...Cinderella? Haruskah aku membawakan sepatu kaca untukmu? Mungkin iya, tidak ingin kamu dimiliki orang lain....
...Jika saja salju turun di gurun Zahara. Aku ingin menghapus dahagamu....
...Memeluk bulan? Betapa indahnya dirimu. Namun, semua lenyap bagaikan debu....
...Seperti fatamorgana. Segenggam pasir yang menghilang....
...Hanya berusaha berkata."Genggamlah tanganku..."...
Edward.
Rachel melepaskan pelukan anak berusia 10 tahun ini. Benar! Dirinya harus merawat Edward dengan baik hingga dia dewasa. Tidak akan mengikuti akhir cerita pada novel aslinya, dimana Edward ditakdirkan bunuh diri. Setelah terkepung petugas kepolisian.
Anak semanis ini tidak mungkin memiliki otak kriminal bukan?
"Edward! Keluar!" Suara Wilmar terdengar.
"Mau apa lagi nenek sihir itu!?" Geram Rachel benar-benar kesal rasanya, menghela napas berkali-kali.
"Aku harus tetap keluar!" Edward tersenyum mengacak-acak rambut Rachel. Rachel terdiam, merapikan rambutnya sendiri. Tidak mengerti sama sekali bagaimana orang sehangat ini dapat menjadi psikopat di masa yang akan datang.
"Dia tampan!" Gumam Rachel ingin berteriak rasanya. Bagaimana tidak, dalam novel tidak terdapat visualnya sama sekali. Hanya satu kalimat sebagai second male lead sekaligus antagonis yang menjabarkan penampilan Edward. Pria berambut putih putih, dengan kepribadian dingin, wajahnya rupawan terlihat sulit didekati.
Menghela napas kasar, inilah tokoh idolanya dalam novel. Walaupun memiliki ending yang tragis, tapi setidaknya Edward lebih banyak berkorban untuk Alira dibandingkan dengan pemeran utama pria yang benar-benar cassanova, playboy sejati.
Kenapa yang pertama mendapatkan keperawanan protagonis wanita harus menjadi protagonis pria? Dirinya memijit pelipisnya sendiri, matanya menatap ke arah punggung Edward yang perlahan berjalan meninggalkannya.
Tidak ingin Edward berakhir bunuh diri seperti yang ada dalam novel. Jadi hal pertama yang harus dilakukannya adalah memberikan masa kecil yang bahagia untuk Edward. Kemudian mempersatukannya dengan Alira.
"Edward! Tunggu aku!" Anak perempuan berusia 8 tahun itu berlari dengan kaki pendeknya. Senyuman menyungging di wajahnya.
Namun, kala itu langkahnya terhenti sejenak. Wilmar (bibi Edward) terlihat tidak senang. Wilmar dan Hadsen ada di sana, sedangkan Tamtam tentu saja masih berada di rumah sakit.
"Pelayan sial! Sudah untung aku memberimu makan!" Teriakkan Wilmar melengking, menarik tangan Rachel.
Plak!
Satu tamparan dilayangkan padanya, membuat pipinya membengkak.
"Rachel!" Edward berteriak tapi Hadsen (suami Wilmar, paman Edward dari pihak ibu) menahan pergerakannya.
Brak!
Dirinya ditendang pada bagian perut."Rachel..." panggil Edward lirih menahan rasa sakit.
"Kamu berani menghubungi tuan besar (ayah Edward)!? Dasar anak jalanan tidak tahu diuntung!" Gunting diraih Wilmar, memotong rambut Rachel asal hingga menjadi benar-benar pendek.
"Bu...bukan saya..." dustanya.
Srak!
Gunting itu menancap di lengan Rachel."Agghhh!" anak yang hanya dapat meringis kesakitan.
"Ja...jangan! Kalian binatang!" Makian Edward untuk pertama kalinya.
"Apa kamu bilang!?" Sang paman menyulut rokok tepat pada lengannya. Tempat yang biasanya terbalut pakaian tidak ingin dirinya dicurigai.
"Agghhh!" Teriak anak berusia 10 tahun itu masih dipegangi. Rasa perih yang tidak seberapa bagi Edward. Namun, tubuh Rachel yang dilukai ditatapnya.
Plak!
Plak!
Plak!
Rachel tidak henti-hentinya mendapatkan pukulan. Tangan Wilmar bahkan memerah karenanya. Sedangkan kondisi Rachel terlihat semakin lemah saja.
"Tuhan tidak ada bukan? Jika ada maka Rachel tidak akan mengalami ini." Batin Edward saat itu. Membulatkan matanya, tidak dapat berbuat apapun.
"Ja...jangan..." tangisan Edward terdengar, Hansen masih memegangi tubuhnya.
"Ini juga peringatan untukmu! Sebagai anak yang terlahir setelah merenggut nyawa adikku (ibu Edward) kamu harus tahu diri. Tau mana saja yang boleh dan tidak! Kalian ini hanya setan kecil! Sekretaris ayahmu bahkan mencurigai kami! Apa hal buruk pernah kami lakukan? Kami berbelas kasih memberi setan kecil tidak tahu malu seperti kalian makan." Kalimat demi kalimat yang diucapkan Wilmar, menendang tubuh Rachel.
"Berbelas kasih? Kalian hanya menumpang hidup pada tuan muda. Pelayan sepertiku bahkan lebih terhormat. Karena aku bekerja disini." Ucap Rachel, kata-kata yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.
Rambutnya dijambak, ditampar beberapa kali. Berusaha melawan juga percuma, matanya menatap ke arah Edward. Dirinya hanya sekali mengalaminya, tidak tahu akan sesakit ini. Kini dirinya mengetahui mengapa Edward dewasa dalam novel asli dapat membunuh orang tanpa berbelas kasih. Psikologi yang terganggu, kekerasan pada masa kanak-kanaknya mungkin penyebabnya.
"Aku mohon...jangan pukuli dia lagi! Kalian binatang!" Anak laki-laki berusia, 10 tahun itu kembali mengumpat.
Bruk!
Edward ditendang hingga tersungkur. Rachel masih dapat menatapnya. Apa ini akhir dari kehidupan keduanya? Entahlah. Tapi samar ditatapnya, mata anak laki-laki penuh kebencian itu.
*
Dingin...ini begitu dingin. Suara sesuatu terdengar, dirinya perlahan mencoba untuk membuka matanya.
Ini gudang, mereka berdua terkurung dalam gudang. Apa yang dilakukan Edward saat ini? Mungkin itulah yang ada di fikiran Rachel.
Mengumpulkan tumpukan buku dalam gudang. Anak yang membawa sebilah pisau cutter tengah mengelupas kabel yang belum terhubung arus listrik.
Tubuh Rachel terlalu lemah. Matanya menatap ke arah jendela. Tralis jendela sudah terbuka. Apa ini perbuatan Edward?
Hingga anak laki-laki berusia 10 tahun itu menoleh padanya. Tangannya gemetar, memeluk tubuh Rachel bagaikan ketakutan."Kita akan pergi...kamu tenang saja. Mereka yang menyakiti kita akan mati."
"E... Edward?" Rachel membulatkan matanya. Ada apa ini kenapa Edward berfikir demikian.
Wajah penuh senyuman berlumuran air mata itu melepaskan pelukannya pada Rachel. Senyuman yang terlihat ganjil, begitu menyeramkan. Tidak! Ini tidak seperti Edward kesayangan yang manis seperti biasanya.
"Setelah ini kita keluar, aku akan mencuri kunci pintu di post security. Aku akan kurung mereka dalam rumah, lalu bakar seperti tikus yang terbakar. Me... mereka akan mati..." Jawaban berurai airmata darinya.
Tumpukan buku, kabel yang belum terhubung dengan listrik, terkelupas. Ini sudah pasti Edward ingin membuat kebakaran yang terjadi akibat konsleting listrik.
"Kamu ingin membunuh?" tanya Rachel pelan. Dijawab dengan anggukan oleh Edward.
"Anak ini memang terlahir sebagai mesin pembunuh." Rachel menghela napas dalam-dalam, berusaha untuk tersenyum.
"Membunuh adalah perbuatan dosa, apa kamu tidak takut masuk neraka?" tanya Rachel menakut-nakuti.
Edward malah tertawa, namun terhenti sejenak."Kehidupan seperti ini lebih buruk dari neraka bukan? Jika mereka mati, kita dapat hidup tenang."
Rachel terdiam sejenak, dapat plot cerita novel yang asli, pada usia 12 tahun Edward meracuni seluruh anggota keluarga bibinya. Tapi kenapa alurnya lebih cepat? Bahkan cara membunuhnya lebih sadis.
"Kamu tidak dapat bertemu denganku..." Rachel kehabisan akal, berusaha untuk tenang.
"Tidak dapat?" Edward mengenyitkan keningnya.
Rachel memegang jemari tangan Edward. Tubuh mereka masih terbilang kanak-kanak menbuat mereka terlihat benar-benar manis.
Rachel mengangguk."Aku ingin selalu bersama denganmu. Teman yang saling menjaga selama-lamanya."
Tanpa diduga anak laki-laki berusia 10 tahun itu mencium dahi Rachel."Teman...teman selama-lamanya..."
Bayangan terlintas di benaknya, akan selamanya seperti ini. Menggenggam jemari tangan Rachel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Jasmine
didikan yg salah kaprah 😑😑
2025-01-04
0
Bzaa
gimana gak jdi psyco kl Paman bibinya mendidik ny bgtu
2024-06-18
0
Bambang Setyo
Bibi sama pamannya edward bukan manusia.. Pantes sih orang kaya mereka mati ditangan edward..
2023-10-20
0