...Jika kamu bulan, aku tidak ingin menjadi bintang....
...Akan ada hari dimana bulan tidak muncul. Sedikit celah kita tidak bersama. Aku tidak menginginkannya....
...Menjadi air danau yang tenang, itulah aku. Memeluk bayangmu dalam kerinduan....
Edward.
Dapat dibayangkan oleh Flint. Jika anak yang bahkan dapat mengendalikan Edward hingga memakai pakaian perempuan ini menjadi putrinya, maka akan menjadi penghubung dirinya dan Edward yang sempurna.
Membawa mereka berlibur tanpa rasa canggung. Hanya perlu bicara pada Edward melalui Rachel.
"Ayah! Sudah aku katakan, Rachel tidak akan pernah menjadi adikku!" Tegas Edward kali ini, menjadikan dirinya sebagai benteng, berada diantara ayahnya dan Rachel.
"Aku bertanya pada Rachel." Flint mengenyitkan keningnya, mengeluarkan aura mendominasi.
Tidak mau kalah, Edward menatap lebih dingin dari biasanya. Flint kali ini harus kuat mental, menghadapi kemarahan putra tercintanya. Ini demi masa depan dalam imajinasinya semalam. Pergi ke Disneyland dengan kedua anaknya. Melihat Edward tertawa dan tersenyum, demi masa depan cerah dirinya dan putranya.
Dua orang yang saling menatap dingin. Ayah dan anak yang benar-benar mirip, walaupun sang anak tengah memakai rambut palsu.
Rachel menghela napas kasar berusaha tersenyum."Saya akan tetap menjadi pelayan bagi tuan muda." Jawaban penuh senyuman darinya.
Kedua orang yang menoleh pada Rachel bersamaan."Jika ingin berterima kasih, saya hanya ingin sekolah, ingin makan..." jawaban darinya sok lugu, tersenyum menapakkan deretan giginya yang beberapa sudah tanggal.
"Itu artinya aku ingin tunjangan pendidikan hingga universitas. Dan makan tanpa perlu bekerja terlalu keras!" Batinnya penuh semangat, akan menjadi lintah yang gemuk.
"Kenapa?" tanya Flint tidak mengerti.
"Tuan muda berkata tidak, maka saya tidak akan melakukannya." Jawaban logis dari Rachel.
Flint menghela napas kasar sedikit melirik ke arah Edward."Edward fikirkan baik-baik. Sebagai adik, Rachel akan terlihat benar-benar manis, menemanimu yang kesepian setiap hari."
Edward merangkul bahu Rachel, menariknya protektif, merangkul bahunya hendak berjalan menuju kamar."Ayah bagiku Rachel adalah pelayan. Tidak lebih daripada itu. Adik? Untuk apa seorang adik yang akan meninggalkanku setelah menikah nanti." Jawaban dingin darinya. Berjalan pergi menuju lantai dua.
"Anak itu benar-benar! Jelas-jelas dia akrab dengan Rachel!" Geram Flint kembali duduk di sofa menjambak rambutnya sendiri.
*
Sedangkan dua orang anak yang melangkah bersama menuju kamar. Rachel hanya tersenyum padanya. Edward-nya sudah dewasa, keputusan yang diambilnya juga sudah benar. Tidak akan membiarkan ada anak angkat yang mengancam warisan ayahnya.
Sedangkan yang ada difikiran Edward berbeda. Kakak dan adik tidak dapat bersama selamanya. Benar! Dirinya ingin tetap bersama dengan Rachel. Rachel selama-lamanya akan menjadi pelayannya. Menemaninya bermain, remaja, dewasa, hingga menua. Ketika dirinya terbangun Rachel akan selalu ada di sampingnya. Itulah yang ada dalam fikiran anak laki-laki berumur 10 tahun itu.
Lorong panjang terlihat, dengan jendela besar tertembus cahaya matahari sore. Dua orang anak yang melangkah bersama menelusurinya. Hingga tiba-tiba Edward menghentikan langkahnya.
"Rachel..." Panggilnya.
Dua orang yang berdiri saling berhadapan. Perasaan sayang itu ada, membutuhkannya, tidak ingin kehilangannya. Satu kecupan mendarat pada kening sang anak perempuan berusia 8 tahun.
Betapa indahnya, sinar matahari sore yang menerpa kedua wajah itu. Dua orang anak yang tersenyum.
Rachel menghela napasnya. Edward kecil dengan masa depan kelam, hidup dalam penderitaan tanpa satupun kasih sayang seperti dalam cerita novel aslinya. Kini berubah menjadi anak biasa yang jauh lebih baik.
Bergandengan tangan menelusuri lorong. Seperti anak biasanya, saling menggelitik dan mengejek. Apa yang ada dalam otak Rachel? Tentu saja berapa malangnya hidup antagonis ini.
Sedangkan Edward menjalankan segalanya sembari mencari cara. Agar Rachel tetap ada bersamanya. Cara yang paling efisien, menggenggam tangan anak itu erat.
*
Untuk pertama kalinya dirinya dipaksa makan di meja yang mengerikan ini. Tidak ada bahan pembicaraan sama sekali. Suasana hening, hanya ada suara pisau dan garpu yang beradu dengan piring keramik.
