Wulan terpana saat pandangan mereka berdua bertemu. Entah bagaimana kondisi wajahnya saat ini, yang jelas ia tak sebahagia ini sebelumnya.
Jika diteliti, wajah Jagat mirip cowok Anime. Hidung mancung kecil dan bibir merah muda tipis tanda bukan perokok. Alisnya lebat berbentuk sempurna. Kulit putih halus mulus.
Rambut ala The Beatles di cat Hitam semu Merah Maroon gelap membuat penampilan Jagat lebih cocok life di komik daripada didunia nyata.
Wulan memang penggemar komik anime dan Manhwa.
Sebuah rasa yang baru pertama kali, setelah sekian tahun berkelana. Ternyata, pria inilah yang mampu menancapkan rasa itu di hati Wulan.
"Cie-cie, malam-malam dingin gini asik duduk berdua. Apa yang sedang kalian bicarakan sih?" Petra muncul dari balik pintu, membuat kedua orang yang saling berpandangan terkejut.
"Ka-kami sedang membicarakan kemungkinan pelaku memiliki ilmu hitam," jawab Jagat. "Tra, kamu tahu di mana biasanya para wanita malam mencari mangsanya?"
"Tahu. Memangnya kenapa? Kamu mau jajan?" Petra menggoda Jagat yang diikuti pelototan Wulan.
Ia tahu Wulan mulai menyukai Jagat, terlihat jelas dari tatapan matanya.
"Aku tidak pernah jajan yang kayak gituan. Mungkin kita harus mulai penyelidikan dari lokasi itu. Mudah-mudahan pelaku muncul dan kita bisa mengikutinya. Bagaimana kalau besok malam, kita ke lokasi itu?" Saran Jagat. Ia merasa, besok malam pelaku akan melakukan aksinya.
"Sepertinya beta tidak bisa ikut. atasanku mendadak mengajak ke Bali. Kalian bisa kesana berdua, kan? Kalau tidak ingin berdua saja, kalian bisa ajak Dokter Wayan. Nanti beta share lokasinya."
Kamu bisa pakai mobilku yang ada di garasi, Lan. Ya, meski sudah tua, tetapi mesinnya masih bagus, kok." Petra membanggakan mobil tua peninggalan sang ayah.
Jagat dan Wulan sepakat untuk melakukan penyelidikan besok. Jagat akan mengajak Dokter Wayan nanti. Malam sudah semakin larut, bahkan sudah menunjukkan hampir mendekati subuh.
Petra dan Jagat akhirnya memutuskan untuk pulang. Tubuh mereka benar-benar butuh istirahat. Apalagi besok mereka sudah mulai melakukan penyelidikan.
Sebelum pulang ke rumah, Petra mengantarkan dulu Jagat ke rumah Dokter Wayan.
...----------------...
"Jagat, kamu jadi melakukan penyelidikan malam ini?" tanya dokter Wayan.
Ia sudah berpakaian rapi karena hari ini ia harus pergi ke Bali untuk menghadiri acara seminar.
"Ya, mungkin hanya berdua saja, Aku dan Wulan. Letnan Petra juga harus menemani atasannya ke Bali. Kenapa kalian bisa berbarengan ya? Apa kalian sudah janjian sebelumnya?" Tanya Jagat penuh curiga.
"Kamu ada-ada aja. Mana mungkin aku dan Petra janjian, emang aku cowok apaan? Meski dingin kayak kulkas, aku masih normal, Jagat," jelas Wayan tak terima.
"Kamu bisa pakai mobilku dan ini kunci rumah." Wayan menyerahkan kunci mobil dan juga rumah pada Jagat.
"Oke, makasih ya. Maaf, tadi aku cuma bercanda kok." Jagat menyunggingkan senyum, meski di dalam hati ia penasaran dengan sosok Wayan.
"Aku berangkat. Jaga diri baik-baik dan rumahku. Taksi pesananku sudah datang." Pamit Wayan pada Jagat.
Wayan menyeret koper ke luar rumah diikuti Jagat dari belakang. Supir taksi dengan sigap memasukkan koper ke bagasi. Kemudian membuka pintu mobil, Wayan pun masuk ke dalam. Kaca jendela dibuka, Wayan melambaikan tangan pada Jagat saat taksi mulai melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.
Sepeninggalan Wayan, Jagat kembali masuk ke dalam. Masih ada waktu sebelum ia bertemu dengan Wulan.
