Setelah kemarin pertapa tua setuju untuk melatih Lin Han. Maka hari ini latihan pun telah dimulai untuk membuka segel Qi milik Lin Han.
Di bawah air terjun yang dingin, Lin Han duduk sambil bersemedi. Sementara pertapa tua nampak berdiri diam menatapnya dari ujung sana sambil mengelus janggutnya.
"Cobalah untuk fokus dan tenang, jangan biarkan perasaan mu terganggu dengan sesuatu di sekitar mu."
Lin Han mengikuti apa yang pertapa tua katak padanya. Mencoba tenang dan tetap fokus pada tujuannya, hingga membuat suasana terasa begitu hening saking fokusnya.
"Bagus sekali, kau memiliki ketenangan di atas rata-rata ternyata." Puji pertapa tua menatap Lin Han yang tak bergeming
"Zzzzzz"
"Hmm? Apa dia benar-benar fokus?" Pertapa tua menyipitkan matanya berusaha fokus menatap Lin Han
"Zzzzzz"
"DASAR BOCAH SIALAN! KAU RUPANYA TIDUR!" Kesal pertapa tua melemparkan sebuah ranting kearah Lin Han
*Bugh!
"Blup! Blup! Blup!" Lin Han terjatuh dan tercebur
***
"Baiklah sekarang kau harus benar-benar fokus pada latihannya!"
"Siap!" Jawab Lin Han dengan keadaan babak belur di hajar
Latihan pertama adalah semedi, dan dilanjutkan dengan latihan fisik yang Lin Han jalani bersama pertapa.
Untuk latihan sendiri, pertapa tua benar-benar kuat dan hebat. Lin Han sendiri masih belum berhasil mengalahkannya, padahal sudah seharian dia melakukannya.
"Kau akan mengulangi latihan ini setiap saat. Dan latihan ini juga akan terus berlangsung sampai kau mampu membuka segel Qi milik mu sendiri." Ucap pertapa tua pada Lin Han yang terbaring dengan nafas tersengal-sengal
"Aku mengerti!" Jawab Lin Han
Pertapa tua tersenyum dan berjalan pergi. Hari telah sore yang menandakan waktu latihan telah usai, sementara itu Lin Han juga ikut tinggal di hutan bambu ini.
Tentunya untuk menghemat waktu, dan menerapkan latihan dengan lebih baik. Apalagi saat baru bangun, porsi latihan juga diberikan oleh pertapa tua.
Hal ini dilakukan untuk melatih insting Lin Han meski dalam keadaan tidur sekalipun. Dan tentunya pertapa tua akan menyerang Lin Han setiap pagi.
*Bugh!!
"Agh! Kepalaku!" Keluh Lin Han terbangun saat kepalanya benjol
"Huh! Kau harus lebih waspada lain kali bocah. Kejahatan akan selalu datang tiba-tiba jadi kau perlu untuk hal itu."
"Apa ada hubungannya dengan energi Qi?" Tanya Lin Han
"Tentu saja, ini adalah tahap dasar yang harus kau mengerti. Dan saat segel Qi mu berhasil terbuka, insting mu akan jauh lebih tajam lagi."
"Hm, jadi begitu." Lin Han mengangguk sambil memegang dagunya
"Sekarang, cepatlah keluar untuk melakukan latihan seperti biasanya!"
"Baik!"
***
Sementara itu di kota, Chen dan Lue tengah mengejar seorang pria yang kedapatan tengah mencopet uang milik seorang pedagang di pasar.
"Hey pencuri sialan, jangan kabur kau brengsek!" Teriak Chen
"Cih! Kau ini jangan lupa dengan diri sendiri sialan!" Balas pencuri itu
"Apa!? Kau pikir aku masih melakukan pekerjaan bodoh itu!"
"Huh! Dasar bodoh!" Kesal pencuri melemparkan Chen sebuah bubuk sambal
"Uaaa!! Mataku!!"
"Haha! Selamat tinggal-"
Lue melompat tepat kearah pencuri tersebut, melayangkan sebuah pukulan yang membuatnya langsung menghantam tanah dengan sangat keras.
*BOOM!!
"Ya, selamat tinggal bodoh!" Sambung Lue memamerkan otot lengannya
"Iaaaahh tolong mataku buta!!" Chen menabrak sana-sini
"Hah, satu orang bodoh juga ada di sini." Ucap Lue menghela nafas
***
Di halaman Sekte, Jia Li terlihat tengah mengendap-endap sambil melihat sekitarnya. Matanya seolah mencari sesuatu yang penulis sendiri tidak tahu.
"Apa dia sudah pergi?" Pikir Jia Li melihat sekitarnya
"Apa kau mencari Lin Han?" Tanya Ming Yin
"Itu benar, dimana dia sekarang-"
Jia Li terdiam, kepalanya menoleh perlahan kearah belakang. Dan terlihat Ming Yin yang tengah tersenyum melambaikan tangannya kearah Jia Li.
"Halo?"
"Kyaa! Apa yang kau lakukan di sini!"
"Huh? Bukankah Aku yang seharusnya bertanya tentang hal itu?"
"Ah em, itu. Aku sedang mencari barang ku yang ketinggalan." Jia Li mengalihkan pandanganya
"Owh? Bukan mencari Lin Han?"
"Huh! Untuk apa mencari bocah itu? Aku tidak tertarik!" Jia Li menyilangkan tangannya sambil mendengus kasar
"Jadi begitu, sayang sekali Lin Han sudah tidak ada. Dan kebetulan hanya Aku yang tahu dia dimana?"
Jia Li nampak melotot mendengarnya, gengsi ingin bertanya. Namun berusaha menahan itu semua.
"Dimana?"
"Eh? Bukankah kau kemari bukan untuk mencarinya?" Tanya Ming Yin
"Em itu, sepertinya barang milik ku ada padanya?" Jia Li mengalihkan perhatiannya
"Heh ... Apa itu benar?" Ming Yin mendekatkan wajahnya
"Ehem, ya itu benar. Aku sepertinya ingat jika dia meminjam sesuatu padaku. Jadi katakan dimana dia sekarang?"
"Ah tidak, mendadak Aku lupa dia dimana?" Ming Yin segera berjalan pergi
"Hei! Kau mengabaikan ku!" Kesal Jia Li mengejar
***
"Yang Mulia Kaisar." Xin An bersujud kearah Seorang pria yang tengah berbaring di atas kasur yang tertutup kelambu
"Hmm, Xin An. Kecantikan mu memang benar-benar abadi, kau sungguh permata yang layak untuk di pertahankan." Ucap Wue Yian pria rambut panjang nan tampan
"Ada apa gerangan, Yang Mulia Kaisar memanggil hamba kemari?" Tanya Xin An masih bersujud seperti orang menyembah Dewa
"Hanya butuh ketenangan, jadi karena itu Aku memanggil mu kemari, apa itu masalah?" Tanya Wue Yian tersenyum
"Hamba tidak berani, Yang Mulia Kaisar." Jawab Xin An
"Hahaha! Kau masih saja bersikap seperti itu Xin An. Kau sudah menjadi istriku lima belas tahun ini, tapi kau malah bersikap seperti ini?"
"Maafkan Saya."
"Yah itu tidak masalah. Lagipula Kau pasti masih menaruh sakit karena anak mu yang dibuang bukan? Atau karena mantan suami-"
"Yang Mulia!"
"Hmm?"
"Apa Anda ingin Saya layani?" Xin An berdiri mendekat dengan berjalan melenggang
"Haha! Sepertinya kau sudah mulai mengerti Xin An."
Xin An mulai naik keatas ranjang, tangan Wue Yian mulai membelai perlahan tubuhnya dengan lembut.
"Ingatlah Xin An. Anakmu hidup karena kemurahan hatiku." Bisik Wue Yian di telinga Xin An
"Saya mengerti. Terimakasih atas kemurahan hatinya." Balas Xin An mulai melepaskan pakaiannya secara perlahan
Tak ada kebahagiaan dalam wajah Xin An. Hanya ada ekspresi datar, hatinya sudah mati untuk terus menangis dan mengasihani hidupnya saat ini.
'Ibu harap kau baik-baik saja. Ibu harap kau memiliki hidup indah diluar sana, Lin Han."
***
Latihan telah berakhir, Lin Han kembali terbaring dengan nafas yang tak beraturan. Belum ada hasil masih untuk saat ini, energi Qi masih belum terbuka.
"Ngomong-ngomong, suatu saat kau ingin kemana anak muda?" Tanya Pertapa tua ikut menatap senja
"Aku ingin melihat dunia!"
"Hanya itu?"
"Tidak, Aku memiliki keinginan lain yang jauh lebih besar."
"Apa itu?"
"Melihat dan bertemu orang tuaku! Aku sangat ingin bertemu dengannya!" Lin Han tersenyum lebar
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Ternyata Ibu Lin Han itu Istri Kaisar.... semoga Lin Han dpt bertemu Ibunya
2023-10-21
1