[Arc 1] Senandung Kematian part 3

Fiona namanya, seorang wanita muda berusia 17 tahun sedang melihat sebuah permainan Violin dari seorang pria berambut pirang di sebuah gedung Opera. Sebelumnya, dia penasaran mengenai rumor tentang Violinist yang terkenal akhir-akhir ini karena permainan Violin-nya.

Sebagai wanita yang memiliki Passion di dunia musik, Fiona ingin sekali meningkatkan kemampuannya di bidang tersebut. Namun, dia belum menemukan seorang mentor yang dirasanya cocok dengan gaya permainan Violinnya.

Dia menakjubkan... Baru kali ini Aku melihat permainan Violin sebagus ini.

Setelah melihat permainan Violin pria itu, Fiona memutuskan untuk memintanya untuk menjadikannya seorang mentor. Dia pun berdiri, memberikan sebuah tepuk tangan diikuti para penonton lainnya di dalam gedung untuk mengapresiasi penampilan pria tersebut.

Para penonton mulai meninggalkan gedung setelah acara selesai. Fiona tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan dia menunggu di belakang gedung Opera, tempat dimana biasanya para pemain meninggalkan gedung.

Setelah satu jam menunggu, Fiona akhirnya melihat pria yang dia cari keluar meninggalkan gedung lalu bergegas menghampirinya.

"Permisi, Tuan Lawrence," ucap Fiona terlihat sedikit gugup berbicara dengan Sang Violinist. "Bisakah saya berbicara dengan Anda sebentar?"

Lawrence kemudian tersenyum pada Fiona lalu berkata, "tentu saja, Nona. Apa yang saya bisa bantu untuk gadis semanis dirimu?"

Mendengar pujian dari Lawrence membuat wajah Fiona memerah.

"A-aku tadi melihat permainan Violin Anda, Tuan Lawrence." Di tatap oleh idolanya membuat Fiona berbicara sambil memalingkan pandangannya. "Permainan Anda sangat menakjubkan, pembawaan dan ekspresi Anda ketika memainkannya membuat para penonton terhanyut dalam alunan musik Anda."

"Terima kasih, Nona. Pujianmu itu sangat berarti untukku, sungguh," kata Lawrence seraya menyilangkan tangan ke dadanya lalu membungkuk kepada Fiona.

"Ah, tidak, tidak... Alasanku ingin berbicara padamu adalah untuk menanyakan sesuatu." Fiona segera memberitahu maksudnya karena tidak enak Sang Idola membungkukkan badan kepadanya.

"Silahkan, Nona. Kau bisa menanyakan apapun padaku."

Fiona menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Entah mengapa, dia seperti seseorang yang sedang melakukan sebuah pengakuan cinta terhadap lawan jenisnya.

"Maukah Anda menjadi mentorku dalam bermain Violin?"

Setelah Fiona mengatakannya, Lawrence terdiam beberapa detik. Namun, beberapa detik ini bagi Fiona bagaikan berlangsung sangat lama, membuatnya gelisah jikalau Lawrence menolak permintaanya itu.

"Dengan senang hati, Nona," jawab Lawrence yang kemudian merogoh sakunya, mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya kepada Fiona. "Kau bisa datang ke tempat ini setiap pukul 2 siang. Kita bisa membicarakan biayanya nanti jika Nona .... "

"Fiona! Maafkan saya karena belum memperkenalkan diri sebelumnya, Tuan Lawrence!" Fiona tertunduk malu.

"Ah, tidak apa-apa, Fiona." Lawrence melambai-lambaikan tangannya, mencoba membuat Fiona tidak merasa bersalah. "Kalau begitu, saya mohon pamit dulu. Sampai jumpa besok siang, Fiona."

"Ya, sampai jumpa, Tuan Lawrence!"

Ketika telah kembali ke rumahnya, Fiona terlihat senyum-senyum sendiri mengingat pembicaraan ya dengan Lawrence. Dia sangat tidak sabar ingin bermain musik dengan bimbingan idolanya tersebut.

"Fiona, apa yang membuatmu senang seperti itu hari ini, nak?" tanya Ayahnya—Mister Ariandel yang penasaran apa yang terjadi dengan Putrinya itu.

"Ayah, bolehkah Aku mengikuti sebuah kursus Violin?" tanya Fiona terdengar khawatir mengingat Ayahnya lebih ingin Fiona melanjutkan bisnis keluarganya sebagai seorang desainer pakaian.

"Mengapa Fiona? Apa kau sama sekali tidak berniat melanjutkan bisnis keluarga?" tanya Ayahnya dengan nada sedikit tinggi.

Fiona kemudian terdiam, dia tidak mau meninggalkan dunia musik yang sangat dicintainya itu.

"Hah ... Lakukanlah apapun yang kau mau, tetapi Aku tidak akan mendukungku dalam hal ini," ucap Mister Ariandel terdengar pasrah lalu pergi keluar meninggalkan Fiona yang tertunduk lemas.

Tapi, penolakan dari Ayahnya itu tidak membuat Fiona patah semangat. Dia memutuskan untuk tetap melanjutkan keinginannya untuk menjadi seorang musisi hebat.

.

.

.

Keesokan harinya, Fiona pergi ke tempat yang telah ditunjukan oleh Lawrence. Di sana, dia melihat Lawrence sedang membimbing dua orang gadis lainnya dalam memainkan Violin.

"Ah, kau sudah datang, Fiona." Lawrence menyadari kehadiran gadis muda tersebut. "Bergabunglah, kami baru saja memulai sesi bimbingannya."

Fiona lalu mulai memainkan Violinnya, dia cukup percaya diri akan kemampuan yang dimilikinya saat ini. Bahkan guru-guru di sekolah sering kali memuji musik yang dia bawakan.

Namun, permainannya itu masih belum dapat dibandingkan dengan permainan Lawrence yang sangat memukau. Dia kemudian mengerahkan seluruh kemampuannya selama ini untuk membuat idolanya itu terkesan.

"Hah... Hah... Hah.... " Setelah selesai dengan penampilannya, Fiona sedikit kesulitan untuk bernafas. Memainkan Violin di hadapan Idolanya itu menambah tekanan Fiona saat melakukan permainan Violin-nya.

"Bagus sekali, Fiona," puji Lawrence sambil bertepuk tangan. "Kau memiliki bakat untuk menjadi Violinist papan atas dilihat dari permainanmu tadi."

"Te-terima kasih atas pujianmu, Tuan Lawrence." Mendapat pujian dari idolanya membuatnya tertunduk malu.

Tiba-tiba, dia merasakan pinggang dan tangannya di sentuh oleh seorang pria dari belakang, membuatnya sedikit panik.

"Namun, postur tubuhmu masih ada yang harus diperbaiki, Fiona," ujar Lawrence seraya memperbaiki pijakan kaki Fiona menjadi berbentuk seperti huruf V." Jika postur tubuhmu sempurna ketika bermain Violin, maka kau tidak akan cepat kelelahan dan mendapatkan tekanan lebih ketika tampil dihadapan orang banyak," jelas Lawrence.

"Iya... A-aku mengerti, Tuan Lawrence," ucap Fiona yang wajahnya terlihat memerah menahan rasa malu.

Melihat reaksi muridnya yang lucu itu membuat Lawrence tersenyum."Baiklah, mulailah kembali dengan postur baru ini, Fiona."

Waktu pun berlalu, Fiona mulai berlatih bermain Violin dengan Lawrence selama enam kali dalam satu bulan. Kemampuannya memainkan Violin semakin meningkat, arahan dan nasihat yang diberikan padanya sangat mudah dipahami.

Hubungan mereka berdua pun menjadi lebih dekat. Bahkan ketika Fiona menjuarai perlombaan musik junior yang diselenggarakan di ibukota, Lawrence hadir lalu memberikan sebuah bunga sebagai ucapan selamat atas keberhasilannya.

Hari itu adalah momen yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

.

.

.

Waktu berlalu, tidak terasa sudah beberapa bulan Fiona belajar bermain Violin bersama Lawrence. Kemampuan Fiona juga sudah jauh meningkat dari sebelumnya. Namun, entah mengapa Fiona masih merasakan ketidakpuasan akan sesuatu.

