...Lapisan es dalam hatiku luruh. Bunga kecil indah masih membeku di tengah salju....
...Pernah aku berfikir untuk apa aku hidup. Lebih baik mati saja bukan? Namun, dia benar. Mungkin musim semi akan tiba....
...Kala sinar matahari hangat memelukku....
Edward.
"A... ayah!?" Ucap anak itu kala tubuhnya diangkat.
"Ekhm!"Pria itu terbatuk kecil menyamarkan rasa canggungnya."Kamu seperti tikus putih yang kotor! Lebih baik lukamu cepat diobati! Aku tidak ingin jasku kotor dengan darah!" Ucap Flint Snowden, tetap mengalihkan pandangannya, sembari menggendong putranya ke dalam mobil. Dirinya benar-benar tegang saat ini, iba melihat luka putranya, sekaligus merindukan wajah dingin menggemaskan ini.
"Tuan! Bukan begitu cara bicara dengan anak kecil!" Ucap Furran berusaha tersenyum.
"Ini putraku! Terserah aku mau bicara bagaimana pada tikus putih kotor ini!" Tegas Flint, meletakkan putranya ke dalam mobil hati-hati.
Pria ini tidak pernah menyayanginya. Bahkan enggan menemuinya. Kenapa malah berpura-pura baik? Air matanya mengalir, tapi mungkin hanya orang ini yang dapat menyelamatkan Rachel."A... ayah Rachel terluka. A...apa bisa menolong---"
"Hanya itu?" Flint mengenyitkan keningnya. Bagaikan jin Aladin, apapun dapat dilakukan ayah bucin anak satu ini. Seorang ayah yang memang terlalu malu dan kikuk setiap bertemu dengan putranya.
Edward mengalihkannya pandangannya. Terlalu membenci orang yang bahkan tidak pernah bicara banyak dengannya. Orang yang membawa Wilmar hanya untuk menyiksanya.
"Kamu dengar Furran? Putraku sudah mengatakannya. Tidak perlu menunggu surat perintah penggeledahan. Itu adalah rumahku sendiri! Gunakan relasi kita, untuk langsung mengirim unit khusus kepolisian. Satu lagi, sediakan ambulance serta perawatan terbaik." Kalimat demi kalimat yang membuat Edward membulatkan matanya. Tapi hanya sejenak, sebelum kembali menatap ke arah jendela mobil.
Dirinya tidak banyak bicara, karena ayahnya juga sama.
Sedangkan Flint memasang ekspresi dingin, sambil berfikir bagaimana caranya membuka pembicaraan pada anaknya yang pendiam.
"Haruskah aku bertanya bagaimana mereka melukaimu? Tidak! Aku yang bersalah karena membiarkan mereka sekian tahun menumpang di rumahku! Dengan dalih memberikanmu keluarga yang utuh. Haruskan aku bertanya, bagaimana sekolahmu!? Tapi ini situasi yang genting." Batin Flint. Pada saat-saat seperti inilah sejatinya, dirinya berada dalam kepanikan. Diam-diam mencuri pandang pada putranya. Tapi kala putranya menoleh dirinya beralih melihat ke tempat lain.
Ini menegangkan, lebih menegangkan daripada presentasi di hadapan puluhan investor kelas kakap. Putranya terlalu dingin, tidak banyak bicara, bagaikan membangun dinding tinggi.
Sedangkan Edward kembali hanya melirik. Tidak mempedulikan ayah yang dari dulu hanya sedikit bicara. Ayah yang terkadang terang-terangan berkata mencintai ibunya.
Bukan salah dirinya jika Angelic (ibu Edward) mati. Dirinya juga tidak ingin dilahirkan. Tapi yang terpenting saat ini adalah keselamatan Rachel.
*
Sementara di tempat lain. Tepatnya rumah milik kediaman keluarga Snowden. Rachel kembali diseret ke ruang tamu, akibat ketidak beradaan Edward.
Tubuhnya sudah cukup lemas, dengan darah yang terus mengalir dari lengannya.
"Pergi kemana Edward!?" Tanya Wilmar padanya.
Tapi tidak ada jawaban, jujur saja untuk menggerakkan bibirnya, Rachel sudah tidak memiliki tenaga. Tubuh anak berusia 8 tahun yang masih benar-benar lemah.
Dirinya memikirkan kembali alasannya masih tinggal di rumah ini. Mengetahui isi dari novel aslinya, tapi mengapa masih tinggal? Itu karena dirinya mengetahui bagaimana kehidupan di luar sana. Di kehidupannya yang dulu sebagai Rania, bahkan makan pun sulit. Harus bekerja, sebagai anak jalanan bahkan dirinya pernah dipukuli karena mencuri makanan di pasar. Karena itu, di kehidupan ini sebagai Rachel dirinya ingin tinggal. Memegang kaki pemeran antagonis, menjadi bagaikan lintah di kaki antagonis kaya hingga dewasa.
