Arsen kini berada di rumah sakit setelah dirinya melihat langsung seperti apa kondisi Kyla saat ia temui di kamar tadi, ya Arsen tampak sangat cemas dan berharap jika tak terjadi sesuatu yang buruk pada Kyla. Apalagi, kisah mereka baru dimulai dan Arsen tidak ingin Kyla pergi meninggalkannya dalam waktu yang sangat singkat.
Begitu sang dokter yang memeriksa Kyla keluar dari ruangan itu, dengan cepat Arsen bergerak mendekat untuk menanyakan langsung pada dokter itu seperti apa kondisi Kyla saat ini. Ya ia sangat khawatir tentunya, terlebih Kyla merupakan gadis yang masih muda dan memiliki masa depan yang cerah. Meski, Arsen tahu kalau hidup Kyla ada di tangannya.
"Dok, gimana kondisi pacar saya? Dia baik-baik aja kan, dok?" tanya Arsen dengan wajah tegang.
Dokter itu tersenyum, "Anda tenang saja pak, kami sudah memeriksa dan melakukan pengobatan yang terbaik untuk pasien! Hasilnya, saat ini kondisi pasien sudah mulai membaik," jelasnya.
"Ah syukurlah, lalu apa Kyla sekarang sudah sadar dok? Bisa saya ketemu dengan pacar saya itu?" tanya Arsen lagi.
"Bisa pak, kebetulan Kyla juga sudah sadar. Untung saja anda cepat membawa pasien kemari, jika tidak mungkin hasilnya akan berbeda," ucap dokter itu.
Arsen benar-benar lega mendengarnya, ia sangat bersyukur karena ternyata Kyla masih diberi kesempatan untuk hidup.
Dokter itu pun meminta izin pada Arsen untuk kembali ke ruangannya, dan tentu Arsen mengangguk saja karena ia sudah tak perduli lagi dengan dokter tersebut. Ya yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Kyla seorang, ia ingin segera menemui gadis itu dan berbicara banyak padanya.
Namun, baru saja Arsen hendak membuka pintu sudah ada seseorang yang memanggilnya dan membuatnya terpaksa mengurungkan niatnya itu.
"Arsen!" teriakan itu mengejutkannya, sehingga Arsen pun menoleh ke arahnya.
Disana Arsen melihat sosok Jester yang merupakan asisten pribadi sekaligus sahabatnya, sontak Arsen tersenyum dan turut menyapa pria itu sembari melambaikan tangan dengan perlahan.
"Eh lu Jester, ngapain lu kesini? Tahu darimana kalau gue disini?" tanya Arsen.
"Gue ke rumah lu tadi, terus bik Lita bilang kalau lu lagi di rumah sakit karena Kyla keracunan," jelas Jester.
"Ohh, iya emang benar begitu kok. Ini Kyla sekarang lagi diperiksa sama dokter, tapi untung katanya Kyla udah sadar," ucap Arsen.
"Kayaknya lu perduli banget sama si Kyla, siapa sih dia?" heran Jester.
"Ah lu kepo banget sih jadi orang, dia bukan siapa-siapa gue kok. Gue itu cuma gak mau aja dia mati di rumah gue, makanya gue tolongin dia terus bawa dia kesini buat diobatin," ucap Arsen.
"Masa sih? Tapi, kata bik Lita tadi lu panik banget tuh waktu lihat Kyla pingsan di kamar mandi. Seolah-olah lu sayang banget sama tuh cewek," ujar Jester.
"Jes, udah ya cukup! Gue mau ke dalam temuin Kyla, lu tunggu disini aja dulu sampai gue balik!" ucap Arsen.
"Hm, okay." Jester pun menurut kali ini.
Akhirnya Jester membiarkan Arsen masuk ke dalam untuk menemui Kyla, meski ia masih begitu penasaran ada apa sebenarnya antara Arsen dan gadis itu. Pasalnya, jelas sekali ia melihat kecemasan di wajah Arsen yang seolah menunjukkan keperdulian pria itu pada Kyla.
"Haish, dia masih ngelak aja jadi orang. Padahal mah kalo emang suka sama Kyla ya gapapa kali, asalkan jujur aja sama gue gitu!" gumam Jester.
•
•
Di dalam sana, Arsen terlihat menatap ke arah Kyla yang masih terbaring di atas ranjang dengan kondisi lemas. Sontak ia melangkah perlahan menghampiri gadis itu dengan tatapan cemasnya, Arsen begitu menyesal telah meninggalkan gadis itu sendirian di rumah tanpa pengawasan darinya.
"Kyla!" suaranya terdengar lirih, ia memanggil gadis itu dan berdiri tepat di dekatnya.
Kyla yang mendengar itu pun membuka matanya, lalu menoleh ke asal suara untuk melihat siapa yang datang. Raut kebencian langsung muncul di wajahnya, begitu Kyla menyadari ada sosok orang yang paling ia benci disana, yakni Arsen.
"Ngapain kamu bawa aku kesini, ha? Kenapa kamu gak biarin aja aku mati tadi?" tanya Kyla dengan nada ketus.
"Sssttt, kamu jangan bilang begitu dong Kyla! Saya gak mungkin biarin kamu mati, karena kamu itu berharga untuk saya. Lagipula, kenapa kamu punya pikiran seperti itu sih Kyla?" ucap Arsen dengan lembut.
Kyla menggeleng pelan, "Aku cuma mau lepas dari jeratan orang jahat kayak kamu, buat apa aku hidup kalau terus saja dikekang sama kamu?" ucapnya.
"Saya kan tidak mengekang kamu, Kyla. Kamu masih bisa bebas berkeliaran di area rumah saya, asalkan kamu tidak melebihi batas yang sudah saya tentukan. Kenapa kamu malah bilang begitu, hm?" ucap Arsen.
"Ck, kamu pikir aku orang bodoh apa? Aku tahu kok kalau kamu mau jadiin aku tahanan di rumah kamu," sentak Kyla.
Arsen menunduk sembari menggaruk pelipisnya, ia tak tahu harus berbicara apa lagi kepada Kyla untuk bisa meyakinkan gadis itu kalau ia hanya ingin bersamanya. Meski niat sebenarnya memang adalah untuk mengurung Kyla, namun ia juga tak mau jika Kyla sampai harus mengakhiri hidupnya.
"Kalau kamu emang perduli sama aku, harusnya kamu bebasin aku dan biarin aku ketemu sama ibu aku!" pinta Kyla.
"Tidak bisa Kyla, kamu itu sudah menjadi milik saya dan kamu gak akan mungkin bisa pergi begitu saja dari rumah saya!" tegas Arsen.
"Siapa yang jual aku ke kamu, ha? Sampai kamu bisa bilang aku ini milik kamu," tanya Kyla begitu penasaran.
"Saya gak bisa cerita ini ke kamu sekarang, Kyla. Tapi, intinya kamu itu sudah sah jadi milik saya dan kamu tidak boleh pergi dari saya!" ujar Arsen.
"Aku bukan milik kamu, aku juga bukan milik siapapun!" tolak Kyla dengan tegas.
Arsen hendak menyentuh lengan sang gadis kali ini, akan tetapi Kyla malah mengelak dan menepis tangan pria itu dengan kasar. Arsen pun menghela nafasnya, ia mewajarkan jika Kyla membenci dirinya dan tidak mau disentuh olehnya.
"Pergi kamu dari sini! Aku gak mau lihat wajah orang jahat kayak kamu!" usir Kyla.
"Kyla, saya ini bukan orang jahat. Justru kamu harus berterima kasih sama saya, kalau bukan karena saya pasti kamu sudah jadi korban orang jahat yang sesungguhnya Kyla!" ucap Arsen coba meyakinkan gadis itu.
"Siapa yang kamu maksud? Jangan mengarang cerita deh, disini itu yang jahat ya kamu bukan orang lain!" ucap Kyla.
Arsen malah kembali terdiam saat ini, sehingga Kyla pun memalingkan wajahnya ke arah lain dan tidak mau menatap sosok Arsen yang sangat ia benci. Apalagi, Arsen juga tidak bisa menjelaskan apa yang ia maksud tadi kepada Kyla.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments