...Sayap yang patah, bulu-bulu putih indah melayang dari sayapmu yang hancur....
...Pergi meninggalkanku, air mata ini belum kering, luka yang masih basah....
...Bayi mungil menyerupai kita, itulah yang tersisa. Tangannya terlalu mungil untukku sentuh. Senyumannya terlalu murni....
...Hingga ada hari, makhluk kecil itu tertunduk, terdiam dengan wajah dinginnya. Dapatkah aku menghadapi kebenciannya?...
...Entahlah bibir ini kelu untuk berucap. Hanya untuk mengatakan cinta padanya....
...Angelic, aku bukan ayah yang baik....
Flint.
Edward terdiam sejenak, dirinya tertegun. Menatap Flint yang tiba-tiba memeluknya.
"Kenapa aku harus membencimu?" tanyanya mendekap tubuh kecil itu.
"Ka... karena aku membunuh ibu. Jika aku tidak ada---"jawaban dari Wilmar diulangi oleh Edward
"Ayah yang membunuhnya, karena itu aku terlalu takut menemuimu. Justru sebaliknya, jika kamu tidak ada, mungkin aku akan mati. Tidak memiliki alasan untuk hidup lagi." Flint meneteskan air matanya, mendekap tubuh putranya semakin erat.
Sekujur tubuh Edward gemetar, air mata menggenang bagaikan bendungan. Pada akhirnya menetes juga."Ayah tidak membenciku..." batinnya membalas pelukan ayahnya.
"Ibumu pergi satu bulan sebelum pernikahan kami. Dia mengatakan tidak mencintaiku lagi, seharusnya aku tidak percaya begitu saja. Angelic beranda di bawah ancaman orang lain. Di...dia masih mencintaiku, bahkan melahirkan putra kami tercinta dalam pelariannya." Ucapnya dalam air mata yang semakin banyak saja mengalir.
Kekasih yang dicintainya, wanita yang bagaikan malaikat baginya. Hanya meninggalkan Edward untuknya, bagaimana mungkin dirinya membenci putranya?
"A... ayah menyayangimu. Maaf..." Itulah kalimat yang tersisa dari Flint.
Untuk pertama kalinya Edward merasakan cinta dari ayahnya. Membalas pelukan ayahnya semakin erat. Tertunduk bagaikan bersembunyi di dada ayahnya.
Rachel terdiam sejenak, tersenyum dari jauh. Kehidupan kelam sang antagonis. Ditinggalkan dan dibenci semua orang. Mengalami pembullyan dan kekerasan, segalanya pelan-pelan akan dirubahnya. Merubah iblis menjadi manusia? Apa itu mungkin?
Menghapus air matanya yang ikut-ikutan mengalir, menatap adegan mengharukan. Ini indah! Dirinya hanya tersenyum, berjalan menuju dapur mengambil beberapa minuman, untuk memakan cup cake bersama.
Mungkin Flint dan Edward juga memerlukan waktu menghapus air mata mereka.
Hari yang cerah, dimana tiga orang itu duduk bagaikan sebuah keluarga yang utuh. Entah kenapa Rachel tersenyum, mereka kembali makan sambil mendekorasi cupcake bersama.
Seharian penuh, bahkan tawa terdengar kala Edward dan Flint bermain badminton bersama. Dirinya hanya menatap segalanya, sebuah rasa kasih itu indah. Sulit dipercaya dalam karya aslinya, Edward dewasa terdiam tanpa ekspresi setelah menikam Flint beberapa kali. Tanpa sedikitpun penyesalan.
Mati rasa? Mungkin itulah yang dialami Edward dalam naskah asli. Tapi saat ini? Apa dapat begitu?
Menghela napas berkali-kali dirinya duduk di bawah pohon anggur yang rindang. Anak berusia 8 tahun yang melihat ke arah jemari tangannya sendiri.
Dalam karya asli, nama Rachel hanya ada satu bait. Anak pelayan yang meninggal kala masa remaja Edward, meninggal karena sakit, itulah yang tertulis.
Itupun nama Rachel tidak disebutkan oleh pemeran penting. Hanya disebutkan oleh seorang pelayan rendah yang mengeluh menggantikan tugasnya membersihkan gudang. Kala Alfred dan Alira yang tengah melakukan adegan mesum dalam gudang rumah Edward, bersembunyi.
Jika tidak salah hanya satu bait kalimat."Andai saja Rachel tidak sakit dan meninggal 9 tahun lalu, tugasku akan lebih ringan, dia lumayan cekatan." Itulah adegan keluhan pelayan yang mendatangi gudang. Sedangkan Alira dan Alfred bersembunyi, dengan pakaian yang hampir sepenuhnya terbuka.
Mengapa dirinya ingat? Tentu saja untuk menunggu update novel tersebut dirinya kerap membaca ulang. Bagaikan novel kesayangannya adalah pelarian dari hidupnya yang sulit.
Tidak disangka dirinya malah terjebak di dunia pararel yang memiliki kehidupan ini. Jika difikirkannya kembali, dirinya sebagai Rania tidak memiliki keluarga sama sekali. Apa Edward dan Flint dapat menjadi keluarganya?
"Rachel! Kemari! Aku akan mengajarimu!" Teriak sang antagonis tersenyum. Sekarang sama sekali tidak seperti seorang antagonis. Hanya anak biasa yang menerima kasih sayang.
*
Malam mulai menjelang saat itu, Edward tidak dapat tidur sama sekali. Dirinya memikirkan apa yang terjadi hari ini. Wajahnya tersenyum sejenak, tapi hanya sejenak.
Kala dirinya kembali terpaku tanpa ekspresi bagaikan boneka yang membeku. Menatap ke arah balkon kamarnya.
"Mereka (keluarga Wilma) membohongiku bertahun-tahun. Kenapa ayah tidak melenyapkan mereka saja. Pengganggu..." Gumamnya.
Perlahan dirinya bangkit menatap ke arah cermin. Jemari tangannya meraba pantulan wajahnya sendiri. Hari-harinya terasa hangat perlahan, ayah dan Rachel yang mencintainya. Dirinya ingin melindungi mereka dengan cara apapun.
Kala itulah Edward menyipitkan matanya. Melirik ke arah tempat tidurnya yang kosong. Anak laki-laki yang bisa dibilang sudah cukup tinggi itu melangkah keluar.
Berjalan mengikuti keinginannya, kamar Rachel perlahan dibuka olehnya.
Tidak begitu cantik, tidurnya pun bagaikan layangan putus. Anak laki-laki rupawan yang menahan tawanya. Menyelimuti Rachel, kemudian dirinya masuk ke dalam selimut yang sama.
Apa yang terjadi? Dirinya nyaman, taukah kalian Edward yang aneh terkadang berbuat hal gila? Dirinya mengecup kening Rachel, kemudian kedua pipinya. Entah kenapa dirinya begitu menyayanginya, begitu mengasihinya.
Perlahan mata gadis kecil yang tertidur damai itu terbuka."Edward, tidak bisa tidur lagi?" tanyanya.
"Iya! Aku takut, bermimpi buruk..." Alasan sang anak laki-laki berusia 10 tahun itu.
"Takut jika kamu tidak ada lagi dalam hidupku. Apa ini mimpi? Mimpi yang begitu indah, aku tidak ingin terbangun." Batin Edward.
Rachel memeluknya berusaha menenangkannya, memejamkan matanya yang masih mengantuk. Mendekap anak laki-laki yang tersenyum.
Sedangkan Edward mulai ikut tertidur. Hal yang mungkin akan selalu terjadi setiap malam.
Apa tujuan anak laki-laki yang belum mengalami masa pubertas ini? Bagaimana jika suatu hari nanti dirinya sudah berada di masa pubertas? Entahlah...
*
Flint yang telah lengkap memakai setelan jas, membawa dua buah tas ransel kecil di punggungnya. Serta dua botol air minum dengan tali panjang.
Mengandeng tangan sepasang bocah yang begitu manis.
"Ayo berangkat!" teriak Rachel penuh semangat. Sedangkan ekspresi wajah Edward begitu datar.
"Aku mempunyai dua orang anak tikus." Flint terkekeh, membukakan pintu mobil untuk mereka. Kali ini tidak ingin memakai supir. Menghabiskan quality time lebih baik. Lagipula ini menyenangkan, mendengarkan betapa cerewetnya Rachel. Dan seberapa manisnya Edward yang pendiam terkadang tersenyum.
Sekolah yang terpisah, Edward bersekolah di sekolah swasta bertaraf internasional. Sedangkan Rachel di sekolah negeri. Rachel mulai bernyanyi dengan kencang, sedangkan Edward lebih banyak membaca buku.
"Ayah masih belum menyerah untuk mengadopsi Rachel. Rachel, jika kamu berubah fikiran katakan padaku." Ucap Flint dari kursi pengemudi.
"Saya tidak akan berubah fikiran." Rachel hanya tersenyum.
Memang cocok untuk menjadi putrinya. Inikah rasanya memiliki anak perempuan? Dapat menjadi penghubung antara dirinya dan Edward.
*
Pelajaran di mulai saat ini. Lebih tepatnya di sekolah negeri tempat Rachel berada.
Anak perempuan itu mulai berfikir. Edward dalam cerita novel asli tidak memiliki orang kepercayaan. Mungkin jika ingin posisi Edward kukuh, dirinya harus merekrut asisten untuk Edward suatu hari nanti.
Atau setidaknya teman laki-laki yang dapat dipercaya. Matanya sedikit memincing ke arah seseorang. Anak laki-laki paling pintar dan miskin di kelasnya. Tentu saja kemampuan anak laki-laki itu masih berada di bawah Rachel.
Apa dirinya dapat berteman dengan orang ini? Mungkin itulah yang ada dalam fikiran Rachel.
Quer, itulah namanya. Seorang anak gemuk, dengan kulit kotor, memakai kacamata.
Senyuman menyungging di wajahnya. Jika ingin berperang dengan pemeran utama pria, Alfred Russel, dirinya harus memiliki orang berbakat.
Tapi dimana sejatinya para pemeran utama saat ini? Rachel berfikir sejenak. Cerita novel belum dimulai sama sekali. Tapi menurut flashback, pertama kali Edward akan bertemu Alira di masa SMU. Namun, terpisah akibat Edward yang menempuh pendidikan di luar negeri atas suruhan Flint.
Sedangkan Alfred bertemu dengan Alira, kala Alira bekerja sebagai sekretarisnya.
"Masa bodoh! Dimana para pemeran utama saat ini! Yang jelas aku akan merekrut orang untuk membantu Edward nanti!" Keputusan yang diambil Rachel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Bzaa
Rachel.. sebagai asisten dan penasihat, kerenn banget 😘
2024-06-18
0
🌠Naπa Kiarra🍁
Lanjut, kak!💪💪💪💪💪
2023-10-25
0
yesi yuniar
pemeran utamanya sekarang sudah berubah edward dan rachel
2023-10-22
1