...Ada sebuah kisah tentang sehelai daun yang mencintai seekor kupu-kupu....
...Hujan badai membuat makhluk indah itu berlindung di balik daun. Berharap agar sayapnya tidak rusak....
...Daun melindunginya, menatap berapa indahnya dirinya. Berharap sinar matahari segera terlihat, agar sang kupu-kupu tidak bersedih....
...Namun kala sinar matahari itu terlihat, sang kupu-kupu terbang meninggalkannya....
...Haruskah sang daun membenci matahari, merindukan kupu-kupu yang dicintainya....
Edward.
"Adik?" Sebuah pertanyaan darinya.
"Benar adik! Sebagai rasa terimakasih kita karena dia menghubungi ayah. Ayah akan menjamin pendidikannya, bahkan biaya hidupnya hingga dia mandiri dan menikah nanti." Senyuman mengembang di bibir Flint, membayangkan memiliki Rachel sebagai anak perempuan yang akan mendekatkan hubungannya dengan Edward yang pendiam.
"Menikah? Adikku akan tinggal dengan pria lain kan? Apa dia juga dapat membantah jika dia tidak mau bermain denganku?" Tanya Edward pada sang ayah.
"Emmm..." Flint berfikir sejenak."Itu memang seorang adik, sewajarnya begitu."
"Tidak! Jangan jadikan Rachel sebagai adikku. Untuk imbalannya biar aku saja." Jawaban dari Edward, menatap dari jauh ke arah Rachel yang tertidur di ranjang terpisah.
"Terserah kamu saja." Jawaban dari Flint sedikit cemas.
Edward terdiam sejenak, dua orang yang memiliki nama belakang Snowden itu terpaku sesaat dalam kebisuan.
"Ibu orang seperti apa?" Pertanyaan dari Edward membuat Flint berfikir sejenak.
"Dia orang yang baik. Seperti pecundang, pergi meninggalkanku tanpa mengatakan kehamilannya. Aku membencinya." Kalimat yang diucapkan Flint, untuk pertama kali bicara lebih terbuka dengan putranya.
"Begitu?" Hanya itulah jawaban dari Edward. Matanya menatap ke arah gadis kecil berumur 8 tahun yang tertidur itu. Otaknya merancang segalanya membuat gadis kecil itu tidak akan pergi, satu-satunya sahabatnya. Orang pertama yang dianggap manusia olehnya.
Perlahan mata Edward tertutup, dirinya terlalu lelah. Terlelap dalam mimpi yang dalam.
Sedangkan Flint terdiam sesaat, benar-benar curiga pada putranya."Tidak mungkin anak selucu Edward mengalami ilusi cinta pertama." Suara tawanya terdengar, meragukan pemikiran gilanya.
*
Hanya dua hari perawatan, dirinya tidak enak. Benar-benar tidak enak, dengan tingkah Edward yang bahkan selalu tidur dengannya.
Ini wajar saja, usia mereka masih 8 dan 10 tahun. Sangat wajar jika tertidur di tempat tidur yang sama.
Hari ini dirinya pulang dari rumah sakit. Luka yang dialami Edward juga pulih lebih cepat darinya.
Benar-benar sesuai dengan penjabaran visual pada novel asli. Rambut putih pendek dengan sorot mata tajam, selalu tersenyum puas setelah menyingkirkan para korbannya, darah terkadang terciprat pada pipinya. Tapi Edward yang dilihatnya saat ini, anak kecil dengan rambut putih pendek, selalu tersenyum dengan hati yang hangat.
Apanya yang psikopat!? Masa depan Edward yang kelam akan diubah oleh Rachel. Dirinya akan menjadi lintah yang baik di sisi pemeran Antagonis.
"Kita akan pulang! Seluruh kota merupakan tempat bermain yang asik! Oh senangnya aku senang sekali! Kalau begini aku pun jadi sibuk, berusaha mengejar-ngejar dia! Matahari menyinari semua perasaan cinta! Tapi mengapa hanya aku yang dimarahi---" Nyanyian penuh semangat dari Rachel, membuat Edward yang tengah membaca buku tersenyum.
"Kamu begitu ingin pulang?" Tanyanya.
Rachel mengangguk, kemudian mendekatkan wajahnya pada Edward, mengecup keningnya."Terimakasih, sudah memanggil polisi dengan cepat."
Edward terpaku sejenak, kemudian mengangguk. Dirinya menghela napas berkali-kali kemudian tersenyum.
*
Rumah besar itu terlihat pada akhirnya, kala mobil yang dikendarai supir memasuki gerbang. Pelayan? Semuanya orang baru, mungkin mereka sudah diganti akibat tidak pernah ada yang melaporkan tentang tindak kekerasan yang dialami Edward.
"Ayo!" Ucap Edward tersenyum, menarik jemari tangan Rachel, dua anak yang berjalan memasuki rumah. Kali ini bukan dengan langkah yang berat, tapi langkah yang lebih ringan.
Namun kala memasuki ruang tamu, pemandangan tidak mengenakan terlihat. Hadsen dan Wilmar yang babak belur, serta Tamtam duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Flint.
"Jangan pedulikan mereka. Ayo kita bermain di kamar. Aku meminta ayah membuatkan kamar baru untukmu. Bersebalahan dengan kamarku." Ucap anak laki-laki itu tersenyum, menarik jemari tangan Rachel.
