...Jika kamu adalah makanan, maka kamu adalah sepotong roti hangat....
...Begitu ringan, tidak manis seperti gula-gula. Namun, membuatku merindukan aromanya....
...Kala tangan kecil ini, memegang kehangatanmu. Kala itulah aku ingin menghentikan waktu, tidak ingin tubuhmu menjadi dingin, tidak ingin Tuhan mengambil mu dari sisiku....
Edward.
"Tapi jika mereka melukaimu lagi---" Kalimat Edward disela.
"Sial anak ini belum menyerah menjadi psikopat juga!" Batin Rachel berusaha tersenyum.
Namun, anak perempuan itu kembali memeluk Edward erat."Yang harus kita lakukan, kabur dari tempat ini. Pergi ke kantor polisi, kemudian menghubungi tuan besar (ayah Edward)."
"A... ayah? Dia membenciku, karena kelahiranku menyebabkan ibu meninggal." Jawaban darinya terbata-bata.
Rachel menghela napas kasar mengingat isi novel aslinya. Psikopat yang jahat, Edward membunuh ayahnya sendiri dalam karya aslinya, hanya demi memperebutkan status dan kekuasaan untuk Alira (pemeran utama wanita). Kata-kata terakhir dari sang ayah, pria yang hanya tersenyum mengatakan mencintai putranya, untuk pertama dan terakhir kalinya sebelum meregang nyawa akibat tikaman.
Ini jelas ada miskomunikasi dan salah paham. Dalam artian ayah Edward sudah pasti, aslinya adalah bucin anak sejati. Buktinya setelah menghubungi ayahnya meminta mobil baru untuk antar jemput, sebelum tiga hari mobil itu sudah datang.
Rachel menghela napas kasar, mengeratkan pelukannya pada Edward."Menangislah! Tapi kamu tau? Mungkin saja keajaiban terjadi, mungkin saja setelah kembali, ayahmu akan mencintaimu."
Edward mencengkeram erat punggung pakaian Rachel. Apa dirinya harus percaya?
Sedangkan Rachel hanya menepuk punggung Edward pelan. Terkadang mengatakan hal yang ajaib pada anak kecil itu dapat lebih meyakinkan daripada mengatakan hal logis.
Darah terus mengalir dari lengan Rachel yang terluka, akibat gunting yang sempat menancap.
"Edward demi aku, jangan membunuh atau melakukan hal yang berbahaya. Kamu hanya harus melarikan diri. Pergi ke kantor polisi, hubungi ayahmu. I...ini nomornya! I... ingat aku akan tetap disini. Tunggu di kantor polisi hingga ayahmu datang. Agar paman dan bibimu tidak dapat mengancammu." Perintah penuh senyuman dari Rachel, mengeluarkan catatan kecil berisikan nomor telepon internasional. Dirinya tidak dapat bergerak sama sekali. Jikapun dipaksakan pendarahan akan semakin banyak terjadi. Nyawanya akan melayang lebih cepat.
Tidak! Tidak boleh dirinya tidak boleh mati secepat ini. Dirinya akan hidup di dunia yang aneh ini, anggap saja ini adalah reinkarnasi. Dirinya akan menempel pada Edward seperti lintah, kemudian mempersatukannya dengan Alira. Lalu setelah dewasa nanti, hidup mandiri di tempat yang jauh, mungkin menjadi dokter di rumah sakit terkenal.
Edward mengangguk, menggenggam jemari tangan Rachel."Ka...kamu tidak boleh mati. Jika kamu mati aku akan membunuh mereka. Tunggulah aku disini, aku mohon..."
Kalimat demi kalimat yang diucapkan Edward sebelum akhirnya melarikan diri dari gudang melalui jendela tinggi yang tralisnya sudah berhasil dibuka olehnya.
Anak laki-laki itu gemetar, mencemaskan Rachel. Tapi ini satu-satunya kesempatannya. Meninggalkan rumah melalui celah tembok yang retak di halaman samping.
Air matanya tidak henti-hentinya mengalir. Menahan sakit di sekujur tubuhnya. Dalam hatinya benar-benar mencemaskan keadaan Rachel.
Ini sudah malam, tidak ada kendaraan. Dirinya berlari sekuat tenaga, napasnya tersengal-sengal. Lebih dari satu jam, hingga kantor polisi itu terlihat.
"Kamu kenapa nak, apa kamu tersesat?" tanya seorang polwan.
"Aku... tolong selamatkan Rachel. Tolong pinjamkan telepon, a...aku ingin menghubungi ayahku." Teriaknya terisak dalam napas tidak teratur.
*
Negara lain...
"Tuan, ini dari tuan muda..." Ucap Furran (sang sekretaris) setelah panggilan dimatikan.
Pria berambut putih panjang terikat itu menghela napas berkali-kali. Sembari menyesap wine dalam gelasnya.
"Kabulkan keinginannya." Perintah Flint Snowden (ayah Edward Snowden).
"Tu...tuan saya rasa kali ini anda harus menemui tuan muda secara langsung." Furran terlihat cemas.
"Kenapa? Apa dia meminta kediaman baru? I...ini bukan ulang tahunnya kan? A ...aku..." Flint yang awalnya memasang raut wajah dingin kini mulai cemas. Bagaimana harus bersikap sebagai seorang ayah? Bagaimana bisa Angelic (ibu Edward) meninggalkannya dengan makhluk rapuh yang bahkan sulit untuk disentuhnya?
"Tuan muda saat ini berada di kantor polisi. Wilmar, adik nona Angelic melakukan kekerasan terhadap tuan muda. Mungkin apa yang dikatakan pelayan bernama Rachel itu benar." Furran menghela napas berkali-kali.
Sejujurnya dirinya juga kesal, Wilmar diberikan kepercayaan untuk menjaga Edward sementara. Karena Flint terlalu canggung setiap berhadapan dengan putranya yang pendiam. Wilmar dan keluarganya dapat hidup berlimpah kemewahan, tapi berani mencelakai tuan muda (Edward)?
"Pesankan aku tiket! Tidak! Pakai jet pribadi milik Cratom (rekan bisnis Flint)! Katakan ini darurat!" Flint segera mengambil jasnya. Kesal? Tentu saja, putranya yang selalu murung dan rapuh. Bahkan dirinya saja enggan untuk bersentuhan karena takut akan menyakitinya. Tapi mereka! Berani-beraninya! Bahkan jika keluarga Angelic pun tidak akan dibiarkan hidup tenang olehnya.
*
Mengepalkan tangannya masih terisak dalam tangisan. Ayah yang dari dulu hanya pulang setahun dua kali. Bahkan jika tidak pergi untuk perjalanan bisnis, lebih memilih tinggal di villa daripada dengannya.
Ayah yang selalu memalingkan wajah, membenci dirinya. Setidaknya itulah yang dikatakan sang bibi. Ibunya yang cantik, berhati baik dan lembut mati karena dirinya. Karena melahirkannya, tidak heran Flint membencinya.
Jemari tangannya mengepal, tidak pernah ada yang peduli padanya. Jika...jika Rachel mati, maka mereka juga harus mati bukan?
Senyuman tiba-tiba menyungging di wajahnya, duduk bersama seorang polwan yang menemaninya. Menunggu kedatangan sang ayah.
"Apa Rachel akan mati? Tidak bisakah kalian langsung datang menyelamatkannya?" Tanya Edward pada sang petugas kepolisian.
"Surat penggeledahan sedang di proses. Terlebih lagi, menurut ceritamu mereka dapat dikatakan satu-satunya walimu di sini. Bersabarlah..." Sang polwan menghela napas berkali-kali. Tidak dapat menggeledah begitu saja. Terlebih lagi, menurut informasi rumah anak ini terdapat di kompleks perumahan elite. Tempat pengusaha dan beberapa politikus tinggal.
"Apa yang terjadi jika Rachel mati?" tanyanya berusaha untuk tersenyum."Apa kalian dapat mengganti nyawanya?"
Sang polwan tidak dapat menjawab. Tapi mereka harus mengikuti prosedur, menunggu surat penggeladahan ditandatangani atasan mereka yang masih berada dalam perjalanan.
Edward berusaha bangkit, sedikit tertawa."Percuma aku berlari ke tempat ini."
"Nak! Kamu tidak boleh pulang sendirian!" Sang polwan menghalangi.
"Seharusnya aku tidak ke tempat ini!" Anak laki-laki berusia 10 tahun itu malah tersenyum, menepis tangan sang polwan.
Darah yang mengalir di lengan Rachel masih diingatannya. Setiap detik yang sejatinya berharga untuknya. Hati yang beku bagaikan bunga mawar putih berselimut es.
Dirinya melangkah hendak kembali setelah menunggu hampir dua jam. Rachel tidak mungkin meninggalkannya kan? Satu-satunya temannya.
Jika Rachel pergi, tidak akan ada orang di dunia ini yang berarti untuknya. Berlari keluar, hingga dirinya terjatuh. Berusaha bangkit namun sulit, mungkin kali ini kakinya terkilir.
"Sial!Sial!Sial!" Teriakannya, menahan rasa sakit berusaha bangkit.
Hingga tubuhnya diangkat seseorang."Tikus putih! Mau kemana!?"
Edward membulatkan matanya, seseorang yang jarang bicara dengannya. Ayahnya ada disini, benar-benar pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Sarah Q. M
cepet banget datengnya😯
2025-02-17
0
Labib Firda
bpk tikus kembali
2024-09-04
0
Bzaa
akhirnya plg jg tuh si ayah
2024-06-18
0