...Kasih seperti hujan. Memeluk hati yang tandus....
...Kasih seperti hujan. Memberi tanpa meminta imbalan....
...Kasih seperti hujan. Membersihkan tubuhku yang kotor....
...Kasih seperti hujan. Menyamarkan tangisanku dalam dekapannya....
...Hujan? Itulah kamu bagiku....
Alfred Russel.
Kali ini Rachel meletakkan lebih banyak makanan ke dalam kotaknya. Dirinya harus memiliki relasi yang hebat jika ingin membantu Edward nanti.
Menghafal isi buku dengan sekali baca merupakan bakat luar biasa. Jika Query setuju untuk menjadi rekannya mendukung Edward. Sudah dipastikan masa depan cerah ada dihadapannya.
"Pernikahan Alira dan Edward sudah ada di depan mata!" ucapnya penuh semangat.
"Aku menikah dengan siapa?" pertanyaan dari Edward yang tiba-tiba ada di belakangnya.
"E... emmmm... tentu suatu hari nanti seseorang akan menikah dengan Edward kan? Seperti pangeran yang menikah dengan putri." Ucap Rachel gelagapan merasa salah bicara.
"Menikah ya?" Edward tersenyum, kemudian menyentil dahi Rachel."Berani-beraninya kamu berimajinasi aku menikah."
"Sakit!" Rachel mengusap-usap dahinya.
Edward mendekat, kemudian mengecup dahi Rachel."Sudah tidak sakit lagi bukan?"
"Sudah tidak sakit..." jawaban dari Rachel. Edward-nya benar-benar anak yang manis. Bagaimana bisa menjadi pelaku pembunuhan berantai?
"Kenapa membawa banyak makanan?" tanya Edward mengamati anak ini membawa lebih dari biasanya.
"Ada seorang teman yang kesulitan. Jadi harus dibantu." Kalimat demi kalimat yang diucapkan Rachel membuatnya mengingat anak laki-laki dekil yang kemarin berada di depan rumah.
"Kamu senang berteman dengannya?" tanya Edward ragu.
Rachel mengangguk."Dia orang yang baik, dan pintar. Kelihatannya setia kawan. Kalau Edward juga berteman dengannya itu akan lebih baik."
"Aku tidak tertarik, tapi jangan terlalu banyak menghabiskan waktu dengannya. Pulang tepat waktu, karena tugasmu menumpuk." Anak laki-laki itu tiba-tiba menjadi dingin, berjalan meninggalkan Rachel.
Sedangkan Rachel kembali konsentrasi memasukkan lebih banyak makanan ke dalam kotak bekalnya.
Edward mengenyitkan keningnya mengintip dari balik dinding. Senyuman yang mengembang, membawakan anak lain makanan. Ini tidak dapat diterima oleh Edward entah kenapa.
"Semester depan dia harus pindah ke sekolah yang sama denganku." Gumamnya, tidak ingin Rachel memiliki teman baru kemudian kabur dari rumah dan meninggalkannya.
Ingat! Ini bukan cemburu, masih dalam tahap keegoisan anak kecil.
*
Sulit dipercaya seperti hari sebelumnya, Flint menghantar mereka sebelum pergi untuk bekerja. Ayahnya yang selalu tinggal di hotel kini bahkan tidak pernah melewatkan makan malam dan mengantar mereka.
"Putri ayah! Belajar dengan baik ya?" Ucapnya merapikan penampilan Rachel, bagaikan anak menggemaskan ini sudah menjadi bagian keluarganya.
"Aku tidak punya adik sepertinya. Selamanya Rachel adalah pelayanku." Edward ikut-ikutan turun dari mobil, di depan sekolah dasar negeri. Dan benar saja, beberapa anak mengintip ke arah Edward, terlihat elite mengenakan seragam sekolah swasta bertaraf internasional ditambah dengan rambut putih dan wajah rupawannya.
Bahkan salah seorang guru perempuan tercebur ke kolam akibat terpesona dengan Flint, karena kurang waspada saat berjalan.
Rachel hanya mengangguk, berjalan masuk tidak ingin mendapatkan perhatian lebih banyak lagi. Benar-benar malu rasanya, anak dengan beberapa gigi yang telah tanggal itu hanya menunduk.
Sedangkan Flint dan Edward kembali masuk ke dalam mobil, melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat Edward bersekolah.
Jendela mobil yang terbuka, Edward menatap ke arah jalan depan sekolah tersebut. Anak itu terlihat lagi, seorang anak yang juga berani langsung menatap matanya dari jauh.
Mereka tidak saling mengenal, tapi bagaikan sudah saling membenci dari awal. Anak laki-laki yang berjalan kaki menuju sekolah.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir mereka, hanya berpapasan sekilas.
*
Anak itu terlihat lagi di jam makan siang. Mengambil setengah nasi putih milik Query. Kemudian menggantinya dengan lauk miliknya.
Dirinya tertunduk menatap ke arah Rachel."Orang yang tadi mengantarmu---."
"Oh itu, namanya Edward dan ayahnya tuan Flint, dia pemilik rumah tempatku bekerja. Ibuku dulu pelayan disana, meninggalkanku sejak usia lima tahun. Jika difikir-fikir bisa dikatakan ibu kabur, meninggalkan putrinya setelah kasbon tiga bulan gaji. Lumayan beruntung sebenarnya aku tidak dibawa ke panti asuhan. Hanya perlu mengerjakan pekerjaan rumah sepulang sekolah." Penjelasan singkat dari Rachel dengan mulut penuh.
"Kamu bekerja? Apa diperlakukan buruk?" tanya Query lagi.
Rachel menggeleng, wajahnya tersenyum."Malah mereka semakin baik padaku. Bisa dikatakan aku sudah menganggap mereka seperti keluarga."
"Be... begitu? Pasti menyenangkan." Hanya itulah kalimat yang keluar dari bibir Query, berusaha untuk tersenyum.
Anak itu? Dirinya membenci anak yang bahkan tidak pernah bicara satu patah katapun. Anak berambut putih yang seakan menatapnya bagaikan pengganggu.
"Edward orang yang baik, aku yakin kalau salib mengenal kalian akan menjadi teman yang akrab." Itulah yang ada dalam khayalan Rachel.
Membayangkan masa depan yang indah. Cukup klise memang, Edward menjadi eksekutif muda yang keren. Memiliki Query sebagai asistennya, asisten yang selalu direpotkan kala Edward nanti berkencan dengan Alira.
Cerita klise yang menyenangkan.
Hup!
Hup!
Rachel menepuk-nepuk dadanya sendiri, tersedak setelah makan sembari tertawa. Tapi benar-benar masa depan yang indah. Edward-nya tersayang tidak perlu bunuh diri karena patah hati. Tidak perlu juga menjadi seorang pembunuh.
"Kenapa tertawa?" tanya Query tidak mengerti.
"Aku hanya membayangkan masa depan yang akan kita lalui." Jawaban Rachel, membuat anak laki-laki itu tersenyum dan mengangguk.
Menjadi sahabat Rachel, orang yang paling hangat. Apa kebenciannya pada wanita sudah terhenti? Sejatinya belum, dirinya cukup membenci wanita yang berpura-pura, tertarik hanya dengan rupa fisik dan uang. Namun, dirinya tidak membenci Rachel dan ibunya. Dapatkah dirinya menyimpan Rachel untuk terus berada di dekatnya?
Sementara Rachel mengenyitkan keningnya, berkutat dengan pemikirannya sendiri. Dirinya benar-benar ingin tahu dimana para pemeran utama saat ini. Apa seharusnya dirinya membully Alfred Russel dari kecil? Tokoh utama yang akan sulit ditaklukkan. Penghalang utama bagi masa depan Edward.
*
Hari ini dirinya kembali makan siang di rumah susun tempat Query tinggal. Seperti biasanya juga, makanan sederhana dengan lauk yang dibawa Rachel.
Wanita itu mulai dapat tersenyum entah kenapa. Menatap ke arah Rachel dan Query yang makan dengan lahap.
"Query, setelah besar nanti jangan menjadi seperti ayahmu. Perlakuan Rachel dengan baik." Kalimat darinya menahan senyumnya.
Entah kenapa ini sedikit menghiburnya kala melihat kedua anak itu mengedipkan mata polos mereka. Tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Cresia (ibu angkat Query).
"Kalian sangat polos!" Cresia tertawa hingga memegangi perutnya sendiri.
Sejenak dirinya merasakan angin lembut. Memikirkan perselingkuhan? Sudah beberapa bulan ini dirinya kacau. Menghancurkan kehidupan putranya.
"Bibi tersenyum? Tetaplah seperti ini! Jangan mau kalah, kalau ada yang namanya wanita jahat menjadi istri. Maka bibi tidak perlu peduli. Status bibi lebih tinggi dari seorang istri, yaitu seorang ibu dari Query." Kalimat demi kalimat yang membuat senyuman semakin lebar di bibir wanita yang masih mengalami depresi itu.
"Benar! Aku ibu dari Query. Tetaplah berteman dengannya...ya sayang..." Wanita itu memeluk Rachel erat.
Sedangkan Query terdiam, meskipun terkadang mengalami delusi. Tapi ibunya perlahan terlihat membaik sedikit demi seorang.
"Dua perempuan yang cantik..." Gumamnya dengan suara kecil, menatap ke arah Rachel dan ibunya. Bukan rupa fisik, tapi sifatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Ran Aulia
hahaha iya iya Edward ☺️☺️
2024-01-14
0
🌠Naπa Kiarra🍁
Lanjut, kak!!
2023-10-27
0
who am I
oh no.....apa akan terjadi perubahan peran, si query yang jadi psiko, ini akan menjadi ancaman dadakan buat rachel 😱
2023-10-23
2