...Langkahmu bergerak penuh keceriaan. Tidak anggun sama sekali....
...Tidak pula ada yang istimewa dengan rupamu. Namun, terkadang aku berfikir....
...Mungkin dengan ini aku dapat mempercayai. Kasih sejati itu ada....
Alfred Russel.
"Wanita ya?" Rachel berfikir sejenak."Jika kamu cukup dewasa nanti akan mengetahui, ada wanita yang baik tapi juga ada yang jahat. Pada dasarnya sama seperti pria, ada yang baik ada juga yang jahat."
"Ta...tapi dia menempati kamar ibu, kemudian mengusir kami." Query menatap ke arah satu-satunya teman bicaranya.
"Begini, aku adalah wanita ibumu juga wanita. Apa kami jahat?" tanya Rachel, dengan cepat Query menggeleng.
"Tidak Jajat. Tapi..." Kalimat Query disela.
"Tapi apa? Tidak jahat ya tidak jahat! Aku akan datang kesini lagi besok." Rachel mulai bangkit dari tangga darurat tempatnya duduk.
"Ke... kenapa?" Pertanyaan Query membuat langkah Rachel terhenti.
"Karena aku ingin menjadi temanmu. Ingat! Teman akan membantu teman lainnya saat dalam kesulitan." Kalimat demi kalimat Rachel membuat dirinya tertegun.
"Besok aku akan membawakan makanan. Tapi aku tidak bisa pulang hingga sore seperti sekarang. Aku harus bekerja dan menemani tuan muda..." Anak berusia 8 tahun itu melangkah pergi.
Kala itulah Query mengepalkan tangannya. Air matanya mengalir, makanan enak? Sudah beberapa bulan dirinya hanya memakan nasi, garam, dan kecap. Menghemat tabungan ibu angkatnya yang tidak seberapa. Menunggu ibu angkatnya yang entah kapan dapat pulih.
Dirinya berlari sekuat tenaga, mengejar teman barunya. Dirinya baru pindah sekolah beberapa bulan ini. Tidak satu orang pun yang ingin bicara dengannya.
Hingga tepat kala Rachel hendak meninggalkan area rumah susun, Query memegang jemari tangannya."Aku ingin mengantarmu. Kita teman, jadi harus tau letak rumah masing-masing."
*
Sementara di tempat lain. Edward telah datang dari jadwal kursus biolanya. Matanya menatap ke arah kamar Rachel yang kosong.
Anak berusia 10 tahun itu berlari, apa Rachel pergi? Tertabrak seperti kecelakaan yang dilewatinya saat perjalanan kemari? Ketakutan, saat ini Edward benar-benar ketakutan.
"Tuan muda..." Ucap salah seorang pelayan.
"Apa Rachel sudah pulang?" tanyanya, berharap Rachel berada di salah satu sudut rumah ini.
"Be... belum." Jawab sang pelayan gugup.
Dawai biola dipegangnya begitu erat. Hingga darah mulai mengalir melukai jemari tangannya. Pembunuhan pada anak di bawah umur? Penculikan? Kecelakaan? Segala alasan yang membuat Rachel meninggalkannya terbayang dalam benaknya.
"Hubungi ayahku katakan Rachel menghilang! Suruh supir dan pelayan mencarinya di daerah sekitar. Jika tidak menemukannya, kalian akan tau akibatnya." Kalimat demi kalimat dengan nada mengerikan dari anak berusia 10 tahun. Menatap tajam bagaikan tanpa emosi.
Hingga sang pelayan berlari untuk melakukan perintah.
Bug!
Pelayan tersebut sempat terjatuh, kembali bangkit kemudian berlari.
Edward tertegun di ruang tamu. Anak yang memakai kemeja putih dengan setelan rompi hitam dan celana panjang itu terdiam, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Hingga suara pintu gerbang terbuka terdengar.
Sayup-sayup suara Rachel didengarnya. Berlari dengan cepat setelah menjatuhkan biola miliknya. Hingga dirinya bertemu lagi dengan anak itu. Rachel hanya tersenyum padanya.
"Maaf, aku bolos kerja." Ucapnya sebagai lintah yang hidupnya dibiayai.
Edward segera memeluknya, wajahnya tersenyum, merangkul Rachel masuk."Tidak apa-apa..." ucapnya tersenyum ceria.
Matanya sedikit melirik ke belakang, ada seorang anak laki-laki mungkin sebaya dengan Rachel. Menatap ke arah mereka dari balik gerbang. Edward hanya sedikit melihat padanya, kemudian tersenyum. Menyimpan kekesalan dalam hatinya sendiri.
Sementara itu Query hanya dapat melihat dari jauh. Rachel pergi memasuki rumah, dengan anak laki-laki dari keluarga kaya. Bukan hanya kaya, tapi juga rupawan, mengenakan pakaian berkelas. Teman? Rachel adalah teman pertamanya di tempat ini.
Kenapa dirinya kesal tanpa alasan? Entahlah, mungkin karena dirinya teman yang memiliki banyak kekurangan. Berbeda dengan seseorang yang dipanggil Rachel tuan muda.
Query melangkah pergi, setelah ini dirinya harus mengurus sang ibu.
*
"Kenapa bisa terluka?" Rachel menghela napas kasar, mengobati luka gores pada telapak tangan Edward.
"Aku bermain tidak hati-hati." Jawaban darinya penuh senyuman.
"Ekhm... Rachel yang tadi itu siapa?" tanya Edward pada akhirnya.
"Namanya Query, dia teman sekelasku. Lain kali aku akan mengenalkannya pada Edward. Dia itu sangat pintar." Jawaban dari Rachel dengan imajinasi tingkat tinggi. Suatu hari nanti Query akan menjadi orang kepercayaan Edward dalam mengurus perusahaan. Perusahaan akan semakin berkembang, hingga dapat mendepak Alfred Russel. Dengan begitu cinta akan bersemi diantara Edward dan Alira. Sedangkan dirinya akan menjadi figuran paling beruntung.
Hidup bahagia sebagai seorang dokter, sama seperti di kehidupan sebelumnya sebagai Rania.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Edward mengenyitkan keningnya.
"Membayangkan dua orang dewasa berciuman." Penggila novel romansa itu sudah tentu membayangkan ending yang akan diciptakannya. Membayangkan adegan ciuman Edward dengan Alira serta anak-anak manis keturunan dua orang itu nanti.
Cup!
Satu ciuman mendarat di pipinya, Rachel membulatkan matanya menoleh ke arah Edward."Jangan berkhayal yang tidak-tidak. Termasuk berimajinasi jika kamu akan menikah atau berciuman seperti orang dewasa. Karena selamanya kamu akan tinggal denganku dan menjadi pelayanku."
Antagonis kesayangannya benar! Seperti kehidupan sebelumnya. Rania yang tidak pernah memiliki hubungan romantis. Kali ini dirinya juga tidak akan pernah memiliki hubungan romantis. Kehidupannya sebagai lintah di kaki Edward sudah cukup baik, tinggal konsentrasi pada karier dan pendidikannya.
"Baik! Akan berpihak pada Edward selamanya." Ucapnya, merasa gemas. Mengecup pipi Edward.
Anak laki-laki itu terdiam sesaat. Wajahnya perlahan tersenyum. Meyakinkan dirinya, apa yang dikatakan Rachel adalah kebenaran.
Apa ini adegan romantis? Bukan, ingat! Jangan bayangkan mereka orang dewasa. Mereka hanya anak kecil, yang terhubung dengan kata pertemanan.
*
Kali ini pun sama, Flint makan malam bersama mereka. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam hidup Edward. Biasanya sang ayah hanya menginap sehari di rumah. Selebihnya menginap di hotel.
"Ini!" Flint meletakkan irisan daging pada piring Rachel dan Edward."Kalian itu dua ekor tikus yang bisanya cuma makan saja!"
"Tuan seperti seekor kucing yang mencarikan makan untuk dua ekor tikus." Candaan dengan wajah datar dari Rachel.
Sedangkan Edward menipiskan bibir menahan tawanya. Ayahnya menang bagaikan kucing putih bukan? Jika mereka berdua diibaratkan tikus.
Flint menghela napas kasar, untuk pertama kalinya melihat putranya tertawa. Itu artinya belum boleh menyerah untuk menjadikan Rachel putrinya bukan? Edward pasti akan merasa lebih baik memiliki adik seperti Rachel.
"Rachel bisa panggil aku ayah? Tuan terlalu canggung." Ucap Flint penuh harapan.
"Hanya panggilan, tanpa adopsi?" tanya Rachel, dengan cepat Flint mengangguk.
"Baik ayah!" Rachel hanya tersenyum, mengikuti perintah dari dua orang yang membiayai kehidupannya.
*
Sedangkan di tempat lain, Query tengah menikmati makan malam bersama ibunya. Kali ini hanya nasi dan kecap.
"Ibu aku punya teman." Ucap Query.
"Anak yang tadi siang? Dia lumayan manis." Sang ibu sedikit tersenyum, tapi hanya sedikit.
Depresi yang terlalu dalam, menghela napas berkali-kali. Ibunya belum dapat bekerja dan mengurus dirinya. Tapi perlahan ibunya memang akan membaik.
"Ibu menyukai temanmu..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Bzaa
jangan2 perannya mlh ketuker
2024-06-18
1
Eka Awa
jangan2 query itu adalah Alfred kecil
2023-11-26
1
🌠Naπa Kiarra🍁
Calon saingan ini
2023-10-27
0