...Ayah...satu kata yang ingin terucap kala menatap punggungmu....
...Tidak pernah terucap kata cinta dari bibirmu. Hanya mengusap kepalaku tanpa kata....
...Terisak dalam air mata yang mengalir, apa kamu membenciku? Karena aku tidak, tidak membencimu....
...Setidaknya belum, mungkin semuanya berubah kala air matamu mengalir untukmu....
...Karena aku menyadari cintaku padamu berbalas....
...Ayah......
Edward.
Pecahan cangkir masih berada di lantai. Matanya menatap ke arah tiga orang di hadapannya.
"Semua pelayan di tempat ini sudah aku berhentikan. Hanya yang berkata jujur yang aku bekali dengan sejumlah uang. Edward masih ke sekolah dengan mobil keluaran lama bukan? Mobil yang beberapa hari lalu aku belikan kalian gunakan untuk keperluan kalian. Anakku tidak makan, padahal kepala koki hampir setiap hari menyajikan udang kesukaannya. Mereka tutup mulut, menganggap itu bukan urusan mereka. Setan!" Geram sang ayah, mengatur napasnya berkali-kali.
Ini juga salahnya, setahun hanya pulang dua kali. Karena terlalu malu untuk bertemu putranya. Jika saja Angelic ditemukannya lebih awal, mungkin kekasihnya itu akan masih hidup. Edward juga akan memiliki keluarga yang lengkap.
Tapi tempat Angelic pergi terlalu terpencil. Bahkan begitu jauh dari rumah sakit. Hingga kala pendarahan terjadi saat melahirkan Edward, kekasihnya terlambat mendapatkan penanganan.
"Setidaknya kamu dan putramu harus bertanggung jawab atas kematian adikku! Berikan uang kompensasi!" Ucap Wilmar tanpa tahu malu.
Flint mengatur emosinya."Baik, tapi apa aku boleh meminta kalian menebus atas semua perbuatan kalian pada putraku. Aku juga menagih biaya hidup kalian yang sudah tinggal selama 7 tahun di rumahku. Berikut uang untuk perawatan putraku yang kalian gelapkan."
Tidak dapat berkata-kata apa-apa Wilmar hanya menunduk.
"Kompensasi sebesar satu juta dollar, aku membeli nyawa Angelic. Dikurang dengan biaya hidup dan biaya bersenang-senang kalian selama ini, jika diperhitungkan mungkin masih minus. Aku akan menghubungi pengacara, kalian masih berhutang padaku." Tegas Flint, menghadapi dengan tenang. Membuat mereka tidak dapat berkata-kata.
"Pelayan! Antar mereka pergi!" Lanjut Flint mungkin urusan ini lebih baik dibawa ke jalur hukum saja.
"Flint! Aku mohon! Bagaimana dengan Tamtam! Dia memerlukan kedua orang tuanya." Hadsen berlutut memohon.
"Mudah! Titipkan saja di panti asuhan. Lagi pula panti asuhan sekalipun tidak akan memperlakukan putra kalian sekeji kalian memperlakukan Edward." Kalimat demi kalimat dari Flint, tidak dapat dibantah oleh mereka.
Tiga orang pelayan menyeret mereka, termasuk Tamtam yang tengah menikmati kue kering."Kenapa aku harus pergi? Paman ijinkan aku tinggal disini!" teriak Tamtam, melawan.
*
Flint kembali duduk di sofa. Pelayan baru yang direkrut Furran bergerak cepat membereskan pecahan cangkir.
Matanya menelisik, dirinya memang jarang pulang, untuk menghindari putranya, benar-benar canggung rasanya. Mendengar kabar Edward mendapatkan keluarga yang mencintainya (Wilmar), bagaikan anak mereka sendiri walaupun berstatus keponakan sudah membuat dirinya begitu tenang.
Tapi bagaimana dengan sekarang? Dapatkah dirinya menghadapi putranya yang dingin? Seseorang yang sulit didekati dan diajak bicara?
Mengikat rambut putih panjangnya asal, melepaskan kacamata bacanya. Saat-saat seperti inilah dirinya merindukan Angelic.
Pria berusia 33 tahun, dengan wajah menawan itu memijit pelipisnya sendiri. Dirinya melepaskan manset, menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku.
Wajah rupawan itu, ternyata memiliki otot-otot yang indah, walaupun hanya terlihat dari bentuk tangannya. Beberapa pelayan perempuan yang baru direkrut itu diam-diam mencuri pandang pada majikan mereka yang berstatus singgel parents. Ingat! Bukan duda, karena Flint belum sempat menikah dengan Angelic.
Suara langkah anak-anak menuruni tangga. Jantung Flint berdegup cepat, ini pasti putranya. Mengatur napas, bingung apa yang harus diucapkannya.
Hingga dirinya memberanikan diri menoleh ke belakang. Pemandangan aneh di tatapnya. Putranya yang biasanya menunjukkan raut wajah dingin tanpa ekspresi, kini menunduk menutupi wajahnya sendiri.
"Sudah puas!? Aku sudah menunjukkan pada ayah!" Teriak Edward menahan malunya.
Rachel menarik tangan Edward yang menutupi wajah."Sekarang aku baru puas."
Satu detik, Flint terdiam mencerna situasi.
Dua detik, keningnya berkerut.
Hingga di detik ke tiga.
"Ha...ha...ha!" teriaknya tertawa memegangi perut.
Putranya terlihat di sana, memakai wig hitam dengan rambut panjang sepinggang. Dilengkapi dengan aksesoris pita besar di rambutnya. Gaun panjang bagaikan putri abad pertengahan. Ditambah make up tipis. Sempurna! Putranya terlihat lebih cantik daripada Angelic.
Tidak dapat menahan tawanya, Flint yang biasanya dingin sedikit bicara, kini terbahak-bahak. Hingga berbaring di sofa tidak tahan lagi.
"A...apa tidak bagus?" Tanya Rachel, sedikit melirik ke arah Edward.
"Terlalu cantik!" Flint masih tertawa, tidak dapat berhenti."Kalian cocok menjadi kakak beradik." Menghela napas berkali-kali tawanya terhenti. Ingin mengutarakan maksudnya, mungkin Edward akan menolak, tapi ini adalah hutang budi yang seharusnya dibalas pada Rachel.
"Ayah!" Bentak Edward bagaikan ingin ayahnya berhenti untuk bicara.
"Sebenarnya aku berniat mengadopsimu sebagai adik dari Edward. Kamu hanya perlu menemaninya, biaya hidup, pendidikan semua akan aku urus. Mungkin kamu tidak mengerti karena masih terlalu muda, tapi memiliki nama belakang Snowden, akan sangat menguntungkan saat kamu dewasa nanti." Kalimat demi kalimat darinya, seakan tidak dapat menerima penolakan.
Tapi wajar saja sebuah tawaran yang menguntungkan. Rachel terdiam sesaat, sedangkan Edward tiba-tiba menggenggam jemari tangannya erat.
Rachel menatap ke arahnya. Anak laki-laki berusia 10 tahun itu menggeleng. Pertanda dirinya tidak setuju, raut wajahnya terlihat tidak senang.
"Adik dan kakak tidak dapat bersama selamanya." Batin Edward.
Sedangkan Rachel menelan ludahnya. Otaknya mulai mencerna situasi saat ini. Ingin menangis rasanya, tawaran menjadi anak angkat dari ayah yang keren. Siapa yang tidak mau.
Tapi.
"Edward tidak memperbolehkanku. Biar aku ingat-ingat lagi, alasan Edward membunuh ayahnya sendiri dalam karya novel aslinya. Itu karena sebuah insiden. Dimana Flint ingin menghentikan tindakan pembunuhan yang dilakukan Edward. Dengan menghalangi Edward untuk menggunakan kekuasaannya menyelamatkan Alira. Alira hampir dilecehkan oleh sekelompok orang yang disewa oleh salah satu mantan kekasih Alfred (pemeran utama pria). Pada akhirnya Edward membunuh ayah yang dianggap tidak mencintainya, ayah yang juga berusaha membunuhnya karena tindakannya yang keji. Hanya demi menyelamatkan Alira. Menyeramkan..." Fikir Rachel, menghela napas berkali-kali.
"Mungkin lebih baik tidak menjadi adik angkat Edward. Jika menjadi adik angkatnya, maka aku akan ikut-ikutan menjadi pewaris di rumah ini. Edward akan membunuhku dan Flint suatu hari nanti. Agar dapat menyingkirkan orang-orang yang menggangu Alira. Benar! Edward tidak mengijinkanku menjadi adik angkatnya, pasti karena lebih menginginkanku menjadi budaknya! Tenang tuan muda, aku akan menjadi pelayan yang terbaik, lintah di kakimu yang setia, menghisap sedikit darahmu untuk bertahan hidup." Itulah pertimbangan rumit dalam fikiran Rachel.
"Bagaimana kamu bersedia menjadi saudari Edward bukan?" Flint kembali bertanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Retno Isma
JD ibu tiri maunya ....🤣🤣🤣
2025-01-19
0
🟡🌻͜͡ᴀs Yuna ✨•§͜¢•
wkwk mantap
2024-12-03
0
Bzaa
Rachel
2024-06-18
0