Apa ini tokoh antagonis? Tidak semenyeramkan itu. Rachel mengingat-ingat sedikit adegan. Dimana Edward membawa Alira secara paksa ke dalam rumahnya. Mengurung Alira dengan barang-barang mewah, diberikan makanan berkelas. Tapi sayangnya Alira tidak bersedia makan bahkan hanya menangis merindukan Alfred. Hingga pada akhirnya Edward sengaja melonggarkan penjagaan membuat Alira dapat melarikan diri dari rumahnya.
Plot cerita yang terjadi selanjutnya, bertemu dengan Alfred di apartemen. Menangis, kemudian adegan ranjang pun dimulai. Benar-benar cassanova yang beringas. Tapi itulah pemeran utama, second male lead sekaligus antagonis seperti Edward sekeras apapun berusaha tidak akan dapat menaklukkan pemeran utama wanita.
Edward memperlakukan Alira layaknya ratu. Sedangkan Alfred memerasnya di ranjang hingga kering. Tapi Alira malah lebih memilih Alfred, karena Edward psikopat keji yang menakutkan.
Sudahlah! Dirinya akan berusaha merubah kepribadian Edward. Hingga cinta Edward pada Alira akan berbalas.
Rachel berjalan menapaki tangga, dengan dibimbing oleh Edward. Dirinya sempat berfikir sejenak, akan menjadi lintah yang gemuk nantinya.
Tapi apa benar hanya lintah yang gemuk. Kala pintu itu dibuka salah seorang pelayan, kamar dengan nuansa pink terlihat. Benar-benar menyilaukan mata, sebuah kamar dengan tempat tidur yang luas. Boneka bertumpuk bagaikan lautan.
Kala dirinya membuka lemari, berbagai pakaian anak perempuan berkelas tergantung rapi. Rak sepatu bahkan ditempatkan khusus.
Ini terlalu mewah, bukan sendok emas tapi sendok berlian.
"Apa kamu tidak suka?" Pertanyaan dari Edward membuat Rachel menelan ludahnya.
Nuansa pink? Jika anak berumur 8 tahun pada umumnya akan melompat-lompat di kasur. Tapi tidak dengan dirinya, ini warna yang terlalu terang. Namun, tidak boleh membuat Edward kecewa bukan? Dirinya akan menjadi lintah yang baik, seorang pelayan yang penurut dan meramaikan hari-harinya yang sepi.
"Aku suka!" Ucap Rachel memeluk Edward. Begitu menghargai bagaikan saudara.
"Syukurlah..." Edward menepuk punggung Rachel pelan.
"Bagaimana jika bermain?" Tanya Rachel melirik ke arah rambut palsu yang tersusun rapi di rak.
"Bermain?" Edward mengenyitkan keningnya merasakan firasat buruk, kala Rachael menggeledah lemari, mencari pakaian yang sedikit lebih besar dari ukuran tubuhnya.
*
Sedangkan di lantai satu, Flint menghela napas kasar menunggu orang-orang ini untuk berucap.
"Flint! A...aku adalah bibi dari Edward, kakak Angelic, jangan lupakan itu. Kalian ayah dan anak yang menyebabkan kematian adikku." Tegas Wilmar, ingin keadaan kembali seperti semula.
Dirinya tidak seharusnya memukuli Edward hanya untuk memberikan rasa takut. Agar menuruti keinginannya untuk meminta lebih banyak pada Flint. Seharusnya hanya dengan ancaman sudah cukup. Jika diberikan kesempatan lagi, dirinya mungkin akan memilih jalan lain, selain kekerasan untuk meminta lebih dari biaya hidup.
"Bertanggung jawab? Angelic hamil karena kami melakukannya atas dasar suka sama suka. Aku tidak pernah memaksanya. Angelic juga melarikan diri dariku juga karena ancaman dari wanita-wanita yang mengejarku. Aku tidak pernah mengusirnya atau menyatakan putus hubungan. Apa itu salahku? Coba katakan dimana salahku?" Flint meminum tehnya dengan tenang.
"Edward sudah membunuh adikku! Angelic akan menjadi desainer ternama jika saja tidak jatuh cinta padamu dan melahirkan Edward!" Teriak Wilmar masih kukuh dengan pendiriannya. Jika tidak dapat tinggal dirinya akan meminta uang kompensasi. Mengingat semua tabungannya telah terkuras untuk menyuap beberapa orang agar dapat terbebas sementara dari jeratan hukum.
"Rupanya hanya topeng ya? Kalian mendatangiku seolah-olah menjadi orang yang paling peduli pada putraku. Aku yang dulu karena rasa bersalah, menganggap kalian akan lebih dapat memberikan kasih sayang pada putraku. Tapi...putraku bahkan dikurung di gudang tiga hari tanpa makanan di rumah miliknya sendiri!?" Flint kehilangan kesabarannya, membanting cangkir hingga pecah berkeping-keping.
"Setan!" Umpatan darinya penuh senyuman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
🟡🌻͜͡ᴀs Yuna ✨•§͜¢•
hahahaha 🤣
2024-12-03
0
Abimanyu Rara Mpuzz
kenyataannya seperti itu tuan 🤭
2024-09-13
0
Jarmini Wijayanti
wilmar tak tau diri
2024-07-08
0