Tiba-tiba suara pria yang memiliki suara berat tidak berada jauh dari tempat tersebut memerintahkan Adrian untuk melepaskan Wilona. Dia menegaskan bahwa wanita yang berusaha untuk dilecehkannya adalah adik iparnya sendiri. Dengan tatapan tajam dan mata yang memerah, Bagas bisa dipastikan bahwa dia sedang marah besar. Dia sangat tidak menerima apa yang di lihatnya saat itu.
Bagas membenci penghianatan, tidak menghargai dan perlakuan yang seenaknya. Dia sudah di didik dengan baik oleh kakek Sutomo, bukan tentang dia peduli dengan Wilona atau tidak. Bagas membiarkan segalanya asalkan itu tidak terjadi di depan matanya. Bagas kemudian meraih pergelangan tangan Wilona dan menariknya sangat keras hingga Wilona sedikit meringis karena tangannya tergores dengan gelang yang bertengger disana.
"Lepaskan, dia adalah adik iparmu, camkan itu!,".
"Aku pikir, kau tidak menganggapnya sebagai istri sama sekali karena kau sangat mencintai istri penyakitanmu itu," ucap Adrian kemudian tersenyum penuh ejekan.
"Bukan urusanmu. Setidaknya semua orang tahu bahwa mereka milikku, kau sendiri? selain merebut milik orang lain bisa apa?," timpal Bagas dengan menarik pergelangan Wilona dengan keras dan meninggalkan tempat tersebut.
Bagas memasuki kamar Wilona dengan menghempaskan tubuh Wilona ke lantai. Bagas memberi banyak umpatan dan makian kepada Wilona saat itu yang masih terdiam. Tiba-tiba Wilona terisak membuat Bagas diam dan memperhatikan Wilona dengan sangat dalam. Ada sesuatu yang Bagas sulit jelaskan, tangannya sangat ingin membantu Wilona untuk pindah ke sebuah sofa yang berada tidak jauh dari tempatnya, ingin mendengarkan alasannya. Mengapa dia menangis?
"Apakah dia benar Wilona putri Sanjaya? atau dia memiliki penyakit ganda? kenapa aku merasa dia berbeda, di tambah lagi tingkah laku dan penampilannya semua berubah dalam sehari 180 derajat," batin Bagas.
"Kenapa kau diam? apa makianmu sudah habis?," ucap Wilona yang berusaha berdiri tegak.
Bagas dengan kesal melepaskan sepatu dan jas yang di kenakannya membuat mata Wilona melotot.
"Apa yang kau lakukan?," tanya Wilona gugup.
Bagas hanya tersenyum sinis dan sedikit berdecih, dia menatap rendah ke arah Wilona. Dia kemudian berjalan melintasi Wilona dan membaringkan diri di kingbadnya. Bagas menjelaskan bahwa malam itu dia akan tidur di kamar tersebut.
"Jangan besar kepala dulu, aku tidur di atas kasur kau terserah mau tidur dimana, jangan harap kau bisa mendapaatkan lebih dari pada ini," jelas Bagas.
"Dasar, lelaki arogan. Siapa juga yang ingin tidur bersamamu?."
"Jadi, kau hanya ingin tidur bersama Adrian? begitu?," timpal Bagas dengan rasa kesal.
Wilona tidak kembali menaggapinya, dia meninggalkan Bagas dengan berjalan memasuki ruangan ganti dengan menggerutu. Sedangkan Bagas kembali menyenderkan tubuhnya di kingbad, lalu berpikir. Dia merasa asing dengan Wilona saat ini. Dia sangat berharap jika malam itu Wilona meninggalkan rumah karena dia telah berlaku kasar kepadanya.
"Dia bahkan terlihat sedikit lebih lemah," gumam Bagas.
Ting..
Pintu ruangan ganti terbuka, Wilona keluar dengan setelan baju tidur yang tertutup dan juga gambar pada baju tidur itu yang sangat lucu membuatnya terlihat sedikit menggemaskan. Bagas yang sedikit melirik membuat rasa penasarannya timbul dengan sedemikian rupa. apa yang sebenarnya terjadi.
Wilona yang dikenalnya sebulan yang lalu akan berani masuk ke kamarnya dengan menggunakan jubah tidur yang transparan. Tapi, saat ini Wilona yang berada di hadapannya bahkan disentuh olehnya pun dia akan menghindar di tambah make upnya yang sangat jauh dari kata glamour, mulutnya yang tidak berbisa dan tingkahnya yang aneh.
