Bagas yang sedari tadi mencuri-curi pandang dan melihat apa yang dilakukan wanita yang berada dihadapannya itu, sedikit merasa penasaran. Akhirnya dia berjalan dan membawa sebuah berkas dan dilemparkan tepat dihadapan Wilona.
"Cepat tanda tangani semua lembaran itu,".
Wilona hanya diam dan meraih lembaran tersebut tanpa banyak protes. Bahkan jika saat itu Bagas menyelipkan lembaran surat cerai, mungkin saja dia juga sudah membubuhinya dengan tanda tangan tanpa sebuah protes. Bagas yang memperhatikan hal itu, menaruh curiga penuh. Rasanya belum lengkap tanpa mendengar ocehan atau amarah yang keluar dari bibirnya itu.
"Apakah kau, tidak takut jika aku menipumu dengan mengambil semua saham milikmu di perusahaan dengan cara menanda tangani lembaran tanpa membacanya?."
"Tidak, untuk apa takut? aku sudah tahu alurnya, aku yang membuat kisah ini jadi aku tahu, kau tidak akan melakukannya sampai akhir," timpal Wilona gamblang.
"Apa maksudmu?."
Wilona tersadar dan menepuk jidatnya, dia tidak habis pikir jika dia kebablasan mengatakan hal tersebut. Bagas kembali menatap wanita di hadapannya itu dengan alis yang bertaut, banyak hal baru yang dilakukannya tidak sesuai dengan Wilona sebelumnya, semisal; makanan, rutinitas, hobby dan juga gaya bicaranya yang kadang sulit untuk dimengerti.
"Sudahlah, aku harus pergi. Tidak ada lagi kan?."
Bagas mendengar itu hanya mengagguk dan melihat Wilona meninggakan ruangan tanpa basa-basi lagi. Dia bahkan sedikit berlari untuk menghindari Bagas. Saat Wilona berjalan untuk memasuki Bungalao miliknya, tangannya di tarik oleh seseorang yang dia tidak diketahui.
"Didi?,".
Dia adalah Didi, pria yang mengancamnya di perusahaan. Wilona gugup dan bertanya bagaimana bisa dia berada di tempat itu. Wilona kemudian menghempaskan tangannya dengan wajah yang sinis. Didi hanya tersenyum dan meminta Wilona memberinya uang sebanyak 50 juta untuk menutup mulut sementara.
"Kau tidak ingin keluarga suamimu tahu kan? bahwa kau adalah Wilona yang palsu?."
"Apa yang kau lakukan di sini? dan bagaimana bisa?."
"Sudahlah, kau tidak perlu tahu. Yang jelas aku adalah salah satu bodyguard di rumahmu ini, aku tunggu uang itu besok sudah berada di tempat ini, dibawah pot bunga itu," ucap Didi kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Wilona memasuki kamar dengan mengacak rambutnya, dia bingung harus melaukan apa. Membunuhnya pun mustahil dan memberinya apa yang dimilikinya itu pun tidak mungkin, pasti Bagas akan tahu lambat laun.
"Argghhhh, aku harus cepat keluar dari novel ini," gumamnya.
...----------------...
Esok hari..
Sesuai permintaan Didi, Wilona dengan sangat hati-hati menyimpan uang terebut di bawah pot bunga di halaman. Wilona berharap pria tersebut tidak melakukannya lagi. Di balik sudut bangunan yang lain, ada seseorang yang mengawasi apa yang Wilona lakukan.
"Hmm, sekarang aku sudah tidak usah bekerja keras lagi, aku telah memiliki sumber uang, HAHAHA,".
Beberapa hari kemudian, Didi tidak puas hanya dengan uang tersebut, dia kembai mendekati Wilona dengan menyelipkan sebuah catatan kecil di bawah gelas tehnya saat para pelayan tengah siap membawa teh hangat dan kudapan ke kamar Wilona sesuai permintaannya. Didi meminta kembali dengan jumlah yang lebih besar membuat Wilona sangat geram.
Drrrrtttt...
Drrtttt....
Nomor ponsel yang tidak diketahui. Wilona mengangkat dan ternyata itu Mayang yang menagih janji untuk rencana mereka. Wilona tiba-tiba mendapatkan ide untuk memperlambat rencana tersebut. Dia menjelaskan bahwa saat ini posisinya tidak aman. Dia diperas oleh seseorang yang mengetahui identitas aslinya. Mayang mendengar itu tiba-tiba mematikan panggilannya dengan sepihak membuat Wilona mendengus kesal.
