Bab 4. Protect

...Langit senja, begitulah buruknya diriku. Tenggelam dalam pelukanmu. Menutup mataku yang lelah....

...Walaupun hanya sejenak. Karena bintang dapat membuatmu tersenyum lebih dariku....

Edward.

Darimana perasaan melindungi ini tumbuh? Seekor monster yang tidak memiliki hati? Bukankah itu Edward?

Beberapa bulan lalu.

"Di sini lagi." Gumamnya kala terbangun, menatap area sekitarnya. Ini adalah gudang, tidak peduli berapa kali dirinya menjerit, menangis, dan mengetuk pintu. Mereka tidak akan membukanya.

Anak haram? Adakah anak haram itu? Bukankah semua anak lahir dengan berkat dari Tuhan? Entahlah, dirinya mulai tidak percaya Tuhan itu ada. Sejak balita dirinya tinggal dengan paman, bibi, serta sepupunya. Ayahnya terlalu sibuk dengan bisnisnya. Mengijinkan saudara dari almarhum ibu Edward tinggal, dengan dalih menjaga keponakan mereka yang malang.

Dirinya lahir di luar nikah. Entah apa alasannya ibunya pergi dari kehidupan ayahnya, kemudian meninggal saat melahirkan. Barulah ayahnya muncul menjemputnya setelah melakukan tes DNA, setidaknya itu yang dikatakan orang-orang.

Sudah terbiasa dikurung di gudang. Tanpa makanan yang cukup. Dirinya tidak mungkin dapat menyimpan makanan di tempat ini. Hanya ada air dari saluran pipa yang bocor.

Anak berusia 10 tahun yang sengaja menyimpan korek api dalam sakunya. Menggeledah mengambil cutter.

Ini hari kedua dirinya dikurung tanpa makanan. Entah apa maksud mereka? Membuatnya tunduk dan sadar diri sebagai anak haram yang membunuh ibunya sendiri di hari kelahirannya.

Entahlah.

Cit!

Cit!

Srak!

Tag!

Dirinya menangkap seekor tikus. Tidak ada makanan di tempat ini. Tubuhnya masih terasa sakit, menyayat tubuh tikus itu. Membuang yang tidak dapat dimakan. Kemudian membakar di atas beberapa kertas.

Ini menjijikkan? Benar-benar menjijikkan bukan? Tapi lambungnya begitu perih. Hanya karena menghubungi ayahnya menginginkannya untuk cepat pulang. Tapi ayahnya tidak pulang, malah hukuman ini kembali didapatkannya.

Anak haram tidak tahu diri! Membunuh ibunya sendiri. Itulah yang mereka ucapkan.

Hingga, kala dirinya hendak memakan tubuh tikus yang telah dipanggangnya. Suara itu terdengar dari jendela yang tertutup tralis.

"Sttt...Sttt..." Anak pelayan yang biasanya menatap datar dan ketakutan kala dirinya dipukuli, kini datang dengan raut wajah berbeda. Prilaku yang berbeda pula."Tuan muda! Jangan makan itu!" ucap anak itu cepat, bagaikan menahan rasa mualnya.

"Apa pedulimu..." Edward hendak memakannya. Tapi dari jendela tralis itu sang anak melemparkan sebungkus roti tawar keras yang berharga murah.

"Jangan dimakan! Bagaimana jika anda sakit! Jika anda sakit maka saya akan mati!" Gumam anak berusia 8 tahun yang tiba-tiba bertingkah aneh itu.

Edward tetap diam, menelan ludah kasar. Benar! Jika dibandingkan dengan tikus panggang ini, roti keras ini lebih menggoda. Tapi.

"Makan saja! Saya akan datang lagi! Dan ini!" Anak itu melemparkan sebungkus plastik."Masukkan mayat tikusnya ke dalam tempat sampah. Dalam 24 jam sisa darah dan kulit akan mengeluarkan bau tidak sedap. Saya tidak tahu kapan nyonya gila itu akan mengeluarkan anda. Tapi tetap semangat dan cerialah!"

Edward menatap aneh tidak menyahut sama sekali. Tapi entah kenapa dirinya menurut, memasukkan bangkai tikus ke dalam plastik, kemudian memberikan pada anak perempuan yang lebih muda darinya itu.

Anak itu berlari pergi, memegang plastik dengan ekspresi wajah jijik. Sedangkan Edward memakan roti setelah mencuci tangannya dengan air dari pipa yang sedikit bocor.

Tidak berharap anak itu kembali. Tapi anehnya kala sore menjelang anak itu diam-diam kembali lagi. Kali ini membawa sisa makanan yang mungkin dicurinya.

"Sttt...Sttt... Tuan muda. Makan yang banyak ya?" Senyuman menyungging di bibir anak perempuan dengan gigi ompong itu.

Bagaikan sihir, dirinya menurut kembali makan. Bahkan keajaiban terjadi, setetes air matanya mengalir, setelah sekian tahun mati rasa. Apa ini sebenarnya? Kenapa dirinya menangis?

"Tidak perlu di tahan. Jika ada masalah, katakan padaku, tuan muda dapat menangis dan mengumpat padaku." Ucap anak itu cepat bagaikan burung berkicau.

Senyuman menyungging di wajahnya."Terimakasih..." untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun kata itu terucap.

Edward menangis sesenggukan. Sedangkan sang anak hanya terdiam di balik jendela. Tidak memberikan selimut atau apapun, tidak ingin dirinya ketahuan membantu Edward.

Suara nyanyian yang merdu terdengar. Sebuah lagu karangan yang indah. Anak laki-laki berusia 10 tahun itu pada akhirnya meringkuk di lantai.

Merasakan cahaya bulan yang masuk. Lagu tenang damai, bagaikan seseorang yang tinggal di kutub Utara, untuk pertama kalinya menemukan cahaya lilin yang hangat.

Bulan akan memeluk tubuhmu.

Matahari menyambut senyummu.

Berjalan di tengah padang pasir seorang diri.

Hingga kita bertemu kembali. Bagaikan alunan angin yang indah.

Terjebak dalam oase, ingin bersamamu dalam mimpi.

Satu kata yang akan terucap. Aku mencintaimu.

Anak berusia 8 tahun dapat mengarang lagu? Sesuatu yang aneh. Tapi anak berusia 10 tahun itu terlihat terlalu lelah untuk membuka matanya. Lelah secara mental dan fisik.

Mengapa semua orang menyalahkannya? Wilmar berkata dirinya harus bertanggung jawab atas kematian ibunya. Ayahnya tidak pernah peduli padanya, mungil juga sama menyalahkan dirinya. Satu kesimpulan yang ditarik, kelahiran merupakan sebuah dosa. Dosa karena kelahiran itu membuat nyawa ibunya melayang.

"Aku tidak bersalah..." gumam Edward dengan mata tertutup.

"Saya tau, anda adalah orang yang berharga bagi saya..." Kalimat yang membuat Edward merasa damai. Memejamkan matanya terlelap dalam mimpinya.

Jika difikirkan sekali lagi, dari saat itu segalanya dimulai. Rachel yang selalu melindungi dirinya. Rachel yang selalu menarik sudut bibirnya agar dirinya tersenyum. Apa ini perasaan terlihat berharga bagi orang lain?

Kembali pada saat ini, peluit itu kembali disimpannya. Ceceran darah masih terlihat di taman, bekas Tamtam diserang oleh anj*ng tetangga secara beringas.

Entah mengapa dirinya tersenyum, tidak jijik atau pun merasa iba. Tamtam pantas mendapatkannya, lain kali jika mencoba melukai Rachel lagi. Entah hukuman apa yang cocok. Melangkah masuk ke dalam kamarnya, terdiam tanpa ekspresi. Membaca lebih banyak buku lagi.

Ada kalanya dirinya berfikir, apa tujuan hidupnya? Merebut kasih sayang ayahnya? Melakukan yang terbaik hingga sang bibi dan keluarga mereka tidak membencinya?

Tidak itu bukan tujuannya. Tujuannya adalah...

Brak!

"Edward! Kamu sudah dengar belum Tamtam diserang anj*ng tetangga? Lain kali kamu harus berhati-hati jika keluar dari rumah. Bagaimana jika itu anj*ng rabies? Berarti di lingkungan kita sudah ada penularan. Jangan keluar rumah, kecuali untuk keperluan sekolah! A...aku akan menyiapkan segalanya jika terjadi apa-apa!" Ucap Rachel antusias, ini adalah tambang emasnya. Dirinya entah kenapa bisa terjebak di dunia ini. Karena itu harus menjadi lintah yang menempel di kaki antagonis. Hingga dirinya dewasa. Mungkin itulah yang ada dalam fikiran Rachel begitu cemas.

Tapi tidak dengan Edward, anak laki-laki itu hanya tersenyum. Memeluk tubuhnya erat."Aku akan melindungimu, bagaimana pun caranya. Termasuk jika harus membunuh anj*ng-anj*ng itu..."

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

Edward sadis

2024-06-18

0

kaname senpai

kaname senpai

sampai sini dalam diri erdward udah tumbuh jiwa psikopatnya

2024-03-12

0

Bambang Setyo

Bambang Setyo

Waahhhh.. Semoga edward beneran bisa jadi baik ya...

2023-10-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Menjadi Pelayan Antagonis
2 Bab 2. Ucapkan Jangan Dipendam
3 Bab 3. Blood
4 Bab 4. Protect
5 Bab 5. Rapuh
6 Bab 6. Ayah
7 Bab 7. Bencilah
8 Bab 8. Tidur Seranjang
9 Bab 9. Fake
10 Bab 10. Saudara
11 Bab 11. Family Time
12 Bab 12. Menyalahkan Diri
13 Bab 13. Tempat Pemeran Utama
14 Bab 14. Permen
15 Bab 15. Teman Baru
16 Bab 16. Ibu
17 Bab 17. Jangan Mencium Bibir Anak Perempuan
18 Bab 18. Trik
19 Bab 19. Salah Bicara
20 Bab 20. Aku Adalah Rachel Asli
21 Bab 21. Bertemu
22 Bab 22. Tugas
23 Bab 23. Ekspektasi
24 Bab 24. Orang Miskin
25 Bab 25. Alfred Russel
26 Bab 26. Mencari Di Tumpukan Jerami
27 Bab 27. Jin Aladin
28 Bab 28. Tidak Seharusnya
29 Bab 29. Kawin Lari
30 Bab 30. Pipis Di Celana
31 Bab 31. Cinta Abadi
32 Bab 32. Kok Bisa?
33 Bab 33. Jembatan
34 Bab 34. Blood
35 Bab 35. Noda
36 Bab 36. Kedua
37 Bab 37. Jika Aku
38 Bab 38. Belajar Dengan Adikku
39 Bab 39. Hidden Story
40 Bab 40. Pelaku
41 Bab 41. Hanya Rindu
42 Bab 42. Konyol
43 Bab 43. Sengketa
44 Bab 44. Desas-desus
45 Bab 45. Merindukanmu
46 Bab 46. Menjadi Paman
47 Bab 47. Memiliki
48 Bab 48. Taruhan
49 Bab 49. Lose
50 Bab 50. Adikku Yang Cantik
51 Bab 51. Date
52 Bab 52. Protagonis Wanita
53 Bab 53. Pernah Bahagia
54 Bab 54. Kenangan
55 Bab 55. Sebab
56 Bab 56. Delusi
57 Bab 57. Ibu Mertua Pemilih
58 Bab 58. Hak Milik
59 Bab 59. Seorang Kakak
60 Bab 60. Butler
61 Bab 61. Akhir
62 Bab 62. Time Line 1. Bagian 1
63 Bab 63. Time Line 1. Bagian 2
64 Bab 64. Time Line 1. Bagian 3
65 Bab 65. Time Line 1. Bagian 4
66 Bab 66. Aku Mencintaimu
67 Bab 67. Menyimpang
68 Bab 68. Akan Merindukanmu
69 Bab 69. Mencari Cara
70 Bab 70. Choco Lava
71 Bab 71. Tangkap!
72 Bab 72. One Night
73 Bab 73. Hoax
74 Bab 74. Liar
75 Bab 75. Belum Dapat
76 Bab 76. Terbalik
77 Bab 77. Kembali
78 Bab 78. Angin
79 Bab 79. Tidak Romantis
80 Bab 80. Arti
81 Bab 81. Villain
82 Bab 82. Hujan
83 Bab 83. Nasehat
84 Bab 84. Tidak Sesuai
85 Bab 85. Strawberry Cake
86 Bab 86. Kecurigaan
87 Bab 87. Sepotong Kue
88 Bab 88. Serakah
89 Bab 89. Time Line 1. Bagian 5
90 Bab 90. Time line 1. Bagian 6
91 Bab 91. Box
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Bab 1. Menjadi Pelayan Antagonis
2
Bab 2. Ucapkan Jangan Dipendam
3
Bab 3. Blood
4
Bab 4. Protect
5
Bab 5. Rapuh
6
Bab 6. Ayah
7
Bab 7. Bencilah
8
Bab 8. Tidur Seranjang
9
Bab 9. Fake
10
Bab 10. Saudara
11
Bab 11. Family Time
12
Bab 12. Menyalahkan Diri
13
Bab 13. Tempat Pemeran Utama
14
Bab 14. Permen
15
Bab 15. Teman Baru
16
Bab 16. Ibu
17
Bab 17. Jangan Mencium Bibir Anak Perempuan
18
Bab 18. Trik
19
Bab 19. Salah Bicara
20
Bab 20. Aku Adalah Rachel Asli
21
Bab 21. Bertemu
22
Bab 22. Tugas
23
Bab 23. Ekspektasi
24
Bab 24. Orang Miskin
25
Bab 25. Alfred Russel
26
Bab 26. Mencari Di Tumpukan Jerami
27
Bab 27. Jin Aladin
28
Bab 28. Tidak Seharusnya
29
Bab 29. Kawin Lari
30
Bab 30. Pipis Di Celana
31
Bab 31. Cinta Abadi
32
Bab 32. Kok Bisa?
33
Bab 33. Jembatan
34
Bab 34. Blood
35
Bab 35. Noda
36
Bab 36. Kedua
37
Bab 37. Jika Aku
38
Bab 38. Belajar Dengan Adikku
39
Bab 39. Hidden Story
40
Bab 40. Pelaku
41
Bab 41. Hanya Rindu
42
Bab 42. Konyol
43
Bab 43. Sengketa
44
Bab 44. Desas-desus
45
Bab 45. Merindukanmu
46
Bab 46. Menjadi Paman
47
Bab 47. Memiliki
48
Bab 48. Taruhan
49
Bab 49. Lose
50
Bab 50. Adikku Yang Cantik
51
Bab 51. Date
52
Bab 52. Protagonis Wanita
53
Bab 53. Pernah Bahagia
54
Bab 54. Kenangan
55
Bab 55. Sebab
56
Bab 56. Delusi
57
Bab 57. Ibu Mertua Pemilih
58
Bab 58. Hak Milik
59
Bab 59. Seorang Kakak
60
Bab 60. Butler
61
Bab 61. Akhir
62
Bab 62. Time Line 1. Bagian 1
63
Bab 63. Time Line 1. Bagian 2
64
Bab 64. Time Line 1. Bagian 3
65
Bab 65. Time Line 1. Bagian 4
66
Bab 66. Aku Mencintaimu
67
Bab 67. Menyimpang
68
Bab 68. Akan Merindukanmu
69
Bab 69. Mencari Cara
70
Bab 70. Choco Lava
71
Bab 71. Tangkap!
72
Bab 72. One Night
73
Bab 73. Hoax
74
Bab 74. Liar
75
Bab 75. Belum Dapat
76
Bab 76. Terbalik
77
Bab 77. Kembali
78
Bab 78. Angin
79
Bab 79. Tidak Romantis
80
Bab 80. Arti
81
Bab 81. Villain
82
Bab 82. Hujan
83
Bab 83. Nasehat
84
Bab 84. Tidak Sesuai
85
Bab 85. Strawberry Cake
86
Bab 86. Kecurigaan
87
Bab 87. Sepotong Kue
88
Bab 88. Serakah
89
Bab 89. Time Line 1. Bagian 5
90
Bab 90. Time line 1. Bagian 6
91
Bab 91. Box

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!