Setelah berhasil mengalahkan komplotan bandit yang selalu melakukan penjarahan. Akhirnya Lin Han pun kembali menuju Sekte Kuda Besi.
Sesuai yang di perintahkan waktu itu, jika bisa Lin Han harus membawa salah satu dari komplotan tersebut, tentunya untuk dilakukan interogasi atas dalang semua ini.
"Keren, kau ternyata mengemudikan hewan ini!" Puji Lin Han pada Jia Li yang tengah memacu kuda
"Huh! Berbanggalah karena diriku mau mengendari kereta kuda ini!" Jawab Jia Li tersenyum bangga
Sementara itu di belakang, dua pengawal dan beberapa komplotan juga dibawa, tentunya untuk dilakukan interogasi.
Perjalanan sendiri tak memakan waktu yang lama, hanya berlangsung setengah jam perjalanan saja menggunakan kereta kuda.
***
- Aula Sekte
"Lapor! Lin Han dan pengawalnya telah kembali dengan selamat!" Ucap seorang bawahan yang berjaga di depan gerbang
"Benarkah!" Gong terkejut dan langsung berdiri dengan ekspresi tersenyum
Begitu juga dengan para tetua yang ikut terkejut mendengarnya, dan ini juga membuktikan jika apa yang Ming Yin katakan sebelumnya bukankah kebohongan.
"Ya Pak Gong! Aku berhasil membawanya!"
*Bruk!!
Tanpa basa-basi Lin Han segera melemparkan tubuh Cing yang terikat di tengah ruangan, membuat semua orang langsung tersentak melihatnya.
"Bukankah itu, Cing!" Ming Gong terkejut dengan ekspresi serius
"Ugh ... Sialan, beraninya-" Cing terdiam, lebih tepatnya saat melihat orang-orang menatapnya
Flashback On
"Baiklah, Aku akan segera pergi, kau silahkan datangi saja Tuan Gong." Ucap Jia Li segera turun dari kereta kuda
"Eh? Apa kau tidak ikut?"
"Em itu ... Aku pu, punya urusan! Dan satu lagi, jangan menyebutkan namaku nanti di hadapan Tuan Gong, mengerti!"
"Memangnya kenapa?"
"Sudahlah pokoknya kau tidak akan mengerti jika ku jelaskan."
"Ya baiklah kalau begitu," jawab Lin Han mengangguk patuh
Flashback Off
"Tuan tolong hentikan! Kendalikan diri Anda!" Teriak Luan panik saat Ming Gong menginjak-injak Cing hingga babak belur
Begitu juga dengan para tetua yang lainnya, berusaha menahan Ming Gong yang membabi buta menghajar.
"Huft! Dasar sialan!"
"Uhuk-uhuk! Ternyata kau masih sama Ming Gong! Bersikap angkuh dan rakus!" Cing bangkit tertatih-tatih
"Rakus!?"
*Bugh!
*Bugh!
*Bugh!
"Kau yang rakus sialan! Meminjam seratus emas setiap hari, namun tidak pernah dikembalikan keparat!" Ming Gong kembali mengamuk sambil menginjak-injak Cing
Sementara Lin Han yang melihatnya, dia nampak tersenyum seolah melihat Ming Gong sedang bertemu dengan teman lama.
"Wah, nampaknya Pak Gong sangat merindukan temannya..."
***
*Bruk!!
Setelah selesai dengan urusan tersebut, Lin Han pun berjalan keluar. Tubuhnya di regangkan sesaat di susul mulut yang menguap hebat.
"Ah, suasananya terasa sedikit aneh?"
"Hey pria di sana!"
Lin Han menoleh, dia menatap Lue yang berjalan kearahnya bersama dengan Chen yang berjalan di sampingnya.
"Ah kalian! Darimana saja?"
"Haha, maaf soal itu. Kemarin Aku sedang sibuk mengurus masalah pria maling ini." Jelas Lue menunjuk Chen di sampingnya
"Hei, siapa yang kau sebut maling! Aku sudah berhenti tahu!"
"Ngomong-ngomong, kudengar kau baru saja melakukan tugas bukan?" Tanya Lue
"Em! Pak Gong memintaku membantunya kemarin untuk menangkap salah satu dari penjahat itu. Dan ternyata yang ketangkap, adalah teman lama Pak Gong!" Jawab Lin Han
"Teman?"
"Ya! Tapi, dimana Ming Yin? Aku belum melihatnya dari tadi?"
"Em soal itu, sepertinya Aku tahu dia ada dimana." Jawab Lue memegang dagunya
***
Di pinggir sebuah tebing, pemandangan indah begitu jelas terlihat. Suasana Kota Langit juga nampak indah sore itu, membuat rasa tenang begitu kentara terasa.
"Mau berapa kali pun, Aku tidak pernah bosan berada di sini." Ucap Ming Yin duduk santai di sebuah pohon sambil memandang kota
"Ming Yin!"
Suara pemuda terdengar menyapa, Ming Yin membalikkan tubuhnya menatap heran pada Lin Han yang sudah kembali.
"Eh? Apa kau sudah selesai?"
"Iya, aku sudah menangkap seseorang yang Pak Gong minta." Jelas Lin Han ikut duduk di samping Ming Yin
"Kau sedang apa?" Sambung Lin Han
"Menikmati pemandangan, lihatlah indah bukan?"
Lin Han ikut memandang kedepan, bibirnya tersenyum sambil mengangguk pelan mendengar apa yang Ming Yin katakan.
"Tapi kenapa kau terlihat tidak bahagia?" Tanya Lin Han menatap
Ming Yin tersenyum masam, sambil mengusap pelan rambut di wajahnya yang tertiup angin lembut.
"Ibuku sedang sakit, dan saat ini para tabib sedang membuatkan obat untuknya. Kau ingat jantung singa hutan yang kau berikan?"
"Singa hutan...?"
"Kucing hutan."
"Ah, aku ingat!"
"Nah, jantung itu akan digunakan untuk membuat obat. Katanya dengan memakan jantung tersebut, maka penyakit ibuku akan lebih baik." Jelas Ming Yin
"Ming Yin..." Panggil Lin Han tanpa ekspresi sama sekali
"Ada apa?"
"Ibu itu, apa?" Tanya Lin Han dengan wajah polosnya
Ming Yin bingung harus bagaimana menjelaskannya.
"Lin Han."
"Ya?"
"Apa kau tinggal di hutan jiwa hanya dengan pria tua itu saja? Dimana orang tua mu sebelumnya?"
"Em, sedari bayi Kakek sudah merawat ku. Katanya dia menemukan ku di tengah hutan sendirian, terus dia juga berkata jika orang tuaku mungkin tak sanggup merawat ku, karena Aku spesial." Jawab Lin Han tersenyum lebar
Ming Yin tersenyum namun, senyuman itu begitu pahit. Dia tau apa yang pria tua katakan merupakan sebuah kebohongan, mungkin agar Lin Han tidak sakit hati.
"Jadi, Ibu itu apa Ming Yin?"
"Em, begini. Apa kau tau induk hewan?"
"Aku mengerti!"
"Itulah Ibu, namun dalam bahasa manusia di dia di sebut Ibu. Namun untuk hewan, dia di sebut induk. Ibu adalah seorang wanita, dia yang melahirkan kita, menyayangi..."
"Wah! Benarkah! Pasti ibuku juga menyayangi ku bukan?" Lin Han tersenyum
Ming Yin diam sejenak, dia bingung bagaimana harus mengatakannya. Lin Han beruntung pikirannya masih polos, dengan begitu dia tidak akan sadar dengan sebuah sakit hati seperti itu.
"Ming Yin?"
"Ah iya! Dia pasti menyayangi mu!"
"Haha! Aku jadi penasaran bagaimana wajah ibuku!" Lin Han masih tersenyum menatap matahari yang hampir terbenam
"Oh iya, soal obat mungkin aku bisa membantu mu? Kakek pernah mengajarkan membuatnya menggunakan jantung kucing hutan!"
"Benarkah!?"
"Benar!"
"Hei! Sepertinya nikmat sekali duduk berdua di sana!" Panggil Chen
*Bugh!
"Jangan kurang ajar kau pria berandal."
"Sial, itu sakit!"
***
- Istana Kaisar
Seorang wanita dengan khas pakaian China, duduk diam menatap luar jendela. Mata biru peraknya nampak sendu menatap matahari yang sudah hampir tenggelam.
Umurnya mungkin tak muda, namun cantik wajahnya dan indah senyumnya, masih jelas melekat pada dirinya.
"Nyonya An, Yang Mulia Kaisar telah menunggu mu." Seorang pelayan datang dan bersujud tanpa menatap
"Baiklah, Aku akan segera menemuinya." Jawabnya tanpa tersenyum sama sekali
Pelayan itu pun mundur perlahan, lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan. Menyisakan wanita itu sendiri di dalam sana.
Xin An pun bangkit berdiri, matanya kembali memandang luar jendela sambil menghela nafasnya pelan.
"Hah, bagaimana kondisi mu sekarang?" Ucapnya nampak lesu
...****************...
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentarnya untuk Lin Han.
Piw piw💙
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
hyuga dara
baca ceritanya, serasa lompat2..
2024-02-02
0
asri_hamdani
Lugu, polos jadi 1
2023-11-14
1
apakah Lin Han Anak seorang Kaisar
2023-10-19
0