Pertama kali ia menginjakan kaki di rumah Wayan. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran, tetapi ia tidak tahu apa. Sekarang, selagi pemilik rumah tidak ada, ia bisa berkeliling sesuka hati sambil menunggu waktu untuk penyelidikan.
Jagat melangkahkan kaki menyusuri rumah. Lantai atas sudah pernah ia periksa dan tak ada yang aneh. Sekarang ia ingin tahu ada apa di lantai bawah.
Ada satu ruangan yang menarik perhatiannya karena ia pernah melihat Wayan berlama-lama di ruangan itu, bahkan sampai seharian. Ruangan itu berada di belakang rumah dekat dengan halaman belakang.
Pencahayaan di sana remang-remang. Ia mencari kunci untuk membuka pintu itu. Namun saat ia hendak memasukkan anak kunci, ponselnya berdering. Ia langsung mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
Ternyata ada panggilan dari Wulan.
"Hallo, ada apa, Lan?" tanya Jagat sambil melihat jam tangannya untuk memastikan ia tidak melanggar janji.
" Dok, mobil Petra tiba-tiba kempes, gimana nie? Apa kita sewa mobil saja?" Wulan memberikan saran.
"Tidak usah. Kita pakai mobil Dokter Wayan saja." Tolak Jagat.
"Oh, Dokter Wayan jadi ikut?" Wulan merasa kecewa.
Kesempatan untuk berduaan dengan Jagat akan rusak dengan kehadiran dokter berhawa panas itu.
"Tidak. Baru saja, Dokter Wayan pergi ke Bali, tapi dia memberikan kunci mobil dan rumah padaku untuk aku gunakan, begitu," jelas Jagat.
"Oh, baiklah. Kalau begitu kita berangkat sekarang saja. Biar kita leluasa untuk menyelidiki. Semoga saja pelaku mencari mangsa di tempat itu, ya," ucap Wulan penuh optimis.
"Oke, aku jemput kamu." Jagat menyanggupi keinginan Wulan. Ia pun mematikan ponsel dan merelakan rasa keingintahuannya tertunda.
Jagat berbalik langkah ke arah kamar, lalu bersiap-siap untuk pergi menjemput Wulan.
...----------------...
Jagat dan Wulan sudah mengitari lokasi gang tempat para wanita malam menjajakan diri, bahkan Wulan terpaksa memakai hoodie dan kacamata agar tidak dikenali.
Jagat masuk ke minimarket untuk membeli kopi dan dua roti isi. Wulan duduk di kursi yang disediakan di teras mini market tersebut.
" Sorry lama nunggu ya. Ngantri dulu. Ini kopi latte panas dan roti isi daging ayam. Ujar Jagat sambil menyodorkan ke meja.
" Thanks banget. Perutku sudah bernyanyi nih." Gurau Wulan.
" Dok. aku kadang suka merasa aneh dengan dokter Wayan. Mengapa saat momen penting, dia selalu banyak acara. Akhirnya lagi-lagi dokter Jagat yang otopsi semuanya. "
" Iya, aku juga merasa begitu. " Tukas Jagat.
" Apakah tidak merasa ada yang janggal? Atau cuma kebetulan? " Tanya Wulan dengan nada tidak yakin.
" Instingku mengatakan ada. Tapi masih samar. Ehm, ngomong-ngomong udah kenal lama dengan Letnan Petra? "
" Sejak SD, dok "
" O pantes dekat sekali. "
" Denger info, Wulan tinggal di Belanda? "
" Iya, dengan mami. Tapi ga jadi warga negara sih. Perpanjang visa tiap tiga bulan.
" Berarti maminya sendirian ya?" Tanya Jagat lagi.
" Iya, ada sih asisten rumah tangga yang bersih-bersih rumah seminggu dua kali. "
" Mamiku mandiri banget walau usianya sudah sepuh. Apalagi situasi Belanda sangat jauh berbeda dengan Indonesia. "
" Percaya kok soal jaminan kesehatan dan kesejahteraan Negara itu tidak perlu disangsikan lagi." Sambung Jagat mendukung cerita Wulan.
" Eh, kembali ke laptop nih. Ada yang ingin aku sampaikan soal penemuanku di foto para korban. " Ujar Wulan mulai serius.
" Bagus itu, coba apa saja? Jadi penasaran." Jagat memperbaiki posisi duduknya untuk menyimak, apa yang akan disampaikan Wulan.
" Gini, aku mengenal salah satu korban di foto itu. Namanya A-mir …"
Belum lengkap Wulan menyelesaikan kalimatnya.
Tiga orang wanita malam tiba-tiba menghampiri mereka berdua.
...****************...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments