Catatan Harian Sefina
- Bulan lima hari ke-7
Ayah nampak sibuk seperti biasa, kakak beberapa hari lagi akan kembali ke ibukota untuk Bekerja. Rumah akan sepi kembali, hah... kapan aku akan memiliki seorang teman sejati yang selalu ada untuk menemaniku?
- Bulan Lima hari ke - 10
Beberapa penduduk desa kembali mencemoohku ketika sedang membeli bahan untuk memasak. Sejak ibu meninggal 6 tahun lalu, aku yang selalu mengurus rumah untuk kami berdua. Ayah tidak mau mempekerjakan seorang pembantu, dia tidak ingin ada orang asing berada di dalam rumahnya.
- Bulan Lima hari ke - 12
Memangnya kenapa kalau wajahku seperti ini? Seharian, aku hanya menangis saja di dalam kamar. Memangnya kenapa jika Aku memiliki wajah seperti ini!?
- Bulan Lima hari ke- 14
Aku membuatkan sebuah selendang untuk hadiah ulang tahun Ayah, aku mungkin tidak sebagus ibu, tapi aku percaya diri untuk selendang buatanku kali ini. Tapi... Respon Ayah ketika mendapat hadiah dariku ini sangat datar, aku bahkan melihatnya melempar selendang buatanku itu ke sofa setelah Ayah membuka kotak hadiahnya.
Apakah terjadi sesuatu dalam urusan bisnisnya? Aku ingin membantunya... Tapi, kurasa dia akan lebih marah jika aku banyak tanya.
- Bulan Lima hari ke - 16
Seorang Pria membelaku ketika beberapa warga desa mencemooh ku kembali.
Siapa dia? Mengapa dia membantu wanita buruk rupa sepertiku?
Ternyata, masih ada orang baik terhadap wanita sepertiku di dunia ini. Mengingat kejadian itu membuatku selalu tersenyum.
- Bulan Lima hari ke - 20
Nama pria yang membelaku itu adalah Eren, dia baru saja datang kesini untuk menetap di desa. Dia selalu baik padaku, kami mulai sering bertemu dan membicarakan banyak hal.
- Bulan Enam hari ke - 1
Eren mengatakan, dia akan mencari cara untuk menyembuhkan kelainan yang ada di wajahku. Membuatku menjadi gadis normal seperti yang lain. Aku sangat bahagia mendengar niat baiknya itu. Namun, aku tidak meninggikan harapanku padanya.
- Bulan Tujuh hari ke - 12
Aku melihat ke sebuah cermin. Terlihat seorang wanita dengan wajah yang cantik dan mempesona terpantul pada cermin tersebut.
Eren berhasil... Dia berhasil menyembuhkanku! Aku tidak tahu bagaimana cara dia melakukannya. Walaupun begitu... Aku sangat bersyukur sekali.
- Bulan Tujuh hari ke - 13
Eren menyatakan perasaannya padaku setelah merayakan keberhasilannya menyembuhkan kembali wajahku.
Hari itu adalah pertama kali aku merasakan kebahagiaan setelah hidup 20 tahun di dunia ini.
Semuanya berkat Eren—Kekasihku yang sangat kucintai.
- Bulan Sembilan Hari ke - 3
Inilah saatnya... Walaupun hidupku ini singkat, setidaknya aku pernah merasakan kebahagiaan bersama pria yang kucintai. Aku tidak memiliki penyesalan sama sekali.
.
.
.
Setelah membaca Buku diari dari Sefina, Zolta merasakan sesuatu yang janggal. Terdapat sebuah robekan yang harusnya mencakup catatan di bulan ke-8.
Haruskah aku mengkonfrontasi langsung Mister Radan? Zolta mempertimbangkan pilihan itu. Berdasarkan apa yang ditulis di diari Sefina, besar kemungkinan dia mati bukan karena kecelakaan, melainkan karena bunuh diri.
Zolta kembali menuju kediaman Radan untuk mencari petunjuk lebih banyak. Hari sudah memasuki sore dan para warga mulai memasuki rumah membuat jalanan desa semakin sepi.
Zolta mengetuk pintu rumah Radan. Namun setelah mengetuknya beberapa kali, tidak ada satu orang pun yang keluar untuk menyambutnya. Dia kemudian meraih gagang pintu, membukanya lalu mendapati pintunya sama sekali tidak dikunci.
Zolta memasuki rumah Radan. Tidak merasakan sesuatu yang berbahaya, dia masuk lebih jauh ke dalam bagian rumah dengan santai. Dia lalu melihat sebuah tangga yang sepertinya mengarah ke sebuah basemen.
Setelah menuruni tangga, Zolta melihat sebuah pintu lalu membukanya. Di dalamnya, terlihat Tuan Radan sedang duduk di sebuah kursi kayu. Di atas meja, terlihat seutas tali yang telah setengah di simpulkan untuk mengikat sesuatu.
Dia berniat untuk bunuh diri, kah? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Mengapa kau ingin mencabut nyawamu sendiri, Mister Radan?" tanya Zolta mencoba bersikap secara natural.
Radan kemudian melirik Zolta, menatap matanya dengan ekspresi yang campur aduk. Penyesalan, marah dan kehampaan. Itulah yang terpampang di wajah Radan.
"Oh... Hunter, setiap malam suaranya... Suara kesedihan Sefina selalu terdengar dari kamarnya," ucap Radan seolah telah lelah dengan apa yang dia selalu alami.
Suara dari dalam kamar? Mungkinkah Radan mengetahui sesuatu tentang Makhluk Astral yang sedang ku kejar ini?
"Aku melakukan itu semua... Hanya untuk kebahagiaan Sefina sendiri... Tapi dia selalu salah paham mengenai niatku ini," gumam Radan seraya menundukkan kepalanya seperti merasa bersalah. "Aku tidak mengerti, mengapa semua bisa berakhir menjadi seperti ini...?"
Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan segala ceritanya.
Meninggalkan Radan sendiri dalam kesedihannya, Zolta keluar dari basemen. Dia kemudian berjalan ke sebuah pintu kamar lalu membukanya. Terlihat sebuah ruangan yang sangat rapi layaknya seperti kamar seorang wanita yang rajin melakukan pekerjaan rumah.
Di sebuah meja, terdapat lembaran kertas yang sedikit berdebu. Zolta kemudian membersihkannya terlebih dahulu sebelum membacanya. Lembaran kertas itu adalah diari Sefina yang hilang pada bulan ke delapan.
Begitu, kah? Semuanya menjadi terang sekarang.
Setelah membaca semua diari Sefina pada bulan delapan, Zolta kemudian menggeledah kamar Sefina untuk mencari sesuatu. Dia membuka sebuah kotak kecil yang berada di kolong tempat tidur. Di dalamnya, terdapat sebuah jepit rambut yang berbentuk kupu-kupu dan sebuah benda yang mirip serpihan batu kristal berwarna merah.
Zolta melihat keluar jendela, tak terasa langit sudah mulai gelap. Malam sebentar lagi akan tiba.
Dia kemudian kembali ke basemen untuk menanyai Radan beberapa hal. Di dalam ruangan basemen, terlihat sesosok tubuh manusia bergelantungan. Wajahnya membiru karena lehernya terikat oleh tali. Radan telah mencabut nyawa sendiri.
Zolta tidak membantu Radan sebelumnya karena fokus utama seorang Hunter ketika sedang berada dalam kontraknya yaitu menyelesaikan tugas yang telah disetujui dalam kontrak. Itu adalah prioritas utama yang tertulis dalam salah satu kode seorang Hunter.
.
.
.
Malam harinya, di salah satu rumah warga. Terlihat seorang wanita yang sedang duduk seperti seorang istri yang tengah menunggu suaminya.
-Brak
Pintu rumah itu terbuka, seorang pemuda memakai seragam Patrol Guard masuk rumah itu. Dia adalah Pria yang sebelumnya menolong wanita yang berada di pinggir jurang kemarin malam.
"Kau sudah pulang, Jeor." Wanita tersebut tersenyum menghampirinya.
"Ahh... My Lady. Apakah kau merasa kesepian di rumahku sendiri?" Jeor memeluk wanita itu.
"Ya... Aku sangat kesepian. Kau seharusnya lebih cepat pulang, Jeor kekasihku," ujar wanita itu terdengar sangat sedih.
Jeor kemudian memeluk wanita itu dengan erat mencoba menenangkannya. "Kau tidak sendirian lagi, Lady. Aku akan selalu menemanimu hingga akhir hayatku."
"Terima kasih, aku mencintaimu, Jeor." Wanita itu memeluk leher Jeor dengan erat.
Mendengarnya ucapan terima kasih dari wanita itu, hati Jeor sangat bahagia. Jeor merasa, dia bisa mengorbankan apapun untuk wanita yang sedang berada dipelukannya ini.
"Aku juga mencin—" Suara Jeor tertahan, tenggorokannya tiba-tiba terasa tercekik. "La-lady...?" Jeor mencoba melihat ekspresi wajah wanita itu. Dia terlihat... sedang tersenyum.
Pandangan Jeor bulai buram, dia makin kesulitan bernafas. Badannya terasa sangat berat. Namun, dia tetap merasakan kebahagiaan walaupun tubuhnya sedang dalam kondisi kritis.
-Sriiingg
Tiba-tiba, sebuah cahaya yang menyilaukan mata muncul di belakang wanita itu. Jeor merasa dia telah kehilangan sesuatu. Perlahan dia membuka matanya.
"....!"
Jeor terkejut mendapati dia sedang bergelantungan di udara. Lehernya tercekik seutas tali. Dia kemudian memasukan jari telunjuk ke tali yang mencekiknya agar lehernya mempunyai ruang untuk bernafas.
-Brak!
Tali yang menahan Jeor putus membuatnya terjatuh ke lantai rumah. Dia kemudian terbatuk memegangi lehernya, lilitan tali itu membuat lehernya mempunyai bekas berwarna merah.
"Lady.... "
.
.
.
Zolta sedang berada di pinggiran desa, tepatnya di lokasi pohon yang dipercaya oleh masyarakat sebagai Pohon Jodoh. Memiliki tinggi dua puluh meter, ini adalah sebuah pohon beringin.
Di hadapannya, terlihat sesosok wanita cantik berambut pirang yang melayang di udara memegang sebuah ikat rambut berbentuk kupu-kupu yang telah rusak. Wanita itu tersenyum padanya seperti sedang mencoba memikat hati Sang Hunter.
Sebelumnya, ketika Zolta menebaskan pedangnya untuk menghancurkan ikat rambut milik Sefina, tiba-tiba makhluk Astral itu muncul. Makhluk Astral hanya dapat dibunuh jika menghancurkan sebuah benda yang menjadi sumber emosi dari makhluk tersebut.
"Oh Hunter yang baik, mengapa engkau mencoba menggangguku ketika sedang memberikan sebuah kebahagiaan kepada seorang pria?" tanya wanita itu dengan sopan namun nada suaranya terdengar sangat dingin di telinga Zolta.
"Kau hanya memberikan kebahagian palsu kepada mereka," balas Zolta dengan suara datar tanpa mengekspresikan emosi apapun. "Kau hanya ingin melakukan balas dendam akan kemalangan yang menimpamu semasa masih hidup!"
Mendengar balasan Sang Hunter, wanita itu tertawa kecil kemudian melayang mengitari Sang Hunter. "Lebih baik hidup sesaat tapi merasakan sedikit kebahagiaan daripada terlalu lama hidup hanya dipenuhi oleh kesedihan."
Zolta kemudian menatap tajam wanita itu lalu menghunuskan pedangnya. "Baron Meyer mempekerjakanku untuk membasmimu."
"Ah— Sang Baron, kah? Aku mencoba untuk memasuki pikirannya namun tidak pernah berhasil," ucap wanita itu terdengar menyesal. "Dia memiliki kesedihan amat mendalam setelah kehilangan putrinya, kau tahu."
Zolta kali ini tidak merespon perkataan wanita itu. Dirinya sedang fokus menyusun strategi untuk membasmi makhluk astral yang sekarang ada di hadapannya itu.
"Fufufu... kau pria yang membosankan, Hunter." Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba tubuh wanita itu melakukan sebuah transformasi. Badannya terlihat membesar, wajahnya berbuah menjadi bulat, kuku tangannya tumbuh menjadi seperti sebuah pedang tajam, kulitnya mulai ditumbuhi oleh bulu yang tebal.
"Aku akan memberikanmu teror yang sesungguhnya karena telah menggangguku, Hunter!" Nada suaranya berubah menjadi tidak jelas karena perubahan monsternya itu.
"Astral Beast... Jenis monster ini sudah 50 tahun lebih tidak terlihat dalam catatan para Hunter," gumam Zolta yang sedikit terkejut melihat monster langka di depannya itu.
Astral Beast terkenal sangat sulit dilacak ataupun diburu karena dia bisa menyembunyikan tubuh fisiknya jika pusat emosinya tidak dihancurkan terlebih dahulu.
"Roarrrr!"
Monster itu meraung memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Memiliki tinggi 4 meter, monster itu terlihat sangat mengintimidasi. Dia kemudian berlari ke arah Zolta, melancarkan sebuah tinjuan ke arahnya.
Zolta menghindarinya dengan melakukan sebuah koprol ke arah samping. Dia kemudian membidik Robust ke arah mata monster itu. Berniat membuat monster itu buta.
-Dorr!
Namun sayang, dua tembakan Zolta tidak mengenai sasaran. Monster itu melindungi wajahnya dengan menggunakan telapak tangannya yang besar.
"Grooarrr!"
Monster itu kembali mengejar Zolta, kali ini, dia melancarkan sebuah serangan Hammer Fist berkali-kali, membuat area sekitar merasakan sebuah goncangan kecil karena kekuatan monster itu.
Tapi serangan monster itu sangat sia-sia, Zolta dengan lincah menghindari semuanya. Meloncat kesana dan kemari, Zolta menunggu sebuah celah untuk melakukan serangan balik.
-Slash!
Zolta akhirnya dapat mendaratkan sebuah tebasan ke arah betis monster itu. Dia memanfaatkan kesempatan itu ketika Sang Monster hendak melakukan serangan area yang luas menggunakan tangannya.
"Grooahh!"
Monster itu memegangi kakinya yang telah Zolta tebas, terlihat dia sangat kesal dari tatapan matanya yang penuh kebencian kepada Zolta. "Aku akan membunuhmu, Hunter!"
Monster itu melakukan serangan yang membabi buta. Membuat retakan dan lubang di tanah tempat mereka berpijak. Monster itu lebih tepat seperti sedang melampiaskan emosinya daripada sedang bertarung.
Kemarahan, kekecewaan, dan penyesalan. Zolta dapat merasakan semua emosi dari teriakan dan serangan Monster yang sedang dia lawan ini.
-Thud
Tangan kanan monster itu terjatuh ke tanah, tebasan pedang Zolta memotong tangan monster itu dengan sempurna. Dia lalu melemparkan sebuah botol yang berisi cairan berwarna kuning ke arah monster itu, membuat tubuhnya basah dengan cairan tersebut.
-Dorr!
Tembakan pistol Sang Hunter membuat tubuh monster itu dilahap api. Cairan yang ada di dalam botol tadi adalah sebuah minyak. Monster itu terlihat berguling-guling mencoba memadamkan api yang mulai membakar tubuhnya.
Tanpa menunggu waktu lama, Zolta memenggal kepala monster itu. Akhirnya, pergerakan monster itu dapat berhenti. Tubuh monster itu semakin dilahap oleh api, membuat sekujur tubuhnya gosong legam layaknya sebuah arang.
"Sudah berakhir, kah?" gumam Zolta mencoba berjalan mendekati mayat monster tersebut. Akan tetapi, dia terdiam, sesuatu nampak bergerak-gerak dari dalam perut monster di hadapannya itu.
-Crackk!
Sebuah tangan muncul keluar dari dalam perut mayat monster itu. Pertarungan belum berakhir melainkan, ini adalah awal dari pertarungan yang sesungguhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Filanina
Tiba-tiba tergantung?
2024-03-30
0
Filanina
Zolta itu sedikit aneh. udah tahu orang mau bunuh diri ditinggal begitu saja. ya matilah dia.
2024-03-30
0
Filanina
yah, pembaca ga dikasih tahu isinya
2024-03-30
0