...Langit senja, begitulah buruknya diriku. Tenggelam dalam pelukanmu. Menutup mataku yang lelah....
...Walaupun hanya sejenak. Karena bintang dapat membuatmu tersenyum lebih dariku....
Edward.
Darimana perasaan melindungi ini tumbuh? Seekor monster yang tidak memiliki hati? Bukankah itu Edward?
Beberapa bulan lalu.
"Di sini lagi." Gumamnya kala terbangun, menatap area sekitarnya. Ini adalah gudang, tidak peduli berapa kali dirinya menjerit, menangis, dan mengetuk pintu. Mereka tidak akan membukanya.
Anak haram? Adakah anak haram itu? Bukankah semua anak lahir dengan berkat dari Tuhan? Entahlah, dirinya mulai tidak percaya Tuhan itu ada. Sejak balita dirinya tinggal dengan paman, bibi, serta sepupunya. Ayahnya terlalu sibuk dengan bisnisnya. Mengijinkan saudara dari almarhum ibu Edward tinggal, dengan dalih menjaga keponakan mereka yang malang.
Dirinya lahir di luar nikah. Entah apa alasannya ibunya pergi dari kehidupan ayahnya, kemudian meninggal saat melahirkan. Barulah ayahnya muncul menjemputnya setelah melakukan tes DNA, setidaknya itu yang dikatakan orang-orang.
Sudah terbiasa dikurung di gudang. Tanpa makanan yang cukup. Dirinya tidak mungkin dapat menyimpan makanan di tempat ini. Hanya ada air dari saluran pipa yang bocor.
Anak berusia 10 tahun yang sengaja menyimpan korek api dalam sakunya. Menggeledah mengambil cutter.
Ini hari kedua dirinya dikurung tanpa makanan. Entah apa maksud mereka? Membuatnya tunduk dan sadar diri sebagai anak haram yang membunuh ibunya sendiri di hari kelahirannya.
Entahlah.
Cit!
Cit!
Srak!
Tag!
Dirinya menangkap seekor tikus. Tidak ada makanan di tempat ini. Tubuhnya masih terasa sakit, menyayat tubuh tikus itu. Membuang yang tidak dapat dimakan. Kemudian membakar di atas beberapa kertas.
Ini menjijikkan? Benar-benar menjijikkan bukan? Tapi lambungnya begitu perih. Hanya karena menghubungi ayahnya menginginkannya untuk cepat pulang. Tapi ayahnya tidak pulang, malah hukuman ini kembali didapatkannya.
Anak haram tidak tahu diri! Membunuh ibunya sendiri. Itulah yang mereka ucapkan.
Hingga, kala dirinya hendak memakan tubuh tikus yang telah dipanggangnya. Suara itu terdengar dari jendela yang tertutup tralis.
"Sttt...Sttt..." Anak pelayan yang biasanya menatap datar dan ketakutan kala dirinya dipukuli, kini datang dengan raut wajah berbeda. Prilaku yang berbeda pula."Tuan muda! Jangan makan itu!" ucap anak itu cepat, bagaikan menahan rasa mualnya.
"Apa pedulimu..." Edward hendak memakannya. Tapi dari jendela tralis itu sang anak melemparkan sebungkus roti tawar keras yang berharga murah.
"Jangan dimakan! Bagaimana jika anda sakit! Jika anda sakit maka saya akan mati!" Gumam anak berusia 8 tahun yang tiba-tiba bertingkah aneh itu.
Edward tetap diam, menelan ludah kasar. Benar! Jika dibandingkan dengan tikus panggang ini, roti keras ini lebih menggoda. Tapi.
"Makan saja! Saya akan datang lagi! Dan ini!" Anak itu melemparkan sebungkus plastik."Masukkan mayat tikusnya ke dalam tempat sampah. Dalam 24 jam sisa darah dan kulit akan mengeluarkan bau tidak sedap. Saya tidak tahu kapan nyonya gila itu akan mengeluarkan anda. Tapi tetap semangat dan cerialah!"
Edward menatap aneh tidak menyahut sama sekali. Tapi entah kenapa dirinya menurut, memasukkan bangkai tikus ke dalam plastik, kemudian memberikan pada anak perempuan yang lebih muda darinya itu.
Anak itu berlari pergi, memegang plastik dengan ekspresi wajah jijik. Sedangkan Edward memakan roti setelah mencuci tangannya dengan air dari pipa yang sedikit bocor.
Tidak berharap anak itu kembali. Tapi anehnya kala sore menjelang anak itu diam-diam kembali lagi. Kali ini membawa sisa makanan yang mungkin dicurinya.
"Sttt...Sttt... Tuan muda. Makan yang banyak ya?" Senyuman menyungging di bibir anak perempuan dengan gigi ompong itu.
Bagaikan sihir, dirinya menurut kembali makan. Bahkan keajaiban terjadi, setetes air matanya mengalir, setelah sekian tahun mati rasa. Apa ini sebenarnya? Kenapa dirinya menangis?
"Tidak perlu di tahan. Jika ada masalah, katakan padaku, tuan muda dapat menangis dan mengumpat padaku." Ucap anak itu cepat bagaikan burung berkicau.
Senyuman menyungging di wajahnya."Terimakasih..." untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun kata itu terucap.
Edward menangis sesenggukan. Sedangkan sang anak hanya terdiam di balik jendela. Tidak memberikan selimut atau apapun, tidak ingin dirinya ketahuan membantu Edward.
Suara nyanyian yang merdu terdengar. Sebuah lagu karangan yang indah. Anak laki-laki berusia 10 tahun itu pada akhirnya meringkuk di lantai.
Merasakan cahaya bulan yang masuk. Lagu tenang damai, bagaikan seseorang yang tinggal di kutub Utara, untuk pertama kalinya menemukan cahaya lilin yang hangat.
Bulan akan memeluk tubuhmu.
Matahari menyambut senyummu.
Berjalan di tengah padang pasir seorang diri.
Hingga kita bertemu kembali. Bagaikan alunan angin yang indah.
Terjebak dalam oase, ingin bersamamu dalam mimpi.
Satu kata yang akan terucap. Aku mencintaimu.
Anak berusia 8 tahun dapat mengarang lagu? Sesuatu yang aneh. Tapi anak berusia 10 tahun itu terlihat terlalu lelah untuk membuka matanya. Lelah secara mental dan fisik.
Mengapa semua orang menyalahkannya? Wilmar berkata dirinya harus bertanggung jawab atas kematian ibunya. Ayahnya tidak pernah peduli padanya, mungil juga sama menyalahkan dirinya. Satu kesimpulan yang ditarik, kelahiran merupakan sebuah dosa. Dosa karena kelahiran itu membuat nyawa ibunya melayang.
"Aku tidak bersalah..." gumam Edward dengan mata tertutup.
"Saya tau, anda adalah orang yang berharga bagi saya..." Kalimat yang membuat Edward merasa damai. Memejamkan matanya terlelap dalam mimpinya.
Jika difikirkan sekali lagi, dari saat itu segalanya dimulai. Rachel yang selalu melindungi dirinya. Rachel yang selalu menarik sudut bibirnya agar dirinya tersenyum. Apa ini perasaan terlihat berharga bagi orang lain?
Kembali pada saat ini, peluit itu kembali disimpannya. Ceceran darah masih terlihat di taman, bekas Tamtam diserang oleh anj*ng tetangga secara beringas.
Entah mengapa dirinya tersenyum, tidak jijik atau pun merasa iba. Tamtam pantas mendapatkannya, lain kali jika mencoba melukai Rachel lagi. Entah hukuman apa yang cocok. Melangkah masuk ke dalam kamarnya, terdiam tanpa ekspresi. Membaca lebih banyak buku lagi.
Ada kalanya dirinya berfikir, apa tujuan hidupnya? Merebut kasih sayang ayahnya? Melakukan yang terbaik hingga sang bibi dan keluarga mereka tidak membencinya?
Tidak itu bukan tujuannya. Tujuannya adalah...
Brak!
"Edward! Kamu sudah dengar belum Tamtam diserang anj*ng tetangga? Lain kali kamu harus berhati-hati jika keluar dari rumah. Bagaimana jika itu anj*ng rabies? Berarti di lingkungan kita sudah ada penularan. Jangan keluar rumah, kecuali untuk keperluan sekolah! A...aku akan menyiapkan segalanya jika terjadi apa-apa!" Ucap Rachel antusias, ini adalah tambang emasnya. Dirinya entah kenapa bisa terjebak di dunia ini. Karena itu harus menjadi lintah yang menempel di kaki antagonis. Hingga dirinya dewasa. Mungkin itulah yang ada dalam fikiran Rachel begitu cemas.
Tapi tidak dengan Edward, anak laki-laki itu hanya tersenyum. Memeluk tubuhnya erat."Aku akan melindungimu, bagaimana pun caranya. Termasuk jika harus membunuh anj*ng-anj*ng itu..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Bzaa
Edward sadis
2024-06-18
0
kaname senpai
sampai sini dalam diri erdward udah tumbuh jiwa psikopatnya
2024-03-12
0
Bambang Setyo
Waahhhh.. Semoga edward beneran bisa jadi baik ya...
2023-10-20
0