Suasana benar-benar canggung, dirinya menelan ludah. Beberapa pelayan baru yang bekerja disini, hanya menunggu, habisnya makanan utama, agar makanan penutup dapat dihidangkan.
"Ini seperti kuburan!" Batin Rachel ingin berteriak rasanya melihat hubungan kedua orang ini.
"Tuan muda apa anda menyukai cup cake yang saya belikan saat ulang tahun anda?" tanya Rachel, dirinya menggunakan bahasa formal. Harus tetap sopan. Ingat! Dirinya hanya pelayan, yang kebetulan diperlakukan dengan baik karena faktor keberuntungan.
"Aku menyukainya. Lain kali kamu bisa membelikannya lagi?" Ucap sang perayu cilik berusia 10 tahun ini, memegang jemari tangan Rachel.
"Rachel, kita bertiga dapat pergi membelinya bersama. Apa kamu tau Edward suka rasa apa?" tanya Flint, lebih nyaman bertanya pada anak ini. Ingat! Karena siapa ibu Edward mati, itu karena dirinya yang terlambat menemukan Angelic. Karena itu putranya harus diperlakukan dengan hati-hati agar tidak membencinya.
"Rachel bisa kita keluar membelinya hanya berdua saja?" tanya Edward penuh senyuman. Terlalu canggung berdekatan dengan ayahnya.
"Rachel, bagaimana jika ke toko dessert di pusat kota saja!" Flint memberikan usul.
"Rachel, kita ke toko kue di depan saja, berjalan kaki dari rumah akan menyenangkan." Ucap Edward tidak menoleh pada ayahnya.
Apa yang terjadi? Rachel bahkan belum menjawab satupun pertanyaan mereka. Dirinya tertegun, dua orang ini satu meja tapi tidak saling bicara. Menjadikan dirinya sebagai perantara. Dua orang ini memang benar-benar sudah gila! Ayah dan anak canggung tingkat dewa.
Rachel menghela napas kasar. Mungkin Flint yang sibuk bekerja membatalkan jadwalnya beberapa hari ini hanya untuk menemani Edward. Dirinya harus membuat quality time untuk keluarga. Sang bocah yang akan menjadi psikopat ini, mungkin tidak akan dapat membunuh ayahnya di masa mendatang. Dan sang ayah tidak juga perlu berusaha menyingkirkan putranya yang telah banyak menebarkan darah. Dua orang ini saling menyayangi di masa ini hanya saja terlampau canggung.
"Daripada membeli, bagaimana jika kita membuat cupcake!" Satu usulan darinya.
Edward menunduk terlihat cemas. Itu artinya dirinya akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya.
"Ide bagus..." Flint memotong daging di hadapannya, melanjutkan aktivitas makannya.
"Edward...aku mohon..." pinta Rachel memegang jemari tangannya.
Edward terdiam sejenak, tertunduk kemudian mengangguk setuju.
"Rencana memperbaiki keluarga yang retak dimulai!" teriak Rachel dapat hatinya penuh semangat.
*
Besok dirinya akan memulai rencananya, memperbaiki hubungan ayah dan anak yang canggung. Rachel duduk di atas kursi meja belajar, sebagai anak berusia 8 tahun dirinya harus mengerjakan pekerjaan rumah yang begitu mudah.
Terkadang dirinya menyandarkan punggungnya pada kursi. Bait demi bait adegan ending novel asli itu terlintas dalam benaknya.
"Jadi kamu memilihnya? Lalu kenapa tidak meninggalkanku saja dari awal?" tanya sang pemuda dengan ciptaan darah pada wajahnya.
"A...aku... Edward kamu baik padaku. Tapi terlalu banyak orang yang kamu bunuh." Jawaban dari Alira yang kini ada dalam perlindungan Alfred.
Putus asa dalam hidupnya. Tidak dicintai siapapun dari kecil, hanya Alira yang memberikan harapan kasih sayang padanya. Pada akhirnya Edward Snowden tersenyum. Rambut putihnya terkena semilir angin laut.
Dor
Satu tembakan terdengar, kematian yang benar-benar cepat. Terjatuh ke bawah dermaga yang dangkal. Di akhir hidupnya dirinya samar-samar menatap cahaya bulan sembari tersenyum. Memikirkan Alira yang dicintainya.
Itulah setiap bait br*ngsek yang membuatnya menangis semalaman di kehidupan sebelumnya sebagai Rania. Sebenarnya masih panjang ending novel tersebut. Bahkan ada puluhan bonus chapter tentang kebahagiaan Alira dan Alfred. Tapi dirinya malas membaca lagi, setelah adegan kematian Edward.
Alfred sang cassanova pada akhirnya berhasil mendapatkan Alira. Sedangkan pengorbanan Edward sia-sia. Edward pembunuh? Benar! Edward memang pantas mati.
Tapi Edward juga memiliki kehidupan yang tidak adil. Mengalami penyiksaan selama bertahun-tahun fisik maupun mental, penyiksaan yang berakhir ketika usia Edward menginjak 13 tahun saat dirinya meracuni keluarga bibinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
🟡🌻͜͡ᴀs Yuna ✨•§͜¢•
benar wkwk
2024-12-03
0
Ran Aulia
suka puisi jika bulan nya 😍😍😍😍💪
2024-01-14
0
🌠Naπa Kiarra🍁
Lanjut, kak.💪💪💪💪💪
2023-10-22
0