"Darah? Mengapa aku senang melihat mereka terluka? Betapa bahagianya ketika mereka menjerit meminta pengampunan dari ayah? A...aku benar-benar tersenyum?" Itulah yang ada dalam fikiran Edward sejenak.
Tapi hanya beberapa detik pandangan matanya beralih pada Rachel. Rasa kasih itu ada, dirinya memeluknya erat, bersyukur napas itu masih ada. Bersyukur matanya masih terbuka.
"Rachel, A...aku senang ayah memukul mereka. A...aku... apa aku orang jahat?" Tanya Edward berterus terang dengan perasaannya.
Rachel menggeleng."Apa tuan muda iba melihat saya?"
Dengan cepat Edward mengangguk, air matanya mengalir."Dadaku rasanya sakit, seperti mau mati."
"I...itu artinya tuan muda bukan orang jahat." Kalimat yang diucapkannya dengan berbisik.
Rachel terpaku beberapa saat, mulai sedikit berfikir. Tidak ada study yang pasti tentang psikopat. Ada yang mengatakan kerusakan dalam otaknya hingga tidak dapat merasakan emosi. Penyakit mental yang tidak dapat disembuhkan. Ada pula yang berpendapat mungkin karena lingkungan masa kecil sang pengidap.
Dirinya menatap ke arah Edward. Anak itu dapat ketakutan, dapat gemetar, dapat menangis setulus ini. Mungkin, mungkin saja penyakit mental yang dideritanya akibat kekerasan masa kecil yang menumpuk.
Anak ini masih memiliki hati, hati yang mulai menipis, bagaikan istana pasir tergerus air pasang. Apa yang akan dilakukan Rachel? Membangun istana pasir itu kembali. Mungkin saja Edward tidak ditakdirkan menjadi psikopat sejak lahir.
"Kita ke ambulance," Edward tersenyum berusaha mengangkat tubuh Rachel ala bridal style.
Bug!
Tapi mereka masih kanak-kanak, dirinya terlalu lemah dan pendek. Dua orang anak yang terjatuh pada akhirnya. Tidak ada aksi keren menyelamatkan Rachel, seperti dalam film.
"Sakit!" lirih Rachel kembali tergeletak di lantai.
"Ma... maaf!" Ucap Edward cepat, beralih menarik kaki Rachel ingin segera membawanya keluar.
"Entah kenapa aku jadi ingat salah satu plot, ketika dia menyeret mayat menyusuri lorong yang gelap." Batin Rachel ingin menangis rasanya, tapi tidak bisa, harus menghargai usaha Edward untuk membawanya keluar.
Sedangkan Flint yang melihat segalanya bukannya membantu, malah menipiskan bibir menahan tawanya. Ini seperti tikus putih yang ingin mencuri ikan seukuran tubuhnya. Menarik-nariknya, berusaha menyeretnya.
Tapi pada akhirnya sang ayah tertawa, dirinya berjalan mendekat, mengangkat tubuh Rachel.
"Ayah! Biar aku saja!" Ucap Edward serius, tidak ingin Rachel diangkat orang lain.
"Apa yang akan tikus kurus sepertimu lakukan? Menariknya seperti membawa mayat..." Flint mengenyitkan keningnya, astaga anaknya yang tertunduk benar-benar manis.
"A...aku..." Edward hanya diam, menggenggam jemari tangan anak perempuan itu pada akhirnya.
Tatapan mata Rachel beralih pada Edward sesekali pada Flint yang menggendongnya. Ini benar-benar hanya miskomunikasi. Sang ayah sejatinya benar-benar menyayangi putranya.
*
Apa yang terjadi setelahnya? Suasana kembali canggung, segalanya hening. Kala Edward menjaga di sampingnya, enggan beranjak walaupun dirinya juga mengalami luka yang tidak ringan.
Seakan takut akan kehilangannya. Sedangkan Flint juga berada disana, membawa pekerjaannya ke tempat ini. Sesekali mengintip dari balik berkas, menelan ludahnya. Mungkin merasa bersalah pada putranya.
"Rachel makan yang banyak! Agar cepat sehat!" Ucap Edward dengan nada ceria. Membuat ayahnya yang tengah meminum air putih tersedak.
Bagaimana bisa anaknya perhatian, bahkan bersikap begitu manis. Kembali sedikit mengintip di balik berkas yang dikerjakannya.
Rachel menatap ke arah Flint, wajahnya sedikit tersenyum. Anak perempuan yang manis, jika bisa Flint juga ingin memiliki anak perempuan. Apa sebaiknya diadopsi saja agar dapat menemani Edward?
Anak perempuan itu meraih pisau, mengupas buah apel."Biar aku saja!" Ucap Edward cepat.
Tapi sang anak perempuan menggeleng. Mengupas kemudian memotong buah apel berbentuk kelinci.
"Bagilah dengan tuan besar! Tuan besar sudah menyelamatkan kita." Ucap Rachel tersenyum.
"Anak itu tidak akan menuntut, bahkan dia tidak pernah mau makan malam denganku. Jika aku tidak meminta Wilmar untuk membujuknya." Batin Flint yakin.
Tapi tidak, Edward bergerak, berjalan mendekati ayahnya membawa piring kecil dengan potongan buah tersebut."Terimakasih!" Ucap putranya tertunduk, meskipun masih terdiam tanpa ekspresi.
"Terimakasih sudah datang. Walaupun aku sudah membunuh ibuku sendiri..." Batin Edward menyakini sang ayah membencinya.
Rasa haru menyelimuti diri Flint, makanan pertama yang disajikan putra kecilnya. Jujur! Dirinya ingin menangis rasanya. Tapi tidak boleh! Sebagai ayah harus berkharisma.
"Terimakasih! Walaupun potongan apelnya jelek." Jawaban dari Flint menahan rasa gugupnya.
Rachel mengenyitkan keningnya, menatap ekspresi wajah datar dari Edward, yang memang sudah terbiasa tidak mendapatkan perhatian.
"Awalnya aku mengira kamu pintar dan tampan! Ternyata kamu hanya ayah idiot!" Geram Rachel berusaha menahan senyumnya.
"Peluk!"
"Peluk!"
"Peluk!"
Teriak Rachel tiba-tiba dari tempat tidur pasien, menyaksikan adegan yang begitu canggung.
"A...ayah, aku ke toilet---" Kalimat pengalihan dari Edward terpotong.
Flint tiba-tiba memeluk tubuh anak berusia 10 tahun itu erat."Maafkan ayah..." ucap sang ayah pada akhirnya.
Dua kata yang membuat Edward membulatkan matanya sejenak. Kemudian memeluk tubuh ayahnya erat.
"Kenapa minta maaf? A...aku yang bersalah sudah membunuh ibu." Pertanyaan polos dari putranya.
"A...ayah minta maaf! Ayah tidak tau..." Ucap Flint tanpa penjelasan lebih lanjut.
Edward hanya mengangguk, tidak mengatakan apapun. Apa dapat memaafkan ayahnya? Entahlah, dirinya tidak tahu akan perasaannya sendiri. Bagaikan istana pasir yang telah tergerus ombak, dapatkah dibangun kembali.
"Nah! Begitu kan bagus! Ayah dan anak harus akur! Setidaknya pelukan sehari sekali!" Ucap Rachel tersenyum gemas, menunjukkan deretan giginya yang ompong.
Tapi dengan ajaibnya, Edward mendorong ayahnya, berlari ke arah Rachel, menaiki ranjang pasien."Aku lebih senang memelukmu!" Ucapnya dengan raut wajah datar, memeluk Rachel erat.
"Edward! Kamu juga masih dalam perawatan! Kamarmu ada di sebelah!" Ucap Flint bangkit dari lantai.
Tapi bagaikan anak kucing manis, putranya tercinta memasang raut wajah sedih tertuju pada Rachel."Ra... Rachel, aku takut tidur sendirian. A...aku takut mimpi buruk," dustanya, sifat manipulatif yang memang dimilikinya sejak dini.
"Takut mimpi buruk? Jika begitu kamu dapat tidur dengan tuan besar (Flint) saja." Kalimat cepat dari Rachel, dirinya akan menjadi penghubung antara ayah bodoh dan putranya yang sewaktu-waktu dapat menjadi psikopat di masa depan.
"Tidak! Aku tidak mau!" Tidak mau kalah, Edward merajuk bagaikan anak kecil. Memanfaatkan kelemahan Rachel untuk mencapai tujuannya. Tidur di tempat ini.
"Kalau begitu---" Rachel berfikir sejenak, melirik ke arah Flint yang berusaha keras menyembunyikan ekspresi kecewanya.
*
"Rachel apa kamu sudah tidur?" Suara Edward terdengar menatap ke arah langit-langit ruang rawat VVIP tersebut.
Tidak ada jawaban hanya dengkuran halus yang terdengar. Tubuh Edward dipeluk dari belakang, seharusnya dirinya bersemu merah kemudian balas berbalik memeluknya bukan? Menemukan rasa nyamannya.
Tapi sayang beribu sayang, Rachel berada di tempat tidur berbeda dengannya. Sedangkan orang yang memeluknya dari belakang adalah ayahnya sendiri.
Tidak nyaman berada dengan orang ini. Setidaknya itulah yang ada dalam fikiran Edward.
"Edward bagaimana jika ayah mengadopsi Rachel sebagai adikmu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Sukma Sae
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-11-13
1
Bambang Setyo
Kirain jadi tidur sama rachel.. Ternyata sama bapaknya....
2023-10-21
1
🌠Naπa Kiarra🍁
Tidak sesuai ekspektasi Edward.😅
2023-10-20
2