...Tidak masuk akal, itulah trik sulap. Membakar selembar tissue, terbang menjadi merpati....
...Walaupun hanya trik, semua orang berdecak kagum. ...
...Bukan merubah api menjadi merpati. ...
...Jika aku memiliki trik seperti pesulap. Aku akan menipumu untuk tetap bersamaku....
Edward.
Security dan tukang kebun yang ada di luar gedung utama menertawakannya. Termasuk juga seorang pelayan yang kebetulan lewat.
Dengan cepat Rachel segera bangkit."Ssttt...tenang! Aku bahkan belum dewasa bagaimana bisa hamil?"
"Jadi tidak bisa?" tanya Edward, dengan cepat Rachel mengangguk.
"Wanita dewasa dan pria dewasa harus menikah agar dapat menghasilkan keturunan." Rachel menjelaskan, terlihat sedikit berfikir.
"Ayah dan ibuku tidak menikah..." Kalimat yang keluar dari mulut Edward.
Krak!
Bagaikan cermin yang pecah dalam otaknya. Bagaimana caranya menjelaskan pada anak berusia 10 tahun?
"Begini! Diperlukan lebih dari sekedar ciuman bibir untuk hamil!" Penjelasan singkat dari Rachel.
"Sampai sebatas mana!?" tanya Edward penuh rasa ingin tahu.
"Sampai... sampai... sampai..." Anak perempuan yang bingung menjelaskan, dalam otaknya ada adegan ranjang. Tapi tidak boleh menjelaskan pada anak laki-laki yang polos ini bukan?
"Ka...kamu tanya pada kakak security! Dia sudah punya anak pasti tau!" Ucap Rachel kabur dengan kecepatan tinggi.
Sedangkan sang security menahan tawanya, mendekati tuan mudanya."Tuan muda sebenarnya..." Kalimatnya tiba-tiba terhenti, Edward menatap tajam bagaikan akan membunuhnya.
"Kamu fikir aku tidak tau?" Tanyanya dengan ekspresi wajah datar membuat sang security mengeluarkan keringat dingin.
Edward menghela napas, sudah memikirkan strategi ini matang-matang. Segalanya dari awal sesuai rencananya. Rencana yang disusunnya hanya karena beberapa anak perempuan di kelasnya membicarakan hal yang mustahil.
*
Beberapa jam yang lalu, sekolah dasar swasta bertaraf internasional.
"Bagaimana jika hamil!? Aku tidak sengaja mencium bibir sepupu laki-lakiku yang masih berumur dua tahun! Anak pelayanku bilang mencium bibir anak laki-laki bisa hamil." Ucap seorang anak perempuan yang duduk di belakang Edward sembari menangis.
"Kalau punya bayi, kamu selamanya harus bersama dengan adik sepupumu merawat bayi kalian." Candaan teman wanitanya.
Sedangkan Edward terdiam, nilai sempurna selalu menumpuk di semua mata pelajarannya. Otaknya lebih logis, ciuman bibir tidak akan menghasilkan apapun. Dirinya tahu itu, hanya sekelompok anak perempuan bodoh yang duduk di belakangnya.
Tapi tunggu dulu! Rachel saat ini pastinya lebih lugu dari mereka. Pria yang diberi julukan pangeran dingin ini tiba-tiba bangkit. Menatap ke arah para wanita yang duduk tidak jauh darinya.
"E... Edward..." Sapa salah satu dari mereka.
"Aku ingin tau, jika aku mencium bibir salah satu dari kalian, apa yang akan kalian lakukan?" tanyanya.
"Meski ini cuma katanya. Tapi bagaimana jika mempunyai kemungkinan hamil. Tentu harus tetap bersama denganmu." Jawaban polos salah satu dari mereka.
"Cie!"
Beberapa siswi yang ada disana berteriak serempak. Lawan bicara Edward sudah tersipu malu. Tapi tidak dengan anak yang lebih sering membaca buku daripada bergaul itu.
"Bodoh!" Satu kata penuh senyuman darinya mencibir. Kembali duduk di kursinya.
Siswi perempuan yang bicara dengannya terlihat hampir menangis karena malu. Sedangkan Edward masih terdiam.
Tok!
Tok!
Tok!
Mengetuk-ngetuk mejanya menggunakan pena. Dirinya mulai berfikir, dapat menggunakan cara ini untuk mengikat Rachel. Usia Rachel lebih muda, akan dapat ditipu dengan mudah. Ketakutan dengan mitos dan desas-desus seperti siswi di belakangnya.
"Mencium bibir bisa hamil?" Gumam Edward tertawa kecil. Bagaimana proses perkembangbiakan manusia? Meskipun dirinya tidak tahu dengan jelas, tapi dua organ harus bertemu. Penjelasan lebih lanjutnya juga sudah diketahuinya.
Ini mungkin dapat menipu Rachel agar tidak berteman dengan orang lain selain dirinya. Senyumannya merekah, manipulatif, menyembunyikan emosinya, berpura-pura lugu. Itu mudah bukan?