"Yaa ampun, entah apa yang aku pikirkan saat membuat karakter mereka. Kenapa mereka begitu menyebalkan," gumam Wilona.
Tidak berselang lama, tiba-tiba terdengar suara riuh para pelayan di dedat Bungalao milik Wilona. Dia pun berjalan ke Balkon kamarnya dan melihat apa yang sedang terjadi di bawah sana. Wilona sangat kaget karena ada seseorang dengan seragam pelayan tegah tergeletak penuh darah di dekat taman miliknya. Wilona berlari menuju kerumunan tersebut.
Begitupun dengan Bagas yang ternyata sedang menggunaan Buggy Carnya untuk menuju tempat tersebut karena mendapatkan laporan dari seorang mata-matanya. Wilona dan Bagas saling berpapasan dan mereka kembali saling melempar tatapan sinis. Wilona akhirnya mempercepat langkahnya dan lebih dulu melihat pelayan yang terbaring tak bernyawa tersebut. Mata Wilona membulat sempurna. Dia adalah Didi.
"Bagaimana bisa? apakah semua ini perbuatan Mayang?," batin Wilona.
Seorang manager bagian keamanan menjelaskan kepada Bagas bahwa pria tersebut seorang bodyguard baru dan dia baru saja melakukan bunuh diri dengan loncat dari lantai tiga bangunan tersebut. Kepalanya tepat mengenai pot bunga dan akhirnya tidak bisa diselamatkan. Alis Bagas mengerut karena kasus ini pertama kalinya terjadi di tempat tersebut. Bagas meminta beberapa orang untuk menyelidikinya.
"Apa begini caramu menjaga para pelayan di sini?," tanya Bagas dengan sinis menatap Wilona.
"Dia juga adalah pelayanmu karena semua yang ada disini milikmu, jadi jangan menuduhku," timpal Wilona dengan nada yang lebih sinis.
"Jangan menuduhku, karena.......,".
"Aneh, kau tidak ingin dituduh lepas tanggung jawab tapi kau malah menuduhku. itu sama saja melimpahkan keahan kepada orang lain, hmm sudahlah. Aku cape, aku tidak ingin berdebat denganmu," jelas Wilona kemudian meninggalkan Bagas yang berdiri mematung karena tidak memiliki kesempatan untuk membela diri.
Para pelayan yang mendengar itu hanya terdiam dan bingung, ini pertama kalinya tuan mereka tidak bisa berkutik dengan apapun. Dia biasnaya yang paling dominan daripada semua ucapannya, kali ini dia kalah oleh Wilona. Begitupun dengan Anton yang merasa tuannya sudah mulai aneh karena memberikan peluang kepada Wilona untuk menang atau memang Wilona adalah lawan yang setara dengan sikap dingin dan cueknya itu?
'Dasar, wanita sialan. Berani sekali dia melawanku," batin Bagas dengan mengepalkan tangannya kesal.
...----------------...
Di kamar Wilona terlihat memijat kepalanya yang tidak sakit, dia meraih ponselnya dan melihat sudah ada pesan baru yang tertera dilayar ponsel miliknya.
"SELESAI,".
Wilona sudah yakin jika itu perbuatan Mayang. Wanita tua itu tidak bisa di sepelekan, dia pasti memiliki beberapa mata-mata di tempat ini tapi dia tidak tahu siapa orangnya. Tidak ada jalan lain, Wilona harus menjalankan misinya tapi dia juga tidak bisa memaksakan diri bahwa dia harus membunuh karena saat ini bukan WIlona yang akan menjalankannya tapi Nuhume dan itu mustahil untuk dia lakukan.
"Aku harus mengubah alurnya, aku hanya perlu menghancurkan keluarga Abraham, bukan untuk membunuhnya, itu yang dibutuhkan oleh Mayang. Kehancuran keluarga Abraham," gumam WIlona dengan memijat kepalanya yang tidak sakit.
Wilona akhirnya membuat rencana untuk memulai semuanya melalui Adrian. Hanya dia satu-satunya yang Wilona bisa manfaatkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments