Dimana ada gula, disanalah semut berada. Itu sebuah ketentuan pasti. Seperti malam ini.
Tokoh yang tidak pernah muncul sedikitpun dalam karya novel asli terlihat. Seorang wanita dewasa yang tengah merias dirinya dengan makeup terkesan natural. Dirinya menghela napas kasar.
Pakaian yang dikenakan menyerupai almarhum Angelic. Bahkan gaya rambutnya sekalipun. Flint yang memang lebih sering berada di luar daerah atau luar negeri kini sudah sebulan tinggal di kediamannya. Tentu kesempatan ini tidak akan disia-siakan para wanita yang mengincar pemuda itu.
"Harus lembut, dan terkesan baik. Menurut informasi Flint mempunyai anak laki-laki yang tidak disayanginya. Jadi tidak perlu menunjukkan sosok keibuan." Wanita yang menatap penuh percaya diri memasuki rumah tersebut.
Siapa yang tidak kenal dengan Felina, sosialita kelas atas berusia 29 tahun? Banyak pengusaha yang mengejarnya, tapi tidak ada satupun yang menarik hatinya.
Memasuki rumah penuh rasa percaya diri. Hingga seorang pelayan menghentikannya."Selamat malam, ingin mencari siapa ya?" tanyanya.
"Flint, aku adalah salah satu kenalannya. Bilang saja namaku Felina." Jawaban dari wanita itu.
*
Sedangkan seperti biasanya suasana di ruang makan diwarnai keheningan. Kala makanan pembuka baru saja disajikan.
"Edward, tentang Rachel menjadi adi---" Kalimat Flint dipotong.
"Sudah aku bilang aku tidak setuju." Sang anak menatap tajam padanya. Tentu saja sang ayah bucin anak hanya dapat menunduk.
Sedangkan Rachel hanya menghela napas. Dirinya tidak boleh terlibat dengan konflik keluarga. Bukankah lebih baik makan dengan tenang kali ini?
Hingga butler (panggilan untuk kepala pelayan) mendatangi mereka. Sedikit berbisik pada Flint. Kalimat yang sejatinya kedua anak itu masih dapat dengar.
"Seorang perempuan bernama Felina ingin menemui anda." Ucap butler, menunduk.
"Usir saja! Aku tidak begitu mengenalnya. Ini Quality time untuk keluarga." Jawaban dari sang ayah yang beberapa bulan alu masih berdebar-debar ketakutan setiap bertemu dengan putranya. Menyangka putranya membencinya karena menjadi penyebab kematian Angelic.
"Suruh masuk! Agar dapat menjadi teman bicara untuk ayah!" Perintah dingin dari Edward. Dirinya ingin ayahnya berhenti membicarakan Rachel yang akan menjadi adiknya.
Flint memijit pelipisnya sendiri, meskipun tidak nyaman ini adalah perintah mutlak putranya."Suruh masuk."
Butler yang masih berusia muda itu, melangkah mundur. Kemudian berjalan menuju ruang tamu.
Felina terlihat disana, duduk di sofa, berpura-pura menjadi sosok paling manis di dunia. Dirinya hanya tinggal meniru sosok Angelic maka Flint akan didapatkannya. Rencana yang mudah bukan?
Sang butler menunduk."Mari ikuti saya..." ucapnya.
Berjalan melangkah masuk lebih dalam. Menghela napas kasar, bahkan kepala pelayannya saja memakai pakaian resmi dilengkapi dengan sarung tangan putih dan jam saku. Benar-benar selera klasik, inilah kediaman konglomerat sejati.
Beberapa pelayan yang berpapasan dengan butler menundukkan kepala mereka sejenak, tempat ini bagaikan ada dalam film-film.
Dapat dibayangkan bagaimana dirinya setelah menjadi nyonya rumah. Menikah dengan Flint yang rupawan dan kompeten, memiliki anak dengannya. Anak yang akan mewarisi semua yang ada di tempat ini.
Matanya sedikit melirik ke arah cermin, penampilannya benar-benar menyerupai Angelic dalam foto.
Menghela napas kasar kala pintu ruangan yang cukup besar itu dibuka. Flint duduk disana, tengah menikmati makanannya. Pria berkacamata, memiliki rambut putih panjang, khas keturunan keluarga Snowden, setelan kemeja dengan celana panjang. Dirinya menelan ludah, bahkan selebriti tidak akan terlihat setampan ini.
Dua orang anak lain terlihat di sana, duduk bersampingan di sebelah kiri Flint. Sementara kursi sebelah kanannya kosong.
Bergerak cepat, sedikit menunduk."Flint, apa kamu mengingatku aku Felina," ucapnya.
Tidak menjawab, hanya satu kata yang keluar dari mulutnya."Duduklah."
Felina segera duduk di sebelah kanan Flint. Lebih tepatnya duduk berhadapan dengan kedua anak yang makan dengan tenang itu.
Rambut putih, bahkan pupil mata memiliki warna yang sedikit unik. Ini sudah pasti, putra Angelic, Edward yang menyebabkan kematian ibunya sendiri. Seberapa bencinya Flint? Sudah pasti jika bukan satu-satunya pewarisnya, anak itu mungkin sudah dihabisi.
Tapi siapa anak perempuan yang ada disampingnya?
"Kamu Edward kan? Apa itu temanmu? Anak politikus atau pengusaha yang kebetulan nenginap?" tanyanya, membuat Edward menoleh pada wanita ini.
"A...aku anak pelayan." Ucap Rachel.
"Anak pelayan? Tolong ambilkan aku air es. Satu lagi, bereskan makananmu, harus taat aturan. Pelayan makan di belakang. Jangan cuma karena kamu anak-anak tapi tidak tau aturan." Kalimat demi kalimat, ingin mencari perhatian Flint. Menunjukkan dirinya pandai mengatur urusan rumah tangga keluarga kaya.
Matanya sedikit melirik, namun kening Flint malah terlihat berkerut.
"Flint pasti pusing tentang masalah anak pelayan yang tidak dapat diatur ini. Dasar! Anak dekil tidak tahu diri. Tapi aku tidak boleh kasar, harus menunjukkan citra wanita elegan yang lemah lembut." Batinnya, sudah bertekad untuk mendapatkan pria idaman tersebut.
Edward terlihat hendak bangkit. Namun Rachel melarangnya."Aku juga mau mengambil minuman di dapur. Aku ingin soda..." alasannya, berjalan meninggalkan meja makan.
"Edward lain kali, usahakan jangan bergaul dengan kalangan bawah. Mereka tidak berguna, hanya bisa menyusahkan tanpa bisa dimintai bantuan." Setiap kalimat yang diucapkan Felina membuat butler dan beberapa pelayan merinding.
"Orang ini cari mati!"
Batin mereka semua, mengingat betapa disayanginya Rachel dari hari pertama mereka bekerja sebulan lalu. Kala rumah ini membuka lowongan setelah memecat seluruh pelayannya.
"Oh... Iya Flint..." Wanita yang menyelipkan anak rambutnya berusaha tersenyum sok manis."Apapun yang kamu kenakan kamu terlihat tampan." Pujiannya.
Flint tidak menanggapi, menahan dirinya agar tidak tersulut emosi. Tetap makan dengan tenang tidak ingin menunjukkan lebih banyak adegan kekerasan dan kata-kata kasar pada putranya yang malang.
"Flint, sebenarnya aku punya usul, aku yakin Edward pasti benar-benar pintar. Kenapa tidak mengirimnya sekolah asrama di Singapura saja. Ada sekolah elite dengan lebih banyak kalangan atas disana." Usulan darinya, ini merupakan satu tepuk dua nyamuk tewas. Flint yang membenci Edward tidak akan melihat putranya lagi selama beberapa periode, perhatian Flint hanya akan tertuju padanya yang memiliki usulan cerdas.
"Kenapa aku harus tinggal di asrama? Itu tempat yang jauh dari Rachel." Edward meletakkan garpunya dengan kasar.
"Tentu saja agar kamu lebih berkembang sayang..." Kalimat demi kalimat manis dari mulutnya.
Srak!
Prang!
Suara pecahan kaca terdengar, Rachel tersandung. Tubuhnya terjatuh di lantai, tidak sengaja menjatuhkan gelas minuman.
"Rachel!" Edward hendak bangkit.
Tapi Felina yang berada di dekat sana menghampiri terlebih dahulu."Namamu Rachel kan?"
Rachel hendak bangkit, namun Felina menahannya."Ayah dan ibumu dimana?" tanyanya.
"Ayah meninggal, ibu.... tidak tau." Jawaban jujur dari Rachel.
"Besok akan aku antar kamu ke panti asuhan." Kalimat penuh senyuman, membuat Rachel tertegun.
"Wanita sialan! Mau kamu bawa kemana putriku!?" Kalimat dari Flint.
"Penyihir! Kamu mau membawa istriku ke panti asuhan!?" Ucap Edward bersamaan dengan Flint.
Seketika semua orang menoleh pada Edward. Dirinya salah bicara, karena terlalu memikirkan strategi sebelumnya yang gagal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
who am I
apa benar ada wanita yang mutlak sebodoh felina 🧐😅
2024-08-30
0
Jarmini Wijayanti
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭istriku keceplosan
2024-07-09
0
Ran Aulia
🤣🤣🤣🤣🤣 keceplosan ya Ed
2024-01-14
0