"Baiklah, kita sudahi untuk hari ini prosesi bimbingannya. Sampai berjumpa di pertemuan berikutnya, kalian semua."

Fiona memandang Lawrence dari kejauhan, dia sudah menyadari perasaannya terhadap mentornya itu bukanlah hanya sebuah kekaguman. Melainkan perasaan cinta yang mendalam.

Ya... Rasa tidak puas ini... Aku ingin hubungangku dengannya lebih dari sebatas murid dan mentor.

Sikapnya yang lembut dalam mengajar, cara bicaranya yang ramah, dan wajahnya yang tampan mempesona membuat hati Fiona luluh. Dia ingin mengenal lebih dekat dan memperdalam hubungannya dengan pria yang dia cintai itu.

Aku ingin bermain musik berduaan saja dengannya ...

"Fiona, kau tidak apa-apa?"

Tiba-tiba dia mendengar seseorang memanggil namanya.

"I-iya!" Fiona terkejut. Dia tidak menyadari Lawrence menghampirinya di kala dirinya sedang melamunkan pria yang dicintainya tersebut.

"Mengapa kau melamun seperti itu, Fiona? Apakah ada yang salah selama proses bimbingan ku tadi?" tanya Lawrence terlihat khawatir.

Dia sangat baik sekali ... Aku ingin sekali bisa mengungkapkan perasaanku ini padanya ...

Namun Fiona tak dapat melakukannya, dia terlalu malu dan terlalu takut untuk mencobanya. Akan tetapi, dia terpikir cara lain untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada Lawrence.

"Tu-tuan Lawrence ... Aku sedang membuat sebuah lagu," ucap Fiona dengan suara yang kecil. "Ma-maukah, Anda membimbing saya untuk menyelesaikannya?" tanya Fiona yang berusaha menahan malu.

"Ah, jadi begitu, kah? Tentu saja Fiona," jawab Lawrence dengan senyuman.

"Su-sungguh!?" tanya kembali Fiona, untuk memastikan kembali.

"Ya, datanglah ke menara jam Big Bren setiap jam 7 malam mulai besok."

.

.

.

Hari selanjutnya, Fiona sedang menunggu Lawrence di depan menara Big Bren tepat jam 7 malam. Dari kejauhan, dia melihat Lawrence tengah berjalan menuju ke arahnya.

Dia melambaikan tangan ke arahnya.

"Kau cepat sekali Fiona? Sudah tidak sabar?" tanya Lawrence terlihat menggosok-gosokan kedua telapak tangannya.

"Tentu saja, Tuan Lawrence. Karena lagu Ini akan menjadi lagu buatan pertamaku sebagai seorang Musisi."

"Baiklah, mari kita segera masuk, Fiona. Udara hari ini sangat dingin sekali," ajak Lawrence.

Mereka berdua kemudian masuk lalu menaiki tangga menara. Di puncak menara, terdapat sebuah ruangan kosong, tetapi hanya penjaga menara saja yang memiliki kunci tersebut.

Sesampainya di atas, Lawrence mengeluarkan sebuah kunci di sakunya lalu membuka pintu masuk ruangan tersebut.

"Indah sekali ..., " gumam Fiona seraya berjalan mendekati cermin pembatas.

"Ini tempat yang bagus bukan?" tanya Lawrence, tersenyum melihat Fiona yang terkesan.

"Ya... Aku dapat melihat semuanya dari sini."

Fiona melihat pemandangan gemerlap malam ibukota yang indah. Sebuah kereta api nampak terlihat tidak jauh dari menara sedang menuju stasiun.

"Baiklah, mari kita mulai, Fiona."

Mereka kemudian memulai proses membuat komposisi sebuah musik. Hanya mereka berdua, di atas menara jam, dengan pemandangan ibukota yang indah dan bulan purnama serta bintang-bintang yang menghiasi langit malam.

Aku ingin saat-saat bersamanya ini berlangsung selamanya...

Bagi Fiona, ini adalah sebuah memori yang paling berharga untuknya. Hanya berdua bersama pria yang dicintainya dan melakukan kegiatan yang sangat ia sukai yaitu... bermain musik.

Mulai saat itu, setiap malamnya mereka selalu bertemu untuk menyelesaikan musik pertama Fiona. Lawrence memberi arahan tentang bagaimana membuat sebuah komposisi musik sesuai tema yang Fiona harapkan.

Namun, sangat sulit bagi Fiona yang seorang pemula untuk membuat komposisi musik pertamanya.

Walaupun Lawrence membantunya, tugas Lawrence hanya memberi tahu Fiona tentang membuat Chord dan mengembangkan melodi musik. Dia juga akan merevisinya jika ada yang kurang dari komposisi musik yang Fiona buat.

Sudah 14 hari berlalu semenjak Lawrence membimbingnya untuk membuat sebuah lagu, namun masih banyak yang harus Fiona perbaiki untuk menjadikannya sebuah lagu yang bagus.

"Well ... Kurasa kita akhiri sampai di sini untuk malam ini, Fiona," kata Lawrence.

"Ya..., " jawab Fiona dengan lemah. Dia terlihat depresi karena beberapa kali gagal untuk mencapai tujuannya.

Melihat ini, Lawrence tersenyum lalu menepuk pundak Fiona.

"Jangan patah semangat seperti itu, Fiona. Aku percaya kau pasti akan berhasil," kata Lawrence mencoba menyemangati Fiona.

Namun, yang Lawrence tidak tahu adalah, Fiona murung bukan karena kegagalannya dalam membuat lagu. Akan tetapi, karena ini adalah kali terakhir Lawrence dapat membimbingnya membuat sebuah lagu.

Itu karena mulai besok, Lawrence akan melakukan penampilan terakhirnya di ibukota sebelum pergi ke Kerajaan Meroving demi mencari sebuah inspirasi untuk membuat lagu terbarunya.

"Ya... Terima kasih, Tuan Lawrence."

.

.

.

Hari berikutnya, Fiona pergi menuju ke Gedung Opera setelah menyelesaikan kegiatan sekolahnya. Terlihat di pintu masuk bagian depan, telah banyak orang yang mengantri untuk membeli tiket untuk melihat permainan Violin dari Lawrence.

Setelah setengah jam mengantri, Fiona akhirnya dapat memasuki gedung. Terlihat semua tempat duduk sudah hampir penuh di isi oleh penonton yang hadir.

Fiona duduk di barisan terdepan. Dia ingin melihat dan mendengar dengan jelas permainan dari pria yang sangat ia cintai itu. Di sampingnya, terlihat seorang wanita dengan pakaian yang biasa dikenakan oleh seorang Ksatria Kekaisaran.

Cantiknya... Dia pasti Putri dari seorang bangsawan, batin Fiona merasa inferior dengan wanita itu.

Tidak lama kemudian, Lawrence muncul di atas panggung. Fiona merasa, Lawrence tengah memandang dan tersenyum ke arahnya, membuat jantungnya berdebar sangat kencang.

Lawrence memulai permainannya, kali ini dia memainkan sebuah lagu yang memiliki tema tentang 'perpisahan'.

Caranya mengekspresikan lagunya sangat menakjubkan ...

Lawrence, tidak hanya cara memainkan Violinnya sangat bagus dan ajaib, tetapi ekspresi dan gerak tubuhnya pun terlihat aktif memperlihatkan arti dari lagu yang sedang dia mainkan, membuat para penonton hanyut terbawa suasana dari lagu yang dia mainkan.

Ketika penampilan Lawrence telah usai, seperti biasa, para penonton mulai berdiri tepuk tangan, termasuk Fiona. Ketika dia hendak berjalan menghampiri Lawrence untuk memberikan sebuah bunga, dia melihat wanita di sampingnya berlari ke arah Lawrence lalu memeluknya.

-Deg!

Jantung Fiona terasa mau copot melihat pria yang dicintainya berpelukan sangat mesra dengan wanita lain.

"Maria... Bisakah kau menunggu sampai kita berada di kediamanmu?" bisik Lawrence tapi mampu di dengar oleh Fiona yang tidak jauh darinya.

"Tidak sayangku, Aku tidak bisa menunggu. Ayo kita bergegas keluar pergi dari sini," ucap Maria mencoba bersikap manja di hadapan kekasihnya.

Begitukah...? Ya... Ini masuk akal. Dengan wajah tampan dan sikapnya yang gentleman itu, sudah pasti Tuan Lawrence telah memiliki seorang kekasih.

Fiona mengepalkan tangannya sampai bunga yang ada di genggamannya sedikit rusak, dadanya terasa sesak melihat pria yang dicintainya itu tersenyum lembut penuh kasih sayang kepada wanita lain.

Aku sangat bodoh mencoba mencintainya tanpa memikirkan kemungkinan itu sebelumnya.

"Ah Fiona, apakah bunga itu untukku?" tanya Lawrence yang baru sadar akan keberadaan Fiona.

"A-ah tentu saja, Tuan Lawrence," jawab Fiona sedikit canggung.

Lawrence dan kekasihnya pun pergi, meninggalkan Fiona yang tertunduk lemas.

Fiona berjalan pulang ke rumah dengan tatapan kosong. Suara bising keramaian Kota bahkan tidak mengusiknya sama sekali. Dia hanya ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Malam harinya, dia menangis tiada henti di kamarnya. Dia kembali tenang setelah memainkan sebuah kotak musik berdasarkan komposisi musik yang sering dibawakan oleh Lawrence, mencoba mengingat kembali kenangan mereka saat bermain musik bersama.

Namun, kenangan indahnya itu mulai hancur tergantikan oleh pemandangan Lawrence sedang berpelukan dengan kekasihnya beberapa waktu yang lalu.

Fiona memegang dadanya, ekspresi wajahnya terlihat sangat kesakitan.

"Bodohnya Aku ini," gumam Fiona. Air mata terlihat membasahi pipinya kembali.

.

.

.

Setelah Lawrence pergi dari ibukota, Fiona mulai jarang memegang Violin kembali. Entah mengapa, ketika dia memainkan Violin-nya, ingatan akan Lawrence yang tengah dipeluk kekasihnya selalu teringat oleh Fiona.

Membuat bermain Violin yang mana menjadi passion-nya dalam hidup, kini menjadi sumber penderitaan di dalam hatinya.

Waktu berlalu, tinggal dua bulan lagi sebelum Lawrence kembali ke ibukota. Fiona masih enggan untuk memainkan kembali Violin-nya. Padahal, dia sudah bertekad untuk memberikan kejutan kepada Lawrence dengan membawakan musik yang mereka berdua coba selesaikan itu.

Fiona kemudian memperhatikan secarik kertas yang berisi komposisi musik pertamanya itu. Dia kemudian mengingat kenangannya bersama Lawrence di menara jam.

Ya ... Pada malam-malam itu, Tuan Lawrence hanyalah milikku seorang.

Kali ini, pemandangan Lawrence dan kekasihnya berpelukan tidak muncul di benak Fiona ketika memikirkan tentang Lawrence.

"Aku harus menyempurnakan musiknua," gumam Fiona. Air mata kembali membasahi pipinya. "Ketika kami bertemu kembali, Aku harus mempersembahkan musik ini padanya."

Fiona kembali menguatkan hatinya, dia tidak ingin terus dibayangi oleh kesedihan dari fakta bahwa Lawrence telah memiliki seorang kekasih.

Ya, Aku harus melakukannya... Setidaknya, itulah yang harus kulakukan agar dapat melangkah maju.

Fiona kembali memainkan Violin-nya, berlatih untuk memberikan yang terbaik kepada pria yang sangat dicintainya itu.

Setelah bekerja keras menyempurnakan komposisi musiknya selama belasan hari, akhirnya Fiona dapat menyempurnakan lagunya itu. Dia bahkan membuat sebuah kotak musik berdasarkan dari komposisi musik yang baru saja dia buat itu.

Dia sengaja membuatnya untuk menemaninya ketika dia tidur, menemaninya ketika dia merasa depresi ataupun kesusahan karena tertimpa masalah.

Baginya, mendengarkan lagu ini membuatnya teringat kembali saat-saat bahagia dirinya ketika masih bersama Lawrence, berdua membuat sebuah musik yang menghubungkan mereka berdua.

.

.

.

Beberapa minggu berlalu, hanya tersisa empat hari sebelum Lawrence kembali tampil memainkan Violin-nya di hadapan para warga ibukota. Fiona sudah tidak sabar ingin menunjukkan lagu itu kepada Lawrence.

Namun, akhir-akhir ini dia mendengar sebuah kejadian yang menyeramkan di kota.

Patrol Guard menemukan korban pembunuhan setiap harinya beberapa hari belakangan, ini membuat Fiona sedikit takut ketika berjalan sendirian di beberapa area kota.

Saat itu dia sedang dalam berjalan pulang ke rumahnya setelah menyelesaikan kegiatan sekolahnya. Dia sengaja melewati gang-gang kota agar dapat lebih cepat sampai ke rumah.

Dia kemudian melihat seorang pria tengah berlutut di sebuah sudut gang. Di sampingnya, terlihat seorang wanita yang tengah tertidur di tanah.

"Huh? Bukankah itu Tuan Lawrence?"

Dia kemudian berjalan menghampiri mereka berdua.

Tapi ... Bukankah Tuan Lawrence harusnya tiba beberapa hari lagi di kota ini?

Mendengar suara langkah kaki Fiona, pria yang dia duga Lawrence itu pun berbalik ke arahnya.

Dengan jarak yang lebih dekat seperti ini, Fiona dapat melihatnya dengan jelas. Terdapat bercak darah di baju pria itu, dia juga memegang sebuah pisau yang berlumuran darah di tangan kanannya.

"Tu-tuan Lawrence, apa yang Anda lakukan pada wanita itu?" tanya Fiona. Suaranya gemetaran karena takut melihat pemandangan mengerikan yang ada di depan matanya.

"Apa yang sedang Anda lakukan di tempat seperti ini?" tanya Fiona kembali.

Padahal, dengan melihatnya sekilas, Fiona seharusnya tau bahwa pria di hadapannya itu baru saja membunuh seseorang. Akan tetapi, dia masih ingin mendengarnya secara langsung dari pria yang ada di hadapannya itu.

Namun, pria itu hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Fiona. Dia kemudian mulai berjalan menghampirinya, Fiona refleks mulai berjalan mundur.

Tapi... Setelah diperhatikan lebih dekat, sepertinya ada yang aneh dengannya...

Pria itu kini sudah ada di depan Fiona, terlihat tatapan matanya kosong seperti orang mati, membuat Fiona gemetar ketakutan.

"Ka-kau... Bukanlah Tuan Lawre—"

Suara Fiona tertahan, sebuah pisau menancap tepat di lehernya. Tubuhnya ambruk ke tanah, darah mengucur membasahi dada dan lehernya. Nafasnya mulai sesak dan tangannya refleks memegangi lehernya.

Kesadarannya mulai memudar, di saat-saat terakhirnya ini, dia teringat akan kenangannya bersama Lawrence ketika berada dalam sesi bimbingan.

'Fiona, suatu hari nanti, kau pasti akan menjadi seorang Violinist papan atas!'

Fiona mengingat pujian Lawrence kepadanya dahulu.

Ah... Maafkan Aku Tuan Lawrence... Sepertinya, Aku tidak dapat mewujudkan harapanmu itu padaku....

Fiona mengingat, saat-saat bahagia ketika Lawrence memberikannya bunga ketika dia mendapatkan juara.

Terima kasih atas segalanya, Tuan Lawrence...

Menjelang kematiannya, Fiona mengingat saat-saat dirinya dan Lawrence membuat musik bersama Lawrence di menara jam—Sebuah musik yang hanya mereka berdua ketahui saja, sebuah lagu yang membuat Fiona merasa memiliki hubungan yang spesial dengan Lawrence.

Dalam lubuk hatiku yang terdalam.... Aku mencintaimu, Lawrence...

Satu-satunya penyesalan yang dia miliki adalah, dia tidak akan pernah bisa memainkan musik buatannya itu untuk Lawrence—Pria yang sangat dia cintai.

Terpopuler

Comments

Sampawn

Sampawn

nah itu tuh kalo telmi

2023-11-06

0

Sampawn

Sampawn

iya nih macem mana tau pembunuh bukannya lari malah tanya /Facepalm/

2023-11-06

0

Sampawn

Sampawn

iyak gitu dunk musiknua harus diseleiken/Hey/

2023-11-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!