"Kenapa kau menatapku? jangan beran-berani ya, awas kau," ucap Wilona menatap tajam Bagas.
"Kalau bukan karena perintah papa, aku bahkan tidak ingin menginjakan kakiku di kamar ini," jelas Bagas.
Bagas kemudian memutar bola matanya malas dan tidur memunggungi Wilona, begitupun Wilona yang tidur memunggungi Bagas di sofa dengan selimut yang tebal. Pukul 03.00 dini hari, Bagas bangun karena mimpi buruk. Dia mengusap wajahnya kasar, tiba-tiba matanya tertuju pada sofa tempat Wilona yang sedang tertidur pulas.
Bagas berjalan pelan dan mendekati Wilona. Dia melihat wajahnya yang polos tanpa riasan terlihat lebih manis dari pada sebelumnya, tepatnya akhir-akhir ini Wilona mulai menarik perhatiannya. Wajah wanita yang berada di hadapannya saat ini sangat menggemaskan layaknya bayi yang tertidur pulas.
"Bagas, sadarlah. Dia wanita menjijikan," gumam Bagas kemudian berjalan dan meninggalkan ruangan tersebut.
...----------------...
Ke esokan harinya..
Wilona bangun dari tidur nyenyaknya dan melihat tidak ada lagi Bagas di ruangan tersebut. Pelayan kembali memasuki ruangan dengan membawa peralatan Wilona serta sarapan paginya.
"Cia?," ucap Wilona dengan mengusap matanya.
"Maaf nyonya, saya di perintahkan oleh tuan untuk membawa gaun khusus yang harus dikenakan hari ini."
"Gaun? aku punya banyak persediaan di ruangan itu, untuk apa aku menggunakan yang baru lagi?."
"Saya hanya di perintahkan nyonya dan hari ini agenda anda adalah mengahadiri rapat di perusahaaan."
"Rapat? aku???!."
Wilona mengusap dagunya dan kembali mengingat, rapat apa yang akan dia hadiri dan apa yang harus dia lakukan. Wilona melupakan segalanya, karena episode novelnya terlalu panjang. Wilona tidak bisa mengingat apapun, dia kemudian berjalan ke tempat yang diatasnya telah tertata rapi sebuah sarapan dan makanan penutup.
Wilona duduk dan meminta semua para pelayan untuk ikut menikmati makanan yang berada di meja tersebut, terutama Dian dan Cia tapi mereka berdua tidak berani bahkan mereka menolaknya dengan halus.
"Baiklah, aku makan sendiri."
Dian, Cia dan pelayan yang lainnya saling adu pandang kembali, wanita yang berada di hadapannya itu benar-benar bukan Wilona yang dulu, karena sangat mustahil seorang Wilona ingin makan bersama dengan pelayan.
Beberapa menit kemudian sarapan usai, Wilona segera bersiap menuju perusahaan. Sebelum itu Wilona meminta untuk semua pelayan meninggalkan ruangan tersebut, dia ingin bersiap sendiri tanpa bantuan para pelayan.
Tiga puluh menit berlalu...
Wilona berdandan layaknya seorang pimpinan wanita yang memukau. Gaun yang diberikan kepadanya terlalu terbuka dan dia sangat tidak menyukainya. Wilona pikir, kantor adalah tempat untuk bekerja bukan tempat untuk bersantai, apa lagi memamerkan lekuk tubuh dengan hiasan yang mencolok.
Wilona berjalan ke garasi dan ternyata disana telah menunggu seorang sopir dan sebuah mobil brand Marcedes-Benz S-Class
kemudian dua mobil lainnya dengan brand yang berbeda tengah berjaga dan menunggu kedatangan Wilona, sebut saja mereka bodyguard.
"Apa begini rasanya menjadi seorang wanita karir yang memiiki segalanya? hmmm sangat nyaman," gumam Wilona.
Wilona memakai kacamatanya dan duduk di jok yang sudah di sediakan, perjalananpun di mulai.
...----------------...
Wilona tiba di perusahaan dengan langkah yang mantap menggnakan setelan blazer yang dipadu dengan celana berwarna hitam, tidak lupa heels yang menambah aura Wilona lebih memukau. Blazer tersebut dibuat dengan bahan berkuaitas tinggi dan dipandu dengan blus putih yang memberi kesan elegan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Rey
cie cie Bagas mulai terpesona dengan Wilona palsu alias Nuhume 😍
2024-02-05
0