Hati Amira mulai berdebar panik, saat melihat wajah Alex dengan tatapan dingin dan datar.
Amira menggeser posisi duduknya menjauhi tubuh Alex.
"Mas, jangan nakutin ya. Mohon diijinkan pulang. Gapapa nggak dikasih uang sepuluh juta juga. Aku beneran sakit." Amira memohon dengan memelas.
" Jangan takut Mir. Kamu itu adalah ternak yang sehat. Tenagamu hilang karena diriku."
" Ma-maksudnya … ?! "
" Setiap kita berhubungan, otomatis aku memakan energimu. "
" Apa? Energiku dimakan? Kamu punya ilmu apaan mas? Aku mohon mas, kita tidak ada dendam atau permusuhan. Tolong biarkan aku pergi."
Amira sudah panik dan putus asa.
" Aku suka memangsa wanita malam. Karena mereka adalah sampah dosa yang tidak berguna! Dan aku suka mempermainkan ternakku sebelum panen."
Ujar Alex yang mendadak secara refleks meraih pundak perempuan itu dan membekap hidungnya dengan kain bius.
Amira meronta, namun sia-sia. Perlahan tubuhnya mulai terkulai tak sadarkan diri.
...----------------...
Keringat mengucur deras di dahi, Jagat. Ia membuka mata dan melihat foto Amira di tangannya.
Empat jam setelah sampai di Surabaya, Wayan mengajaknya untuk melihat bukti-bukti kasus pembunuhan.
Saat ia memegang foto korban kelima, yaitu Amira. Gambaran tentang kehidupan Amira langsung bermunculan.
Kini ia tahu alasan, kenapa Amira menghilang setelah ujian nasional selesai.
"Jagat, are you oke?" tanya Wayan saat melihat keringat bercucuran dan napas Jagat yang tersenggal-senggal.
"Saya baik-baik saja," ucap Jagat singkat.
Meski ada sosok pelaku di dalam kilasan masa lalu para korban, tetap saja wajah pelaku tak bisa ia lihat karena berubah menjadi monster.
"Kamu mengenal korban kelima ini?" Pancing Wayan.
"Ya, dia teman semasa sekolah menengah atasku dulu," jawab Jagat.
Terdengar suara pintu dibuka.
Percakapan antara Wayan dan Jagat pun terputus. Dari arah pintu muncul dua orang penting yang juga memiliki akses khusus untuk masuk ke ruangan itu. Siapa lagi kalau bukan Petra dan Wulan.
Petra dan Wulan masuk ke ruangan khusus barang bukti. Ada sesuatu yang harus mereka cari tahu. Namun di sana mereka berdua bertemu dengan Dokter Wayan dan pria yang tidak dikenal.
Petra mendekati Dokter Wayan, lalu menanyakan siapa pria yang bersama Dokter Wayan. Apa salah satu keluarga korban atau detektif juga seperti Wulan.
Petra bertanya seperti itu bukan tanpa sebab. Ia ingin tahu, siapa saja yang terlibat dalam kasus ini.
Wayan menyuruh pria itu membuka ponsel karena ia sudah mengirim pesan dan menjelaskan tentang Jagat yang bergabung dengan tim mereka.
Ia yakin Petra belum membaca pesannya. Ternyata benar saja, polisi itu belum membaca pesan yang dikirim.
"Maaf, Dok. Tadi ponsel saya sengaja disilent jadi tidak terdengar." Petra nyengir menahan malu.
"Di silent atau keasyikan ngobrol berdua sama Wulan?" goda dokter Wayan.
Ia tahu kalau Petra dan Wulan teman dekat.
"Tadi kami ke tempat kejadian perkara, Dok. Bukan nge-date," sangkal Wulan.
Ia tak suka jika kedekatannya dengan Petra disalah-artikan yang malah membuat persahabatannya dengan Petra rusak.
"Ya, sudah. Kenalkan ini dokter Rahwana Jagat dari Jakarta, dia seorang dokter bedah juga. Sekarang dia akan bergabung dengan tim kita," ujar Wayan.
"Panggil saja, Jagat," ucap Jagat sambil menyalami Petra dan Wulan.
Petra dan Wulan memperkenalkan diri mereka masing-masing beserta job desk nya.
Begitu juga dengan Jagat.
Saat melihat Wulan. Ada flashback sosok Bidadari yang pernah dalam benaknya.
"Diakah orangnya?" Pikir Jagat.
Setelah itu mereka berempat berdiskusi mengenai kasus pembunuhan.
Kehadiran Jagat sangat membantu karena kelebihannya itu membuat benang-benang yang terpisah mulai menyatu. Hanya saja, Jagat tidak bisa mengenali pelakunya.
Mereka berempat sibuk dengan pikiran masing-masing dalam memecahkan teka-teki kasus ini.
Hasilnya nihil, pelaku ini begitu rapi.
Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan aktifitas yang lainnya.