*
Kembali pada saat ini, rencana yang disusunnya gagal. Membaringkan tubuhnya menatap langit-langit ruangan. Meraba bibirnya sendiri. Bibir mereka bersentuhan sekitar dua detik, tapi ada yang berbeda.
Benar-benar terdiam dalam keheningan. Rencananya gagal, tapi kenapa dirinya tersenyum? Kenapa bahagia hanya dengan kejadian dua detik itu.
Ada yang salah, tapi apa? Matanya menelisik, seperti biasanya Rachel selalu rajin dan teliti, bahkan saat ini mengelap pegangan anak tangga agar tidak berdebu. Masih berbaring di sofa ruang tamu hanya untuk sekedar berfikir.
"Edward! Rachel!" Suara berisik itu terdengar, ayahnya menjadi lebih berisik semenjak hubungan mereka menjadi lebih baik.
Beberapa paperbag dibawa oleh Flint. Pria yang memakai setelan jas putih dengan rambut putih panjang yang terikat ke belakang, ditambah kacamata yang dikenakannya. Pria mencolok yang terlihat rupawan, benar-benar bagaikan kucing putih yang membawakan makanan untuk dua ekor tikus kecil bukan?
Kedua anak itu mendekat, dengan cepat Flint memeluk mereka."Ini untuk kakak..." ucapnya memberikan dua paperbag berwarna biru pada Edward.
"Dan ini untuk adik..." lanjutnya memberikan dua paperbag berwarna merah pada Rachel.
"Sekarang cium pipiku dan panggil aku ayah..." ucapnya dengan cara komunikasi yang lebih baik dari sebelumnya.
"Terimakasih ayah..." Ucap Rachel hanya tersenyum. Mana mungkin dirinya mau menarik perhatian Flint sebagai anak. Bisa-bisa di masa dewasa nanti Edward akan membunuhnya karena perebutan hak waris. Dirinya harus menjaga jarak, sebagai lintah kecil penghisap darah.
"Sudah aku bilang dia bukan adikku. Rachel! Berhenti memanggilnya ayah!" Perintah tegas dari Edward.
"Cepat atau lambat Rachel akan menjadi adikmu. Begini, dengan nama belakang Snowden, kehidupan Rachel akan lebih baik, tidak ada orang yang dapat menghinanya. Jika berniat membuka perusahaan kelas menengah nanti, akan banyak pengusaha lain yang bekerja sama dengannya, karena memandang nama keluarga kita. Selain itu, di sekolah Rachel tidak akan mendapatkan pembullyan, guru dan kepala sekolah akan menanggapi semua keluhannya. Saat dewasa nanti juga Rachel dapat menikah dan tinggal dengan keluarga yang baik." Kalimat demi kalimat untuk membujuk Edward. Tidak ada hal lain yang dapat difikirkannya untuk menahan Rachel.
Dirinya juga terlanjur senang memiliki anak perempuan seperti ini. Begitu manis dan pintar. Dapat menjadi penghubung antara dirinya dan Edward.
"Sekali tidak tetap tidak! Ayah Rachel tidak akan pernah menikah dia akan menjadi pelayanku selamanya." Tegas Edward lagi, melangkah pergi merangkul bahu Rachel.
"Terimakasih ayah..." Rachel hanya tersenyum, terharu mendapatkan paperbag berisikan pakaian dan cupcake. Melangkah pergi bersama Edward.
Flint menghela napas kasar, melirik ke arah Furran."Menurutmu kenapa Edward tidak setuju aku mengadopsi Rachel."
"Tuan muda sudah cukup cerdas, mungkin tuan muda mempertimbangkan jika nama Rachel masuk ke dalam kartu keluarga, sudah pasti hak warisnya akan berukurang. Ditambah tuan muda tidak ingin kasih sayang anda terbagi." Jawaban logis dari Furran.
Sedangkan Flint memincingkan matanya. Melihat interaksi kedua anak itu."Apa dia menyukai Rachel seperti pria menyukai wanita?" gumamnya sesaat, kemudian tertawa."Tidak mungkin anak dingin yang tidak punya hati itu, puber di usia terlalu muda!"
Menghela napas kasar hanya satu kesimpulannya, Edward memang tidak ingin kasih sayang dan hak warisnya terbagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Jarmini Wijayanti
mungkin cinta ala anak anak 😀😀
2024-07-09
0
🌠Naπa Kiarra🍁
Lanjut...kak!
2023-11-03
0
ari sachio
ko ak fillingy si alfred it si gendut tmny rachel y....trus nanti kedpnny cinta segi tiga.si rachel g peka klo sbnry edward cinta sm dia.tp nantiy ayahy edward yg menyadari lbh dulu klo penolakan jd ade d perhatian edward ke rachel it perhatian seorg laki2 ke wanitany.mg aja ayahnya merestuiny
2023-10-23
2