Keesokan harinya, Zolta melakukan diskusi bersama Brian mengenai keterkaitan Lawrence dengan kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini.
"Menurutmu dia pelakunya? Dari 14 korban, hanya satu saja yang memiliki hubungan dengan dirinya," kata Brian, mencoba menganalisa temuan Zolta kemari. "Kurasa kita tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bukti yang cukup kuat selain mengandalkan temuan dari kotak musik wanita itu," jelasnya.
Apa yang dikatakan Brian memang benar, tanpa adanya saksi yang menguatkan, Brian tidak dapat melakukan penangkapan terhadap Lawrence. Jika dia melakukan penangkapan lalu terbukti Lawrence tidak bersalah, karirnya di Patrol Guard akan terancam.
"Bukankah kau bilang dia datang kesini dari Kota Danzig satu kereta bersamamu? Dia juga dari satu sampai dua minggu sebelumnya terlihat sedang berada di sana, jadi kecil kemungkinan dia sendiri yang melakukan pembunuhan ini," ujar Brian yang terlihat pesimis akan kecurigaan Zolta.
Namun, Brian tidak mengetahui apa yang Zolta ketahui. Dia kemudian menjelaskan apa yang dia temukan sebelum tiba di Ibukota kepada temannya itu.
Beberapa hari yang lalu, Zolta menyelidiki kasus yang orang hilang di Kota Danzig. Setelah melakukan penelusuran di area saluran air, dia mendapati bahwa selama ini, para warga yang menghilang itu menjadi subjek eksperimen seseorang, mengubah mereka perlahan menjadi monster.
Setelah membunuh Aileen, Zolta dan Barney menemukan barang bukti seperti botol-botol berisi cairan mencurigakan, peralatan medis, dan beberapa obat-obatan.
Zolta meragukan bahwa Aileen-lah orang yang mengubah para warga yang menghilang itu menjadi monster yang artinya...
"Ada pelaku lain yang melarikan diri sebelum kedatangan kalian...," gumam Brian.
"Ya, dan timing kepergian Lawrence dari Kota Danzig ke ibukota juga sangat mencurigakan," ujar Zolta. Dia kemudian mencoba mengingat-ingat kembali. "Apakah kau tidak menyadari, setelah kematian Fiona dan kedatangannya ke ibukota, belum ada kasus pembunuhan lagi terjadi di kota ini?"
Brian kemudian mengangguk setuju dengan ucapan Zolta.
"Kau benar, selama 14 hari sebelumnya, selalu ditemukan korban pembunuhan setiap harinya di kota. Kini, sudah tiga hari belum ada laporan pembunuhan dengan kasus yang sama dengan yang sebelumnya."
Namun, masih ada yang janggal dalam kasus ini menurut Brian pemikiran Brian.
"Kalau begitu, apa alasan dia membunuh Fiona? Bukankah ini akan membuat kita menaruh curiga kepada Lawrence?" tanya Brian masih tidak mengerti alasan mengapa sang Pelaku membunuh Fiona.
"Ada satu orang lagi yang ku curigai sebagai pelaku pembunuhan ini," kata Zolta seraya mengeluarkan buku jurnalnya. "Seorang penjaga menara—Igor, semenjak dia menghilang, tidak ada satupun juga kasus pembunuhan yang terjadi."
Zolta kemudian mengeluarkan kotak musik Fiona di saku jasnya. "Dia menghilang bersamaan dengan hari dimana terakhir Fiona terlihat masih hidup. Aku barusan mencari ke tempat tinggalnya, tetapi Aku tak menemukan petunjuk apapun di sana."
"Lalu, apa hubungannya pria bernama Igor dengan Fiona dan Lawrence dalam kasus ini?" tanya Brian.
"Well... Tadi pagi Aku meminta keterangan kepada para peserta yang mengikuti bimbingan musik bersama Lawrence, salah satunya mengatakan, dia melihat Fiona bersama Lawrence sering memasuki menara jam berdua saja setelah sesi bimbingan berakhir."
***
Sore harinya, Noel seperti biasa sedang berjalan-jalan santai di keramaian kota Salianburg. Ini adalah tugas yang diberikan oleh Sang Dokter padanya kemarin.
"Huh?"
Noel melihat enam orang Patrol Guard sedang berjalan ke arah Distrik perbelanjaan, tempat dimana kediaman Sang Dokter berada.
"Aku harus bergegas memberitahu Dokter," gumamnya seraya berlari secepat mungkin memasuki gang-gang kota.
Sang Dokter pernah bilang padanya, 'Jika Noel melihat lima orang atau lebih Patrol Guard berjalan bersama-sama ke arah kediaman Dokter, bergegaslah melapor, mengerti?'
Dia berlari melewati gang sempit dan memasuki beberapa lorong bangunan agar sampai lebih cepat dari para Patrol Guard itu.
Tinggal sedikit lagi...
Dia kemudian melihat sebuah tempat sampah lalu menggesernya. Terdapat sebuah lubang saluran rahasia yang mana akan mengarahkannya langsung menuju kediaman Sang Dokter.
Dia memasuki saluran tersebut dengan merangkak. Lubang ini hanya dapat dimasuki oleh ukuran anak kecil seperti dirinya.
Tak lama kemudian, dia menemukan sebuah pintu lalu memutarnya.
"Ah, Noel. Mengapa kau terlihat terengah-engah seperti itu."
Noel kemudian melihat Sang Dokter sedang mengobrol bersama pasiennya yang kemarin baru saja dia operasi.
"Ma-maaf mengganggu waktu Anda, Doker! Aku melihat para Patrol Guard sedang menuju kesini!"
Mendengar penjelasan Noel, ekspresi Sang Dokter kemudian berubah menjadi serius. Dia menghampirinya lalu memberikan sebuah surat padanya.
"Noel, berikanlah surat ini ke Nona Maria di markas Ordo Ksatria," ucap Sang Dokter yang kemudian tersenyum padanya. "Temui Aku di tempat biasa setelah kau selesai mengantarkannya, akan ada kejutan yang sangat bagus menantimu."
Mendengar hal ini, Noel terlihat bersemangat.
"Baik, Dokter! Kau selalu bisa mengandalkan ku!"
Noel lalu kembali keluar lewat lubang di mana dia masuk ke ruangan ini.
"Apakah kita mulai rencananya?" tanya Pria di belakang Sang Dokter. "Aku... sudah siap melakukan semua yang Anda perintahkan, Dokter."
Sang Dokter kemudian berbalik melihat tatapan pasiennya yang telah memantapkan tekadnya tersebut.
"Ya... Lawrence Sang Musisi akan mati malam ini."
.
***
Di markas Patrol Guard, Zolta dan Bria sedang menunggu di ruang introgasi bersama tiga anggota Patrol Guard lainnya. Mereka menunggu beberapa Patrol Guard yang ditugaskan untuk menangkap Lawrence tiba.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Dua orang Patrol Guard membawa masuk Lawrence yang terlihat memiliki ekspresi yang datar.
"Ah, kerja bagus. Bukalah borgolnya," perintah Brian.
Mereka lalu membuka borgol di lengan Lawrence lalu membuatnya duduk di sebuah kursi yang telah disiapkan sebelumnya.
Zolta memperhatikan Lawrence dengan cermat.
Dia ... Tampak berbeda dari sebelumnya, pikir Zolta. Dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan Lawrence kali ini.
"Tuan Lawrence, maaf membuat Anda harus melewati ketidak nyamanan ini," kata Brian yang terlihat akan memulai proses interogasi. "Kami ingin meminta beberapa keterangan dari Anda dengan kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini."
Namun, Lawrence hanya terdiam tidak merespon kata-kata dari Brian.
Ya ... Ada yang sedikit aneh dengannya. Kalau tidak salah, dia memiliki tinggi yang sama sepertiku. Akan tetapi, saat dia berdiri tadi kurasa tubuhnya lebih tinggi sedikit dariku.
Zolta merasakan ada sesuatu yang janggal di sini.
"Tuan Lawrence, apa kau tidak apa-apa?" tanya Brian kembali, dia khawatir Lawrence tidak bisa menjawab karena ketakutan tiba-tiba ditangkap oleh anggota Patrol Guard.
Kembali, Lawrence tidak menjawab pertanyaan dari Brian.
Jika diingat kembali, bukankah Lawrence memiliki mata berwarna biru? Kali ini warna matanya berwarna coklat dan sejak kapan dia mempunyai sebuah luka jahitan di sekitaran lehernya?
-Brak!
Tiba-tiba Lawerence terjatuh dari kursinya, dia tergeletak sambil menjerit kesakitan memegangi perutnya.
"Hey, kau kenapa!" seru Brian bergegas berlutut untuk mengecek kondisi Lawrence. "Cepat panggilkan Dokter kemari!" perintahnya.
Satu orang Patrol Guard lalu keluar ruangan untuk memanggil bantuan.
"Agghhhhh!" Teriakan Lawrence semakin kencang.
Brian kemudian membuka baju Lawrence, terdapat sebuah simbol lingkaran aneh yang bersinar di perutnya.
"Hahahaha!" Kali ini, Lawrence tertawa lepas.
Zolta meraih pistolnya, dia merasakan firasat buruk tentang ini.
Seluruh tubuh Lawerence kini mulai bercahaya, mata, hidung, telinga semua lubang yang ada di seluruh tubuhnya mengeluarkan sebuah cahaya.
"Berlindu—"
-Darrrrr!
Tubuh Lawerence meledak, Zolta dan beberapa Patrol Guard yang berada di ruangan terpental ke dinding.
Zolta merasakan sakit di seluruh bagian tubuhnya. Tangannya terasa terbakar, pendengarannya terganggu, hanya suara dengungan saja yang terdengar oleh telinganya.
Beberapa detik kemudian, dia dapat melihat sekitar. Seluruh dinding ruangan retak, darah terciprat kemana-mana.
Zolta berusaha berdiri, namun seketika dia membeku. Di hadapannya, tubuh Brian terkulai lemas tak bernyawa. Dadanya hancur, dia berada tepat di hadapan Lawrence ketika tubuhnya meledak tadi.
Teman yang sudah dia kenal sejak lama, mati begitu saja dalam sekejap.
Di samping tubuh Brian, terlihat kepala Lawrence yang terpisah dari potongan tubuhnya yang hancur. Bau darah manusia mulai tercium di ruangan ini.
Dia kemudian meraih kepala Lawrence untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi barusan.
-Click
Namun, ketika dia sedang mengumpulkan informasi mengenai apa yang terjadi sebenarnya, dia mendengar suara seseorang membuka pintu masuk ruangan ini.
Dia pun berbalik, lalu melihat seorang wanita berambut hitam sedang menatap kosong kepala Lawrence yang sedang berada di genggaman tangannya.
"Tidak, tidak, tidak!" Maria memegang kepalanya terlihat tidak kuasa melihat potongan tubuh Sang Kekasih berhamburan di dalam ruangan.
"Kau... Apa yang kalian lakukan pada Lawrence-ku!" Maria berteriak, sebuah kilatan petir samar-samar muncul di sekeliling tubuhnya.
Zolta memegang gagang pedangnya, bersiap untuk bertarung. Dia masih tidak mengerti kenapa Maria tiba-tiba saja berada di sini, di waktu yang sangat tidak baik.
"Kubunuh kalian semua, Bajingan!"
Maria menghunuskan pedangnya, wajahnya berubah menjadi mengerikan bagaikan binatang buas sedang memburu mangsanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Sampawn
ini agak dark si
2023-11-06
0
Sampawn
wah lubang lubangnya bercahaya! /Scare/
2023-11-06
0