Tapi tidak disangka, kehidupan yang lebih buruk didapatkannya.
Plak!
Prak!
Gantungan baju yang terbuat dari plastik patah mengenai tubuhnya. Dirinya tidak dapat bangkit lagi. Tidak dapat bergerak, mungkinkah ini akhir hidupnya lagi? Entahlah... hanya terpaku diam, alur cerita dalam novel asli memang berubah. Mungkin berubah hanya satu bait yaitu kematian Rachel yang terjadi lebih awal daripada karya aslinya.
"Aku akan menghubungi security untuk mencari Edward. Memang benar! Keponakanmu, si anak setan yang membunuh ibunya sendiri cuma bisa menyusahkan!" Geram Hadsen (paman Edward).
Kala dirinya membuka pintu utama. Saat itulah wajah itu terlihat. Benar-benar visual yang menusuk hati. Rambut putih panjang terikat ke belakang memakai kacamata, tubuh tegap dengan busana berwarna putih dapat dikatakan setelan jas bermerek bernilai tinggi. Inilah Flint! Ayah Edward.
Rachel yang tidak dapat bicara karena tubuhnya yang lemas, hanya dapat menatap dari lantai. Ini benar-benar salah satu tokoh dalam novel kesayangannya. Flint, ayah yang tidak pernah bicara banyak pada Edward dewasa dalam naskah novel asli. Selalu menghalangi Edward diam-diam untuk melakukan pembunuhan. Tapi pada akhirnya mati di tangan putranya sendiri, karena perebutan kekuasaan serta niatnya membunuh Edward yang telah keterlaluan terlalu banyak menghabisi nyawa.
Dalam novel Flint digambarkan sebagai seorang pria paruh baya. Tidak ada gambaran pasti selain rambutnya yang berwarna putih sama seperti Edward. Tapi jika dilihat sekarang, tidak heran Edward begitu tampan, ternyata semua menurun dari ayahnya.
"Andai saja aku berumur 25 tahun. Jadi ibu tiri Edward pun aku terima." Batin Rachel, sejenak kemudian sedikit menggeleng. Dirinya tidak boleh melenceng sama sekali. Seperti niatnya semula. Menjadi lintah di kaki Edward, kemudian pergi setelah menjodohkan Edward dengan Alira.
"Flint, ka---kami baru akan keluar mencari Edward. Edward kabur dari rumah, hanya karena kami batal membawanya ke taman hiburan!" Jawaban Hadsen gelagapan.
Tapi Flint hanya tersenyum.
Brak!
Tubuh Hadsen ditendangnya, benar-benar ditendang di bagian perut. Hingga tersungkur di lantai.
"Flint! Apa yang kamu lakukan!? Ingat Edward begitu menyayangi kami! Bagaimana jika dia membencimu karena kamu melakukan ini!" Teriak Wilmar ingin menyelamatkan suaminya.
Sinar bulan memasuki pintu depan yang terbuka. Anak itu terlihat berdiri di depan pintu. Edward, dia berada di sana dari tadi, tanpa disadari oleh Wilmar dan Hadsen.
"Ayah, bunuh mereka. Tidak! Buat mereka memohon untuk mati." Kalimat demi kalimat yang diucapkannya dengan air mata mengalir.
"Kalian dengar? Putraku bahkan berkata begitu..." Kalimat dari Flint tersenyum menyeringai, mengulurkan tangannya ke belakang. Furran, sekretarisnya hanya tersenyum, mengambil payung yang masih tertutup.
"Tidak ada stik golf?" tanya Flint, mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak! Nanti mereka mati..." Furran berusaha tersenyum. Menghadapi bapak yang bucin ke putranya memang cukup sulit. Apalagi seorang ayah yang benar-benar canggung seperti Flint.
"A...apa yang mau kamu lakukan?" tanya Hadsen merangkak mundur. Sedangkan di area luar rumah sudah dipenuhi mobil polisi. Tapi anehnya tidak ada satu orangpun yang masuk.
"Membuat benalu sadar diri." Flint tersenyum menyeringai.
Brak!
Plak!
Bug!
"Flint! Hentikan! Bagaimana pun kami keluarga Edward! Keluarga Angelic!" Teriak Wimar kala dirinya dipegangi, oleh Furran. Menatap suaminya yang telah babak belur dengan payung sebagai senjata Flint telah hancur tidak berbentuk.
"Angelic? Kalau putraku mati, Angelic lebih akan membenciku, karena itu sebaiknya memanjakan putraku bukan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
YuWie
rambut putih, jadi keinget siluman kara..
2023-12-29
0
Bambang Setyo
Sukurin kalian. Selama ini cuma jadi benalu aja jahat sama anaknya..
2023-10-21
0
🌠Naπa Kiarra🍁
Lanjut!
2023-10-20
2