Jagat meminta Petra untuk mengantarnya ke tempat kejadian perkara ditemukannya korban Amira Putri, sedangkan Wayan harus pergi ke kampus karena ada jadwal mengisi mata kuliah.
Jagat duduk di kursi depan, sedangkan Wulan di belakang. Dari spion, ia mencuri-curi pandang pada perempuan yang asyik menatap pemandangan di luar jendela.
Perempuan dengan rambut sebahu, mata besar, bulu mata yang lebat dan bibir merah menambah kecantikannya.
Namun, sepertinya perempuan membuat tembok yang tinggi untuk dekat dengan pria. Terbukti, di usianya yang menginjak 34 tahun, Wulan masih betah melajang.
Petra yang memperhatikan gelagat Jagat. Ia menyenggol tangan Jagat agar tidak terus menatap Wulan dari kaca spion.
Ia menggoda Jagat dengan sindiran-sindiran kecil yang membuat pria itu malu, sedangkan Wulan menganggap candaan itu bagaikan angin lalu.
Akhirnya mereka sampai di tempat kejadian Amira ditemukan. Mereka turun dari mobil. Garis polisi masih terbentang di sana karena kasus belum selesai.
Jagat menyibak beberapa ilalang yang menghalangi jalan. Ia mempersilahkan Wulan untuk jalan terlebih dahulu sambil mengitari tempat sekitar kejadian. Ia menanyakan banyak hal pada Petra.
Namun, Wulan yang banyak menjawab pertanyaan-pertanyaanya. Dari caranya bicara, ia yakin perempuan itu sangat cerdas. Tak salah jika sekarang, ia menjadi detektif handal.
Tiba-tiba Jagat mendengar suara aneh.
"Petra, apa kamu mendengar sesuatu?" tanya Jagat memastikan pendengarannya tidak terganggu.
"Tidak. Beta tidak mendengar apa-apa. Kamu denger sesuatu, Lan?" tanya Petra pada Wulan yang dijawab dengan gelengan.
Namun ada desiran angin dan panggilan halus di telinga Wulan.
Wulan … tolong …
Wulan terkejut sambil melihat kiri kanan.
"Tra! Kamu denger suara cewek minta tolong nggak?"
"Kagak lah! Cewek kan cuma kamu." jawab Petra sambil lalu.
Wulan mengedikkan bahunya, dan fokus ke area TKP.
"Wulan … "
Suara halus itu terdengar kembali.
Wulan kembali mencari sumber suara itu.
Matanya tertuju pada seorang wanita yang berdiri di kejauhan. Gaunnya sangat kotor oleh tanah dan darah.
"Amira?" Gumam Wulan
Gadis itu memberi isyarat agar Wulan mengikutinya.
Wulan berjalan pelan mengikuti perempuan itu.
Jagat kembali melangkahkan kaki. Namun suara itu terdengar lagi. Kali ini memintanya untuk berjalan menuju pohon beringin yang ada di sebelah kanan tempatnya berada.
Ia pun berjalan ke arah sana.
Ternyata Wulan pun berjalan ke arah pohon yang sama.
" Nona Wulan? Anda disini juga?"
"Iya. Anda juga curiga ke pohon ini?" Jawab Wulan dengan heran.
" Bukan di pohonnya. Tapi lihat di belakangnya."
di sekitar pohon itu ada botol kecil yang berlumuran darah dan juga masker.
"Inikah maksud Amira?" Pikir Wulan.
Jagat memanggil Petra untuk mengamankan bukti yang ia temukan.
Petra langsung memakai sarung tangan plastik dan mengeluarkan kantong plastik untuk memasukkan bukti itu. Kenapa, ia tidak memeriksa sampai ke pohon ini?
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk berpencar. Kemungkinan ada bukti lain yang bisa membantu memecahkan kasus ini.
Matahari mulai condong ke arah barat, langit senja sudah mulai terlihat. Wulan, Petra dan Jagat berkumpul di tempat mobil terparkir.
Mereka tak menemukan apa-apa lagi, selain botol kecil dan masker tadi. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Suara dering ponsel milik Petra terdengar. Petra yang akan membuka pintu kemudi, memilih untuk mengangkatnya dulu karena panggilan itu dari Pak Broto atasannya.
Suara Pak Broto langsung membuat Petra menjauhkan ponsel dari telinganya jika tidak bisa-bisa gendang telinganya pecah saking keras suara atasannya itu.
Pak Broto ternyata memberitahu, kalau ada mayat perempuan yang ditemukan lagi di Desa Putat Gede, Kecamatan Sukomanggul. Desa terpencil yang masih bagian dari Kota Surabaya.
Lokasi desa ini tidak bisa dideteksi dengan maps di ponsel, bahkan signal seluler pun sulit dan ada rumah yang belum dialiri listrik. Setelah mendapat laporan dari Pak Broto dan menutup sambungan telepon dengannya.
...****************...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments