...Rasa sakit terkadang akan membuatmu tegar berdiri. Dapat memberikanmu tujuan hidup....
...Tujuan hidup, karena rasa sakit hanya bagaikan kabut samar. Tidak tahu akan mengantarkan mu kemana....
...Bagaikan kunang-kunang, keajaiban yang membuatku berhenti mengejar kabut samar....
...Ketika senyumanmu terlihat, memegang tanganku, mengatakan "Semua akan baik-baik saja."...
Alfred Russel.
Tidak seperti sebelumnya, untuk meminta bantuan pada seseorang dirinya harus melakukan kebaikan bukan?
Hanya satu jam dirinya mendapatkan waktu di tempat ini. Mengikat rambutnya, kemudian mencuci piring dan mengelap jendela bersama Cresia. Selebihnya hanya mengerjakannya tugas bersama Query.
"Bibi tetap semangat! Aku pulang dulu!" Ucap Rachel dengan nada ceria, pergi meninggalkan rumah tersebut.
"Iya!" Cresia hanya tersenyum. Matanya sedikit melirik ke arah Query."Kamu punya teman yang baik."
Query hanya menunduk sembari mengangguk. Orang yang baik? Itulah Rachel di matanya.
Kala Rachel pergi, tidak seperti biasanya sang ibu akan berbaring menunggu malam, bagaikan raga tanpa nyawa. Kali ini ibunya duduk, menatap ke arah buku tabungannya yang masih sedikit.
"Query, ibu akan mulai bekerja. Kamu bisa mengurus semuanya di rumah kan?" tanya sang ibu penuh senyuman.
Query mengangguk, memeluk ibunya. Jika mahkota bagi seorang gadis adalah kesuciannya, maka mahkota bagi seorang ibu adalah anaknya. Dirinya akan berusaha melupakan rasa kasihnya pada suaminya.
Air matanya mengalir berkata dalam hatinya, setelah sang suami berbulan-bulan tidak mencarinya pasca perceraian terjadi."Aku tidak mencintaimu lagi."
Kalimat dalam hati yang mungkin mendamaikan dirinya. Berdamai dengan diri sendiri. Depresi? Satu kata yang menghancurkan hidup putranya beberapa bulan ini.
"Ibu, aku akan menunggu pulang. Ibu boleh mempunyai teman, dan bicara padanya. Seperti aku bicara pada Rachel. Pulang terlambat juga tidak apa-apa. Tapi ibu harus tetap tersenyum. A... anggap ayah tidak pernah ada dalam hidup kita." Kalimat yang diucapkan Query terisak.
Sang ibu mengangguk."Iya..." hanya itu jawabannya dengan senyuman dan air mata.
Tapi tidakkah ada yang menyadari dimana saat ini Alfred Russel berada?
Televisi masih menyala, memberitakan kecelakaan sebuah pesawat.
"Kami laporkan, terjadi kecelakaan pesawat di hutan sebelah tenggara pegunungan Oas. Sebuah pesawat pribadi milik keluarga Russell. Sampai saat ini evakuasi masih sulit dilakukan. Namun, dari kondisi pesawat yang meledak di udara dapat diperkirakan tidak ada orang yang selamat." Itulah yang diucapkan pembawa acara.
Butler (kepala pelayan) dan seorang pengacara terlihat sekilas di kamera. Terlihat kebingungan dan dipenuhi duka. Mungkin orang-orang yang telah mengabdi lama pada keluarga Russell.
Sepasang ibu dan anak tidak melihat ke arah televisi hitam putih yang masih menyala. Dua orang yang duduk, kemudian memilah pekerjaan yang sesuai dengan ijasah sang ibu nantinya.
Sebuah takdir kematian yang sama dengan karya aslinya. Seluruh anggota keluarga Russell meninggal dalam kecelakaan pesawat. Kecuali Alfred Russel, sang pemeran utama, yang memang dari kecil dibuang. Alfred Russel? Dimana keberadaan orang itu?
*
Satu kata dalam diri Rachel ketika menonton berita."Tidak dapat dicegah! Seandainya keluarga Russell tidak mati!" gumamnya.
Masih ada waktu sekitar dua tahun hingga Alfred Russel kembali pada statusnya. Dirinya mencoba mengingat isi novel aslinya lebih jauh.
Jika tidak salah ada adegan dimana setelah Alira dan Alfred melakukan adegan dewasa di apartemen. Alfred sempat menceritakan masa lalunya.
Dirinya dijemput seorang butler (kepala pelayan) tua dan seorang pengacara, dua tahun setelah kecelakaan yang menewaskan seluruh anggota keluarga Russell.
Rachel berfikir keras, memincingkan matanya. Tapi tidak ada petunjuk sama sekali. Adegan yang tidak detail dalam novel penyebabnya. Karena setelah Alfred menceritakan masa lalunya, Alfred kembali membuat lutut Alira lemas.
Berbaring di sofa, dirinya menatap langit-langit ruangan. Yang jelas dalam karya aslinya setiap adegan dengan Alira hanya ada pemaksaan, memanjakan di ranjang dan materi.
Bukannya itu sama saja dengan wanita-wanita murahan lainnya. Karena itu dirinya lebih menyukai Edward yang benar-benar membutuhkan Alira. Tidak dapat hidup dengan baik tanpanya. Memperlakukan Alira bagaikan ratu, bahkan untuk berciuman pun Edward tidak pernah memaksanya.
"Aku harus berfikir, penjabaran Alfred di karya aslinya, berkulit putih tegap, rambut hitam, dengan warna mata bagaikan langit malam, otot-ototnya yang terbentuk indah sempurna, ditambah dengan 'itu' nya besar." Gumam Rachel, mengingat-ingat tentang penjabaran tokoh Alfred Russel. Ingat! Yang dibacanya novel dengan begitu banyak adegan pemaksaan di ranjang yang mendebarkan.
"'Itu'nya besar? Apanya yang itu?" pertanyaan dari Edward yang baru saja pulang sekolah.
"I...itu, rasa setiaku padamu begitu besar!" Ucap Rachel cepat tidak ingin dikatakan memiliki fikiran kotor.
"Owh...ini aku membawakanmu coklat." Edward segera duduk di samping Rachel. Mengacak-acak rambut anak perempuan di sampingnya.
Anak berambut putih yang mulai berbaring, meletakkan kepalanya pada pangkuan Rachel."Hari ini aku lelah..." kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Lelah?" Rachel mengenyitkan keningnya, mulai menyuapi Edward dengan potongan cokelat yang mereka makan satu berdua.
Edward mengangguk."Akan lebih baik jika kita berada di sekolah yang sama, maka aku tidak akan merasa begitu letih."
"Letih melakukan apa saja?" tanya Rachel padanya.
Edward terdiam sejenak, jemari tangannya terangkat meraba pipi Rachel."Tetaplah jadi pelayanku. Tetap seperti ini bersamaku."
Rachel mengangguk, anak berwajah biasa-biasa saja yang menikmati coklat mahal dengan lahap. Sesekali menyuapi Edward.
"Menjadi peliharaan antagonis memang menyenangkan!" itulah yang ada dalam fikiran Rachel. Bagaikan melupakan saat sulitnya bersama Edward. Bagaikan tinta yang dituangkan lebih banyak air, hingga meluap. Perlahan tinta hitam itu akan menghilang.
*
Seperti biasanya setelah mengganti seragam sekolah Rachel mengerjakan pekerjaan rumah. Meskipun Edward tidak mengijinkannya, tapi dirinya adalah lintah, bukan majikan. Itulah yang ada di fikiran Rachel berusaha sadar diri.
Mengepel di bagian teras, menggunakan mesin pemotong rumput. Terakhir menyiram tanaman.
Kala itulah ini dimulai. Apanya yang dimulai? Kesadaran semua pelayan terbuka tentang akan jadi apa Rachel di masa mendatang.
Kala itu, sang anak berusia 8 tahun menegang selang air. Menyiram di tempat yang tidak terjangkau alat penyiram otomatis.
"Rachel! Tidak seharusnya kamu melakukan ini. Ayo kita bermain, atau hanya bermalas-malasan di kamar." Ucap Edward pada satu-satunya teman bicaranya di tempat ini.
Rachel menggeleng."Menyiram itu menyenangkan."
Sedangkan Edward menghela napas kasar. Berjalan beberapa langkah, kemudian menginjak selang. Seketika air mati, kala itu refleks Rachel menatap sisi dalam selang. Bersamaan dengan Edward yang mengangkat kakinya.
Byur!
Wajah Rachel dibasahi air, tawa anak laki-laki itu terdengar.
"Dengan kekuatan bulan! Aku menghukummu!" teriak Rachel menirukan tokoh animasi. Berlari mengejar Edward.
Edward malah tertawa semakin kencang tanpa dosa. Rumput yang basah, berlarian di tengah matahari sore yang tidak begitu panas.
Kala itulah hal tersebut terjadi, sebuah kecelakaan dimana Rachel terpeleset. Edward berusaha menahannya agar tidak terjatuh. Walaupun pada akhirnya keduanya ikut terjatuh.
Bibir merah sedikit bersentuhan. Dengan cepat Edward segera bangkit dari tubuh Rachel. Kemudian menangis."Aku menghamili Rachel!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Jarmini Wijayanti
🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣aku menghamili Rachel
2024-07-09
0
Bzaa
wkwkkw
2024-06-18
0
Ran Aulia
😂😂😂😂
2024-01-14
0