...Cinta pertama bagaikan lolypop, terasa manis dan lengket. Diinginkan dalam waktu lama, mengobati hati kecilku yang terluka....
...Sedangkan cinta lainnya bagiku, hanyalah sayuran hambar....
Edward.
Kala itu dirinya mulai membuka mata, sekujur tubuhnya masih terasa sakit. Tirai tipis yang menutupi balkon telah terbuka.
Seorang gadis pelayan kecil itu berada disana."Selamat pagi tuan muda. Saatnya kita sekolah..." ucapannya telah berpakaian rapi.
Edward perlahan tersenyum, berjalan mendekati Rachel yang tengah menata meja makan. Anak berusia 10 tahun yang duduk disana, pandangan matanya hanya tertuju pada pelayannya.
"Kenapa dia melihatku? Apa di masa ini Edward sudah menjadi seorang psikopat? Dia akan memenggal kepalaku, lalu membawa mayatku menggunakan koper ke tengah hutan?" Itulah yang ada dalam fikiran Rachel, masih berusaha tersenyum memperlihatkan beberapa giginya yang sudah tanggal.
"Katakan pada bibi, aku akan menghubungi ayah. Meminta kiriman uang agar diantar menggunakan mobil baru." Kalimat dengan nada tenang darinya.
Rachel membulatkan matanya, dalam karya aslinya, Edward digambarkan sebagai sosok pendiam, tapi pemberontak. Mengapa sekarang menjadi penurut? Selain itu dalam karya aslinya, sasaran pertama pembunuhan yang dilakukan Edward adalah bibinya. Itu terjadi saat usia Edward 12 tahun.
Jika tidak salah ada adegan dimana Edward dewasa tersenyum sambil meminum wine, mengingat bagaimana dirinya meracuni sang bibi hingga mati tanpa meninggalkan bukti. Tapi ini? Kenapa jadi penurut begini?
Anak berusia 10 tahun itu masih tetap tersenyum, menatap ke arah Rachel."Makanlah bersama..." kalimat darinya.
Rachel berusaha tersenyum, kembali pada misi awalnya. Dirinya akan membuat masa kecil Edward yang kelam menjadi lebih baik. Kemungkinan menjodohkannya dengan tokoh utama wanita. Baru setelahnya dirinya dapat hidup bebas, menjadi seorang dokter di tempat ini.
Rachel mulai duduk, matanya menelisik. Jiwa seorang psikopat belum terbentuk sama sekali. Anak ini masih terlihat normal.
"Tuan muda tidak mandi dulu?" tanyanya menatap Edward menikmati sarapan.
"Nanti saja setelah sarapan. Karena kamu akan meninggalkanku saat aku mandi bukan?" Anak laki-laki itu tersenyum ramah padanya, masih memakai setelan piyamanya.
Ini gila! Bagaimana anak semanis ini di masa dewasanya dapat menjadi pria keji. Pembunuh berantai, yang memiliki kekayaan dan kekuasaan.
Rachel mengangguk, mengambil satu buah apel. Dengan cepat dimasukkan ke kantongnya."Saya sudah mengambil apel, saya sarapan di sekolah saja," ucapnya, hendak berjalan pergi.
"Ucapkan perpisahan pada teman-teman di sekolahmu. Aku akan meminta ayah agar kita satu sekolah." Satu lagi kalimat demi kalimat tanpa senyuman, yang tiba-tiba saja pudar.
Rachel kembali berbalik, menggunakan dua jari telunjuknya, menaikkan sudut bibir Edward."Jika ingin berteman katakan saja! Banyak-banyaklah tersenyum. Aku suka jika kamu tersenyum."
"Aku akan tersenyum..." Ucap Edward pada akhirnya. Menatap Rachel berjalan meninggalkan ruangan.
Sejenak ruangan itu kembali hening. Edward terdiam sejenak, matahari belum terbit sama sekali. Mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, membenci hal yang dilakukannya. Dirinya harus merengek pada ayah yang mengacaukannya, agar sang bibi tidak memukulinya. Dulu dirinya akan menolak.
Tapi semalam benar-benar menyenangkan baginya. Memiliki seseorang yang peduli padanya.
*
Berada di sekolah yang berbeda dengan Rachel, yang masuk ke sekolah negeri. Dirinya bersekolah di sekolah swasta. Tidak ada teman atau hal yang menarik baginya.
Berjalan melewati satu persatu lorong. Beberapa siswa dan siswi hanya mengamatinya dari jauh, seperti biasa. Semua orang mendekat pada orang yang ramah. Tidak seperti dirinya yang malas menghadapi dunia.
Ibunya seorang wanita penghibur yang mati saat melahirkannya. Ayahnya terlalu sibuk dengan bisnisnya, pengasuh? Dirinya pernah memiliki seorang pengasuh. Tapi hanya cubitan dan suruhan keras menahan tangis yang didapatkannya.
Jadi manusia tidak boleh menangis? Apa manusia hanya seonggok daging yang dapat berjalan? Itulah yang ada dalam fikirannya.
Tidak ada yang berani menggangunya di tempat ini, ayahnya memiliki status tinggi penyebabnya.
"Kamu harus lebih banyak tersenyum." Kalimat Rachel diingatnya. Dirinya perlahan berusaha tersenyum, mungkin dalam fikirannya hanya Rachel adalah manusia sesungguhnya. Yang lainnya hanya sesuatu yang tidak berarti.
*
Sudah waktunya pulang dari sekolah. Nilai? Semua nilai dalam mata pelajarannya selalu sempurna. Beberapa anak memamerkan nilai mereka yang hanya 80.
Apa yang harus dibanggakan? Ini hanya kertas kosong. Edward melipat kertas nilainya yang bertuliskan angka 100, menjadi origami berbentuk bangau putih. Tidak peduli lembaran itu sedikit robek.
"Dia yang mendapatkan nilai tertinggi." Ucap salah seorang siswa menunjuk ke arah Edward.
Salah seorang orang tua siswa mendekatinya."Nak, anakku mendapatkan nilai yang rendah. Mungkin jika berteman dan bergaul denganmu."
Edward menatap tajam, kemudian tersenyum."Nilainya buruk? Itu bagus! Karena jika semua orang nilainya sama 100, kecerdasanku tidak akan diakui."
Orang tua siswa itu hanya dapat menghela napas kasar. Berusaha bersabar menghadapi anak ini. Ini hanya anak kecil, mungkin itulah yang ada dalam pemikirannya.
Sedangkan wajah Edward kembali tanpa ekspresi menunggu jemputannya datang. Ingin segera meninggalkan tempat membosankan ini. Tempat dimana semua orang bebas tertawa.
*
Sifat Rachel yang pendiam belakangan ini memang berubah baginya.
"Tuan muda! Selamat ulang tahun!" Teriaknya membawa cup cake paling murah yang dapat ditemukannya. Bahkan tanpa hiasan lilin sama sekali.
"Yang penting kue! Anak-anak suka kue! Nak! Kalau sudah besar nanti jadilah orang normal dan hiduplah bahagia dengan Alira." Batin Rachel yang sejatinya lebih muda dua tahun dari Edward.
"Ini untukmu..." Edward tersenyum, walaupun senyuman itu terlihat kaku, memberikan lipatan origami berbentuk bangau pada Rachel.
"Bagusnya!" Ucap Rachel berusaha terlihat kagum. Tidak ingin wajah manis itu kecewa.
Menerbangkan origami bangau, walaupun tidak dapat terbang. Membuat Edward tertawa kecil.
Namun, cup cake di tangan Edward direbut seseorang.
Prang!
Piring kecil itu pecah. Tubuhnya didorong oleh Tamtam sepupunya, hingga membentur sudut meja. Kepalanya sedikit mengeluarkan darah.
"Cuma segitu saja jatuh!" Tamtam mengalihkan pandangannya. Hanya cup cake jelek tanpa hiasan. Melempar kemudian menginjaknya."Aku fikir kue enak, ternyata cuma makanan pinggir jalan yang murah."
Edward hanya tertunduk diam saat itu. Memikirkan bagaimana manusia dapat begitu merusak dan menjijikan. Dirinya ingin lepas dari tempat ini, apa jika sepupunya mati suasana akan lebih tenang?
Menggigit bagian bawah bibirnya sendiri, ini benar! Manusia hanya tumpukan daging yang dapat bergerak. Jika menghalangi jalan, menyayatnya juga bukan hal yang buruk.
Namun, Rachel yang lebih pendek bergerak cepat, mendorong tubuh Tamtam hingga tersungkur.
"Kamu ini menumpang! Berani-beraninya pada tuan muda!" Teriak Rachel pada akhirnya, tidak tahan melihat adegan pembullyan.
"Gendut! B*bi! Serakah! Tamak!" Teriakkan Rachel kembali terdengar.
"A...apa yang kamu katakan!?" Bentak Tamtam, tersungkur di lantai. Setelah didorong oleh anak pelayan yang bertubuh lebih kecil.
"Tuan muda! Jika kesal katakan saja! Jika mereka sampah, balaslah lebih buruk dari sampah!" Suara Rachel terdengar. Anak itu mengepalkan tangannya, haruskah berteriak pada seonggok daging yang kebetulan dapat berjalan (Tamtam) ini. Tapi dirinya tidak ingin mengecewakan Rachel, menelan ludah memikirkan umpatan yang sesuai.
"Or... orang gemuk." Hanya itulah kata yang keluar, membuat Rachel dan Tamtam diam tidak percaya. Apa anak ini tidak dapat berkata kasar sedikitpun?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Jarmini Wijayanti
orang gemuk 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
2024-07-08
0
Bzaa
Edward..... gubrakkk 🤣
2024-06-17
0
Bambang Setyo
😁😁😁😁edward kau lucu...
2023-10-20
0