"Aaarrrgghhh rasakan ini baby!!"
Teriakan keras dan penuh kenikmatan dilontarkan oleh Arsen bersamaan dengan semprotan ke dalam rahim Kyla, ya pria itu tampak sangat puas dan langsung ambruk di sebelah Kyla dengan kondisi sangat lelah. Nafasnya memburu, keringat sudah membasahi tubuh mereka akibat permainan panas yang mereka lakukan sedari tadi.
Arsen pun terlihat menatap wajah Kyla yang ada di sebelahnya itu dengan sebuah senyum manisnya, ia mengusap wajah gadis itu dengan lembut sembari mengecup bibir ranumnya yang menjadi candu baginya. Arsen begitu menikmati seluruh bagian tubuh sang gadis, bahkan ia tak ingin berhenti untuk menyentuh atau membelai tubuh indah wanita yang sudah ia nodai itu.
"Kamu selalu bisa bikin saya puas, baby. Saya suka sekali dengan tubuh kamu, ini akan jadi candu bagi saya," ucap Arsen lirih.
Kyla terdiam saja kali ini, ia memejamkan matanya dan berusaha mengatur nafasnya. Tubuhnya benar-benar lelah saat ini, apalagi ia baru saja digempur habis-habisan oleh pria itu tanpa rasa kasihan sedikitpun. Meski ia akui permainan Arsen memang cukup menggairahkan, namun tentu ia juga tak bisa terus-menerus mengalami hal ini.
"Oh ya Kyla, ada hal lain yang mau saya bicarakan sama kamu. Ini penting, jadi saya harap kamu dengarkan saya baik-baik ya Kyla!" ucap Arsen tegas.
Kyla mengangguk lemah, sorot matanya seolah menunjukkan bahwa ia penasaran dengan apa yang hendak dibicarakan Arsen. Namun, tangan pria itu justru bergerak menyentuh puncak gunungnya. Sehingga, mau tidak mau Kyla kembali melenguh ketika Arsen sengaja memilin puncaknya itu.
"Mmhhh.."
"Hahaha, kamu suka ya baby? Lucu banget ya punya kamu ini, masa dia warnanya pink. Saya suka deh mainin ini," kekeh Arsen.
"Eengghh, dad cukup! Tadi katanya daddy mau bicara sama aku, kenapa sekarang daddy malah begini lagi? Aku udah gak kuat nih," ucap Kyla memprotes tindakan pria itu.
"Ah iya, maaf saya lupa baby! Saya itu cuma mau kasih tahu ke kamu, kalau di rumah saya sekarang ada mama saya. Jadi, saya harap kamu nurut dan jangan keluar dari kamar ini apapun yang terjadi!" ucap Arsen.
"Tapi dad, gimana kalau aku butuh sesuatu nanti?" tanya Kyla keheranan.
"Kamu kan bisa panggil saya atau bik Lita, tidak perlu keluar untuk mengambil sesuatu itu kan baby!" jawab Arsen santai.
"Okay dad, aku ngerti. Emangnya mama kamu itu sampai kapan disini?" ucap Kyla.
Arsen menggeleng perlahan dan mengatakan kalau dirinya juga tidak tahu berapa lama mamanya akan tinggal disana, tapi yang pasti Arsen harus benar-benar bisa menyembunyikan Kyla dari mamanya itu. Jika tidak, bukan tidak mungkin Maura akan membenci dirinya nanti.
"Saya tidak tahu, mungkin akan lama. Jadi, kamu disini saja sampai nanti saya izinkan kamu untuk keluar! Kamu mengerti?" ucap Arsen tegas.
"I-i-iya dad, aku ngerti. Aku gak akan keluar dari kamar ini tanpa seizin kamu," jawab Kyla.
"Bagus, yaudah kamu tidur gih! Pasti kamu capek kan habis bertempur tadi?" ucap Arsen lembut.
Gadis itu tak menjawab, namun segera memejamkan matanya karena rasa kantuk yang sudah menyerangnya sedari tadi. Arsen pun tersenyum dibuatnya, ia mengecup kening serta pipi Kyla dengan lembut sembari mengusapnya perlahan.
"Good night Kyla, selamat tidur! Mimpi indah ya baby, kalau bisa sih mimpiin saya ya!" ucap Arsen sambil tersenyum lebar.
•
•
Disisi lain, Laras pulang ke rumahnya setelah semalaman penuh ia bercengkrama bersama Liam alias mantan kekasihnya itu untuk memenuhi permintaannya. Ya ia terpaksa melakukan itu, karena memang ia tidak punya pilihan lain selain menurut dengannya agar pria itu tidak melaporkannya pada suaminya.
Namun, tanpa diduga rupanya Hartawan sudah menunggu kehadirannya sedari tadi dan terlihat begitu kesal. Hartawan pun menatap tajam ke arah istrinya yang baru pulang itu, ia tentu sangat tidak suka dengan kelakuan Laras yang semakin seenaknya dan tak mau mematuhi aturan darinya.
"Darimana aja kamu Laras, hm? Kenapa kamu gak pulang semalaman?" tanya Hartawan.
Laras tentu amat terkejut, ia tak menyangka jika suaminya itu sudah terbangun dan malah mencegatnya saat hendak masuk ke kamar. Kini Laras tampak bingung harus menjawab apa, terlebih ekspresi sang suami yang begitu menyeramkan seolah hendak menerkamnya dan memberi hukuman baginya.
"Umm, aku ada urusan sama teman aku, mas. Maafin aku ya karena aku gak pulang, tapi ini penting banget mas!" ucap Laras.
"Urusan penting apa sih yang sampai bikin kamu gak pulang semalaman?" tanya Hartawan dengan wajah heran.
"Ya ada deh mas, pokoknya itu penting banget sampai gak bisa ditunda. Kamu tolong ngertiin aku ya mas, lagian aku kan jarang kayak gini!" ucap Laras merengek.
"Jarang? Kamu aja sering banget keluar malam-malam kayak gitu, kamu kira aku gak tahu apa?" geram Hartawan.
Deg
Laras semakin merasa terpojok, kini ia tak tahu harus mengatakan apa lagi kepada suaminya untuk meyakinkan pria itu bahwa ia tidak melakukan hal yang macam-macam. Jika sampai suaminya itu mengetahui apa yang biasa ia lakukan, pastinya dia akan langsung membencinya dan bahkan mengajukan perceraian untuknya.
"Sekarang kamu jawab jujur pertanyaan aku, Laras! Darimana kamu sebenarnya selama ini? Kenapa kamu sering banget keluar malam tanpa sepengetahuan aku?" ucap Hartawan dengan tegas.
"Aduh mas, kan aku udah bilang tadi ke kamu kalau aku ada urusan sama teman-teman aku yang gak bisa aku tunda!" ucap Laras.
"Kamu punya urusan apa emangnya? Sampai setiap hari kamu harus pergi malam dan pulang pagi kayak gitu, apa sih yang kamu lakuin di luar sana?" tanya Hartawan lagi.
"Gak ada kok mas, udah ya aku mau ke kamar dulu? Aku capek banget nih mas pengen istirahat," ucap Laras.
Hartawan terdiam dan terus memandangi wajah wanita itu dengan tajam tanpa berkedip sedikitpun, ia sebenarnya sangat emosi pada istrinya itu karena ia merasa ada banyak rahasia yang disembunyikan Laras darinya. Namun, saat ini ia tidak ingin mencari keributan dengan istrinya itu.
"Tunggu Laras, kamu temani aku ya cari Kyla di luar sana! Aku baru aja dapat kabar dari salah satu orang suruhan aku, katanya ada seseorang yang melihat Kyla diculik di jalan dekat sekolahnya," ucap Hartawan.
Deg
Lagi-lagi Laras dibuat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Hartawan barusan, ia semakin terkejut ketika suaminya itu telah mengetahui bahwa Kyla diculik. Tentu saja Laras sangat khawatir, ia tak mau jika jika Hartawan sampai mengetahui semuanya.
"Kenapa kamu diam? Ayo ikut sama aku, kamu ini kan belum pernah bantu aku buat cari Kyla!" ucap Hartawan memaksa.
"Eee aku kayaknya gak bisa deh mas, aku capek banget soalnya. Aku juga kan belum sarapan, mungkin lain kali aja ya aku temenin kamu?" ucap Laras menolak.
Hartawan semakin menaruh curiga pada wanita itu, apalagi setelah Laras menolak ajakan darinya untuk mencari Kyla.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments