...Tertunduk dan terkurung dalam rantai kesunyian....
...Kadang aku tersenyum dan berfikir, mengapa harus hidup, jika yang ada hanya rasa sakit....
...Suara tetesan air bahkan terdengar nyaring. Aku benar-benar sendiri....
...Menutup mataku sejenak, memimpikan berlari di padang ilalang yang indah bersamamu....
...Ini hanya sebuah memimpi, kala aku tersadar. Hanya kamu yang ada, memelukku, menangis mengasihiku....
Edward.
Rachel mengenyitkan keningnya, besok dirinya harus kembali bersekolah. Jadi hari ini adalah saat yang paling tepat. Menyatukan dua orang gila yang canggung ini.
Pagi-pagi sekali dirinya sudah terbangun. Entah mengapa Edward belakangan ini sering tidur di kamarnya, dengan alasan takut jika Wilmar tiba-tiba datang.
Ini cukup aneh bagi Rachel, jelas-jelas dalam karya novel aslinya Edward digambarkan sebagai orang berdarah dingin sejati. Menghela napas berkali-kali, jujur saja dirinya tidak mengerti dengan penggambaran karakter Edward.
Psikopat? Tapi bukankah psikopat tidak dapat jatuh cinta? Mungkin masuk akal jika itu ada di masa remaja. Karena belum ada pernyataan pasti tentang mentalnya. Tapi dirinya menjadi bagaikan budak bagi Alira.
Menghela napas berkali-kali, psikopat, sesuatu yang tidak dapat disembuhkan jika benar-benar sudah terjadi. Tapi mungkin saja ini terjadi bukan karena kerusakan otak. Lebih karena mentalnya yang terganggu, karena kekerasan yang didapatkannya di masa kecil.
Jemari tangan Rachel bergerak pelan, menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah Edward. Menggemaskan, tampan, manis, itulah citra yang tercipta. Tidak berbahaya sama sekali.
Anak laki-laki yang membuka matanya, menatap ke arah Rachel."Rachel...apa aku tampan?" tanyanya.
Rachel mengangguk."Tampan..." jawaban jujur darinya.
Edward bangkit dengan cepat, mengecup kening Rachel."Selamat pagi Rachel..." ucapnya menampakkan wajah rupawan yang manis terkena cahaya matahari pagi.
Menipiskan bibir menahan tawanya. Dirinya dicium oleh bocah berumur 10 tahun? Tidak dapat diduga olehnya. Bagaikan dirinya lupa diri, terlahir kembali sebagai Rachel yang berusia 8 tahun.
"Ayo kita bersiap-siap membuat cupcake!" teriak Rachel penuh semangat.
Edward mengangguk, dengan wajah dan senyuman yang antusias. Entah dimana sosok sang pembunuh berdarah dingin. Apa suatu saat akan terlihat?
Dua orang anak yang berlarian di lorong belum mandi sama sekali. Rachel menghentikan pelayan memintanya menyiapkan alat untuk membuat kue.
Sedangkan Edward diam tertegun. Dirinya tersenyum menatap ke arah anak perempuan berambut pendek yang berbicara antusias dengan pelayan. Rumah ini terasa lebih cerah karena dia.
"Jika ada yang mengganggumu di masa depan, seperti yang dilakukan bibi. Aku tidak akan segan untuk menyingkirkannya." Batin anak itu masih tertegun menatap Rachel dari jauh.
Rachel kembali menghampirinya."Ayo mandi!" teriaknya. Sepasang anak kecil yang memakai piyama senada kembali berlarian di dalam lorong panjang.
Anak laki-laki yang hanya bergerak mengikutinya. Bertanya-tanya dalam hatinya. "Apa Rachel bagiku apa adik? Saudara jauh? Pelayan? Teman? Benar! Kami hanyalah teman. Teman yang harus bersama selamanya."
*
Apa yang terjadi setelahnya? Aktivitas yang dilakukan setelah sarapan.
Pang!
Suara Flint membuat adonan terdengar. Tiga orang yang tidak memiliki bakat memasak ada dalam dapur, hanya satu kesimpulan yang dapat diambil, bencana.
"Rachel! Kamu sudah membacanya!? Berapa ons!?" tanya Flint, dengan wajah berlumuran tepung.
"10 ons!" Jawaban cepat dari Rachel, memotong strawberry. Atau lebih tepatnya mencincangnya.
Sedangkan Edward menuangkan adonan pada cetakan. Mereka adalah tiga orang yang benar-benar cerdas, tapi sayangnya tidak pernah bersentuhan langsung dengan dapur.
Koki dan pelayan yang mengintip ingin menangis rasanya. Tidak ada kesan rapi sama sekali, seluruh tempat berlumuran tepung.
Wajah tiga orang yang benar-benar belepotan. Dua buah wajan hangus, hanya untuk membuat varian yang mereka fikir akan berhasil.
"Pakai buah naga?" tanya Edward dengan tangan belepotan dengan noda merah tangannya memegang pisau, bagaikan bocah kematian.
"Boleh!" Ucap Rachel antusias.
Tiga orang ini sudah gila, memasukkan buah-buahan tidak terkira. Sudah dua kali panggangan yang gagal.
Tang!
Tang!
Tang!
Suara berisik dari arah dapur. Mungkin hanya sebuah keberuntungan tiga orang itu tidak mencoba membuat cupcake dengan varian rasa cabai atau bawang.
Beberapa cup cake gagal menumpuk. Tapi pada panggangan ke-tiga harapan mereka besar. Melihat adonan yang dipanggang itu mengembang. Tiga orang yang melihat pada kaca oven.
"Kita berhasil!" Teriak Flint, memeluk kedua orang anak yang tertawa.
Bukan liburan ke Disneyland. Ini saja sudah cukup menyenangkan, bau harum aroma yang perlahan menyebar. Cup cake percobaan dari tiga orang, bebauan buah yang manis.
"Dari baunya terasa enak..." Gumam seorang koki mengintip dari jauh.
"Bukan itu masalahnya! Seluruh dapur kacau balau. Ditambah lagi kita mungkin akan dipaksa memakan tumpukan cup cake yang bantet." Keluh koki lainnya ingin menangis rasanya.
Dan benar saja Rachel datang dengan wajah berlumuran tepung membawa loyang yang dipenuhi dengan cup cake yang gagal.
"Ini untuk kalian, rasanya cukup enak." Kalimat manis dari seorang anak perempuan menggemaskan yang ompong.
Tidak dapat menerima, tapi juga tidak tega menolak. Pada akhirnya mereka meraihnya. Sedangkan Rachel berlari ke arah Flint dan Edward.
Tangan mereka gemetar, melihat tumpukan makanan yang menjijikan.
Menelan ludah, salah satu dari mereka mencoba memakan cupcake tidak berbentuk itu, dengan isian buah aneh. Kala makanan aneh itu memasuki mulut keajaiban terjadi.
"Enak..." gumam salah satu koki, tidak percaya.
Dengan cepat mereka berebut, memakan cup cake aneh yang gagal tersebut. Mata mereka melirik ke arah tiga orang berada di dapur.
"Kenapa bisa enak?" Ucap salah satu pelayan.
*
Sebuah rencana yang sempurna, mendekorasi cup cake bersama. Dirinya memilih menghindar kali ini, mengatakan sedang sakit perut.
Namun sejatinya mengintip apa yang terjadi. Sedangkan Flint, melirik ke arah Rachel yang bersembunyi. Wajahnya tersenyum, anak ini sengaja mendekatkan dirinya dengan Edward.
Menghela napas kasar, ini lebih menyenangkan daripada saat Wilmar tinggal di tempat ini. Membawa Edward pergi berlibur, maka mereka juga akan ikut. Mengatakan Edward merasa tidak nyaman dengan dirinya, dinding pembatas yang semakin tinggi kala Wilmar dan keluarganya tinggal di tempat ini.
Namun Rachel berbeda, dengan sengaja mendekatkan dirinya pada putranya yang dingin. Memang cocok untuk menjadi putri angkatnya. Tapi entah mengapa Edward malah menolak.
"Edward, bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Flint melumuri cup cake menggunakan cream.
"Tidak ada masalah." Hanya itulah jawabannya, menghias menggunakan potongan caramel yang dibentuk.
Hening, itulah yang terjadi. Mereka terdiam dalam fikiran masing-masing tidak mengatakan apapun. Terlalu canggung, dengan ketidak beradaan Rachel di tempat ini.
Sedangkan Rachel yang tengah mengintip menghela napas."Kalian seperti orang bisu!" teriak Rachel dalam hatinya.
Namun hanya beberapa saat. Dua orang itu, ayah dan anak kembali saling menatap.
"Ayah yang membiayai Rachel. Bisa tetap biarkan dia di tempat ini?" tanyanya.
"Kenapa?" Pertanyaan dari sang ayah.
"Aku ingin dia berada di dekatku seterusnya. Aku merasa nyaman..." Hanya itulah jawaban dari putranya yang pendiam.
"Maaf..." pada akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Flint. Wajah putranya yang kesepian, air matanya mengalir.
"Karena kebodohan ayahmu, ibumu meninggal..." lanjutnya.
Sebuah kalimat yang membuat Edward tertegun. Selama ini dirinya fikir ayahnya sama saja dengan Wilmar, menyalahkan dirinya atas kematian ibunya.
"Jika saja, Angelic dapat aku lindungi. Maaf, aku bukanlah ayah yang baik, terlalu canggung dan merasa bersalah padamu." Kalimat demi kalimat kembali diucapkan, pria berambut putih panjang, yang mengenakan kacamata itu.
"A... Ayah tidak membenciku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Ni Ketut Patmiari
aq kasi bunga thor🥰
2024-05-12
0
Mom Yara
baru ngeh setelah ngasih gift kalau kryanya ksk kohapu. sukses terus kak. dulu pernah mampir di saldo rekening pacarku
2023-12-02
0
🌠Naπa Kiarra🍁
Lumayan, ada kemajuan komunikasi.😀
2023-10-24
0