui statusnya sebagai istri kedua membuat Bagas harus lebih waspada untuk keselamatan Nindi sendiri karena Wilona adalah wanita yang bisa melakukan berbagai cara untuk menindas Nindi, karena itu Bagas menghindar.
Selain Wilona, sebenarnya Bagas juga tidak ingin Nindi mendapatkan masalah karena Monica. Dia sangat tahu bahwa Monica juga selama ini berusaha mengusir Nindi dari rumah tersebut. Bagas tidak ingin hal itu terjadi karena di dunia ini, Nindi hanya memiliki Bagas sepenuhnya. lagi-lagi semua itu bisa terjadi karena kebaikan Kakek Sutomo yang merestui pernikahan mereka.
Nindi adalah salah satu wanita yang bekerja sebagai pengasuh di panti asuhan, sedangkan saat itu Kakek Sutomo dan Bagas selalu memberi donasi ke panti tersebut dan akhirnya Nindi dan Bagas menjadi dekat.
Awalnya kakek Sutomo tidak setuju tapi Bagas dan Nindi bersi keras untuk bersama walau menghadapi berbagai macam rintangan itu tidaklah masalah. Semuanya telah terjadi, Nindi harus siap dengan segala konsekuensinya.
"Siapa pun yang berada di luar, cepat masuk," teriak Bagas.
Dua orang bodyguard berlarian memasuki ruangan tersebut dengan sigap. Mereka melihat ruangannya sudah berantakan dengan banyaknya buku dan kertas yang berserakan di lantai menambah pikiran yang tadinya hanya sebatas bayangan kini seolah semuanya menjadi nyata. Wilona menarik gaunnya sedikit kebawah dan menata rambutnya. Kemudian dia dengan wajah yang acuh kepada Bagas.
"Bawa nyonya kalian keluar dan pastikan dia tidak memasuki ruangan ini lagi, mengerti?!," perintah Bagas.
Wilona yang kesal akhirnya meninggalkan ruangan. Dia berjalan dengan geramnya menuju bungalaonya. Di sepanjang jalan dia mengerutuki Bagas dengan kesalnya, tiba-tiba jalannya dihalau oleh Adrian. Dia melihat wajah kesal Wilona sudah paham bahwa saat itu dia pasti butuh hiburan. Adrian mendekati wilona dan ingin memeluknya tapi wilona menahan tubuh Adrian.
"Sayang, kau menolakku?."
"Hmm diamlah, jangan menggangguku," ucap Wilona yang berjalan melintasi Adrian.
"Dan ingat, jangan memanggilku sayang," timpal Wilona kembali yang membuat Adrian terdiam.
"Ada apa dengannya?," batin Adrian.
Sebelum meninggalkan tempat tersebut, Wilona memberikan tatapan yang tajam kepada Adrian untuk menegaskan kalimatnya bahwa dia serius dengan apa yang diucapkannya. Adrian yang mematung melihat kepergian Wilona merasa bingung, Wilona tidak hanya berubah dari tingkah laku tapi juga cara dia menatap kepada Adrian, tidak ada perasaan atau obsesi disana, semuanya terasa hambar.
Wilona merebahkan diri dalam kamarnya dan berusaha mengingat, saat itu dia berada pada episode berapa. Alurnya terasa zig-zag saat dia memasuki dunia novel dan satu lagi, apa misi yang sebenarnya dia dihadirkan ke dalam novel tersebut?
Untuk melepaskan jenuh, dia ingin berjalan-jalan di pusat perbelanjaan dan mencoba menggunakan black card yang berada di nakasnya. Itu termasuk salah satu impian Nuhume untuk menghabiskan uang tanpa harus berpikir berapa banyak yang telah digunakannya.
Dia berjaan menuju garasi mobil yang berada tidak jauh dari bungalaonya. Mata Nuhume membulat sempurna saat pintu garasi mobil terbuka otomatis dan memperlihatkan apa yang berada didalam sana. Semua mobil mewah dengan pengeluaran terbaru berjejer rapi. Mulai dari limited hingga yang paling sederhana.
"OMG....... ini surga, bukan dunia novel," gumam Nuhume dengan menutup kembai mulutnya karena syok.
Nuhume memilih menggunakan Lamborghini Veneno Roadster berwarna merah saat itu, dia memasuki mobil tanpa menggunakan kunci. Anehnya dengan sangat percaya diri dia bisa menggunakannya ternyata tidak. tapi seingatnya dia bisa menyetir dalam duia novel dengan sangat mudah.
Saat dia tengah sibuk berpikir bagaimana cara menggunakannya, mobil tersebut dengan otomatis menyala dan bergerak sendiri.
Nuhume kaget tapi dia juga senang. Karena dia tidak harus merepotkan siapapun di dunia tersebut. Sepanjang perjalanan, Nuhume sangat menikmatinya. Suasana damai dan tenang tanpa kemacetan dan ditambah udara yang segar dan sejuk. Dunia ciptaaan Nuhume mungkin saja harapannya di dunia yang sebenarnya.
...----------------...
Di pusat perbelanjaan..
Nuhume berjalan dengan sangat berkelas, bahkan dia menjadi perhatian semua orang karena tidak bisa dipungkiri dia sangat cantik ditambah kaki jenjangnya yang putih dan mulus.
Dia mungkin menggambarkan karakter Wilona dengan sempurna sebagai pemeran antagonis tapi dia lupa saat menggambarkan tubuhnya, Nuhume menggambarkan dirinya sendiri dalam peran tersebut. Mungkin saja salah satu alasan molekul waktu bisa menariknya kedalam dunia novel.
"Ya ampun, tas itu sangat cantik..."
"Ya ampun, baju itu sangat cantik....,"
Semua yang di inginkannya kini berada ditentengan tangannya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dan membuat Nuhume tidak sadarkan diri.
"Hm..... aduh leherku sakit sekali," gumam Nuhume.
"Ha? dimana ini?," ucap Nuhume yang mulai panik.
Dia melihat disekelilingnya hanya ada sebuah pintu dengan warna yang berbeda dari yang lainnya, Nuhume mulai panik dan meminta tolong, tapi tidak sama sekali sahutan yang mendengar teriakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments